Soal Pandemi, Anak Muda Optimistis Indonesia Mampu Bangkit dalam Kondisi Apapun

Soal Pandemi, Anak Muda Optimistis Indonesia Mampu Bangkit dalam Kondisi Apapun
info gambar utama

Judul di atas bukan omong kosong, Kawan. Nyatanya anak-anak muda Indonesia memang optimistis jika bangsa ini mampu bangkit dalam situasi apa pun, termasuk di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Sebagai catatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah virus Corona sebagai pandemi global. Indonesia dicatat sebagai salah satu negara yang angka korbannya terus bertambah dengan penyebaran dan penularan yang makin cepat dan meluas.

Sebagai pengingat, kasus pertama virus Corona diumumkan langsung oleh Presiden Jokowi di Istana Presiden pada 2 Maret dengan adanya kasus dua orang yang terinfeksi. Perkembangan virus ini cukup pesat sehingga kasus orang yang positif terinfeksi setiap hari semakin bertambah, baik jumlahnya maupun daerah yang terdampak virus.

Bermula dari Jakarta sebagai episentrum atau pusat penyebaran hingga menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia.

Pemerintah juga sudah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah yang padat penduduk sebagai langkah mengereman sebaran Covid-19. Namun begitu, masih didapat angka pasien terjangkit terus meningkat.

Mengukur Optimisme Anak Muda

Hasil riset Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020 yang dilakukan oleh GNFI, DataMixr, dan Fieldwork, menyebut generasi muda optimistis terhadap transformasi teknologi cukup tinggi yang tengah berlangsung di Indonesia. Hal ini tentunya terkait dengan penanganan pandemi dengan mengandalkan riset dan pengembangan teknologi.

Secara umum, dalam hasil survei yang dilakukan di lima kota terbesar di Indonesia itu, yakni di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan, anak-anak muda yang optimistis atas kemajuan bangsa melalui transformasi teknologi mencapai 80 persen dengan net indeks sekira 76 persen.

Lain itu, semangat gotong-royong yang merupakan kultur dasar masyarakat Indonesia juga mendapatkan respons yang cukup tinggi.

Ini menandakan bahwa anak-anak muda Indonesia memang masih memegang teguh dan menjaga kultur budaya bangsa ini. Mereka percaya dengan penggalangan kekuatan serta terapan teknologi, Indonesia mampu keluar dari zona merah pandemi.

Bonus demografi anak-anak muda di Indonesia mampu membawa bangsa ini menuju arah yang lebih baik. Itu artinya, rasa optimists tadi akan cukup mudah ditularkan melalui semangat kebersamaan yang militan. Kira-kira itu yang dikatakan Akhyari Hananto, pendiri dan Pemimpin Redaksi GNFI, dalam diskusi daring peluncuran hasil riset ini pada Rabu (26/8).

IOGM 2020
info gambar

Periset lembaga riset DataMixr, Praditya Andika, mengatakan bahwa optimisme ini menunjukkan indikator positif soal bagaimana anak-anak muda memandang baik masa depan bangsa ini. Hal itu tergambar dari beberapa optimisme di sektor-sektor strategis, seperti ilmu pengetahuan dan kebudayaan, infrastruktur, ekonomi dan kesejahteraan, serta kehidupan sosial.

Meski begitu ada beberapa hal yang ditangkap Radit—sapaan akrabnya—soal gejolak anak-anak muda serta rasa optimisme mereka di era pandemi ini. Gejolak itu menyangkut soal hal-hal atas belum optimalnya upaya pemerintah untuk memerangi pandemi dan memberikan bantuan sosial hingga level masyarakat paling bawah.

''Secara umum mereka masih melihat bahwa penanganan Covid-19 ini masih banyak beraroma politis, sehingga secara umum masyarakat yang menjadi korban melalui kebijakan-kebijakan yang kurang tepat dan kurang efektif,’’ tandas Radit pada GNFI, Jumat (18/9).

Boleh jadi apa yang diutarakan Radit berbanding lurus dengan temuan, bahwa skor optimisme generasi muda terhadap sistem politik dan hukum di negeri ini mendapat angka yang paling kecil ketimbang lainnya, yakni nett indeksnya tercatat hanya 14 persen.

Soal lainnya, sambung Radit, anak-anak muda itu masih belum melihat pemerintah tanggap atas kekhawatiran masyarakat atas pandemi ini. Jadi langkah-langkah yang dilakukan maupun kebijakan-kebijakan yang diterapkan belum terlalu mengena secara langsung dan esensial.

Peran Anak Muda di Media Sosial

Media sosial anak muda
info gambar

Sementara pengamat media sosial, Wicaksono, menyebut bahwa peran generasi muda untuk menyebarkan tren positif tergambar dari media sosial yang mereka unggah. Secara umum seperti digambarkannya, mereka lebih tertarik untuk memposting hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar, ketimbang memposting hal-hal buruk, seperti menyebarkan hoaks atau hal lainnya.

Tak heran, jika Wicaksono menyebut tren media sosial saat ini seperti ''CCTV berjalan'' karena beragam rekaman kejadian di sekitar selalu muncul di platform media sosial secara real time.

''Jika bicara soal media sosial anak-anak muda di Indonesia sangat random, seperti membagikan konten-konten yang positif, baik, lucu, sedih, dst. Hal itu menggambarkan bahwa mereka membutuhkan penyaluran atau hiburan secara individu,’’ tandas Ndoro Kakung—sapaan panggungnya—pada GNFI, Jumat (18/9).

Lain itu, Wicaksono juga bilang soal tren-tren implementasi teknologi media sosial di era pandemi yang menunjukkan tren positif, seperti meeting virtual, konser virtual, dst, yang semuanya tak lepas dari peran generasi muda dalam pengembangannya.

Hal baik lainnya soal energi positif yang dilakukan oleh anak muda di media sosial adalah soal kekuatan word of mouth promotion, atau mempromosikan dari mulut ke mulut. Banyak dari kalangan anak-anak muda yang mendengungkan keberpihakan kepada UKM di media sosial. Tujuannya, agar dagangan UKM tersebut laris dan banyak pelanggan, hingga mampu mempertahankan roda ekonomi.

Soal word of mouth promotion, Radit juga memberikan pandangannya bahwa itu bisa jadi sebuah perilaku positif anak-anak muda untuk membantu sesama, terlebih jika sudah menyangkut soal ekonomi dan sosial.

Anak Muda Ternyata Tak Suka Sebar Hoaks

anak muda anti hoaks
info gambar

Ada data yang mencengangkan dari anak muda Indonesia soal sebaran berita bohong (hoaks). Merujuk data Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020, nyatanya anak-anak muda Indonesia tak suka menyebarkan hoaks, terlebih di grup-grup obrol, semisal WhatsApp, Line, maupun Telegram.

Dalam paparan yang disampaikan Septiaji Eko Nugroho, Ketua Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax), bahwa generasi ini memiliki banyak inisiatif dan energi positif. Memang, soal inisiatif terkait demografi yang dicatat Mafindo bahwa kalangan usia 30 masih lebih agresif, ketimbang usia di bawahnya.

Meski begitu, Septiaji juga mengatakan bahwa terdapat beberapa hal terkait fenomena ini. Memang, anak-anak muda tak mudah tergoda hoaks, namun pada sisi lain, mereka cenderung apatis.

''Problemmnya adalah anak-anak muda ini lebih apatis untuk beberapa isu tertentu. Mereka cenderung tak peduli terhadap isu yang kurang populer di telinga mereka,'' ungkapnya.

Lain itu, dari beberapa kasus yang lazim ditemui Mafindo, para anak muda ini memiliki masalah ketika ingin menyanggah hoaks yang disebarkan oleh orang tua mereka.

''Mungkin karena kultur budaya Indonesia yang membuat anak-anak tak bisa atau tak boleh menyanggah orang tua, meski apa yang dilakukan orang tua itu salah. Tapi kita tetap punya cara lain, yakni dengan menggandeng tangan orang lain. Semisal tokoh agama, guru ngaji, dan yang lain, yang nasehatnya tentu didengar oleh para orang tua itu.''

Soal lainnya, Septiaji menjelaskan jika saat ini Mafindo tengah melakukan beberapa inisiatif untuk terus menguatkan militansi gerakan anti hoaks, yakni dengan melakukan vokasi terhadap anak-anak muda, mahasiswa, komunitas pemuda, untuk dapat melakukan proses verifikasi atau cek fakta, melalui dukungan teknologi.

Mafindo juga berpartisipasi membangun literasi digital dengan membuat kurikulum online soal tahapan melakukan kemampuan verifikasi kabar (cek fakta) dan menyebarkannya melalui roadshow virtual. Hal lain yang juga dilakukan adalah memberikan tantangan kepada mahasiswa dan komunitas remaja untuk membentuk unit kegiatan mahasiswa fact checking.

''Di luar dugaan, banyak yang mendaftar dan tertarik dengan kurikulum program ini. Memang, anak muda harus diberikan tantangan untuk maju dan berkembang,'' tandasnya.

Upaya ini tentunya butuh dukungan yang tak main-main, seperti dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Kesehatan, dan lembaga-lembaga yang berkepentingan lainnya. Menurut data Mafindo, banyak sekali hoaks soal isu kesehatan yang memakan porsi sebesar 56 persen pada periode Januari hingga Juni 2020.

Terakhir, Septiaji berujar jika dalam kondisi apapun anak-anak muda harus tetap kuat dan militan. Terlebih untuk gerakan-gerakan positif, seperti memberantas hoaks. Optimisme dan terus berjejaring adalah dua hal yang tak boleh putus.

Kekuatan Anak Muda Galang Dukungan Mental dan Ekonomi untuk Masyarakat

Gerakan optimisme pemuda dalam membantu pemerintah menekan sebaran Covid-19 juga dilakukan oleh lembaga sosial asal Bogor, Salam Aid. Sejak Maret 2020 atau awal pandemi Covid-19 mulai mendera Indonesia, lembaga ini sudah menyalurkan bantuan APD untuk sejumlah rumah sakit di Kota Bogor dan beberapa kota di Indonesia.

Kemudian mereka juga melakukan pendampingan pasien Covid-19 dengan penyediaan mobil siaga Covid-19 uuntuk melakukan tes swab, dan menyalurkan bantuan--berupa sembako--bagi keluarga yang terdampak Covid-19.

Lembaga ini juga menginisiasi keberadaan warung berkah yang menyediakan makanan gratis untuk masyarakat yang terdampak Covid-19 secara ekonomi, semisal tukang ojek, ojol, dan masyarakat lainnya saban hari Jum’at. Jika ditotal, sudah ada sekira 51.779 jiwa yang telah menerima manfaat dari serangkaian program Salam Aid di Kota Bogor dan kurang lebih 29 kota/kabupaten seluruh Indonesia.

Salam Aid juga memperkuat semangat membantu masyarakat melalui kehadiran program Temanco. Menurut Direktur Salam Aid, Lutfi Kurnia, Temanco berbasis tiga aksi utama yang intinya menggenggam erat pasien Covid-19 dan keluarganya.

Karena Temanco berbasis program relawan, Salam Aid membuka pendaftaran bagi para survivor Covid-19 yang ingin tergabung sebagai relawan Covid-19. Sementara untuk pasien Covid-19, program Temanco akan ditawarkan melalui Dinas Kesehatan sebagai pemilik database pasien Covid-19.

Temanco
info gambar

Upaya ini seperti dijelaskan Luthfi pada GNFI, Jumat (18/9), merupakan implementasi dari cara pandang generasi muda untuk memberikan kontribusi dalam kondisi apapun, lepas dari ada yang mendukung atau tidak secara finansial dan operasional dari sponsor maupun pemerintah.

''Jika ada suatu peristiwa, pasti ada hikmah, itu yang mendasari pergerakan kami. Kami mencoba mengambil peran agar jadi bagian dari sejarah peristiwa tersebut,'' jelas Luthfi.

Ia juga mengatakan bahwa hal-hal positif yang dilakukan anak-anak muda untuk memerangi pandemi adalah sebagai rencana untuk menjadi bagian dari sejarah bangsa ini.

Hingga saat ini, Salam Aid telah memiliki mitra-mitra di semua provinsi di Indonesia. Total ada 200 sekolah yang aktif dalam Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) yang membantu untuk 29 kota/kabupaten terdampak Covid-19.

Secara umum, Salam Aid rutin menggalang dana dari orang tua murid, dan beberapa donatur tetap. Menurut Luthfi, hingga saat ini pihaknya belum mendapat hibah atau bantuan operasional dan pendanaan dari pemerintah kota, kabupaten, maupun provinsi.

''Pendanaan murni kami cari sendiri, dari donasi orang tua murid sekolah alam, hingga menggunakan platform penggalangan dana, semisal kitabisa.com,'' tegas Luthfi.

Meski begitu, Luthfi menyebut jika lembaganya mendapat berbagai dukungan dari pemerintah kabupten/kota, seperti dari dinas kesehatan dan dinas sosial, khusus untuk program aksi sosial pemberantasan Covid-19.

Harapan pemerintah terhadap generasi muda di era pandemi

Soal bagaimana harapan pemerintah terhadap generasi muda di era pandemi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengimbau agar anak-anak muda tetap optimistis dan mampu mengubah tantangan menjadi sebuah peluang dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Kepada para mahasiswa baru Universitas Airlangga (Unair), Menko Airlangga menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 tak melulu menimbulkan kerugian. Menurut dia, pandemi ini memunculkan peluang untuk melakukan transformasi digital lebih cepat termasuk pengembangan industri 4.0.

''Terkait hal ini, Indonesia membutuhkan tak kurang 600 ribu ahli di bidang berbagai disiplin ilmu yang punya literasi digital. Oleh karenanya, kepada kalianlah Indonesia memanggil,'' kata Menko Airlangga saat memberikan ceramah daring di Jakarta, Selasa (01/09).

Airlangga berharap bahwa generasi muda memiliki peran besar, dan diharapkan bisa berperan sebagai inisiator perubahan (agent of change). Boleh jadi caranya beragam, misalnya bergabung sebagai relawan Covid-19 baik secara swadaya maupun bergabung dengan BNPB.

Agent of Change yang dimaksud adalah pihak yang mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik melalui efektifitas, perbaikan dan pengembangan. Baik melalui teknologi, kampanye, vokasi, serta gerakan edukasi semasif mungkin.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa jumlah anak-anak muda Indonesia mencapai 64,19 juta jiwa. Dengan jumlah pemuda yang sangat banyak itu, seharusnya dapat memberikan kontribusi yang lebih dalam memerangi Covid-19.

Disinilah peran generasi muda, sebagai sosok yang muda, yang dinamis, yang penuh energi, yang optimis, diharapkan untuk dapat menjadi agen perubahan yang bergerak dan berusaha untuk bisa ikut membantu pemerintah dalam memutus rantai penyebaran Covid-19.

QlueThermal
info gambar

Sejalan dengan apa yang dikatakan Menko Airlangga, beberapa anak muda Indonesia sudah mampu menciptakan beragam solusi maupun strategi penanganan Covid-19 berbasis teknologi.

Seperti yang diciptakan Qlue, platform Smart City terbesar di Indonesia yang diinisiasi anak-anak muda Indonesia. Melalui perangkat teknologi bernama QlueThermal yang mampu mengumpulkan data secara efektif dan efisien dan mendeteksi masyarakat berstatus OTG (orang tanpa gejala).

Founder dan CEO Qlue Smart City, Rama Raditya, dalam sebuah webinar, Selasa (15/9), menyebut bahwa QlueThermal adalah salah satu contoh bagaimana kemajuan teknologi bisa membantu pemerintah dalam beradaptasi dengan kebiasaan baru di situasi yang kurang menyenangkan seperti sekarang ini.

Dengan pemanfaatan teknologi AI dan IoT (Internet of Things), data-data yang didapatkan dari QlueThermal akan divisualisasikan di sebuah dasbor terintegrasi, sehingga membantu pemerintah dalam mengakselerasi penataan daerahnya di masa pandemi.

Karena dengan data, untuk memetakan pencegahan sebaran virus Corona akan tergambar dengan akurat, sehingga meminimalisir kebijakan-kebijakan atau aturan-aturan yang tak perlu.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini