Sejarah Hari Ini (9 April 1966) - Wafatnya Sutan Sjahrir, Bung Kecil yang Berjiwa Besar

Sejarah Hari Ini (9 April 1966) - Wafatnya Sutan Sjahrir, Bung Kecil yang Berjiwa Besar
info gambar utama

Sutan Sjahrir, wafat pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss. Bung Kecil sapaan akrabnya telah dua kali terkena stroke setelah menjadi tahanan politik.

Dengan penuh keharuan, Mohammad Hatta menyampaikan pidato saat pemakaman Sjahir. Pada salah satu bagian pidato, Bung Hatta menyinggung status Sjahrir sebelum wafat.

"Ia berjuang untuk Indonesia merdeka, melarat dalam pembuangan Indonesia merdeka. Ikut serta membina Indonesia merdeka. Tetapi ia sakit dan meninggal dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka."

Di Rumah Tahanan Politik (RTM), pada suatu malam, Sjahrir ditemukan terkapar di kamar mandi akibat serangan stroke. Pertolongan medis tidak segera diberikan. Keesokan harinya baru dia dibawa ke rumah sakit dan dioperasi. Namun, operasi gagal dan Sjahrir tidak lagi bisa bicara.

Keluarga Sjahrir kemudian meminta ke pemerintah agar perdana menteri pertama RI ini diizinkan berobat keluar negeri. Pada 21 Juli 1965, dengan diantar sejumlah rekan, Sjahrir berangkat ke Swiss. Pemerintah menanggung semua biaya pengobatan.

Tapi, para dokter di Zurich gagal menyembuhkan. Pada awal April 1966, Sjahrir kembali diterjang stroke. Ia koma selama tujuh hari, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam status tahanan.

Ditahan kawan politik

Pada Agustus 1960, Partai Sosialis Indonesia (PSI) dibubarkan karena dianggap terlibat dalam pemberontakan PRRI. Sejumlah pentolan PSI, misalnya Soemitro Djojohadikoesomo (ayah Prabowo Subianto), mengasingkan diri ke luar negeri.

Saat terjadi peristiwa PRRI, anggota Sjahrir di PSI, seperti Soemitro, M Sultan Mohammad Rasjid dan Des Alwi terlibat dalam aksi itu. PSI dan Masyumi dituduh dibelakang peristiwa tersebut. Hubungan, Sjahrir dengan Soekarno pun memburuk.

Sjahrir yang dianggap terlibat makar akhirnya ditangkap tanpa pernah diadili pada 1962-1965. Menurut Rosihan dalam bukunya, Sjahrir lebih menderita pada penahanan kali ini dibanding ketika dibuang ke Boven Digul oleh Pemerintah Belanda.

"Yang dirasakan sekarang adalah siksaan spritual, karena di Digul dia masih bujangan. Sedangkan kini dia mempunyai istri dan anak-anak dan pikiran terpisah dari keluarga sangat mengganggu," ucap jurnalis senior ini dalam buku "Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia (1961-1962).

Dirawat dalam kondisi naik turun selama sembilan bulan, akhirnya Bung Kecil meninggal pada usia 57 tahun. Di hari yang sama, Sukarno mengeluarkan keputusan presiden, mengangkatnya jadi pahlawan nasional.

Negara meminta izin untuk memakamkan Sjahrir secara resmi di Taman Makan Pahlawan. Setelah surat itu diterima, istri Sjahrir, Poppy dan adiknya Soedjatmoko menangis.

"Alangkah berubahnya, beberapa hari yang lalu tahanan, dan kini pahlawan!" Katanya dalam sebuah wawancara

Tanggal 17 April, Jenazah Sutan Sjahrir tiba di Bandara Kemayoran. Esok harinya, puluhan ribu rakyat hadir untuk melepas pria kelahiran Pandang Panjang ini.

Demi melepas negarawan dan juga sahabat karibnya. Bung Hatta yang setelah melepas jabatan sebagai Wapres tidak bicara di depan publik pun menyampaikan ucapan perpisahan.

"Saudaraku Sutan Sjahrir sampai di sinilah kami mengantarkan engkau ke Kampung Akhirat."

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini