Surili, Primata Endemik Penyebar Benih Pohon yang Berdampak Besar Bagi Lingkungan

Surili, Primata Endemik Penyebar Benih Pohon yang Berdampak Besar Bagi Lingkungan
info gambar utama

Masih ingat dengan maskot tuan rumah penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016? Ya, Jawa Barat memilih surili si primata endemik berjambul runcing dari Pulau Jawa. Penetapannya sebagai maskot tak dimungkiri juga menjadi ajang pengenalan surili agar tetap lestari.

Surili jawa yang memiliki warna bulu abu-abu dan putih ketika dewasa ini ternyata saat lahir memiliki warna yang berbeda. Surili yang baru lahir memiliki warna putih dan bergaris hitam mulai dari kepala hingga bagian ekor. Selain keunikan dari perubahan warna bulunya, surili juga merupakan species yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama di kawasan habitatnya.

Kehadiran manusia yang merusak pohon-pohon rimbun habitat surili, mau tidak mau membuatnya mesti mencari tempat baru untuk makan dan tidur. Belum lagi kekhawatiran surili dari serangan predator, sehingga primata tersebut sangat bergantung dengan pohon.

Menurut peneliti mamalia dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ibnu Maryanto, habitat asli primata ini adalah hutan primer, hutan sekunder, dan hutan bakau, mulai dari pinggir pantai hingga pada ketinggian 250 m–diatas 2.500 mdpl.

“Seringkali dijumpai juga di hutan yang berbatasan dengan kebun. Sering membentuk kelompok dengan jumlah 4-5 hingga 10-15 individu per kelompok,” ujar Ibnu pada lipi.go.id (22/01/2020). Dirinya menjelaskan, surili masih terlihat di Gunung Sawal, Ciamis, Gunung Lawu, Gunung Slamet, dan Dieng.

Baca Juga: Tarsius, Primata Asal Sulawesi yang Menginspirasi Karakter Star Wars

Surili sang penyebar benih pohon

Surili disebut sebagai salah satu primata yang termasuk dalam keystone species (species kunci) karena berdampak besar bagi keberlangsungan lingkungan. © ABC Wild Life/Shutterstock
info gambar

Surili yang punya nama latin Presbytis comate ini punya selera makan yang tinggi terhadap berbagai jenis tumbuhan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa surili dapat memakan lebih dari 75 jenis tumbuhan yang berbeda, mulai dari bagian pucuk daun, buah hingga biji-bijian.

Selera makannya yang tinggi terhadap tumbuhan tak hanya berdampak baik keberlangsungan hidupnya. Tetapi, juga berpengaruh bagi keberlangsungan ekosistem terutama dalam proses pembentukan pohon-pohon baru.

Hal ini karena surili turut menyebarkan biji tanaman di kawasan hutan. Sehingga, surili pun disebut sebagai salah satu primata yang termasuk dalam keystone species (species kunci) karena berdampak besar bagi keberlangsungan lingkungan.

“Dia pemakan pucuk-pucuk daun, komposisi makanannya 70 persen daun, sisanya makan biji dan buah. Surili adalah salah satu penyebar biji terbaik di hutan. Jadi yang menumbuhkan pohon-pohon baru adalah surili,” jelas Sigit Ibrahim, Koordinator pengasuh satwa dari Pusat Rehabilitasi Satwa The Aspinall Foundation pada kabar kampus.com (10/09/2016).

Hewan yang masuk kategori primata berekor panjang ini juga masih punya cerita menarik dari segi makanan, yakni ia suka makan tanah di sekitar habitatnya. Banyak pengamat menduga bahwa tanah yang dimakan surili tersebut mengandung kapang yang mana dapat membantu pencernaannya.

Baca Juga: Kedih, Si Monyet Berjambul Asal Sumatra

Primata yang sangat bergantung dengan pohon

Surili merupakan primata yang memiliki gaya hidup alami arboreal, yakni sangat dekat dan tergantung pada pohon. © Muhammad Imam R/Shutterstock
info gambar

Aktivitas primata ini umumnya banyak di pohon terutama pada bagian atas atau tengah dari tajuk pohon. Berdasarkan studi, surili adalah primata yang aktif di siang hari (diurnal) ia akan mulai meninggalkan pohon tempat tidurnya sejak pukul 6 pagi hari secara berkelompok.

Dalam satu kelompok, penjelajahan biasanya dipimpin oleh satu jantan dengan 5 sampai 15 ekor betina. Biasanya juga sebelum menjelah, surili akan mengeluarkan suara di pagi hari (morning call).

Sigit Ibrahim pun menjelaskan bahwa surili merupakan primata yang memiliki gaya hidup alami arboreal, yakni sangat dekat dan tergantung pada pohon. Primata ini makan dan tidur di atas pohon yang rimbun, surili akan menjelajah dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya.

Dalam sepekan, surili bisa menjelajah beberapa pohon di areal hutan, pekan berikutnya ia akan kembali ke pohon pertama yang ia jelajahi. Jika pohon di sutu kawasan tidak membuatnya nyaman, surili akan mencari tempat baru.

Baca Juga:Kedih, Si Monyet Berjambul Asal Sumatra

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango jadi tempat perlindungan surili

Untuk menjaga keberlangsungan surili, maka Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dipilih sebagai tempat perlindungan habitat surili. © Selsa Artika Ayujaya/Shutterstock
info gambar

Di Indonesia, surili sudah mendapat status dilindungi sejak tahun 1979 melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian No.247/Kpts/Um/1979. Kemudian diatur juga dalam UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. KLHK juga telah memasukkan surili dalam daftar 25 species dilindungi dan jadi prioritas konservasi.

Sedangkan secara internasioal, surili termasuk dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Flora and Fauna (CITES) dalam Apendix II dan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources IUCN sebagai satwa yang dilindungi karena statusnya terancam punah (Endangered/EN).

Selain karena habitat hutan rimbunnya yang dirusaki, kasus terancam punahnya surili juga karena aktivitas perdagangan. Sampai pada tahun 2020 pun masih kerap ditemukan kasus perdagangan surili, seperti yang terjadi di bulan Juni lalu (5/6/2020) di Bandung, Jawa Barat.

Dilansir dari Lensareportase.com, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum), KLHK berhasil mengamankan satu ekor surili (Presbytis comata) berjenis kelamin jantan berusia 4-5 bulan dan satu ekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) berjenis kelamin betina dan berusia 4-5 bulan. Modus kejahatan yang dilakukan tersangka adalah secara online (daring) dengan menjualnya seharga Rp1,4 juta utuk surili dan Rp700 ribu untuk lutung jawa.

Untuk menjaga keberlangsungan surili, maka Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dipilih sebagai tempat perlindungan habitat surili. Kawasan yang berlokasi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini memiliki luas total berkisar 2600 hektare dengan ketingian 700 sampai 1500 mdpl.

Adapun karakteristik hutannya, kawasan ini memiliki iklim hutan hujan tropis dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Sehingga, menjadi habitat alami dari berbagai jenis flora dan fauna endemik Indonesia.

Di kawasan tersebut tak hanya surili yang tinggal mendiami tetapi juga terdapat sekitar 900 jenis tumbuhan, 109 jenis mamalia, dan 260 jenis burung yang dilindungi.

Selain di Taman Nasional (TN) Gunug Gede Pangrango, keberadaan surili sebagai primata endemik ini juga bisa ditemukan di tempat perlindungan, seperti TN Gunung Halimun-Salak, TN Ujung Kulon, Cagar Alam (CA) Kawah Kamojang, CA Rawa Danau, CA Gunung Papandayan, CA Gunung Patuha, CA Situ Patengan, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tampomas.

Sumber Referensi:

Samudranesia.id | Lipi.go.id | Lensareportase.com | Kabar kampus

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini