Kisah Eddy Gombloh: Akhir Gelak Tawa dari Komedian Termahal yang Hidup Sederhana

Kisah Eddy Gombloh: Akhir Gelak Tawa dari Komedian Termahal yang Hidup Sederhana
info gambar utama

Kabar duka datang dari dunia komedi Tanah Air, pelawak senior Eddy Gombloh yang menjadi salah satu komedian legendaris meninggal dunia. Gombloh menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis (4/8/2022), pada usia 80 tahun.

Kabar meninggalnya Gombloh dibenarkan oleh rekan seprofesinya, Polo. Disebutkan oleh Polo, Gombloh meninggal di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta, sekitar Pukul 11.30 WIB. Sementara itu mengenai penyakitnya, Polo belum mengetahui secara pasti.

“Kalau sakitnya belum update, mungkin penuaan juga kali ya, sepuh,” ucap Polo yang dimuat dari Kompas.

Polo melanjutkan bahwa jenazah Gombloh akan disemayamkan di Yogyakarta dan dimakamkan, pada Jumat (5/8/2022) sekitar pukul 12.00 WIB. Menurutnya, Gombloh akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur Jakarta Barat.

Namun tidak diketahui pasti alasan Gombloh dimakamkan di Jakarta. Sebab sosoknya merupakan komedian yang berasal dari Yogyakarta. Sebelum akhirnya meraih sukses di Jakarta pada era 1980 an.

Dono Warkop: Komedian, Dosen Hingga Aktivis Peristiwa Malari dan Trisakti

Sosok Eddy Gombloh

Gombloh lahir dengan nama Supardi pada 17 Agustus 1941 di Yogyakarta. Kiprahnya di dunia seni berawal dari keterlibatannya di panggung pelajar RRI Jogja. Pengalamannya itu yang membuatnya memberanikan diri merantau ke Jakarta.

Semasa di Jogja, Gombloh memang sudah tidak asing dengan dunia peran. Dia sudah cukup berpengalaman di pentas panggung Ketoprak. Setibanya di Jakarta sekitar tahun 1962, dia mencoba meniti karier di layar lebar.

Semasa berkarier, dirinya kerap wara-wiri di dunia perfilman Indonesia dengan karakter lugunya. Gombloh sering muncul dalam film-film Benyamin Sueb melalui karakter yang polos dan rambut berponi bob.

Eddy mengaku mengenal Benyamin sejak masa awal berkarier. Pada 1976, Gombloh pernah menjadi pemeran utama dalam film Tiga Janggo (1976) bersama Benyamin S dan A.Hamid Arief yang disutradarai oleh Nawi Ismail.

Ada beberapa film lain yang dirinya bintangi bersama Benyamin S sepanjang kariernya seperti Biang Kerok (1972). Benyamin Brengsek (1973), Benyamin Koboi (1975), dan Benyamin Tukang Ngibul (1975).

Dalam sebuah wawancara bersama Humoria Indonesia yang diunggah di Youtube, Gombloh mengungkapkan kedekatannya dengan Benyamin S bagaikan pinang dibelah dua. Dirinya memang selalu tampil sebagai sosok yang lugu dan sering dijahili oleh Benyamin.

Dirinya aktif berakting di era 70-an hingga awal 90 an, seperti Djembatan Emas, Benyamin Tukang Ngibul, Inem Pelayan Sexy, dan Apa Ini Apa Itu. Setelah kegemilangannya itu, pada masa tuanya, dia memilih menetap di Sleman, Yogyakarta.

Pelawak termahal

Selama berkarier sebagai aktor sekaligus pelawak, Gombloh sudah membintangi lebih dari 30 film. Rata-rata film yang dirinya bintangi memang bergenre komedi. Dirinya yang identik dengan karakter orang lucu dan bloon ini sukses mengocok perut para penonton.

Dirinya mengawali karier di tahun 1971 melalui film Djembatan Emas. Satu tahun setelahnya, dia membintangi film Samtidar (1972) dan Bang Kerok (1972). Di awal kariernya, dia memang lebih banyak menjadi karakter pendukung.

Meski begitu, judul film yang dirinya bintangi selalu bertambah setiap tahunya. Misalnya dirinya membintangi Tarsan Kota (1974), Samson Betawi (1975), Tiga Janggo (1976), hingga Inem Pelayan Sexy (1976).

Gombloh bahkan sering terlihat bermain film bersama dengan pelawak Warkop DKI, yaitu Dono, Kasino, dan Indro. Beberapa film Warkop DKI seperti Mana Tahan (1979), GeEr-Gede Rasa (1980) dan Manusia 6.000.000 Dollar (1981).

Namanya begitu melejit pada 1980 an, hal ini tidak terlepas dari kesuksesannya berakting di film Samson Betawi, Inem Pelayan Sexy, dan Benyamin Tukang Ngibul yang begitu disukai oleh penonton karena mengundang gelak tawa.

Pada era ini, namanya melejit bersama rekan-rekannya yang lain seperti Benyamin S, S Bagyo, dan Ratmi B29. Bahkan ketika itu dirinya sudah mendapat honor mencapai Rp2 juta rupiah yang menobatkannya sebagai pelawak dengan bayaran termahal.

Masih Penasaran Siapa Sosok Mukidi? Kenali Dulu Pria Warga Bekasi Ini

Walau mendapatkan kesuksesan, Gombloh sepertinya memilih hidup secara sederhana. Bahkan demi persiapan masa tuanya dia memilih naik angkot menuju lokasi shooting. Uang dari honornya yang besar kala itu, sebagian dirinya tabung.

“Saya tidak pernah gengsi. Daripada untuk sesuatu yang tidak berguna seperti rokok dan minuman, (penghasilan) lebih baik ditabung. Banyak teman yang honornya habis semalam untuk minum,” tutur Gombloh yang dimuat Kompas.

Dari hasil menabung itulah, Gombloh kemudian mampu membeli ruko untuk dikontrakan, lalu juga membeli rumah di Tempel, Sleman serta membuka usaha fotokopi dan menanam salak di kediamannya.

Film terakhir yang diperankan oleh Gombloh berjudul Ekspedisi Harta Karun rilis pada tahun 1990. Dirinya lantas pindah dari Jakarta untuk kembali ke Yogyakarta pada tahun 2006. Dirinya memang merasa masa kejayaannya sudah redup.

“Sudah sumpek dan ingin tenang. Ya meski di sana menjanjikan, tapi kan saya sudah tua,” ucapnya yang diwawancarai di kediamannya pada tahun 2015 silam.

Legenda yang dikenang

Pilihannya untuk menghabiskan hari tua di Yogyakarta berawal ketika dia bersama rekan-rekannya memberikan bantuan untuk korban gempa Bantul pada 2006 silam. Ketika melewati daerah Turi, Sleman, Gombloh merasa suasana yang nyaman dan tenang.

“Ya awalnya pengen, eh beneran dapat rumah di sini. Kesampaian juga tinggal di sini.” ucapnya.

Gombloh mengakui bahwa Jakarta menjanjikan harapan untuk mendapatkan uang yang lebih besar bagi dirinya sebagai pemain film. Namun dia merasa kejayaannya sudah redup karena orderan filmnya mulai sepi.

Setelah kembali ke kampung halaman bersama istri dan anak bungsunya, Ayu Adina Anggraeni, Gombloh banyak menghabiskan waktunya di kebun. Dirinya memang memiliki kebun salak di daerah Sleman.

Selain menghabiskan waktunya untuk berkebun, Gombloh juga memiliki warung kecil-kecilan untuk menyibukkan diri selama di Yogyakarta. Hasil dari berkebun dan warung bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari serta memperluas kebunnya.

Pada masa tuanya, pelawak legendaris ini mengaku miris melihat artis-artis muda yang kerap berfoya-foya tanpa memikirkan saat-saat kejayaannya itu redup. Padahal, jelasnya, seharusnya sebagian uang itu bisa ditabung untuk masa tua nanti.

Dirinya juga sedih menyaksikan teman-temannya yang dulu sukses, tetapi kini tidak memiliki apa-apa karena tidak mempersiapkan tabungan jauh-jauh hari. Karena itu, dirinya berharap artis-artis muda itu melihat contoh para seniornya terdahulu.

Mengenang Kasino, Pelawak Cerdas Sekaligus Pencinta Alam

“Jadikanlah kami yang tua sebagai contoh. Meski zaman dulu dan sekarang sudah berbeda, pengalaman itu adalah guru,” ucapnya.

Ketua Humas Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Evry Joe berharap para komedian senior seperti Gombloh diberi penghargaan dan lebih diperhatikan oleh pemerintah atas karya-karyanya yang menghibur beberapa generasi.

Dirinya berpendapat, komedian senior seperti Gombloh, Ateng, S.Bagio adalah penampil sejati yang karyanya masih digemari hingga saat ini. Bahkan pada masa jayanya, pelawak ini tidak hanya menghibur orang Indonesia, tetapi juga negeri tetangga seperti Malaysia.

“Mestinya kita gugah pemerintah harus beri penghargaan kepada senior-senior yang sudah memberi karyanya, yang sudah menghibur bangsa dan negara kita, sampai ke internasional.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini