Emil Dardak: Ideologi Akan Sejalan Bila Utamakan Kebaikan

Emil Dardak: Ideologi Akan Sejalan Bila Utamakan Kebaikan
info gambar utama

Menjadi seorang pemimpin haruslah memiliki sikap jujur, bertanggung jawab, dan mampu mewujudkan visi yang dituju. Untuk itu, pemimpin juga membutuhkan wakil untuk bisa membantu mencapai tujuan-tujuan.

Selain tiga sikap yang sudah disebutkan, sosok pemimpin maupun wakil pemimpin haruslah menanamkan kebaikan dalam segala hal. Hal itulah yang selalu ditanamkan oleh Emil Dardak selaku Wakil Gubernur Jawa Timur.

Pada Goodtalk Instagram Live, Good News From Indonesia berkesempatan menghadirkan Emil Dardak untuk membahas tentang masa depan Indonesia, dimoderatori oleh Akhyari Hananto selaku Founder GNFI, Rabu (17/6) lalu.

Di awal perbincangan, Akhyari selaku moderator bertanya tentang opini Emil mengenai kapan membaiknya segala kejadian di dunia yang berlangsung selama 2020 ini. Emil pun menjawab bahwa semua hal yang terjadi adalah dinamika. Kapan akan berakhir? Tentu akan sulit untuk menjawabnya.

Kendati demikian, nyatanya, realitanya tatanan dunia tidak sama. Ada yang lebih untung ada yang lebih rugi.

“Ideologi negara itu akan sejalan manakala kita mengutamakan kindness,” tutur Emil.

Emil pun bercerita, ia pernah membaca buku Dalai Lama seorang tokoh agama yang mengatakan bahwa orang itu pada dasarnya ingin baik. tidak bisa dikotakkan berdasarkan agama tertentu, sebenarnya semua orang dasarnya baik karena kebaikan adalah nilai mendasar dari setiap manusia.

Lantas apakah itu bisa terwujud? Nyatanya, di Indonesia sendiri, ideologi mulai diuji, yaitu kini dengan ramainya pembahasan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

Pancasila ideologi bangsa dan negara | Foto: academia.edu
info gambar

Seperti yang dituturkan oleh Ahmad Basarah, ia melihat ada risiko. Pertama ideologi kapitalisme ialah uang menjadi dewa dari segalanya, ideologi khilafah mengedepankan agama, dan ideologi komunisme.

Manusia dengan latar belakang pribadi, baik bawaan atau tempaan lingkungan menjadi invidu yang berbeda-beda. Sehingga, dalam konteks ini, semua sedang menghadapi tantangan untuk membangun toleransi, empati, dan simpati terhadap sesama manusia.

“Inilah tantangan kita hari ini,” kata Emil.

Kemudian berbicara tentang masa depan Indonesia 20 tahun mendatang, Emil mengatakan kalau Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa. Namun, ada yang menganggu dirinya dengan penyataan bahwa Indonesia negara kaya dan mandiri.

Mengapa demikian? Karena nyatanya cadangan energi saja masih impor seperti migas. Begitu pun dengan penguasaan teknologi, harus diakui Indonesia masih kurang.

“Maka kita harus memacu diri kita untuk ke depannya. Apalagi kalau Covid-19 tidak bisa dikendalikan, kita akan tertinggal,” ujar Emil.

Inilah tantangan. Pemerintah dan masyarakat harus sama-sama berjuang dan bersatu. Setelah Covid-19, Indonesia harusnya bisa membangun kemandirian teknologi dan cintai produk sendiri.

“Kita lihat ke hulu, di Jatim import tinggi bukan karena konsumtif tapi itu barang modal. Banyak pabrik di Jatim, tapi pabrik mengandalkan bahan baku dari luar negeri. Kadang bahkan yang impor lebih gampang dapat izin sertifikasi dibanding yang dalam negeri,” jelas Emil.

Selanjutnya Emil mengatakan untuk jangan sampai inovasi dalam negeri lama karena keruwetan terkait perizinan dan sertifikasi. Nantinya, Indonesia bisa kesalip negara lain.

“Di hulu dipaksa beli buatan dalam negeri, tapi di hilir bersaing bebas dengan luar negeri,” kata Emil.

Kemudian Emil pun mengajak masyarakat untuk jangan terlena dengan kejayaan Indonesia di masa lalu. Kalau melihat sesuatu jangan hanya ingin membeli tapi harus ingin bisa membuatnya. Bangunlah budaya budaya swadesi, budaya Ingin membuat sesuatu.

“Kalau mindset kita bergeser ke sana, Indonesia akan bangkit,” tutup Emil. (Des)

--

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini