Berawal dari Tempat Jin Buang Anak, Denai Lama Kini Jadi Desa Wisata

Berawal dari Tempat Jin Buang Anak, Denai Lama Kini Jadi Desa Wisata
info gambar utama

Selain pergi ke alam dengan pemandangan indah, taman bermain, museum, kawasan belanja dan kuliner, desa wisata juga bisa jadi alternatif destinasi liburan yang menarik.

Menurut Nuryanti (Dalam Yuliati & Suwandono, 2016) desa wisata merupakan wujud kombinasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang dikemas dalam suatu pola kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku sehingga menjadikan desa tersebut sebagai tujuan wisata.

Suatu daerah bisa disebut desa wisata bila memenuhi semua unsur, termasuk wisata alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang mengangkat keunikan dan kearifan lokal.

Salah satu desa wisata yang dinilai memiliki banyak potensi untuk dikembangkan ialah Denai Lama di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Lokasinya cukup mudah dijangkau dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari pusat kota Medan.

Menurut keterangan Menparekraf Sandiaga Uno, Denai Lama dinilai dapat menyejahterakan masyarakat di era pariwisata baru.

“Di tengah-tengah pandemi dan melambatnya ekonomi, Desa Wisata Denai Lama hadir untuk menjadi salah satu opsi desa wisata yang berkeadilan, yang memberikan gerak ekonomi untuk masyarakat dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya, dan sebesar-besarnya,” ujar Sandiaga seperti dikutip Kompas.com.

Daya tarik Desa Wisata Denai Lama

Salah satu daya tarik Desa Wisata Denai Lama dari sisi edukasi ada Kafe Baca sebagai taman bacaan yang dibangun Sanggar Lingkaran untuk mengembangkan karakter sumber daya masyarakat dan dikelola oleh remaja desa Denai Lama.

Desa Wisata Denai Lama juga dikenal dengan literasi adat budayanya seperti budaya Jawa, Melayu, dan Batak. Perpaduan ketiga suku bangsa ini menghasilkan berbagai kerajinan seperti kain tenun, batik jumputan, kopi, hingga kerajinan dari batok kelapa.

Di sana juga terdapat kawasan agrowisata Paloh Naga, di mana pengunjung bisa menikmati pemandangan persawahan yang hijau membentang.

Ada pula Pasar Paloh Naga untuk mencoba jajanan tempo dulu, seperti grontol jagung, sawot ubi, ambuyat, lapek bugih, bubur pedas khas Melayu, sate, nasi bakar, dan aneka makanan tradisional yang dijual oleh ibu-ibu warga sekitar.

Keunikan dari Pasar Paloh Naga ialah metode pembayarannya yang menggunakan kepeng atau kepingan kayu dan bisa ditukarkan mulai dari Rp2 ribu. Pasar ini juga hanya buka pada akhir pelan mulai pukul 06.00-11.00 WIB. Bisa jadi alternatif liburan di akhir pekan bersama keluarga sambil mencoba pengalaman baru berwisata di Denai Lama.

Bila mengunjungi Denai Lama, ada paket wisata yang bisa yang bisa dimanfaatkan. Dengan membayar Rp160 ribu per orang, Anda akan diajak mengunjungi pasar tradisional, tangkap ikan, permainan keluarga, keliling kampung, lengkap dengan sarapan dan makan siang.

Berawal dari tempat jin buang anak

Desa Wisata Denai Lama yang kini semakin berkembang dan diminati wisatawan ini dulunya merupakan perkampungan yang sepi, gelap dan becek pula. Bahkan menurut warga sekitar, desanya sempat dijuluki tempat jin buang anak karena lokasinya yang gelap dan sepi.

Seiring berjalannya waktu, Denai Lama mulai dikembangkan menjadi destinasi wisata dan semakin ramai sehingga julukan tersebut pun perlahan hilang dengan sendirinya.

Pada Rabu (9/6/2021), Sandiaga sempat mengunjungi desa wisata ini dan ia mengatakan bahwa Denai Lama memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bahkan, setiap minggunya bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp120-140 juta.

Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Desa Wisata Denai Lama merupakan salah satu dari 500 desa wisata yang turut berpartisipasi dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 yang digelar oleh Kemenparekraf. Denai Lama juga menjadi lokasi diselenggarakannya acara sosialiasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 pada 22 Mei-25 Juni 2021.

Pihak Kemenparekraf berharap program ini bisa mewujudkan visi “Indonesia sebagai Negara Tujuan Pariwisata Berkelas Dunia, Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Mampu Mendorong Pembangunan Daerah dan Kesejahteraan Rakyat”.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini