Stres Akibat Pandemi, Grab Didesak Segera Merger dengan Gojek

Stres Akibat Pandemi, Grab Didesak Segera Merger dengan Gojek
info gambar utama

Di awal tahun 2020, santer terdengar kabar bahwa Gojek dan Grab tengah dalam pembicaraan untuk merger. Namun di awal pandemi, sekitar Maret-April lalu kabar tersebut sempat meredup. Apalagi pihak Softbank—investor terbesar Grab—membantah dengan tegas kabar tersebut.

Setelah pandemi ini terus berjalan dan telah memukul dua perusahaan penyedia layanan on-demand ini, tersiar lagi kabar bahwa Grab didesak untuk segera merger dengan Gojek. Secara mengejutkan, menurut salah satu sumber yang tidak disebutkan namanya oleh Bloomberg dan Financial Times itu mengatakan justru desakan ini datang dari CEO Softbank, Masayoshi Son.

Sumber tersebut mengungkapkan kepada Bloomberg bahwa sebenarnya Gojek dan Grab sudah secara intens saling berkomunikasi via Zoom untuk mendapatkan kesepakatan tentang perencanaan bergabungnya dua decacorn terbesar Asia Tenggara itu. Kabarnya, komunikasi ini sudah dimulai sejak Februari 2020 lalu, yang artinya sebelum pihak Softbank sempat membantah kabar tersebut.

Diskusi lebih intens ini dilakukan karena antara Gojek dan Grab telah merasa merugi akibat pandemi Covid-19 yang melanda. Meski begitu sumber yang tidak disebutkan namanya itu tidak menyebutkan siapa yang sebenarnya yang lebih merugi, entah Gojek atau Grab.

‘’Stres akibat Covid-19 dan kekhawatiran atas model bisnis berbagi tumpangan secara global menekan perusahaan untuk menyetujui kesepakatan,’’ demikian yang dikutip oleh Financial Times, Minggu, 13 September 2020 lalu.

Persaingan Ketat yang Buat Gojek-Grab ‘’Harus’’ Merger

Jika dibandingkan, nilai valuasi dan jumlah investasi Grab sebenarnya lebih besar dibandingkan Gojek. Financial Times mencatat hingga tahun 2019, nilai valuasi Grab sebesar 14 miliar dolar AS. Sedangkan nilai valuasi Gojek sebesar 10 miliar dolar AS. Namun akibat pandemi, santer kabar bahwa nilai dua decacorn ini telah diperjual belikan di pasar sekunder dengan ‘’diskon besar’’.

Layanan Gojek dan Grab memang dikatakan sangat mendominasi di Indonesia. Hal ini, dikatakan sumber Bloomberg, membuat frustrasi salah satu pesaing. Lagi-lagi sumber tersebut tidak menyebutkan secara spesifik siapa yang lebih merasa frustrasi akan persaingan sengit ini.

Untuk itu wacana penggabungan kekuatan antara keduanya dinilai lebih baik karena akan mengurangi pembakaran uang dan menciptakan salah satu perusahaan layanan on-demand yang paling kuat di Asia Tenggara. Sehingga tidak ada lagi persaingan untuk memperebutkan siapa yang paling mendominasi.

Persaingan Ketat Gojek-Grab
info gambar

Bloomberg melaporkan bahwa Grab sebenarnya sudah kehilangan dana lebih dari 200 juta dolar AS pada 2019. Sedangkan Gojek justru mampu mengembangkan bisnis pembayaran digitalnya melalui GoPay yang telah membantu sedikitnya 400 ribu para pengusaha mikro di Indonesia.

Dilihat dari jangkauan lokasi operasinya, catatan Financial Times memperlihatkan bahwa Gojek hingga kini sudah beroperasi di 207 kota di empat negara Asia Tenggara (Indonesia, Singapura, Thailand, dan Vietnam), 203 tempat di antaranya berada di Indonesia.

Sedangkan Grab sudah beroperasi di 339 kota di delapan negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Myanmar, Thailand, Kamboja, Filipina, dan Vietnam), 224 tempat di antaranya ada di Indonesia. Itu artinya pangsa pasar Indonesia masih yang terbesar bagi Grab. Tak heran jika terjadi persaingan yang sangat ketat antara Gojek dan Grab di Indonesia.

Meski begitu, menurut data statistik App Annie yang berbasis di California, Amerika Serikat, jumlah pengguna aktif aplikasi justru ‘’dimenangkan’’ oleh Gojek. Secara konsisten Gojek berada di peringkat paling tinggi dibandingkan dengan pengguna aktif Grab di seluruh titik operasi mereka.

Sebenarnya Kecil Kemungkinan Grab Merger dengan Gojek

Meski komunikasi antara Grab dan Gojek terdengar masih terus dilakukan dalam upaya merger. Sebenarnya para pengamat menilai bahwa kecil kemungkinan terjadi kesepakatan yang baik dan saling menguntungkan di antara keduanya, terutama bagi Grab.

Gojek sendiri dinilai mendapat dukungan politik di negaranya sendiri, Indonesia. Pendirinya, Nadiem Makarim adalah menteri pemerintah yang bisa saja lebih maksimal dalam memengaruhi dalam mengambil keputusan.

Apalagi ada wacana bahwa upaya merger ini adalah untuk mencapai kesepakatan bahwa Grab dapat mengakuisisi bisnis Gojek di Indonesia, bukan termasuk di negara lainnya seperti Vietnam, Singapura, dan Thailand. Sumber Bloomberg mengatakan bahwa akuisisi Grab di Indonesia saja sebenarnya memberi banyak kendali bisnis.

Selain itu, kendala lain yang semakin mengecilkan kemungkinan keduanya merger adalah regulasi Indonesia melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Sejak awal tahun 2020 lalu, saat kabar merger pertama kali terdengar, KPPU sudah memberi sinyal negatif akan aksi korporasi tersebut.

Pertimbangan itu mengacu pada Pasal 28 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Pelaku usaha dilarang melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha yang tidak sehat.

Kalaupun ada potensi akuisisi, KPPU akan menilai ukuran konsentrasi pasar dari kedua perusahaan. Penilaiannya berdasarkan Herfindahl-Hirschman Index (HHI).

‘’Tentunya akan dilihat nilai pasca terjadi merger atau akuisisi,’’ ungkap Komisioner KPPU, Guntur Syahputra, dikutip Katadata.co.id, Maret lalu (11/3/2020).

Hingga artikel ini ditulis, pihak SoftBank, Grab, maupun Gojek diketahui masih menolak berkomentar.

Kalau menurut Kawan GNFI bagaimana? Setuju tidak dua geng ojol ini bersatu?

--

Sumber: Financial Times | Bloomberg | Katadata

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini