Pertama di Dunia, Sepatu dari Kulit Ceker Ayam Asal Bandung

Pertama di Dunia, Sepatu dari Kulit Ceker Ayam Asal Bandung
info gambar utama

Bicara tentang mode yang sejak lama sudah menjadi bagian dari gaya hidup pasti tidak akan pernah ada habisnya, berbagai kalangan dari usia muda hingga paruh baya selalu memiliki ragam inspirasi mode tersendiri yang terus berganti seiring dengan perkembangan zaman.

Salah satu aksesori layaknya sepatu menjadi hal yang tak pernah terlewat dalam hal mode, untuk melengkapi penampilan yang umumnya disesuaikan dengan gaya hidup penggunanya.

Lebih jauh, keberadaan sepatu yang sudah pasti dimiliki dan dipakai oleh hampir semua orang memiliki berbagai macam jenis yang dapat dipilih. Namun, nyatanya ada satu jenis yang sejatinya digemari oleh sebagian besar orang dengan kepopuleran yang hampir tidak pernah luntur, yaitu sepatu kulit.

Sebenarnya bukan hanya sepatu, berbagai macam aksesori lain seperti tas dan pakaian berbahan kulit dalam industri mode dan gaya hidup seakan memiliki nilai prestise tersendiri, apalagi jika bahan kulit yang digunakan memiliki nilai tinggi.

Sayangnya, sudah menjadi permasalahan utama pula jika kemewahan dan nilai tinggi yang dibawa oleh berbagai aksesori berbahan kulit di industri mode dan gaya hidup sudah pasti mengorbankan keberadaan fauna yang ada di muka bumi ini.

Ancaman kepunahan jenis fauna yang dikorbankan hanya untuk kemewahan seakan menghantui, dan sering kali menjadi persoalan yang menimbulkan pro dan kontra di berbagai negara tanpa terkecuali, termasuk di Indonesia.

Tapi, apa jadinya jika kemewahan dalam aksesori dan gaya hidup yang diinginkan sebagian besar orang nyatanya bisa didapat tanpa mengorbankan fauna yang langka dan jauh dari ancaman kepunahan?

Biasa Ditemukan Sebagai Topping dalam Seblak, Ceker Ayam Ini Dibuat Menjadi Sepatu!

Sepatu berbahan limbah ceker ayam

Ceker ayam yang digunakan dalam pembuatan sepatu Hirka
info gambar

Bukan kulit ular, buaya, biawak, dan sejenisnya, bahan kulit yang banyak digemari dalam pembuatan beragam aksesori mewah seperti sepatu, ternyata bisa didapatkan hanya dengan memanfaatkan limbah ceker ayam yang selama ini bisa didapat dengan mudah dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Bandung, lagi-lagi menjadi salah satu kota sebagai tempat inovasi dan terobosan baru ini berasal. Bukan kali pertama, kota yang juga dijuluki kota kembang ini sejatinya memang dikenal sebagai asal dari berbagai jenama mode ternama tanah air yang beberapa bahkan sudah diperhitungkan kualitasnya di mata dunia, salah satunya Eiger.

Bukan hanya pelaku industri mode dengan nama yang sudah besar, nyatanya pelaku kecil dan menengah atau UMKM asal kota satu ini juga tidak kalah menghadirkan produk berkualitas yang keberadaannya sudah mendapat banyak perhatian.

Hirka, merupakan pabrikan sepatu berbahan kulit ceker ayam yang sudah hadir sejak tahun 2017. Pendirinya yaitu Nurman Farierka, pria kelahiran tahun 1995 yang masih terbilang muda dan mendirikan rumah produksi yang berlokasi di Kecamatan Rego, Bandung.

Mengutip Detik, ide membuat sepatu kulit ceker ayam yang dimiliki Nurman nyatanya terinspirasi dari jurnal tentang teknik penyemakan kulit milik sang ayah. Setelah melakukan riset dalam mengembangkan produk sepatu berbahan kulit ceker ayam selama kurang lebih dua tahun, Nurman lantas mulai merilis dan memasarkan produknya secara resmi pada tahun 2017 pada salah satu pameran internasional yang ternyata langsung menarik perhatian banyak pengunjung.

Kisah Sepatu Bata yang Bermula dari Zaman Kolonial, Bertahan Hadapi Pandemi

Proses pembuatan dan keuntungan yang fantastis

Produksi sepatu Hirka
info gambar

Masih melansir sumber yang sama, Nurman membeberkan bahwa dari jenis sepatu yang dihadirkan, ada yang berbahan ceker ayam penuh namun ada juga yang dipadukan dengan kulit sapi atau kulit domba.

“…agar optimal dan efisien, harus memilih ceker ayam yang diameternya cukup besar karena untuk penyusunan dan penempelan pada material lainnya agar tidak terlalu rumit," jelas Nurman.

Dijelaskan pula, dalam membuat sepatu yang sepenuhnya berbahan kulit ceker ayam, setidaknya dibutuhkan sebanyak 40 hingga 80 ceker ayam, tergantung ukuran. Sedangkan untuk sepatu yang dicampur dengan kulit sapi atau domba hanya membutuhkan 15-18 ceker ayam.

Berdasarkan klaim pada situs resmi Hirka, dijelaskan bahwa kulit ceker ayam mempunyai tekstur permukaan yang sama indahnya dengan kulit ular, biawak, dan jenis reptil lainnya. Dengan teknologi penyamakan yang diuji coba selama satu tahun oleh Nurman, kulit kaki ayam yang semula hanya sebagai limbah peternakan yang punya nilai ekonomis rendah, menjadi bahan dasar sepatu formal yang eksklusif, eksotis, dan mewah.

Di samping itu, Hirka mengklaim keberadaannya sebagai pabrikan sepatu berbahan kulit ceker ayam pertama di dunia yang dianggap mampu menggantikan kulit reptil, sehingga dalam jangka panjang populasi reptil yang kritis bisa terselamatkan dengan penggunaan kulit kaki ayam sebagai bahan alternatif, untuk pembuatan produk di industri mode yang ramah lingkungan.

Saat ini, ada 5 jenis koleksi sepatu kulit ceker ayam yang dimiliki oleh Hirka yaitu Jokka, Tafiaro, Renjana, Balawan, dan Ekajati. Semuanya dibanderol dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp490 ribu hingga Rp2,5 juta, tergantung dari banyaknya kulit ceker ayam yang digunakan dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

Ragam Sepatu Buatan Indonesia yang Disangka Produk Luar

Pertama hadir dan diminati masyakarat dunia

Menariknya, diceritakan oleh Nurman bahwa bagi orang awam yang pertama kali melihat produk buatannya, sebagian besar tidak mengetahui bahwa sepatu tersebut terbuat dari kulit ceker ayam. Sepatu tersebut awalnya dianggap sebagai sepatu berbahan kulit ular atau buaya.

Mengenai keberadaan produknya yang hadir di pasaran, Nurman mengungkap bahwa saat sebelum kondisi pandemi, tepatnya pada tahun 2019, sepatu buatannya sudah mendapat pesanan dari luar negeri seperti AS dan Jepang.

Sempat terhambat karena pandemi melanda, di akhir tahun 2020 diakui bahwa penjualan sudah kembali normal dengan pencapaian omset sekitar Rp80 juta hingga Rp100 juta dalam waktu satu bulan.

“…terakhir kita sampai Rp200 juta, itu paling terbaik," ungkapnya.

Selain dua negara di atas, Nurman mengakui bahwa sepatu ceker ayam buatannya juga sudah sampai ke pelanggan dari berbagai negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Vietnam, Turki, dan beberapa negara Amerika Latin dan Eropa, seperti Brazil dan Prancis.

Sepatu Brodo, dari Kamar Kos ke Panggung Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini