Mengenal Banteng Asli Indonesia, Nenek Moyang Sapi Bali yang Terancam Punah

Mengenal Banteng Asli Indonesia, Nenek Moyang Sapi Bali yang Terancam Punah
info gambar utama

Siapa tak mengenal banteng? Hewan satu ini dikenal dengan kesan garang karena keberadaan tanduk dan perilaku mereka yang kerap menyeruduk makhluk lain di sekitarnya, jika merasa terancam. Lain itu, hewan ini juga jadi salah satu spesies keluarga dari famili Bovidae, bersama dengan Sapi dan Kerbau.

Karena perilakunya yang terkesan suka menyeruduk, di negara lain tepatnya Spanyol bahkan sampai ada pertunjukan yang mempertontokan aksi adu banteng terhadap pawang ahli, yang dinamakan Matador.

Terlepas dari hal tersebut, meski tak umum rupanya di Indonesia ada spesies banteng liar yang asli berasal dari tanah air. Bersifat liar, sayangnya spesies banteng asli Indonesia kini berada di tengah ancaman kepunahan.

Lain itu, ada fakta menarik, mengenai banteng di Indonesia yang rupanya memiliki kaitan erat dengan hewan saudaranya, yakni Sapi. Seperti apa kaitan yang dimaksud dan bagaimana status kepunahan banteng liar asli Indonesia?

Mengenal Jenis Sapi Kurban yang Ada di Indonesia

Hubungan banteng dan sapi

Banteng Jawa dan Sapi Bali yang nyaris sulit dibedakan | Vladimir Wrangel/Shutterstock
info gambar

Banteng liar yang berasal dari Indonesia adalah banteng Jawa (Bos javanicus). Namun hingga saat ini memang masih banyak yang sulit membedakan antara Banteng dan Sapi.

Dijelaskan bahwa sebenarnya banteng adalah nenek moyang dari sapi. Mengutip salah satu sumber, dijelaskan bahwa nenek moyang sapi rupanya berasal dari banteng liar yang didomestikasi.

Contoh nyata dari penjelasan tersebut bisa dilihat dari sapi Bali, yang rupanya terbukti memiliki kemiripan genetik dan morfologi dengan banteng Jawa. Salah satunya adalah perbedaan khusus berupa warna putih pada beberapa bagian tubuh mereka yang menjadi ciri khas.

Faktanya, spesies sapi yang ada di sejumlah negara saat ini juga berawal dari hasil domestikasi spesies banteng tertentu.

Banteng liar Indonesia diketahui dapat tumbuh dengan tinggi sekitar 1,6 meter pada bagian pundaknya, dan panjang badan 2,3 meter. Sedangkan untuk bobot, mereka biasa memiliki berat sekitar 680-810 kilogram, dengan berat pada individu betina lebih ringan.

Banteng memiliki ciri khusus yang sangat jelas bila dibandingkan dengan sapi dan kerbau. Perbedaannya yakni warna putih pada kaki bagian bawah, di mana itu juga menjadi ciri yang paling mirip dengan sapi Bali dan membuat mereka berbeda.

Warna putih juga terdapat di beberapa bagian seperti bokong, punuk, serta sekitar mata dan moncongnya. Banteng jantan biasanya memiliki kulit berwarna coklat gelap, dengan tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak.

Sedangkan pada individu betina memiliki kulit berwarna coklat kemerahan, dengan tanduk pendek mengarah ke dalam dan tidak berpunuk.

Banteng sebenarnya bisa aktif baik pada malam maupun siang hari. Namun pada individu atau populasi yang ditemukan di daerah pemukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal.

Merawat dan Menjaga Tradisi Karapan Sapi

Ancaman habitat oleh tanaman asing invasif

Tanaman invasif di Taman Nasional Baluran | Instagram.com/btn_baluran
info gambar

Habitat alami banteng Jawa sebenarnya meliputi pulau Jawa, Madura dan Bali. Namun, kini populasinya hanya terkonsentrasi di beberapa tempat konservasi. Beberapa di antaranya Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Merubetiri, dan Taman Nasional Alas Purwo.

Salah satu alasan yang membuat populasi banteng liar terancam adalah karena adanya kerusakan dari spesies tumbuhan invasif yang merusak habitat mereka.

Adapun tumbuhan invasif yang dimaksud diketahui bernama Acacia nelotica atau dikenal juga sebagai Akasia berduri. Tumbuhan tersebut diketahui berasal dari Afrika dan pertama kali masuk ke Taman Nasional Baluran di tahun 1969.

Awalnya, penanaman tanaman tersebut bertujaun untuk pemagar api dari potensi kebakaran hutan alami, agar tidak menyerang masuk ke dalam hutan. Namun rupanya, spesies tanaman tersebut tumbuh secara invasif dan memangkas padang rumput tempat banteng mencari makan.

Pulau Sapudi, Kisah Dewa dan Dewi Sapi yang Jadi Simbol Kehormatan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini