Eksistensi Grup Teater Masa Kolonial

Eksistensi Grup Teater Masa Kolonial
info gambar utama

Pada pertengahan abad ke-19, teater komersial mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda ketika diselenggarakan pertunjukan drama Eropa. Teater yang berkembang saat itu menganut aliran realis.

Realisme dalam teater berkembang sejak 1850-an di Perancis, lalu menyebar secara psporadis ke berbagai penjuru dunia. Realisme merupakan paham yang hadir sebagai kontemplasi kepekaan manusia, yang pada saat itu dihadapkan dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial. Aliran ini menitikberatkan pada realita sosial.

Pada masa ini, pertunjukan yang digelar merupakan tiruan dari opera. Cerita yang diangkat dalam pertunjukan pada masa itu menceritakan mengenai kehidupan kerajaan dan pakaian yang digunakan gemerlap. Dialog yang diucapkan dengan menyanyi, lawak, dan berbagai tarian yang ditampilkan pada saat pertunjukan.

Munculnya pertunjukan-pertunjukan panggung di Hindia Belanda pada awalnya hanya berupa tiruan opera. Namun, opera seperti itu belum dikenal oleh masyarakat luas. Hingga munculnya Komedi Stamboel yang didirikan pertama kali di Surabaya pada tahun 1891 oleh August Mahieu yang merupakan seorang pemuda indo peranakan Belanda.

komedie stamboel | Foto: c20-library
info gambar

August Mahieu merupakan pemuda yang mempunyai bakat menyanyi dengan suara tenor. Komedi Stamboel tidak hanya didirikan oleh August Mahieu melainkan didirikan juga oleh Yap Goan Tay, yaitu seorang Tionghoa peranakan yang berasal dari Surabaya.

Yap Goan Tay di sini sebagai penyadang dana. Komedi yang dimaksud bukanlah komedi yang mengandung unsur cerita lucu, melainkan komedi yang memiliki arti pertunjukan. Konsep yang dibuat Mahieu meniru konsep dari pertunjukan yang ada di Semenanjung Malaka.

Dinamakan Komedi Stamboel karena salah satu anak buah Mahieu yang merupakan perankan Indo ini mengenakan topi merah orang Turki yang berkuncir hitam. Di Indonesia, orang menamakan topi tersebut dengan nama Stambul yang merupakan pengucapan dari Kota Istambul di Turki.

Kemunculan teater modern di Indonesia

Teater modern Indonesia saat ini | Foto: pojok seni
info gambar

Munculnya teater modern di Indonesia diawali dengan terbentuknya grup sandiwara Miss Riboet's Orion yang didirikan oleh T.D. Tio Jr atau Tio Tik Djien, seorang lulusan sekolah dagang Batavia. Ia menuangkan gagasan kritisnya itu dengan melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam cara penyajian dan reperteornya.

Usahanya ditunjang dengan masuknya wartawan dan pengarang bernama Nyoo Cheong Seng, yang banyak menciptakan cerita-cerita baru untuk rombongan Miss Riboet, seperti Saidja, Barisan Tengkorak, R.A. Sumiati, Gagak Solo, Gandrung Bali, Panji Sumirang, dan lain-lain.

Miss Riboet's Orion ini sendiri terkenal dengan bintangnya yang bernama Miss Riboet yang popular dengan kemahirannya memainkan pedang. Namun, Miss Riboet's Orion belum bisa dikatakan sebagai grup sandiwara yang mewakili kejayaan teater modern di Indonesia, karena kalah bersaing dengan produk-produk teater lain yang lebih menarik minat penonton Indonesia, yakni The Malay Opera Dardanella yang berdiri setahun setelah Miss Riboet's Orion.

The Malay Opera Dardanella lahir di Sidoarjo pada 21 Juni 1926 silam. Pendirinya adalah seorang Rusia kelahiran Penang Malaysia bernama Willy Klimanoff atau yang lebih dikenal dengan nama A. Piedro. Ia besar di lingkungan sirkus, ayahnya adalah seorang pemain acrobat kursi, sedangkan ibunya adalah seorang penari balet Rusia.

Rombongan sirkus keluarga Piedro menjalankan sirkusnya hingga ke India, Burma, hingga akhirnya berlabuh ke Indonesia. Piedro menuntut ilmu di Cambridge School India, setelah lulus dari sekolah itu, ia membantu usaha sirkus orang tuanya dengan menjadi pelawak.

Ketika bermain di Riau, ayahnya mengalami kecelakaan dalam bermain sirkus. Dari situlah siklus kehidupannya berubah 180 derajat, sirkus ayahnya bubar sehingga ia dan ibunya harus bersusah payah mencari uang untuk kebutuhan hidupnya.

Dari pengalaman pahit itulah Piedro menempa bakat yang diturunkan ayahnya, yakni menjalankan usaha sirkus ayahnya. Piedro memiliki bakat ornamenship yang membuatnya memiliki tujuan untuk mendirikan kelompok teater bernama The Malay Opera Dardanella. Nama Dardanella diambil karena Piedro sangat menggemari daerah-daerah di Timur Tengah beserta peninggalan kunonya yang cantik.

Dardanella lahir di tengah-tengah masa kejayaan Orion. Melihat saat kelahirannya, terlihat jelas bahwa motivasi Piedro mendirikan Dardanella adalah untuk menyaingi kepopuleran Miss Riboet's Orion.

Grup sandiwara Dardanella lahir disebabkan oleh menguatnya Kebudayaan Indis di Hindia Belanda yang menuntut adanya produk hiburan yang bergaya Eropa. Meskipun hanya beranggotakan orang-orang Pribumi, tetapi Dardanella berhasil menjadi satu-satunya grup sandiwara Indonesia yang pernah melakukan tur keliling dunia ke Asia bahkan Eropa.

Sebelum adanya Dardanella, Kelompok Sandiwara yang ada di Indonesia diawali dengan adanya Komedi Stamboel yang dalam seni pertunjukannya menceritakan tentang kisah-kisah fantasi, baik yang berasal dari Timur Tengah maupun Eropa Barat.

Akan tetapi, cerita yang ditampilkan oleh para pemain Komedi Stamboel ini sendiri masih belum mampu menarik minat dari kalangan penonton, terutama para kaum terpelajar sehingga pada masa tersebut Komedi Stamboel ini belum mampu membawa sandiwara Indonesia kepada puncak kejayaannya.

Sebelum berkembangnya Dardanella dan Komedi Stamboel di Indonesia, ide atau gagasan tentang adanya Pertunjukan Sandiwara di Indonesia dipengaruhi oleh kehadiran orang-orang Belanda di Indonesia yang datang dengan tujuan untuk menguasai Indonesia. Tak hanya itu, tetapi sekaligus membawa pengaruh kebudayaan mereka yang ingin mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia untuk mengikuti gaya hidup mereka.

Pada masa kolonial ini pula, terdapat banyak sekali pengelompokan golongan-golongan kelas sosial mulai dari status ekonomi yang tinggi hingga yang rendah, yang disebabkan oleh perkembangan pendidikan dan pemerintahan gaya Barat, yang merubah sistem pemerintahan dari semi feudal ke modern.

Persentase golongan yang mendapat status karena pendidikan Barat lambat laun semakin kuat, hingga lahirlah golongan intelektual pribumi dan intelektual keturunan Eropa yang mendukung dan bersifat kooperatif terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan kebudayaan yang dibawa.

Selain itu, pengaruh lain hadirnya sandiwara di Indonesia adalah adanya Kebudayaan Indis, yaitu sebuah hasil Akulturasi antara Kebudayaan Barat yang dibawa oleh Eropa dan Kebudayaan Timur, yakni Kebudayaan Pribumi itu sendiri. Kebudayaan Indis mulai muncul akibat adanya perkawinan silang antara pria Eropa dengan wanita pribumi Indonesia yang melahirkan anak-anak berdarah campuran yang disebut dengan anak-anak Indo Europees.

Mereka inilah yang merupakan pendukung kebudayaan Indis, di samping mereka mendapatkan ajaran Kebudayaan Barat dari Ayahnya sekaligus mendapat ajaran tentang Kebudayaan Timur dari Ibunya.

Beberapa sebab lain juga mengatakan bahwa faktor adanya Kebudayaan Indis juga disebabkan oleh adanya orang-orang Pribumi yang dipekerjakan di Rumah Eropa, sehingga para bangsawan Eropa ini juga menggunakan Kebudayaan Timur khas Indonesia sebagai gaya hidup mereka.

Bacaan Roman atau Sastra Hindia Belanda menjadi hiburan favorit bagi para wanita-wanita Belanda dan Wanita-wanita Indis. Roman yang berisikan tentang percintaan, perselingkuhan, ambisi yang disertai kecemburuan, keangkuhan, iri dengki, dan kesedihan pada kehidupan di Hindia Belanda menjadi hiburan sendiri yang mampu membangkitkan imajinasi pembacanya.

Karya-karya sastra Hindia Belanda mayoritas berisi tentang dukungan maupun kritik masyarakat Hindia Belanda atas perlakuan mereka terhadap kaum pribumi rendahan. Sebagian besar Roman Hindia Belanda lebih banyak menjelaskan tentang bagaimana keadaan masyarakat Hindia Belanda pada masa kolonial.

Namun, karena pada masa Abad 18-19 yang sedang 'populer' adalah aliran Realisme, bias disimpulkan bahwa Roman atau Karya Sastra Belanda juga menggambarkan realitas Hindia Belanda pada masa kolonial.

Kepopuleran Komedi Stamboel

Tahun 1895 Singaraja kedatangan Komedi Stamboel | Foto: Dasar Bali
info gambar

Pada awal Abad XIX, Komedi Stamboel cukup populer di kalangan masyarakat HindiaBelanda. Hal ini dikarenakan belum adanya tontonan lain yang serupa atau mendekati Tonil Barat.

Penonton Komedi Stamboel sebagian besar berasal dari tiga golongan sosial besar masyarakat kolonial, yakni golongan Belanda dengan Bahasa Belanda, golongan priyayi dan feodal yang masih menggunakan Bahasa Daerah dan Sebagian Bahasa Belanda serta lingua franca (Bahasa Melayu Rendah), dan golongan Timur Asing yang sebagian besar didominasi oleh orang-orang Cina peranakan yang berbahasa Melayu. Mereka inilah yang rela menghabiskan uangnya untuk mengisi waktu luang dengan menyaksikan Opera (Komedi Stamboel).

Bahkan, mereka tak segan-segan memborong karcis layaknya pertunjukan sandiwara ini seperti tontonan khusus untuk satu keluarga. Bagi penontonnya, telah lazim adanya bahwa penonton menggunakan setelan jas bagi pria dan gaun bagi wanitanya.

Hal tersebut diberlakukan karena Komedi Stamboel dinilai oleh masyarakat sebagai seni pertunjukan yang hanya dihadiri oleh golongan yang beradab, yakni golongan tinggi Eropa, Masyarakat Indis, golongan priyayi feodal, dan kalangan Cina peranakan. Namun, kejayaan Komedi Stamboel tak berlangsung lama, dikarenakan mulai munculnya Tonil gaya Barat yang lebih digemari oleh kalangan teratas kolonial.

Komedie Stamboel atau stambulan yang ada di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ini, bersifat temporal. Mereka hanya manggung selama beberapa malam saja. Cerita-cerita yang diangkat dalam stambulan mayoritas “dipinjam” dari cerita-cerita yang berkembang pada masyarakat Turki, sehingga belum bersifat orisinil dan lebih terkenal dengan pertunjukan 1001 Malam.

Stambulan ini dibawa oleh Mahieu, Yap Goan Thay dan Qassim yang tiba di Surabaya pada akhir abad ke-19 Komidi ini biasanya memiliki target audience yang spesifik, hal ini dikarekan tujuan adanya Stambul biasanya khusus untuk menghibur komunitas Tionghoa yang ada di Surabaya, maka dari itu, pemain yang ikut dalam baik produksi maupun pementasan Stambul biasanya juga datang dari komunitas Tionghoa.

Tonil sendiri pada awalnya muncul untuk dikonsumsi oleh masyarakat Eropa yang hadir di kota-kota besar seperti Surabaya, Batavia, dan Semarang sebagai penanding dari film pendek pada era tersebut. Tonil Eropa pada awalnya biasanya menggunakan Bahasa Belanda atau Inggris sebagai pengantar pertunjukan, dan berbasis dari buku-buku atau cerita Eropa sehingga masih eropsentris.

Di Surabaya, kelompok Tonil eropa yang terkenal ialah Nederlandsch Indie Tonil Ensemble, dengan munculnya grup ini juga menandakan adanya perubahan dalam pertunjukan Tonil yang awalnya temporal menjadi permanen dengan didirikannya Gedung pertunjukkan untuk mengakomodasi kelompok-kelompok ini.

Kematian Tonil Eropa pada tahun 1925 disebabkan dengan adanya kompetisi yang ketat antar kelompok tonil. Adanya kemunduran dalam Tonil Eropa juga dikarenakan adanya pengurangan yang signifikan dalam jumlah penonton dari kaum Eropa.

Kematian Tonil Eropa seakan-akan menjadi panggilan dan jalan masuk bagi maraknya Tonil Melayu dengan narasi-narasi baru yang lebih fresh untuk ditonton, terutama bagi penonton-penonton dari kaum Pribumi.*

Referensi: Sejarah Film 1900-1950 Bikin Film di Jawa, Misbach Yusa Biran | Riwayat 17 Artis Masa Hindia Belanda, Fandy Hutari

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NH
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini