Selain Monas dan Kota Tua, Ini 5 Tempat Wisata Bersejarah di Jakarta

Selain Monas dan Kota Tua, Ini 5 Tempat Wisata Bersejarah di Jakarta
info gambar utama

Hari ini, 22 Juni, diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta. Tahun 2021 ini, Jakarta tepat berusia 494 tahun.

Biasanya, perayaan HUT DKI Jakarta dimeriahkan oleh acara tahunan Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang berlangsung sebulan penuh. Namun, karena pandemi Covid-19, acara dengan keramaian memang tak mungkin diselenggarakan.

Untuk merayakan hari ulang tahun Jakarta, tak ada salahnya kembali bernostalgia dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ikonis dengan sang ibu kota negara. Di sana, Anda bisa menyaksikan potret Jakarta zaman dulu dan mempelajari setiap sejarah yang melekat.

Selain Monumen Nasional (Monas) dan Kota Tua, berikut tempat wisata bersejarah di Jakarta:

Galangan VOC

Galangan VOC | @CAHYADI SUGI Shutterstock
info gambar

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Di Indonesia, kantor-kantor pusat VOC sangat mudah ditemukan di berbagai daerah. Di Jakarta, Batavia saat itu, titik tersibuk berada di Galangan VOC, lokasinya di Jalan Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara.

Gedung Galangan VOC tak terpisahkan dari Museum Bahari dan Menara Syahbandar. Saat itu, Museum Bahari merupakan gudang penyimpanan rempah sedangkan Museum Syahbandar menjadi navigasi kapal-kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Galangan VOC menjadi tempat bongkar muat berbagai kapal yang membawa muatan berharga seperti rempah-rempah dan kain sutra. Seiring berjalannya waktu, lokasi ini sudah beberapa kali mengalami alih fungsi, dari kantor, gudang, hingga bengkel pembuatan peta, kompas, dan jam pasir.

Tahun 1998, Galangan VOC dibeli seorang pengusaha dan menjadikannya sebagai pusat kesenian. Sebagian ruangan diubah menjadi restoran dan secara keseluruhan menjadi objek wisata.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa | @Lakilima Shutterstock
info gambar

Pada abad ke-12, ada sebuah tempat yang dikenal sebagai pelabuhan lada milik Kerajaan Sunda. Kapal-kapal asing dari Tiongkok, India Selatan, Jepang, dan Timur Tengah berlabuh di pelabuhan dan membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, wewangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah, yang saat itu menjadi komoditas dagang.

Pelabuhan tersebut kini dikenal dengan sebutan Sunda Kelapa dan berlokasi di Penjaringan, Jakarta Utara. Hingga kini, tempat tersebut masih berfungsi sebagai pelabuhan dan biasanya memuat barang kebuuthan pokok, bahan bangunan, kayu, hingga barang kelontong.

Memiliki pemandangan yang unik, Pelabuhan Sunda Kelapa kemudian sering dijadikan sebagai objek wisata dan digemari para pencinta fotografi. Ada banyak objek foto menarik di sana, mulai dari kapal-kapal yang tenga bersandar di dermaga, kegiatan para pekerja kapal, hingga aktivitas bongkar-muat barang.

Memiliki Fasilitas Mewah, Inilah 5 Mal Terbesar di Jakarta

Museum Kebangkitan Nasional

Salah satu bangunan bersejarah di Jakarta yang menarik untuk dikunjungi ialah Museum Kebangkitan Nasional. Tahun 1851, gedung didirikan untuk bangunan sekolah kedokteran bernama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).

Gedung ini berada di Jalan Abdurrahman Saleh nomor 26, tak jauh dari Pasar Senen dan RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Pada tahun 1973, Pemprov DKI Jakarta memugar gedung dan setahun kemudian meresmikannya sebagai Gedung Kebangkitan Nasional, komplek yang menjadi lokasi Museum Budi Utomo, Museum Wanita, Museum Pers dan Museum Kesehatan.

Sampai tahun 1984, akhirnya gedung tersebut diubah menjadi Museum Kebangkitan Nasional dan menjadi cagar budaya. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat ruang kelas, asrama, laboratorium, aula, area olahraga, kantin, dan perpustakaan.

Untuk koleksi museum, terdapat 2.042 benda-benda seperti mebel, jam dinding, lonceng, perlengkapan kesehatan, pakaian, senjata, foto, lukisan, patung, diorama, peta, dan miniatur.

Kisah Ali Topan Anak Jalanan dan Wajah Anak Muda Jakarta Era 70-an

Tugu Proklamasi

Tugu Proklamasi | @Dhodi Syailendra Shutterstock
info gambar

Untuk mengenang momen pembacaan proklamasi kemerdekaan, Anda bisa mengunjungi Tugu Proklamasi. Lokasinya berada di Taman Proklamasi, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Taman tersebut berada di bekas kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Di taman tersebut, terdapat monumen dua patung berukuran besar Soekarno-Hatta sedang berdampingan. Posisinya mirip dengan foto dokumentasi ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di tengahnya, ada patung naskah proklamasi yang terbuat dari marmer hitam.

Menjelajahi Lokasi Ekowisata Bakau di Jakarta Utara

Museum Wayang

Museum Wayang | @Olla Blossom Shutterstock
info gambar

Tahukah Anda bila di Jakarta ada museum tertua yang usianya sudah ratusan tahun? Ya, ini adalah Museum Wayang. Dibangun tahun 1640, tahun ini usia museum tersebut sudah mencapai 381 tahun.

Museum Wayang memiliki peran penting dalam pelestarian kebudayaan Indonesia. Bangunan museum ini awalnya bernama De Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Belanda Kuno.

Tahun 1808 gedung ini hancur karena gempa dan di tempat yang sama dibangun kembali Museum Wayang. Walau telah dipulihkan, museum ini masih memiliki beberapa bagian seperti gereja lama dan menampilkan gaya arsitektur klasik.

Di dalamnya, terdapat koleksi wayang dari seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber, dan gamelan. Ada koleksi tertua buatan Ki Guna Kerti Wanda pada 1870, yaitu Wayang Intan.

Koleksi museum lain ialah tokoh-tokoh dunia pewayangan legendaris, seperti atot Kaca, Para Punakawan, Rama Shinta, Pandawa, dan Kurawa. Ada juga boneka Si Unyil dan teman-temannya, seperti Cuplis, Usro, Mbok Bariyah, Pak Raden dan Pak Ogah.

Dari luar negeri, terdapat boneka Punch and Jody dari Inggris yang dibuat tahun 1971, boneka dari India, Vietnam, Polandia, Srilanka, dan boneka guignol dari Prancis

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini