Menakar Optimisme Generasi Muda pada Sektor Ekonomi di Puncak Bonus Demografi Indonesia

Menakar Optimisme Generasi Muda pada Sektor Ekonomi di Puncak Bonus Demografi Indonesia
info gambar utama

Harapan terhadap generasi muda telah mewarnai sejarah bangsa ini. Sejak Kebangkitan Nasional pada 1908 hingga Reformasi 1998, kaum muda memegang peranan kunci dalam momen bersejarah tersebut. Kini, harapan itu muncul kembali ketika bangsa ini bersiap menghadapi bonus demografi.

Bonus demografi tercipta akibat perubahan struktur usia penduduk, yakni ketika proporsi penduduk berusia produktif (15-65 tahun) lebih banyak dari mereka yang berusia non-produktif atau di luar usia kerja yang meliputi anak-anak (di bawah 15 tahun) dan lansia (di atas 65 tahun). Saat ini diprediksi penduduk usia produktif mencapai 64 persen dari total penduduk sekitar 297 juta jiwa.

Ada banyak versi kapan sebenarnya Indonesia sedang menyusuri jalan ini. Presiden Joko Widodo pernah mengingatkan soal bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada 2030-2040 mendatang, sedangkan Sekretaris Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI), Turro Wongkaren, pernah menjelaskan bahwa Indonesia sejatinya sudah memasuki puncak bonus demografi pada periode 2020-2040 dan akan berakhir pada 2035-2038.

Belajar dari Pengalaman Brazil, Afrika Selatan, dan Jepang

Bonus Demografi Jepang
info gambar

Persoalan fenomena bonus demografi ini diprediksi masih akan menjadi pembahasan berbagai banyak kalangan. Hal ini pernah diungkapkan Muhammad Faisal, pendiri Youth Laboratory Indonesia, yang sudah dalam satu dekade meneliti tentang fenomena generasi muda Indonesia.

Dalam bukunya berjudul Generasi Kembali ke Akar (2020), Faisal tak menafikan bahwa kondisi bonus demografi masih akan ramai diperbincangkan hingga beberapa puluh tahun ke depan. Bahkan dia menyebutn "peristiwa ini dapat memicu momentum kebangkitan generasi atau justru membawa kekacauan (chaos)."

Sebab, seharusnya Indonesia harus belajar dari berbagai negara lain yang sudah pernah melewati masa bonus demografi seperti Jepang, Brazil, dan Afrika Selatan. Seperti Brazil yang sudah melewati periode bonus demografi sejak awal 1970-an dan berakhir pada 2018. Kala itu Brazil dianggap gagal mempersiapkan dan menyambut fase emas bonus demografi.

Dampaknya, resesi ekonomi terjadi di Brazil sehingga fokus pemerintah lebih memprioritaskan alokasi sumber daya untuk kebutuhan jaring pengaman sosial dan pensiun. Brazil tidak mampu mengalokasi sumber daya untuk penyediaan akses pendidikan yang berkualitas, infrastruktur, kesehatan, dan penyediaan lapangan pekerjaan.

Sedangkan untuk kasus Afrika Selatan, mereka juga dinilai gagal memanfaatkan kondisi bonus demografi ini dengan bukti angka pengangguran yang tinggi. Terjadi diskoneksi antara tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang tidak bisa diimbangi oleh tingkat pertumbuhan lapangan pekerjaan. Diketahui ada 53 persen generasi muda di Afrika Selatan yang menganggur karena tidak terserap pasar tenaga kerja.

Lalu Jepang, merupakan negara yang dianggap mampu dan berhasil memanfaatkan dan menghadapi fase bonus demografi. Jepang mampu memanfaatkan "celah kesempatan" atau window of opportunity dari bonus demografi yang terjadi pada tahun 1970-an.

Kini Jepang sudah menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia. Dengan angka usia produktif yang melimpah, Jepang dianggap berhasil membangun perindustrian dalam negeri dan mampu mendorong roda perekonomian di negerinya. Meski pada akhirnya dampak dari kondisi tersebut, Jepang bukan berarti lolos dari permasalahan lainnya. Pasalnya Jepang kini dirundung dengan melimpahnya angka manula atau memasuki masyarakat yang menua (ageing society).

Meski begitu Tri Winarno, salah satu peneliti senior Bank Indonesia mengungkapkan bahwa dalam kondisi seperti itu saja Jepang adalah negara dengan tingkat pengangguran paling rendah di antara negara maju lainnya. Sampai tahun 2017 , angka pengangguran Jepang belum pernah menyentuh angka 3 persen dan hampir 80 persen penduduk usia kerjanya berhasil terserap oleh sektor produktif. Angka yang sangat besar jika dibandingkan dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Menurut analisis Tri, seharusnya Indonesia mampu seperti Jepang. Apalagi fase bonus demografi Indonesia dipandang lebih menguntungkan dari pada Jepang.

"Sederhananya, bonus demografi yang kita miliki adalah setiap 3 orang penduduk, 2 penduduk kita adalah penduduk produktif. Kebalikan dengan Jepang, setiap 3 orang penduduk hanya satu orang yang produktif. Jadi di Jepang 1 orang menopang 2 orang, sedangkan di negara kita, 2 orang menyangga satu orang. Logikanya, akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia harusnya lebih tinggi dari Jepang,’’ papar Tri dalam artikelnya di Investor Daily (2017).

Pandangan Generasi Muda Terhadap Ekonomi Indonesia

Menjadi penopang roda perekonomian Indonesia di masa emas Indonesia, rasanya kita pun butuh tahu bagaimana para generasi muda menanggapi hal ini. Bagaimana pandangan mereka terhadap kondisi negeri yang nantinya akan dimandatkan oleh mereka?

Untuk menjawab soal itu, Good News From Indonesia (GNFI) bersama Datamixr dan Fieldwork Indonesia akhirnya membuat Survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020. Survei ini dilakukan selama Juli-Agustus 2020 dan hasilnya telah diumumkan pada 26 Agustus 2020.

Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020

Tujuan utama dari penyelenggaraan survei ini adalah untuk mengetahui seberapa optimis generasi muda terhadap masa depan Indonesia pada berbagai sektor kehidupan mereka selama 10 tahun ke depan. Ada lima topik isu besar yang diteliti yaitu mengenai soal infrastruktur dasar, politik dan hukum, ekonomi dan kesejahteraan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta kehidupan sosial.

"Masyarakat Indonesia memiliki beberapa 'DNA' yang bisa membuat bangsa ini semakin dikenal dan maju untuk bersaing dengan bangsa lain di dunia. Apalagi 10 tahun ke depan, di tengah puncak bonus demografi, generasi muda inilah yang akan memimpin seluruh sektor pembangunan. Untuk itu kita perlu tahu bagaimana pandangan mereka dan seberapa besar optimisme mereka terhadap negerinya sendiri,’’ ungkap Akhyari Hananto, pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi GNFI saat menyampaikan sambutan pada ilisan hasil survei ini.

Survei ini yang dilakukan pada 300 responden yang tersebar di lima kota besar seluruh Indonesia, yakni Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta. Rentang usia responden adalah 18-40 tahun dengan dominasi kelompok usia 18-25 tahun sebanyak 42 persen.

Hasilnya, pada lima sektor kehidupan yang diteliti, optimisme generasi muda pada sektor ekonomi dan kesejahteraan menghasilkan angka net indeks 50 persen. Yang artinya angka net indeks tersebut dalam klasifikasi tingkat optimisme yang tinggi (promoters).

Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020

Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020

Berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri kreatif, perusahaan rintisan (startup), dan iklim kewirausahaan di Indonesia dipandang positif oleh generasi muda. Perkembangan ini dinilai membuat pilihan lapangan pekerjaan yang semakin beragam, apalagi pendorong kemajuan ini adalah perkembangan teknologi digital.

Dari hasil survei, sub sektor ini mendapatkan angka net indeks optimisme sebesar 64 persen dan masih masuk klasifikasi tingkat optimisme yang tinggi (promoters).

"Hampir semua responden dari penelitian kualitatif kami beranggapan bahwa untuk membuat usaha di Indonesia itu sangat gampang. Seumpama [mereka] punya modal, punya produk, tinggal dipasarkan saja di sosial media. Dan itu menjadi hal yang sangat signifikan untuk memanfaatkan kesempatan itu,’’ ungkap Praditya Andika Putra, peneliti Datamixr kepada GNFI (31/08).

Namun, ada satu hal yang menjadi kajian dan fokus khusus Redaksi GNFI, yaitu mengenai kondisi keuangan para generasi muda ini. Apakah hal ini didukung oleh pengelolaan keuangan yang baik yang dilakukan oleh mereka?

Pasalnya GNFI kerap menemukan beberapa pendapat bahkan penelitian yang menyebutkan bahwa generasi muda, terutama generasi milenial dikenal sangat konsumtif, sulit mengelola keuangan, sampai dicap sebagai generasi yang diproyeksikan akan menjadi "gelandangan" di masa depan akibat ketidakmampuan mereka membeli rumah.

Perencana keuangan dari Finansialku, Widya Yuliarti, tidak serta merta sepakat dengan hal tersebut. Pasalnya, dari klien-klien yang dia hadapi hingga saat ini, ada sebuah tren yang cukup mengagetkan serta menggembirakan. "Mereka punya hashtag yang penting mulai dulu aja. Dari pada cuman jadi wacana doang, dari pada banyak omong doang,’’ ungkap Widya kepada GNFI, Kamis (03/09).

Mereka yang tergolong generasi muda ini, diungkap Widya, kerap berinsiatif untuk melek keuangan, melek investasi, dan melek bagaimana cara mengatur uang dengan baik. Terutama bagi mereka yang memutuskan untuk membangun wirausaha atau bisnis.

"Sekarang perencana keuangan sudah mulai banyak. Merek belajar dari sosial media bukan lagi dari buku yang harus dicari. I thing it’s a great start!" kata Widya.

Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020

Saat melakukan survei ini, Praditya—yang disapa Radit—memang menemukan bahwa perkembangan teknologi sudah membuat tatanan baru pada kondisi sosial masyarakat, khususnya pada generasi muda yang tumbuh beriringan dengan perkembangan teknologi. Tak dapat dipungkiri semua aspek kehidupan mereka kini sangat terpengaruh dengan aspek perkembangan digital yang ada saat ini.

"Memang sebenarnya secara psikologi, secara nggak langsung, dunia teknologi digital sudah melekat di kehidupan masyarakat. Sudah membentuk struktur, membentuk sistem sosial yang baru bagi mereka. Secara alam bawah sadar mereka langsung mengaitkan dan mencoba merefleksikan kehidupan sehari-hari dengan apa yang mereka dapat dari informasi yang tersebar secara digital," jelas Radit.

Tak sedikit Widya juga menemukan bahwa anak SMA sudah mulai bertanya bagaimana cara berinvestasi, bagaimana cara mengatur keuangan, bahkan bagaimana cara memutar uang modal untuk membangun bisnis kecil.

Apalagi kondisi pandemi seperti ini justru semakin membuat para generasi muda lebih berpikir dan menimbang tentang keadaan finansial mereka. Widya menyebut kondisi bagaikan dua koin, punya sisi baik dan sisi buruk. "Sisi baiknya adalah kita jadi tahu bahwa orang-orang yang memiliki pengaturan keuangan yang baik, pasti akan survive dalam segala macam kondisi. Saat kita tidak memiliki pengaturan keuangan, saat kondisi pandemi pasti akan hancur,’’ jelas Widya.

Menurut Widya, sekarang makin banyak orang menabung sehingga pertanyaan berikutnya adalah pengelolaan ke depannya akan seperti apa.

Lalu bagaimana dengan mereka yang harus menanggung dampak pengelolaan keuangan orang tuanya yang tidak baik?

Kawan GNFI tentu pernah mendengar soal Generasi Sandwich. Mari kita bahas fenomena ini.

Fenomena Generasi Sandwich

Generasi Sandwich Indonesia
info gambar

Sejak 2019 istilah "Generasi Sandwich" ramai menyeruak di Indonesia. Sebuah istilah baru yang dianggap sangat menggambarkan situasi dan kondisi perekonomian generasi muda di Indonesia. Terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Sebenarnya apa itu Generasi Sandwich?

"Generasi Sandwich ini sebenarnya dia membiayai dua keluarga, (yaitu) keluarga dia sendiri dan keluarga orang tuanya. Jadi dia terhimpit. Terhimpit dengan keluarga dia dan terhimpit juga dengan orang tua," tutur Widya kepada GNFI.

Salah satu penyebab maraknya fenomena Generasi Sandwich, diungkap Widya, karena para orang tua mereka yang tidak dapat mengelola keuangannya dengan tepat di masa lampau. "Karena beberapa orang tua mereka menganggap, 'gue udah nyekolahin lo, sekarang lo berbakti sama gue dengan membiayai gue.' Tapi kan sebenarnya nggak kayak gitu permainannya,’’ imbuhnya.

Istilah Generasi Sandwich ini pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller pada 1981. Miller menjabarkan penjelasan tentang Generasi Sandwich ini dalam jurnalnya berjudul The "Sandwich" Generation: Adult Children of the Aging.

Miller mendeskripsikan Generasi Sandwich sebagai generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup tidak hanya orang tua mereka, melainkan juga anak-anak mereka. Meski begitu, Miller menggambarkan fenomena generasi ini dengan lebih menekankan pada dampak tekanan psikologis yang dirasakan orang-orang yang tergolong Generasi Sandwich.

Profesor sekaligus direktur praktikum Universitas Kentucky, Lexinton, Amerika Serikat, itu mengungkapkan bahwa salah satu sumber utama yang membuat dampak tekanan psikologis itu karena kurangnya persiapan masa tua oleh orang tua mereka. Itu membuat mereka yang tergolong Generasi Sandwich diposisikan sebagai satu-satunya sumber utama penyokong hidup orang tua sekaligus anak-anak mereka.

Meski begitu, Widya justru kerap menemukan kliennya yang seolah sengaja memposisikan diri sebagai Generasi Sandwich ini. Maksudnya adalah, "Mereka membiayai orang tuanya dengan kemauan mereka. Bukan sesuatu yang wajib. Meskipun orang tua itu butuh atau tidak, tetap mereka bantu."

Lalu bagaimana kesempatan berwirausaha bagi mereka yang tergolong Generasi Sandwich?

Widya justru menyambut baik jika mental berwirausaha ini turut dipikirkan oleh mereka yang masuk dalam Generasi Sandwich. Pasalnya pada zaman sekarang mereka dalam kondisi yang beruntung dengan banyaknya kesempatan membangun wirausaha maupun bisnis tanpa butuh modal sedikitpun.

"Saya sering menemukan di lapangan bahwa [mereka mengaku berbisnis] nggak pakai modal awal. Mereka cukup dari preorder dan mendapatkan uang (keuntungan) dari situ. Itu yang mereka gunakan dan mereka putar," ungkapnya.

Bagi Widya permasalahan modal bisnis dipandang bukan lagi permasalahan utama bagi mereka generasi muda. Dengan ada itikad untuk berbisnis, Widya menilai mereka punya usaha untuk memperbaiki cashflow mereka sebagai penyokong dua keluarga dalam kehidupannya.

"Menjadi reseller di zaman sekarang juga cukup mudah. Jadi, menurut saya kalau memang dia ingin berbisnis, apalagi yang tidak ada modalnya, kenapa nggak dicoba dulu aja. Ini kesempatan!’’ imbuh Widya.

Ketersediaan informasi yang sangat luas, fasilitas "lapak" atau toko daring yang sangat mudah diakses, sampai kekuatan sosial media serta para influencer yang menyebar di Indonesia menjadi salah satu kesempatan yang tak boleh sampai terlewati.

Memang, untuk membangun bisnis pasti ada risikonya. Apalagi membangun bisnis butuh perencanaan dan strategi. Namun bagi Widya, permasalahan utama yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi generasi muda dalam berbisnis justru datang dari arah lain.

"Yaitu, semakin banyak pesaing. Bagaimana mereka bisa bertahan. Kalau mereka tidak bisa melangkah lebih cepat, kalau mereka tidak bisa berlari, maka mereka akan tertinggal. Inilah ancaman yang tidak terlihat. Kalau mereka tidak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, ya mereka pasti akan tergerus,’’ kata Widya.

--

Sumber: Hasil Survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020 | Wawancara Eksklusif GNFI | Dorothy A. Miller, The 'Sandwich' Generation: Adult Children of the Aging (1981) | Muhammad Faisal, Generasi Kembali ke Akar (2020) | Antara | Okezone | Investor Daily | Katadata | Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini