Tradisi Maen Pukulan, Seni Bela Diri Orang Betawi untuk Lawan Kompeni

Tradisi Maen Pukulan, Seni Bela Diri Orang Betawi untuk Lawan Kompeni
info gambar utama

Jakarta merupakan daerah yang istimewa, begitu pun dahulu ketika masih bernama Batavia dan Jayakarta. Di tempat ini, berkumpul berbagai bangsa dan suku untuk mencari peruntungan baik kekayaan maupun ketenaran.

Di Tanah Betawi pula, tradisi silat atau biasa disebut maen pukulan tumbuh subur. Para jago silat atau terkenal dengan sebutan jawara saling adu kekuatan. Mereka yang paling unggul akan begitu disegani baik oleh masyarakat lokal hingga orang kolonial.

Antropolog Universitas Indonesia Yasmin Zaki Shahab memperkirakan, etnis Betawi terbentuk sekitar tahun 1815-1893. Karena itu menurutnya, orang Betawi sebenarnya terhitung sebagai pendatang baru di Jakarta.

Disebut oleh Yasmin, etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok lainya yang sudah terlebih dahulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu.

Karena kemajemukan ini menyebabkan terjadinya pertukaran baik secara seni, budaya, adat istiadat, hingga ilmu bela diri yang berkembang saat itu atau yang lebih populer dengan istilah maen pukulan.

Yasmin memperkirakan sejak abad 16, masyarakat setempat sudah mempertunjukan seni silat pada acara-acara penting, seperti pesta perkawinan atau khitanan. Menurutnya, silat bagi orang Betawi tidak hanya sekadar seni bela diri.

Pencak Silat, beladiri dari indonesia yang mendunia.

“Hal ini memperkuat dugaan bahwa silat tidak hanya berfungsi sebagai ilmu bela diri, namun sudah menjadi suatu produk sosial, seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yasmin yang dimuat Kompas.

Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra juga sepakat adanya ikatan erat antara budaya Betawi dan seni bela diri. Bahkan pada masa lalu, jelasnya, sholat dan silat menjadi kewajiban bagi anak-anak Betawi.

Maen pukulan atau bela diri, jelas Yahya, pernah begitu menyatu dengan kehidupan masyarakat Betawi. Tradisi ini bagi masyarakat Betawi sudah mendarah daging dan tidak ada satupun orang Betawi yang sama sekali tidak maen pukulan.

Namun kini, tradisi maen pukulan hampir punah, karena tidak banyak lagi anak muda yang ingin belajar seni beladiri. Anak-anak Betawi sudah jarang berlatih maen pukulan sehabis belajar mengaji.

“Pada tiga dasawarsa terakhir, maen pukulan mengalami perubahan yang ironis ke arah kepunahan,” kata Gusman Nawi, penulis buku Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi yang dipaparkan CNN Indonesia.

Jawara dari maen pukulan

Gusman menyebut silat khas Betawi banyak terpengaruh dengan budaya suku bangsa lain seperti Tionghoa, Banten, Melayu, Jawa, Sulawesi. Namun perkembangan maen pukulan, katanya melalui proses panjang.

Beberapa literatur, jelasnya menyebutkan cikal bakal maen pukulan bermula sejak Kerajaan Tarumanegara yang menguasai Sunda Kelapa atau Jakarta pada masa kini, sekitar abad 5 sampai 7 Masehi.

“Bisa saja fase itu dimulai lima abad sebelumnya jika dikaitkan dengan sumber kesejarahan non formal,” jelas Gusman.

Pada masa silam, pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bagian penting, karena itu selalu mendapat perlindungan militer dari kerajaan. Selama menunggu pasukan datang, orang-orang pelabuhan lantas membutuhkan banyak jago yang direkrut dari daerah sekitar.

Pada 1618 diperkirakan sebanyak 6 ribu sampai 7 ribu prajurit melindungi Jayakarta. Para prajurit yang ahli bermain silat ini pun memberikan pengaruhnya ke masyarakat sekitar. Prajurit ini kemudian membentuk keluarga dan meneruskan ilmu bela dirinya.

Tidak jarang para jago Betawi ini muncul bersama dengan masalah sosial yang terjadi pada masa itu. Mereka akan dielu-elukan sebagai pahlawan. Namun tidak sedikit ilmuwan dan peneliti yang menyebut jawara ini sebagai bandit sosial.

Sayur Babanci, Kuliner Khas Betawi yang Langka Namun Kaya Rasa

Tentunya ironis melihat tradisi seni bela diri ini mulai tergerus zaman. Karena lewat keahlian ini, pernah bermunculan para jawara, sosok yang pandai bermain silat untuk berjuang melawan para penjajah.

Diwartakan Sejarah Jakarta, sebuah harian berbahasa Belanda: Soerabaiasch Handelsblad (17 April 1882) menuliskan peristiwa perseteruan antara seorang perawat kuda yang berasal dari Betawi dengan tuannya seorang Belanda.

“Orang Betawi yang tidak menerima diperlakukan dengan kasar menantang tuannya dengan melontarkan perkataan untuk mencoba pukulan dengannya,” tulis koran tersebut.

Yahya menuturkan banyak jawara silat Betawi yang dahulu ikut berjuang memperebutkan kemerdekaan Indonesia, mulai dari Guru Mahmud di Menteng, Entong Gendut di Condet, Haji Nawi di Mampang Prapatan, hingga Mualim Syafi’i Hazami di Gandaria.

“Para jawara itu berjuang bersama untuk memerdekakan bangsa Indonesia menggunakan keahlian pencak silat yang mereka miliki,” ucapnya.

Maen pukulan perlu lestari

Maen pukulan merupakan permainan yang melibatkan kontak fisik, serang-bela dengan atau tanpa senjata. Main di sini menandakan adanya kesenangan. Dengan kata lain, ilmu bela diri bagi orang Betawi awalnya adalah permainan, bukan adu jago.

G.J Nawi dalam Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016) menyebut meski namanya maen pukulan, silat khas Betawi ini juga memuat beragam aspek, mulai dari mental, spiritual, aspek seni. aspek bela diri, dan aspek olahraga.

“Empat aspek ini menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik bertahan maupun menyerang,” paparnya.

Disebut oleh Nawi, perkembangan maen pukulan di tanah Betawi terbilang cukup pesat. Kini terdapat sekitar 317 aliran yang merupakan perkembangan dari sekitar 100-200 pecahan aliran dari empat aliran inti.

Empat aliran itu dibedakan berdasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulannya, ada yang mengandalkan gerakan kecepatan, baik pukulan, tendangan, maupun serang-bela. Kini sedikitnya ada lima aliran yang banyak dikenal masyarakat.

Makna Dari Rumah Tradisional Betawi Penuh Arti Filosofis

Misalnya aliran silat sabeni yang berasal dari Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kedua adalah aliran silat beksi yang berasal dari bahasa Tiongkok yakni pertahanan dan empat. Perguruan ini lahir dan berkembang di wilayah Jakarta Selatan.

Ketiga adalah aliran silat cingkrik yang biasa ditemui di daerah Rawa Belong Jakarta Barat. Tokoh Si Pitung dipercaya sebagai salah satu tokoh yang menekuni dan mengajarkan pencak silat cingkrik.

Kemudian keempat adalah aliran silat paseban yang diambil dari nama kelurahan di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Terakhir adalah aliran silat cimacan yang berasal dari Banten dan dikembangkan di daerah Karang Tengah dan Lebak Bulus.

Namun Roni Adi Tenabang yang merupakan Ketua Perkumpulan Betawi Kita merasa prihatin dengan perkembangan silat Betawi saat ini. Hal ini karena ada kecenderungan melihat silat Betawi sebagai kesenian kampung sehingga mulai terpinggirkan.

Padahal menurutnya banyak hal positif yang terdapat dalam pencak silat, di antaranya menghargai sesama dan yang lebih tua. Di sekolah-sekolah, seni bela diri lebih banyak yang berasal dari luar negeri, seperti karate atau taekwondo.

Selain itu ada kecenderungan, jelasnya satu kelompok merasa eksklusif dibandingkan dengan yang lainnya. Padahal menurut Roni, bila dikelola secara modern, silat Betawi dapat bernilai dan hidup secara berkelanjutan.

“Manajemen silat Betawi selama ini hanya bertumpu pada ketokohan. Setelah tokoh meninggal, akhirnya silat hilang. Seharusnya, silat Betawi dikelola dengan manajemen modern untuk menghidupkan perguruan,” katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini