Mengunjungi Surga Kecil di Karst Terbesar di Indonesia

Mengunjungi Surga Kecil di Karst Terbesar di Indonesia
info gambar utama

Siang hari, Kamis (17/6/2021), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno berkunjung ke kawasan wisata Rammang-Rammang yang berada di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Di tengah terik matahari, didampingi influencer Atta Halilintar dan Thoriq Halilintar, Sandiaga menuju lokasi menggunakan perahu. Ia terlihat takjub dan menikmati perjalanan ini. Ia bahkan menyempatkan diri bernyanyi sambil memetik gitar dengan latar belakang hamparan hijau area persawahan dan mencicipi kuliner lokal.

Kunjungan menteri ini tentu saja bukan sekadar untuk berwisata. Ia punya agenda khusus meresmikan desa Salenrang sebagai desa wisata. Hal lainnya, Sandiaga menilai Rammang-Rammang memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai destinasi wisata kelas dunia. Dengan kunjungannya ini ia berharap bisa mendorong promosi wisata alam Rammang-Rammang hingga ke mancanegara.

"Melihat potensinya Rammang-Rammang ini harusnya masuk dalam destinasi wisata kelas dunia, karena tidak semua tempat memilikinya. Saat ini kami istilahkan masih tidur dan tersembunyi. Menjadi tugas kami membangunkannya dan mengungkap pesonanya agar warga dunia mengetahui nilai kelangkaannya," katanya kepada media.

Ia juga berharap Rammang-rammang bisa diikutsertakan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, yang pendaftarannya telah dimulai 22 Mei lalu hingga 16 Juli mendatang. Rammang-rammang dinilai memenuhi kategori keindahan alam, sebagai salah satu kategori penilaian dalam ADWI 2021.

Baca juga Mengenal Megahnya Rammang-Rammang, Pegunungan Kapur Purba Terbesar Ketiga Dunia

‘Surga Kecil’ di tengah bumi

Seperti apa kawasan Rammang-rammang yang telah membuat menteri Sandiaga ‘jatuh hati’ ini?

Rammang-Rammang memang telah menjadi salah satu destinasi wisata penting di Sulawesi Selatan beberapa tahun terakhir. Berawal dari sebuah inisiatif swakelola warga, nama Rammang-Rammang kini menggaung hingga nasional dan bahkan mancanegara.

Rammang-Rammang secara geografis berada di bentang pegunungan karst sekitar kawasan Geopark Maros-Pangkep, yang tercatat sebagai yang kedua terbesar dan terindah di dunia setelah bukit karst di Guangzhou, China.

Tidak hanya karena keindahan panorama alamnya, jaraknya yang hanya sekitar 40 km dari Kota Makassar menjadi pertimbangan tersendiri bagi wisatawan dari luar.

Kawasan ini memang memiliki pesona tersendiri. Untuk mencapainya kita pertama harus menyusuri sebuah sungai kuno, yaitu sungai Pute dengan batu-batu besar, seperti tumbuh dari dasar sungai. Sekelilingnya adalah aneka tanaman mangrove alami. Pada titik tertentu kita harus melewati celah batu yang cukup muat untuk dilewati perahu.

Di kawasan ini juga bisa ditemui beraneka macam satwa endemik, seperti burung, kucing hutan, monyet Macaca maura, dan beberapa jenis kelelewar. Beberapa jenis kelelawar yang biasa ditemukan hidup di gua-gua karst, antara lain kelelawar pemakan serangga dari jenis Nyceris javanica, Hipposideros larvatus, Hipposideros diadema, Rhinolopus sp, dan Miniopterus sp.

Di sore hari, menjadi pemandangan tersendiri kelelawar-kelelawar ini bergerombol di udara keluar dari sarang untuk mencari makan.

Baca juga Babi Rusa, Hewan Endemik Sulawesi yang Kian Sulit Dijumpai

Hipposideros larvatus | Wibowo Djatmiko (lisensi bebas GNU)
info gambar

Tiba di lokasi yang berada di kampung Berua, perahu ditambatkan di dermaga kecil yang hanya muat untuk beberapa perahu. Di musim banyak pengunjung, kadang perahu harus antrean untuk merapat. Di sekitar dermaga, di pintu masuk terdapat sebuah loket bayar di mana pengunjung harus membayar tarif Rp3.000 per orang untuk masuk tempat ini.

Kampung Berua berada di tengah gugusan bukit karst. Jika berada di ketinggian, sejauh mata memandang tampak bukit karst yang indah dan ditutupi pepohonan serta beragam tumbuhan di atasnya, menjadi tempat kupu-kupu bermain dan mencari makan. Karena keindahan dan keasriannya pengunjung kemudian menjuluki Rammang-Rammang ini sebagai ‘surga kecil’ di tengah bumi.

Terdapat beberapa rumah di kampung ini dengan sawah dan tambak di antaranya. Ada banyak titik yang bisa dikunjungi di tempat ini. Di antaranya adalah situs Passaung, Padang Ammarung, Gua Berlian dan Gua Kelelawar.

Namun tak semua pengunjung bisa ke titik tersebut. Paling banyak hanya keliling kawasan untuk berfoto dengan latar belakang gunung karst, tambak ikan dan persawahan. Sawah dengan luasan beberapa hektar ini dikelola secara organik memanfaatkan kotoran kelelawar yang banyak ditemui di celah-celah gua.

Baca juga Tumbuhan Langka dari Sulawesi, Getahnya Mengandung Banyak Nikel

Di titik lokasi lain, tepatnya di kampung Laku, yang masih berada di pesisir sungai Pute, terdapat sebuah taman batu yang cukup unik. Berada di tengah persawahan warga, batu-batu karst yang sebagian telah berlumut, menjadi salah satu lokasi swafoto yang diminati pengunjung.

Di beberapa gua sekitar kawasan juga bisa ditemui jejak manusia purba berupa gambar tangan di dinding-dinding gua. Hanya saja kunjungan ke lokasi ini dibatasi agar tidak tercemari oleh banyaknya pengunjung.

Menurut Muhammad Ikhwan atau kerap disapa Iwan Dento, salah satu tokoh pemuda yang juga perintis kawasan ini, pengunjung biasanya ramai di hari Sabtu – Minggu dan hari libur lainnya. Bisa mencapai 700 orang per hari. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dan bahkan sebagian dari luar negeri. Ada sekitar 125 armada perahu yang siap mengangkut mereka setiap harinya.

“Pada masa pandemi pengunjung sempat melorot hingga 70 persen, namun lima bulan terakhir kondisi mulai membaik,” katanya.

Menurut Iwan, salah satu alasan kenapa tempat ini mulai banyak dikunjungi dipicu oleh semakin menyebarnya informasi keindahan tempat ini di media sosial, baik melalui Facebook, Instagram, dan Tik Tok. Apalagi sejumlah film nasional dan lokal mengambil lokasi syuting di tempat ini.

Untuk penginapan, pengunjung bisa menyewa rumah warga dengan tarif beragam sesuai dengan kesepakatan. Umumnya dikenakan tarif berdasar biaya makan, antara Rp35 ribu–Rp50 ribu per sekali makan.

Dalam perjalanan menuju lokasi ini, di sekeliling sungai juga telah dibangun sejumlah kafe dan wisma yang bisa digunakan untuk bersantai dengan keluarga. Salah satu yang cukup menonjol adalah Rammang-rammang Kafe atau biasa juga disebut Kafe Udin. Pemilik perahu sengaja membawa pengunjung singgah di tempat ini dalam perjalanan pulang.

Udin Danci, pemilik kafe ini, menjelaskan kalau kafe tersebut baru dibangun pada 2016 silam. Banyak pengunjung datang hanya sekedar berswafoto di tempat ini karena bentuknya yang unik dan suasana teduh.

Kafe yang dibangun Udin tidak hanya menyiapkan tempat makan dan minum yang cukup eksklusif dengan harga murah, tapi juga penginapan yang cukup unik dan bernuansa alam. Berbentuk gubuk kecil dengan fasilitas tempat tidur, kamar mandi, dan ruangan yang sejuk. Tarifnya Rp350 ribu per malam.

Baca juga Mengenal Kain Tenun Sengkang Asal Sulawesi Selatan

Perda perlindungan karst dan Site Geopark UNESCO

Awal mula lahirnya Rammang-Rammang sebagai lokasi wisata adalah perjuangan warga untuk memperoleh hak ruang, di tengah kepungan tambang di daerah tersebut. Dalam hal ini perjuangan untuk memperoleh kepastian ruang kelola tidak terbatas pada pariwisata, tetapi juga jaminan hukum wilayah hidupnya.

Inilah alasan kemudian mereka memperjuangkan lahirnya Perda, yang kemudian direspons pemerintah dan DPRD Sulsel dengan melahirkan Perda No.3 tahun 2019 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Karst Maros-Pangkep.

Keberadaan Perda ini dinilai sangat penting bagi warga Salenrang yang tinggal di sekitar kawasan karst, termasuk keberlangsungan industri pariwisata mereka.

“Ini akan berdampak pada keberlangsungan wilayah kelola. Kami berharap aktivitas kami sekarang ini akan bisa diwariskan ke generasi mendatang. Kita butuh pengakuan negara, karena ini ternyata penting. Makanya kami berambisi untuk mewujudkan pengakuan ini,” ungkap Iwan Dento.

Perda perlindungan karst akan melindungi kawasan dari dampak eksploitasi yang berlebihan, baik dari perusahaan ataupun masyarakat sendiri. Termasuk potensi konflik masyarakat dengan pemerintah.

“Konflik akan bisa dihindari dengan adanya kejelasan batas-batas ruang kelola ini, dan itu harus melibatkan dan mempertimbangkan keberadaan masyarakat yang ada di sekitar kawasan,” jelas Iwan.

Baca juga Songkabala, Ritual Penangkal Bala dan Penyakit dari Sulawesi

Keberadaan Perda ini juga penting bagi Rammang-rammang untuk mendapat pengakuan global dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Geopark Global Geopark, yang telah diusulkan pada 2020 lalu.

“Untuk menuju pengakuan global melalui UGG UNESCO, syaratnya harus ada regulasi daerah sebagai pendukung. Selain itu, ada tiga aspek yang menjadi prasyarat untuk mendapatkan pengakuan ini, yaitu aspek geologi, biodiversity dan budaya. Ketiga syarat itu dimiliki oleh kawasan ini sehingga bisa kami berharap pengakuan Geopark UNESCO ini bisa benar-benar diwujudkan.”

Pemerintah Indonesia melalui Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO atau KNIU Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang mengusulkan dua kawasan sebagai UNESCO Global Geopark/UGG, yaitu Geopark Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan dan Geopark Kawah Ijen Banyuwangi, Jawa Timur.

“Kunjungan pak menteri melakukan pengecekan kesiapan kawasan Geopark Maros-Pangkep sebagai UNESCO Global Geopark, sebagai bentuk dukungan dan memberikan penguatan dari Kemenparekraf menuju proses penilaian lapangan tim asesor UNESCO pada Juli 2021 mendatang,” ungkap Dedi Irfan, General Manager Badan Pengelola Geopark Nasional Maros-Pangkep.

Ditulis oleh: Wahyu Chandra

Foto dan dokumentasi: Marcell Lahea/Biro Komunikasi Kemenparekraf

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini