Penjualan Mobil Semakin Meroket Pasca Kebijakan PPnBM

Penjualan Mobil Semakin Meroket Pasca Kebijakan PPnBM
info gambar utama

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) dan juga larangan mudik Idulfitri. Ternyata tidak menurunkan pembelian mobil baru. Ternyata faktor pandemi yang memukul banyak sektor ekonomi. Tidak menyurutkan belanja masyarakat pada bidang otomotif.

Dilansir dari Lokadata, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil pada Maret 2021 secara wholesale (dari pabrik ke dealer) mencapai 84.910 unit, atau tumbuh dua digit sebesar 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Bahkan, dibandingkan Februari 2021, melesat 72,57 persen.

Data Gaikindo juga mencatat, pada periode yang sama penjualan mobil tipe sedan 1.500 cc ke bawah mencapai 170 unit, atau naik 18,06 persen yoy. Sementara, penjualan mobil 4x2 juga tumbuh 17,15 persen menjadi 38.984 unit.

Menurut Yusak Billy, Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM), larangan mudik tak serta merta membuat penjualan mobil menurun. Target penjualan mobil tahun ini pun masih tetap.

Secara umum, Gaikindo menetapkan target penjualan mobil tahun ini sebanyak 750.000 unit.

"Untuk tren pembelian mobil saat ini tidak hanya terpengaruh pada kebutuhan untuk melakukan perjalanan mudik ya, tetapi lebih pada kebutuhan transportasi sehari-hari yang lebih aman dan nyaman pada masa normal baru. Menurut kami pembatasan mudik tidak terlalu berpengaruh terhadap pasar otomotif," tegas Billy mengutip Detikcom.

Berkah kebijakan PPnBM

Pemerintah telah memberikan diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Kebijakan diskon PPnBM ini diberlakukan sejak 1 Maret 2021 dengan skema memberikan subsidi pajak mobil di bawah 1.500 cc sebesar 100 persen untuk tahap I (Maret-Mei), 50 persen tahap II (Juni-Agustus), dan tahap III 25 persen (September-November).

Kementerian Perindustrian menetapkan daftar mobil baru yang berhak mendapatkan subsidi pajak tersebut, yakni tipe sedan dan 4x2 dengan kapasitas mesin masing-masing di bawah 1.500cc dan kandungan lokal minimal 70 persen.

Adanya kebijakan diskon PPnBM ini memang bertujuan untuk membangkitkan industri otomotif Indonesia. Dengan bangkitnya industri otomotif, diharapkan perekonomian Indonesia juga akan pulih.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), diperhitungkan dapat terjadi peningkatan produksi yang akan mencapai 81.752 unit. Estimasi terhadap penambahan output industri otomotif juga diperkirakan akan dapat menyumbangkan pemasukan negara sebesar Rp1,4 triliun.

Dalam CNN Indonesia, Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo, menilai relaksasi PPnBM dimulai 1 Maret merupakan momen yang pas. Dia menganggap program dari pemerintah ini sebagai faktor 'gas' untuk memajukan industri otomotif saat Indonesia sedang dilanda faktor 'rem'.

"Justru momennya ya pas, ini kan gas sama rem. PPnBM ini kan gasnya, kan kita rem juga ada protokol kesehatan, itu masih berlangsung. Di satu sisi kan ada kecenderungan tren menurun [kasus harian positif Covid-19] nasional, vaksinasi sudah jalan, jadi ini kegiatan harus kita jaga," ucap Kukuh.

Selain menetapkan tipe-tipe mobil yang mendapatkan relaksasi PPnBM, Kemenperin juga menetapkan pabrikan yang menerima keringanan tersebut, yaitu Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Honda, Suzuki, dan Wuling.

Produsen semakin untung

Kebijakan relaksasi PPnBM pastinya memberi berkah kepada perusahaan otomotif. Beberapa perusahaan mobil pun menunjukan penjualan yang naik secara signifikan.

Terdapat lima merk mobil yang mencatatkan pertumbuhan penjualan signifikan akibat diberi potongan PPnBM. Data Gaikindo menunjukkan, penjualan Suzuki Ertiga naik luar biasa mencapai 821,25 persen yoy menjadi 1.474 unit, dari sebelumnya hanya 160 unit.

Menurut data yang sama, penjualan Wuling Confero juga tumbuh menggembirakan mencapai 158,16 persen yoy menjadi 870 unit. Setelahnya, penjualan Toyota Yaris juga meningkat 81,82 persen, Honda Brio RS tumbuh 66,46 persen, dan Toyota Rush naik 61,09 persen.

Menurut 4W Marketing Director SIS Donny Saputra, ia mengatakan bahwa dua model Suzuki yang mendapatkan insentif PPnBM, yakni Ertiga dan XL7, mampu meningkatkan volume penjualan menjadi 6.250–6.500 unit per bulan.

“Kami sudah studi bahwa dampak [PPnBM] terhadap kenaikan angka penjualan Suzuki, kira-kira di angka 20 persen. Ini adalah estimasi kami,” ujarnya dalam jumpa pers virtual, Kamis (4/3).

Peningkatan SPK juga terjadi pada penjualan mobil Honda. Business Innovation and Sales & Marketing PT Honda Prospect Motor Yusak Billy mengungkapkan, kenaikan penjualan sekitar 40–50 persen dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya.

"Khususnya untuk model yang mendapatkan insentif pajak, peningkatan naik lebih dari 60 persen dibanding seminggu pertama bulan Februari lalu, growth tertinggi ada di HRV 1,5 liter,” tuturnya.

Keberhasilan ini membuat Pemerintah memperluas insentif PPnBM ini untuk kendaraan tipe 4x2 dan 4x4 dengan kapasitas mesin 1.500 cc-2.500 cc, dan mulai berlaku Kamis (1/4) lalu. Sekarang terdapat 29 jenis kendaraan dari 6 agen pemegang merk (APM), dari yang sebelumnya hanya 21 jenis kendaraan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini