Mengintip Megahnya 5 Jembatan Terpanjang di Sumatra

Mengintip Megahnya 5 Jembatan Terpanjang di Sumatra
info gambar utama

Sebagai bagian dari wilayah kepualuan Indonesia, region Sumatra memiliki banyak gugusan pulau yang terpisah. Selain itu, region Sumatra juga dikenal memiliki beberapa sungai yang berukuran besar, sehingga perlu dibangun sebuah jembatan sebagai jalur penghubung.

Tak hanya berfungsi sebagai penghubung, berbagai jembatan di Sumatra juga memiliki desain struktur yang megah sehingga tak jarang menjadi ikon dan landmark dari daerah tersebut.

Berikut ulasan mengenai 5 jembatan terpanjang di region Sumatra (termasuk wilayah Kepri dan Babel), kelima jembatan tersebut memiliki konstruksi yang megah dan beberapa dijadikan ikon wilayah.

Baca juga: Daratan Sumatra akan Terhubung dengan Pulang Bangka, Melalui Jembatan Sumsel-Bangka

1. Jembatan Barelang (2,26 km)

Jembatan Barelang, Kota Batam © Liputan6
info gambar

Memiliki panjang keseluruhan 2.264 meter atau sekitar 2,26 KM, Jembatan Bereleng dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di region Sumatra. Jembatan yang terletak di Kepualaun Riau ini menghubungkan 6 pulau yang membentang di wilayah Kota Batam. Ke enam pulau tersebut meliputi, Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru.

Jembatan ini sudah menjadi kebanggaan masyarakat Kota Batam, sebab konstruksi Jembatan Barelang merupakan salah satu mahakarya Bangsa yang patut dilestarikan dan diapresiasikan karena telah menjadi icon pariwisata di Kota Batam.

Jembatan ini diprakarsai langsung oleh Bapak Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie pada tahun 1992, ketika saat itu beliau masih menjadi pejabat pada era Orde Baru sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Dengan pikiran-pikiran briliannya, beliau merancang sebuah maha karya berupa bangunan jembatan Indonesia yang merupakan bangunan yang dirancang dengan konsep arsitektur modern yang mengadopsi bangunan jembatan legendaris Golden Gate yang terdapat di wilayah San Fransisco, Amerika Serikat.

Terdapat 6 rangkaian pada jembatan tersebut, dimana setiap masing-masing rangkaiannya mengambil nama dari 6 Raja yang pernah menguasai Melayu - Riau dari abad 15 M hingga 18 M. Ke enam rangkaian jembatan tersebut di antaranya:

  • Jembatan Tengku Fisabilillah, memiliki panjang jembatan 642 meter, bentang 350 meter dan tinggi 38 meter. Jembatan I Barelang ini merupakan jembatan yang paling ramai dikunjungi baik oleh warga Batam sendiri maupun wisatawan luar dan dalam negeri.
  • Jembatan Nara Singa, yang menghubungkan Pulan Tonton dengan Pulau Nipah, memiliki panjang jembatan 420 meter dengan ketinggian 15 meter dan bentang 160 meter.
  • Jembatan Raja Ali Haji, yang menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setoko dengan panjang jembatannya 270 meter, bentang 45 meter dan tingginya 15 meter.
  • Jembatan Sultan Zainal Abidin, yang menghubungkan Pulau Setoko dengan Pulau Rempang dengan panjang jembatan 365 meter, bentang 145 meter, dan tinggi 16,5 meter.
  • Jembatan Tuanku Tambusai, memiliki panjang 385 meter, bentang 245 meter dan tinggi 27 meter ini menghubungkan Pulan Rempang dengan Pulau Galang.
  • Jembatan Raja Kecik, yang memiliki panjang 180 meter, bentang 45 meter dan tinggi 9,5 meter. jembatan Raja Kecil ini menghubungkan Pulau Galang dengan Pulang Galang Baru.

2. Jembatan Dompak (1,5 km)

Jembatan Dompak yang megah ini menjadi jembatan terpanjang di luar Pulau Jawa.
info gambar

Membentang sepanjang 1,5 km, Jembatan Dompak dinobatkan sebagai jembatan terpanjang ke-2 di region Sumatra.

Terletak di Kota Tanjungpinang, jembatan megah ini menghubungkan area komplek pemerintahan Provinsi Kepualauan Riau dengan area Kota Tanjungpinang. Pembangunan jembatan ini diinisiasi oleh mantan Gubernur Kepulauan Riau yakni Ismeth Abdullah pada awal 2006.

Awalnya, ada dua daerah yang menjadi opsi pembangunan jembatan, yakni Senggarang dan pulau Dompak. Dengan berbagai pertimbangan, dipilihlah pulau Dompak sebagai lokasi Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri.

Setelah daerah pembangunan jembatan telah diputuskan, tahun 2007 perencanaan pembangunan awal dilakukan dengan mengerjakan Detail Engineering Design (DED).

Proses peletakan batu pertama dilakukan pada Juli 2014 oleh gubernur Muhammad Sani. Oktober 2015, proyek jembatan tersebut mengalami musibah, yakni ambruknya pembangunan di P9.

Kejadian ini membuat target penyelesaian jembatan tidak tercapai dan pihak kontraktor rugi hingga Rp30 miliar.

Meski sempat membuat banyak pihak putus asa, pihak kontraktor dan Pemprov Kepri pun menggeser rancangan jembatan itu supaya dapat dilanjutkan pembangunannya. Salah satunya adalah perubahan sentuhan yang dilakukan pada desain jembatan.

Jembatan ini dibuka untuk umum pada November 2016. Sementera pada 2017, jembatan ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dengan usulan nama Jembatan Sultan Mahmud Riayat Syah oleh gubernur Nurdin Basirun.

Hingga kini, jembatan Dompak telah menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat Tanjungpinang.

Kemegahan jembatan ini ternyata memakan waktu dan energi yang tidak sedikit. Ada sekitar delapan tahun hingga akhirnya sebuah pemikiran dari Ismeth Abdullah, Gubernur Kepri kala waktu itu hingga kini bisa terwujud.

Baca juga: Terminal Kijing, Miliki Jembatan Penghubung Terpanjang di Indonesia

3. Jembatan Batanghari II

Jembatan Batanghari II, Kota Jambi © BP Jambi
info gambar

Peringkat ke-3 sebagai jembatan terpanjang di region Sumatra ditempati oleh Jembatan Batanghari II. Di bangun selama 8 tahun (2002-2010), jembatan yang terletak di Kota Jambi ini memiliki panjang 1.400 meter atau 1,4 km dengan lebar sekitar 9 meter.

Pembangunan Jembatan Batanghari II berhasil mempersingkat waktu tempuh dari kota Jambi ke wilayah sekitarnya, contohnya jarak tempuh dari Jambi ke Pelabuhan Muara Sabak semula 131,99 kilometer menjadi 61,86 kilometer. Sebagai jembatan alternatif yang menghubungkan jalur lintas timur di Kota Jambi sehingga membantu dalam pengiriman barang dan pelayanan jasa agar tepat dan efisien.

Sementara menurut Bernhard Panjaitan, MM Kepala Sub Dinas Praswil dan Tata Ruang Provinsi Jambi pembangunan Jembatan Batanghari II ini menelan biaya kurang lebih 125 milyar rupiah dari APBN,APBD Provinsi,APBD Kota Jambi, APBD Muara Jambi dan APBD Tanjab Timur selama tiga tahun anggaran yakni tahun 2003,2004 dan 2005.

4. Jembatan Tengku Agung Sultanah Siak (1,19 km)

Jembatan Siak menjadi urat nadi perkembangan Kabupaten Siak dan Kota Siak Sri Indrapura.
info gambar

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, dikenal juga dengan nama Jembatan Siak, adalah sebuah jembatan yang terletak di kota Siak Sri Indrapura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang membentang di atas Sungai Siak ini merupakan urat nadi perkembangan Kabupaten Siak dan kota Siak Sri Indrapura yang memiliki dua sisi daratan.

Sisi Utara di Kecamatan Siak, dengan ikon sejarah Istana Asserayah Hasyimiyah (yang juga dikenal dengan nama Istana Siak Sri Indrapura), dan sisi Selatan di Kecamatan Mempura dengan ikon sejarah berupa benteng dan tangsi Belanda di Desa Benteng Hulu dan Desa Benteng Hilir.

Nama jembatan ini diambil dari nama gelar permaisuri sultan terakhir Kerajaan Siak yang mengakhiri masa pemerintahan pada tahun 1946, atau satu tahun setelah Indonesia merdeka.

Jembatan kebanggaan rakyat Siak, provinsi Riau ini juga biasa disebut Jembatan Siak. Struktur megah ini menghubungkan dua daerah yang dipisahkan oleh Sungai Siak dan menjadi penghubung utama daerah sekitarnya.

Seperti yang telah diketahui, jembatan ini telah berdiri tegak sejak tahun 2007. Kala itu tahta kekuasaan tertinggi Indonesia masih diduduki oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah memiliki panjang 1.196 meter, lebar 16,95 meter ditambah dua buah trotoar selebar 2,25 meter yang mengapit sisi kanan dan kiri jembatan.

Ketinggian jembatan mencapai 23 meter di atas permukaan air Sungai Siak yang lebarnya mencapai sekitar 300 meter dan mampu menanggung beban sebanyak 28 ton.

Di atas jembatan berdiri dua menara setinggi masing-masing 80 meter dengan ukuran 10 X 5 m2, yang digunakan untuk diorama teater dan rumah makan, yang dilengkapi dengan dua buah lift untuk menuju puncak menara.

Jembatan yang dirancang bisa bertahan hingga usia lebih dari 100 tahun itu dibangun melalui sistem cable stayed, dengan konstruksi modern. Mengagumkan!

Baca juga: Kebut Pembangunan, Pemerintah Lelang 9 Ruas Jalan to Baru

5. Jembatan Ampera 9 (1,11 km)

Desain yang menarik serta strukturnya yang megah membuat jembatan ini dijadikan sebagai ikon Kota Palembang.
info gambar

Rakyat Palembang boleh bangga atas jembatan yang telah berdiri sejak tahun 1965 ini. Pasalnya jembatan ini dibangun di atas Sungai Musi yang diketahui memiliki sejarah panjang dengan kerajaan Sriwijaya

Ternyata singkatan dari Ampera adalah amanat penderitaan rakyat, jembatan yang sudah menjadi lambang dan ikon Kota Palembang ini menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Jembatan Aampera memiliki panjang 1.117 meter dengan lebar 22 meter (bagian tengah 71,90 meter, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton), semua bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat namun sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi.

Bandul pemberatnya pada tahun 1990 dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan. Tinggi jembatan ini 11,5 meter dari atas permukaan air, tinggi menara 63 meter dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 meter.

Rekor baru jembatan terpanjang di Sumatra akan segera terpecahkan

Gambaran jembatan Batam-Bintan
info gambar

Sebagai catatan, sebentar lagi rekor baru jembatan terpanjang di Sumatra, bahkan Indonesia akan segera dipecahkan. Pasalnya pada 2021, setidaknya proyek senilai puluhan triliun mulai dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Salah satunya yang fenomenal adalah pembangunan Jembatan Batam dan Bintan sepanjang 14 km yang jadi program Presiden Jokowi.

Proyek Jembatan Batam-Bintan diperkirakan akan membentang 14,75 Km dengan anggaran Rp 8,62 triliun. Pembangunan Jembatan Batam Bintan masuk dalam Major Project RPJMN 2020-2024.

Gubernur Kepulauan Riau H Isdianto pernah melakukan peninjauan tapak-tapak pembangunan jembatan pada akhir tahun lalu. Sehingga dalam beberapa tahun kedepan, jembatan ini ditargetkan rampung dan bisa digunakan.

Sumber Referensi : Kementerian PUPR RI | Ilmupengetahuan.com | Traveloka.com| CNBC Indonesia

Baca juga :

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
YF
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini