Secercah Harapan Badak Jawa, Mari Menapaki Jejak Hewan yang Hampir Punah Ini

Secercah Harapan Badak Jawa, Mari Menapaki Jejak Hewan yang Hampir Punah Ini

Badak jawa yang populasinya hanya bisa ditemukan di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten, Indonesia © WWF Indonesia

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kawan GNFI, kabar bahagia datang dari keanekaragaman hayati Indonesia. Berdasarkan hasil monitoring sampai akhir tahun 2019 lalu, ternyata populasi badak jawa di Indonesia terus meningkat.

Jumlah terakhir populasi badak jawa mencapai 72 ekor dengan penambahan empat ekor, yang terdiri dari dua jantan dan dua betina.

Faktanya, penambahan sampai tahun 2019 itu merupakan penambahan jumlah populasi badak jawa terbesar sepanjang sejarah.

Terutama dibandingkan penambahan pada tahun 1967, 1980, 1983, dan 2007.

"Bahkan saya dengar dari Taman Nasional (Ujung Kulon) malah ada 76 (ekor)," ungkap Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) kepada GNFI (13/05).

Jumlah tersebut memang belum diklarifikasi oleh Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang, Banten.

Pasalnya setiap tahun memang akan ada perhitungan secara resmi. Hanya saja, pengembangbiakan badak jawa termasuk memerlukan waktu yang lama, jadi jumlah resminya akan diumumkan per tahun.

Badak jawa merupakan hewan soliter
Badak jawa adalah hewan soliter atau penyendiri © Dok. Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)/Alain Compost

Apalagi pengembangbiakan badak memang dibutuhkan waktu yang cenderung lama. Widodo kepada GNFI mengungkapkan bahwa ada banyak faktor yang membuat interval kawin badak jawa sangat lama.

Pertama, untuk bisa kawin, badak jawa harus berumur tujuh tahun. Lalu kehamilan badak jawa memakan waktu 16 bulan. Setelah lahir, badak jawa juga masih harus menjaga anaknya 3-4 tahun sebelum akhirnya disapih dan lepas dari induknya.

"Jadi mungkin 4-5 tahun baru punya satu badak anakan," ungkap Widodo.

Selain itu faktor kondisi habitatnya juga memengaruhi keinginan badak untuk kawin.

"Misalnya waktu musim kemarau keras. Itu pernah terjadi. Sangat kering sekali. Itu, kan, membuat badak tidak suka kawin," katanya.

Badak Jawa Termasuk Hewan Langka Apendiks I

Badak jawa terancam punah
Badak jawa merupakan satu dari lima spesies badak di dunia yang paling terancam punah © Dok. Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)/Stephen Belcher

Sebenarnya terhitung sejak tahun 2017-2019, populasi badak jawa sudah bertambah sebanyak sembilan ekor. Dari total 72 ekor badak jawa di TNUK saat ini, 38 di antaranya jantan, 33 ekor betina, dan satu ekor belum teridentifikasi jenis kelaminnya.

Lalu dari total tersebut, 15 diantaranya dikategorikan sebagai anak badak dan 57 ekor lainnya dikategorikan remaja sampai dewasa.

"Sepanjang ini (kondisi para badak) baik, ya. Semenjak yayasan kami (Yayasan Badak Indonesia/YABI) membantu taman nasional untuk pengamanan, tidak ada badak yang mati karena perburuan liar. Kita bisa menghentikan perburuan liar itu sejak tahun ’98," ujar Widodo.

Sejak awal tahun 1970, jumlah populasi badak jawa diketahui sedikit sekitar 22-25 ekor saja baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Kemudian, pada 1980 sebenarnya sudah ada upaya perlindungan dan jumlahnya meningkat menjadi 55-60 ekor.

Sayangnya, kala itu praktik perburuan liar terhadap badak jawa masih kerap terjadi. Itu menyebabkan pada sekitar tahun 1994, jumlah populasi badak jawa sempat menurun menjadi 34 ekor.

Akhirnya dunia mengatakan bahwa badak jawa dikategorikan sebagai Critically Endangered dalam Red List Data Book yang dikeluarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

Hewan ini juga termasuk dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Faunda and Flora (CITES) sebagai salah satu spesies badak di antara lima spesies badak dunia.

Di Indonesia sendiri status perlindungan badak jawa juga dikuatkan dengan adanya PP No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Hal ini juga tertera pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Perburuan Liar Badak Jawa Sejak Masa Kolonial Belanda

Perburuan badak jawa pada masa kolonial Belanda
Foto badak jawa yang mati diburu oleh Charles te Mechelen pada masa kolonial Belanda, 1895 © Wikimedia

Perburuan yang terjadi sampai membuat keberadaaan badak ini hampir punah sebenarnya sudah terjadi sejak masa kolonial Belanda. Kala itu badak—terutama badak jawa—dianggap sebagai hama.

Widodo menjelaskan bahwa cara badak jawa mencari makanan dikategori sebagai hewan kafetarian. Artinya, dia akan mencari makan sambil berjalan dan menjelajah hutan.

"Ngambil di sini, ngambil di sana, sedikit-sedikit. Tidak makan sekaligus. Tidak semua dihabiskan. Ini juga ciri-ciri hewan browser. Jadi sambil jalan itu dia juga akan membuang kotoran," jelasnya.

Variasi pakannya yang berjumlah lebih dari 200 jenis dianggap manusia akan merusak perkebunan mereka. Karena dulu badak jawa tinggal tidak jauh dari pemukiman manusia.

Perburuan liar ini dipercaya sudah dimulai sejak abad ke-18 silam. Bahkan pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa saat itu pernah mengadakan sayembara perburuan badak jawa. Siapa yang berhasil membunuh satu badak jawa, maka akan diberi ganjaran 10 gulden per satu kepala badak jawa.

Sebenarnya pada 1910, pemerintah Hindia Belanda sudah secara resmi mengeluarkan undang-undang perlindungan terhadap badak jawa. Hanya saja perburuan tersebut masih kerap terjadi.

Baru pada 1921, berdasarkan rekomendasi dari The Netherlands Indies Society for Protection of Nature, pemerintah Belanda sudah menyatakan habitat badak di Ujung Kulon sebagai kawasan Cagar Alam.

Peran Badak Jawa pada Ekosistem

Badak jawa sangat suka berkubang
Badak jawa memiliki nama latin Rhinoceros sondaicus sangat suka berkubang © Dok. Yayasan Badak Indonesia (YABI)

Tidak seperti badak sumatera yang dikategorikan sebagai hewan pemburu, badak jawa merupakan hewan herbivora, pemakan tumbuh-tumbuhan. Diperkirakan badak jawa membutuhkan pakan sampai 50 kg/hari.

Di dalam ekosistem hutan, ternyata badak jawa memiliki peran penting. Melihat dari cara mereka mencari makanan sambil berjalan. Sepanjang perjalanan itulah sebenarnya badak jawa menyebarkan biji-bijian yang menempel di badannya. Biji-biji itu yang nantinya akan menjadi benih tumbuhan yang baru.

"Nah dengan ini dia memelihara hutan," kata Widodo.

Cara makan badak jawa mencari makan yaitu dengan mendorong pohon-pohon besar menggunakan dadanya hingga rubuh. Umumnya jenis tumbuhan kesukaannya yang sudah berusia 3-7 tahun dengan tinggi 3-10 meter.

Itu dilakukan agar mereka dapat mengambil daun, pucuk, bahkan ranting dari pohon atau tumbuhan tersebut.

Meski begitu, ada satu jenis tanaman yang justru mengancam habitat pakan badak jawa, yaitu tanaman langkap atau Arenga obtusifolia.

Tanaman langkap ini merupakan tanaman sejenis aren yang sangat cepat berkembang biak di hutan rawa dan dataran rendah, yang juga termasuk kawasan favorit badak jawa. Penyebaran benih langkap diketahui dibawa oleh musang.

Widodo menjelaskan, "Langkap itu bisa tumbuh tanpa ada cahaya. Saat musang menyebarkan biji-biji itu kemana-mana, maka semakin cepat dia tumbuh besar. Kalau sudah besar, daun-daunnya itu bisa menutupi sinar matahari sampai ke lantai tanah."

"Kalau tidak ada matahari sampai ke lantai tanah, maka tumbuhan-tumbuhan pakan badak tidak bisa tumbuh karena jenis-jenis pakannya perlu cahaya matahari," papar Widodo.

Sejak 2014, dilansir Mongabay, tanaman langkap telah mengambil lahan pakan badak jawa sekitar 30 persen dari luas semenanjung Ujung Kulon.

Untuk mengatasi situasi itu, didirikan Javan Rhino Study Conservation Area di TNUK, tepatnya di sebelah timur Semenanjung Ujung Kulon. Area 5.200 hektar itu akan menjadi fokus pembinaan habitat pakan badak.

"Kalau di plot-plot langkapnya dikendalikan, misalnya (di area) 100x100 meter, itu tumbuhan pakan badak tumbuh banyak sekali. Jadi bermacam-macam tumbuhan yang sangat berguna untuk badak jawa. Nah, ini yang diupayakan supaya ancaman dari kualitas habibat itu terhindarkan,’’ pungkasnya.

Ternyata Badak Memiliki Predator

Beberapa sumber menyebutkan bahwa badak jawa adalah hewan yang tidak memiliki predator. Widodo mengklarifikasi sebenarnya hal ini tidak tepat. Pada kenyataannya, ada hewan lain yang mengancam keberadaan badak jawa.

"Di hutan ada anjing liar (anjing hutan yang) seperti serigala. Jadi mereka bisa menyerang anak badak yang masih baru lahir. Di dalam salah satu video dari (Taman Nasional) Ujung Kulon itu pernah dirilis bahwa anjing liar ini juga pernah menyerang anak banteng juga dan bantengnya tidak sempat melindungi," jelasnya.

Anjing liar itu selalu menyerang dan menghadang secara berkompolotan 9-12 ekor anjing.

"Jadi bukan tidak ada musuhnya, ada musuhnya," tegas Widodo.

Selain itu, mengutip Mongabay, badak jawa juga ternyata kerap berkompetisi dengan banteng (Bos javanicus) untuk bisa mendapatkan makanan. Kedua spesies ini memiliki jenis pakan yang hampir sama sehingga tidak heran jika keduanya kadang harus bertaruh nyawa agar mendapatkan makanan.

Kisah Perjalanan Badak Hingga Hanya Mampu Bertahan di Ujung Kulon

Peta penyebaran badak jawa
Peta penyebaran badak jawa © WWF

Populasi badak sebenarnya tersebar luas. Mulai dari India, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaya, Jawa, dan Sumatra.

Pertambahan penduduk dan perkembangan peradaban manusia yang membuat populasi mereka berkurang. Selain dianggap menjadi hama yang merusak area pertanian, cula badak dulu dianggap memiliki khasiat sakti untuk obat kesehatan manusia.

Ironisnya, semua itu tidak terbukti.

Siapa yang menyangka, bahwa makhluk soliter ini ternyata menjadi saksi evolusi saat pembentukan kawasan Sunda Land. Kala Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, dan Kalimantan menjadi satu pulau kesatuan.

"Itu kira-kira 50 juta tahun yang lalu," ujar Widodo.

Perburuan badak jawa yang dianggap sebagai hama
Perburuan badak jawa yang dianggap sebagai hama © Rhino Research Centre

Perburuan demi perburuan yang didorong oleh mitos dan kepercayaan semu itu pada akhirnya membuat mereka seolah menghilang. Di Myanmar, badak jawa terakhir yang hidup ditembak mati pada 1920 untuk koleksi British Museum.

Di Semenanjung Malaya, pada 1932 badak jawa ditembak untuk koleksi museum. Dalihnya bahwa badak jawa itu tinggal sendirian, tak bisa dibiakkan lagi.

Di Nusantara sendiri, penembakan juga sempat terpaksa dilakukan. Tepatnya pada 31 Januari 1934 yang disebut dengan penewasan "Badak Terakhir di Priangan". Sebutir peluru mauser kaliber 9.3 mm itu menembus kepala badak priangan ini. Dalihnya, menyusul sang kekasih yang juga ditembak kepalanya entah oleh siapa.

Eksekusinya dilakukan di wilayah Sindangkerta, Jawa Barat. Sang badak priangan sampai kini terbujur kaku dalam sebuah kotak kaca di Museum Zoologicum Bogoriense-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Bogor, Jawa Barat.

Ya! Mereka menyebutnya dengan sebutan Badak Priangan. Pada abad ke-19, penduduk Kota Bandung dipercaya masih bisa melihat badak jawa. Saksi bisunya, hingga kini masih terdapat nama daerah bernama Rancabadak. Namanya pernah disematkan menjadi nama Rumah Sakit Rancabadak yang kemudian diganti menjadi Rumah Sakit Hasan Sadikin di Jalan Pasteur, Bandung.

Coba lihat disekeliling wilayah tempat tinggal Kawan GNFI. Adakah nama wilayah atau nama tempat yang disematkan kata badak? Kawan GNFI patut curiga kalau disana pernah ditemukan badak.

"Badak Terakhir di Priangan" yang kini berada di Museum Zoologicum Bogoriense-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor, Jawa Barat © Mongabay Indonesia/Rahmadi Rahmat

Hingga kini, Ujung Kulon adalah tempat terakhir badak jawa bertahan. Widodo bilang bahwa para badak jawa ini tersudut. Manusia semakin berambisi menghabisi mereka. Lalu wilayah paling barat Pulau Jawa ini yang menyelamatkan mereka.

Mengapa manusia tak mampu melampaui batas Ujung Kulon untuk sampai menghabisi badak jawa?

"Karena orang dulu takut masuk Ujung Kulon," jawab Widodo.

Dulu Ujung Kulon terkenal dengan bersemayamnya hewan-hewan buas. Bahkan banyak manusia meninggal karena malaria di sana. Belum lagi trauma erupsi Krakatau yang sangat dahsyat. Ada juga kepercayaan Sunda Tua yang mentabukan manusia masuk hutan di Ujung Kulon.

"Kita bisa melihat di Pulau Panaitan, dekat dengan Ujung Kulon. Kira-kira 22 mil saja dari Semenanjung Ujung Kulon. Itu di sana ada patung Siwa dan Ganesha yang berada di Gunung Raksa. Itu membuktikan bahwa agama Siwa sudah masuk ke Panaitan tapi tidak bisa masuk ke Ujung Kulon," kata Widodo.

"Sampai sekarang pun orang menganggap wilayah itu adalah wilayah yang keramat. Ini sebabnya badak selamat disitu. Tidak diganggu orang seperti habitatnya di Jakarta. Dulu di Rawa Gembong, Teluk Jambi, sampai ke timur ke Pekalongan, Tegal, itu tempatnya badak jawa," kenang Widodo.

Wacana habitat kedua bagi badak jawa selain di Taman Nasional Ujung Kulon sempat menjadi bahan perdebatan. Risiko tsunami dari masih aktifnya Gunung Anak Krakatau adalah salah satu alasannya.

"Istilahnya jangan kita menaruh semua telur di satu pekarangan, harus dipisah," ujar Widodo.

Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun-Salak, Cagar Alam Sancang, dan Cikepuh pernah dilirik untuk calon habitat baru badak jawa.

"Tapi sayangnya sampai sekarang ini masih sulit untuk bisa diterima karena kondisi alamnya sudah berubah,’’ tambah WIdodo

Badak Jawa si “Introvert” yang Penyayang

Badak Jawa Makhluk Soliter dan
Badak jawa adalah hewan soliter © WWF

Sabtu, 20 Oktober 2018, Mamat Rahmat dengan sumringah dan tidak sabar mempresentasikan temuannya kepada ratusan peserta seminar nasional badak di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada (UGM).

Rasa penasarannya ini sudah diturunkan dari para seniornya terdahulu sejak tahun 1967, bahkan sejak teknologi video trap tahun 2010 belum mampu melunturkan rasa penasarannya yang teramat sangat.

Betapa terkejutnya dia melihat tingkah Rawing dan Pajero, pejantan badak jawa yang tengah birahi dan berhasil ditangkap kamera.

"Ini rekaman pertama di dunia mengenai perilaku kawin badak jawa di alam liar. Bahkan, badaknya seperti sadar kamera. Akhirnya dia 'masturbasi'," ungkap Kepala Balai TNUK pada masa itu.

Apalagi ini kali pertama Pajero mengawini badak betina yang bernama Palasari. Sebelumnya Palasari diketahui sedang berjalan dengan anaknya. Artinya, dia sudah pernah kawin sebelumnya.

Lucu! Mereka tertangkap kamera sedang memadu kasih di kubangan.

Akhirnya video selama 10 menit itu berhasil tertangkap kamera, proses perkawinan atas cinta antara Pajero dan Palasari. Mata bulat Mamat menggambarkan secercah harapan terhadap kelestarian badak jawa.

"Dengan melihat film ini kita lebih mengerti perilaku kawin badak jawa. Informasi penting pengembangan ilmu pengetahuan. Artinya, Ujung Kulon merupakan habitat yang masih bagus. Badak (jawa) merasa aman dan proses perkawinan tetap terjadi. Ini harapan kita semua," ungkapnya.

Sepanjang hidupnya, badak jawa memang lebih senang menjelajah hutan secara soliter. Kubangan berlumpur menjadi salah satu tempat favoritnya untuk menyejukan diri.

Sampai saat ini, memang hanya itu perilaku khas badak jawa. Manusia belum berhasil merekam perilaku badak jawa. Kebanyakan yang mereka tahu bahwa spesies paling terancam punah ini adalah bekas korban perburuan secara liar dan besar-besaran.

Hewan ini kerap dianggap tidak istimewa hanya karena manusia tidak pernah tahu tingkah dan perilakunya selain berkubang, mencari makanan, dan membuang kotoran. Hidupnya terus soliter, sendirian.

Anak badak jawa dan anaknya
Badak jawa akan tetap bersama anaknya selama empat tahun sebelum disapih dan dilepasliarkan © Dok. Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)

Hal lain yang harus diketahui manusia, bahwa betapa setianya indukan badak jawa untuk selalu mendampingi anaknya. Empat tahun berkomitmen menjaga dan mendidik anaknya sampai akhirnya tiba dilepas-liarkan oleh induknya. Empat tahun itu juga menjaga agar para anjing liar tidak memangsa anaknya.

"Nah, ini jadi kesempatan di mana ada badak bersama-sama," kata Widodo.

Jika anak badak jawa sudah mampu sendiri, bergerak soliter, maka tinggal tunggu waktu melihat indukan berjalan bersama pejantan badak jawa. Berkubang bersama dalam kubangan lumpur yang sama. Kawin, hamil sepanjang 16 bulan, melahirkan, melindungi selama empat tahun, dan menunggu kawin lagi.

"Inilah rutinitas badak sepanjang hidupnya," tutup Widodo.

--

Sumber: Wawancara Eksklusif GNFI | Mongabay | Greeners.co | Alinea.id | WWF Indonesia | WWF Internasional | Yayasan Badak Indonesia

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
DD USA Berbagi Makanan ke Petugas Medis di Amerika Serikat Sebelummnya

DD USA Berbagi Makanan ke Petugas Medis di Amerika Serikat

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.