Cita Rasa Lemang, Kudapan Khas Sumatra yang Dimasak dalam Bambu

Cita Rasa Lemang, Kudapan Khas Sumatra yang Dimasak dalam Bambu
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

#WritingChallenge#InspirasidariKawan#NegeriKolaborasi

Kuliner Indonesia dikenal dengan keragaman cita rasa, lantaran perpaduan sempurna antara bahan utama masakan dan racikan rempah-rempahnya. Buktinya, salah satu makanan Indonesia kembali mendapatkan hati masyarakat dunia. Ialah rendang dengan yang mampu menempati posisi ke-11 sebagai makanan terlezat dunia 2021 versi CNN.

Tak hanya rendang, pulau Sumatra sebagai pencipta makanan andalan Indonesia yang berkelas dunia itu, turut membuat kuliner lezat nan gurih lainnya. Ialah lemang, kudapan manis khas Sumatra yang dimasak dalam bambu. Kudapan ini terbuat dari campuran beras ketan dan santan, yang kemudian dimasukkan ke dalam batang bambu untuk dibakar.

Nah, lemang sendiri memiliki banyak ragamnya, lho, Kawan. Mengutip laman encyclopedia.jakarta-tourism.go.id, terdapat tujuh macam lemang berdasarkan bahannya. Di antaranya lemang pulut (beras ketan putih), lemang hitam (beras ketan hitam), dan lemang pisang (perpaduan besar ketan putih dan potongan-potongan pisang).

Tambah lagi, ada lemang kuning (campuran antara tepung beras dengan kunyit dan air kelapa), lemang labu (campuran antara tebu beras dengan bubur isi labu), lemang kanji (bahan serupa dodol), dan lemang jagung. Di antara ketujuh macam lemang tersebut, yang paling banyak dihidangkan adalah lemang pulut.

Baca Juga Mie Che, Sagu Porno, dan Aneka Makanan Khas Sangihe

Sejarah singkat lemang

Kelahiran lemang dimulai bersamaan dengan tradisi “malamang” di Sumatra Barat. Saat itu, Syekh Burhanuddin berupaya menyebarkan ajaran Islam di tanah Minangkabau. Hal itu dikarenakan ia prihatin dengan kondisi masyarakat yang masih menganut ajaran Hindu dan Budha, dan menyajikan makanan non halal seperti gulai babi.

Syekh Burhanuddin pun bereksperimen menciptakan makanan halal dengan cara yang unik dan kreatif, yaitu memasak nasi menggunakan potongan bambu tipis nan bersih. Percobaan pertama ini pun berhasil mendapatkan kepastian akan kehalalannya.

Akan tetapi, beras yang digunakan ini ternyata tidak bisa bertahan lama, alias cepat basi. Menanggapi hal ini, Syekh Burhanuddin pun mengganti jenis beras sebelumnya dengan beras ketan. Kemudian, tabung bambu dibakar sampai matang agar bisa tahan lama, berbeda dengan sebelumnya yang tidak dimatangkan sama sekali.

Usaha Syekh Burhanuddin disaksikan langsung oleh masyarakat setempat secara seksama, mereka mendengar penjelasannya, kemudian menirunya. Semenjak itu, masyarakat menjadikan malamang sebagai tradisi wajib mereka dan dirayakan setiap menjelang, sedang, maupun sesudah Maulid Nabi.

Baca Juga Burjo Andeska, Tempat Makan Ideal Mahasiswa Yogyakarta

Penyajian lemang tergantung tradisi daerahnya

Proses Memasak Lemang | Foto: Liputan6.com
info gambar

Adapun lemang dihidangkan untuk berbagai situasi dan kondisi, bergantung pada tradisi masyarakat setempat. Oleh masyarakat Sumatera, lemang dibuat tatkala sedang menyambut bulan Ramadan, hari Idulfitri, Maulid Nabi, ataupun peringatan kematian anggota keluarga. Biasanya, masyarakat setempat memasak lemang bersama-sama, kemudian dibagi-bagikan untuk satu kampung dalam rangka mempererat silaturahmi.

Khususnya di Sumatra Selatan dan Sumatra Barat, lemang ini akan ditemani berbagai aneka lauk seperti gulai atau rendang daging. Tak hanya sebagai makanan berat, lemang juga bisa disantap bersama tape ketan hitam ataupun durian.

Di Ibu Kota Jakarta sendiri, lemang tidak hanya dihadirkan pada hari-hari tertentu saja. Kudapan manis ini dijual sebagai jajanan harian di sekitar wilayah Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. Di sini, satuan lemang dibanderol dengan harga minimal Rp30.000 sampai Rp35.000 saja.

Baca Juga Sayur Babanci Kuliner Khas Betawi yang Langka Namun Kaya Rasa

Cara menikmati lemang

Lemang | Foto: Liputan6.com
info gambar

Ingin mencoba untuk membuat lemang sendiri? Kawan bisa memulainya dengan menyiapkan beberapa bahan yang diperlukan, seperti beras ketan, santan, air kelapa, garam, batang bambu muda, dan daun pisang muda.

Campurlah beras ketan dengan santan dan garam sembari melapisi bambu dengan daun pisang. Jika sudah, Kawan bisa memasukkan campuran beras ketan tadi ke dalam tabung bambu hingga mencapai tiga perempat panjang bambu. Lipatlah ujung daun pisang, kemudian tusukkan dengan lidi.

Bakarlah bambu yang sudah penuh itu hingga matang. Keluarkan sebungkus panjang beras ketan, kemudian potong-potong setebal 2 cm. Lalu, hidangkanlah dan cicipi langsung rasa manis nan gurih dari lemang. Entah jadi lauk asin ataupun disantap dengan cocolan manis, sesuaikan saja dengan selera Kawan.

Meskipun berasal dari tanah Sumatra, penggunaan Lemang membuktikan bahwa dirinya bisa menembus batas wilayah. Menjadikan kudapan manis sangat membumi dan tidak eksklusif. Cocok dijadikan teman bersama tatkala sedang berada di perjalanan seorang diri.

Tak hanya Sumatra, daerah lainnya pasti punya kuliner khas. Mari tuliskan cerita tentang daerahmu yang menginspirasi dengan mengikuti Writing Challenge Batch 3. Informasi selengkapnya silakan menuju tautan berikut.*

Referensi: Bisnis.com | encyclopedia.jakarta-tourism.go.id

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini