Tumpuroo dan Sanro: Tabib Tradisional Pelestari Adat dari Suku Moronene

Tumpuroo dan Sanro: Tabib Tradisional Pelestari Adat dari Suku Moronene
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Sebelum hadir pengobatan modern yang kita andalkan seperti sekarang, masyarakat lokal Indonesia secara turun-temurun bergantung pada pengobatan tradisional sebagai sarana untuk melakukan penyembuhan. Sebagai upaya untuk dapat menjaga kesehatan tubuh secara optimal, masyarakat lokal sejak dulu kala memiliki ilmu dan tradisi khusus dalam mempelajari pengobatan, yang lantas hadir sebagai pengobatan tradisional.

Mengutip definisi dari Kemenkes RI sendiri, pengobatan tradisional diartikan sebagai pengobatan atau perawatan yang dilakukan mengacu pada pengalaman atau keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Pengobatan tradisional diterapkan sesuai norma yang berlaku di suatu kelompok masyarakat.

Sebagai wilayah yang memiliki keragaman budaya yang kaya dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki budaya lokal yang kental akan keberadaan dari pengobatan tradisional. Jauh sebelum teknologi kesehatan modern muncul, pengobatan modern menjadi satu-satunya cara bagi masyarakat lokal untuk berobat, terutama bagi mereka yang memiliki akses terbatas untuk berobat di pusat kota.

Alunan Angklung Buhun, Pengiring Setia Ritual Penanaman Padi Suku Baduy

Salah satu wilayah di Indonesia yang masih melestarikan kebudayaan dari kekuatan pengobatan tradisional, adalah masyarakat Moronene di Sulawesi Tenggara. Moronene sendiri merupakan salah satu suku tertua di Indonesia yang berada di semenanjung tenggara Pulau Sulawesi. Adat dan tradisi pengobatan tradisional masih kuat dipertahankan oleh masyarakat Moronene, terutama di daerah adat tertua yang bernama Hukae-Laeya.

Sebagai sebuah wilayah adat tertua, hal ini membuat Hukae-Laeya masih kental akan tradisi adat yang asih dipertahankan oleh masyarakatnya. Belum lagi, wilayahnya yang terbilang sulit untuk diakses karena terletak di pedalaman, membuat Hukae-Laeya menjadi wilayah yang minim pengaruh modernitas. Di wilayah ini, suku Moronene mengembangkan banyak ritual tradisional atau perdukunan yang biasanya dilakukan untuk kepentingan siklus kehidupan, mata pencaharian, hingga pengobatan.

Sanro dan Tumpuroo, dokter ahli pengobatan tradisional

Dalam tradisi pengobatan sendiri, masyarakat Moronene memiliki tabib tradisional yang disebut dengan sanro dan tumpuroo. Mengutip dari LIPI, kehadiran seorang sanro dan tumpuroo sangat penting ketika melakukan ritual pengobatan, karena merekalah yang biasanya membacakan mantra atau meracik obat-obatan khusus untuk pasien.

Orang Moronene di wilayah Kabaena memiliki sebuah ritual pengobatan yang disebut dengan monttapali. Biasanya dilakukan untuk menyembuhkan demam. Ritual tersebut akan dilakukan oleh sanro melalui serangkaian tahapan.

Mulai dari menggunakan media medis dari daun awar-awar, koin, piring putih, dan air yang diiringi dengan pembacaan mantra khusus. Air sendiri dalam pengobatan tradisional masyarakat Moronene, merupakan komponen penting ketika melakukan pengobatan tradisional karena memiliki kemampuan untuk memurnikan.

Maung Bodas Khadam, Khadam Prabu Siliwangi yang jadi Simbol Masyarakat Sunda

Sementara masyarakat Moronene di wilayah Hukae-Laeya, memiliki tabib tradisional yang biasa disebut dengan tumpuroo. Keberadaan tumpuroo di mata masyarakat Moronene sangat peniting, hal ini yang membuat tumpuroo juga secara resmi dimasukkan ke dalam Struktur Lembaga Adat (Adati Totongano Wonua Tobu) Hukae-Laeya yang memiliki peran untuk memimpin sebuah ritual tradisional.

Namun, terdapat penelitian lain yang juga mengungkap peran seorang tumpuroo tidak hanya sebagai seorang tabib tradisional, tetapi juga sebagai seorang 'dewan penasihat' untuk memberikan keputusan tertentu ketika masyarkaat Moronene menghadapi situasi genting.

Mantra sebagai bagian dari budaya Hukae-Laeya

Ritual Mo'oli/ Foto: LIPI
info gambar

Mantra adalah komponen penting yang digunakan oleh tabib tradisional Moronene untuk memperlancar proses pengobatan disamping memanfaatkan obat-obatan herbal. Mantra sendiri sering disebut sebagai baca-baca, kumpulan tuturan yang diturunkan secara turun-temurun dan dapat mengalami perubahan sesuai dinamika yang ada.

Pada praktik pengobatan, tabib akan menuturkan mantra yang lantas ditiupkan ke obat yang telah diracik atau ke arah tubuh pasien yang sakit. Mantra merupakan wujud dari budaya tradisional cerita rakyat atau folklore yang termasuk ke dalam tradisi lisan.

Mantra diklasifikasikan masuk ke dalam puisi rakyat, yang di setiap barisnya mengandung banyak pesan kearifan lokal maupun pengetahuan dari masyarakat secara turun-temurun. Hal inilah yang kemudian membuat tumpuroo memiliki peran penting melestarikan budaya puisi lama di tengah arus modernitas yang kuat.

Darmasiswa, Peluang Besar Membawa Budaya Indonesia ke Penjuru Dunia

Pembacaan mantra sendiri dilakukan oleh tumpuroo dalam sebuah tradisi ritual khusus yang disebut dengan ritual Mo’oli. Ritual tersebut dilakukan dengan menyiapkan sesaji khusus sambil diiringi dengan mantra. Di setiap tuturnya merupakan bentuk ekspresi penghormatan terhadap Tuhan, dan juga pemberian penghargaan kepada leluhur masa lalu.

Aktivitas tersebut merupakan ungkapan dari masyarakat Moronene yang yakin akan keberkahan hidup saat ini. Sehingga, sudah menjadi kewajiban generasi yang masih hidup untuk memberikan rasa terima kasih dan penghargaan dengan melestarikan budaya melalui pelaksanaan ritual.

Kita bisa melihat bagaimana peran sanro dan tumpuroo sangat penting dalam usaha pelestarian tradisi budaya lokal Indonesia. Melalui ilmu pengobatan tradisional yang mereka miliki, kita bisa belajar bagaimana kesembuhan dapat diperoleh dengan memanfaatkan kembali bahan-bahan dari alam.

Selain itu, aktivitas pembacaan mantra dalam pengobatan dan ritual sendiri merupakan wujud pelestarian tradisi lisan yang memiliki pesan kuat. Kita sebagai manusia yang hidup di masa kini tidak lupa untuk berterima kasih kepada Tuhan, sekaligus leluhur yang telah banyak berjasa di masa dahulu.

Dari sanro dan tumpuroo kita belajar bahwa mereka adalah tokoh vital yang jarang terlihat dalam usaha pelestarian budaya Indonesia. Maka, sudah sepatutnya kita generasi muda saat ini untuk dapat melanjutkan perjuangan dan cita-cita leluhur mereka agar tradisi lokal Indonesia tidak tergerus modernitas zaman.

Referensi: Jurnal Masyarakat dan Budaya LIPI | Kemenkes RI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini