Diyakini Bisa Mengantar ke Surga, Kerbau Tana Toraja Bisa Dibanderol Rp1 Miliar

Diyakini Bisa Mengantar ke Surga, Kerbau Tana Toraja Bisa Dibanderol Rp1 Miliar
info gambar utama

Keseharian masyarakat Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tak bisa dipisahkan dengan hewan ternak kerbau. Ini berlangsung hingga sekarang. Bahkan, sebelum uang dijadikan alat penukaran transaksi modern, hewan bertanduk ini sudah kerap ditukar dengan benda lain.

Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, kerbau juga melambangkan kesejahteraan sekaligus menandakan tingkat kekayaan dan status sosial pemiliknya di mata masyarakat. Karena itulah, di daerah ini seekor kerbau bisa berharga lebih dari Rp1 miliar.

Namun, kerbau semahal ini bukanlah kerbau biasa alias kerbau langka. Dan, jenis yang bisa mencapai harga Rp1 miliar adalah jenis yang disebut 'saleko' dengan ciri fisik tanduk kuning, lingkaran putih di bola mata, serta kulit berwarna kombinasi hitam dan putih.

Menurut budayawan Otto Mitting, orang Toraja mengenai 24 jenis kerbau, bedasarkan corak pada tubuh kerbau. Selain gambar, bentuk, dan warna, tanduk kerbau juga memengaruhi harga. Dalam bahasa Toraja, kerbau disebut tedong.

Tedong bonga adalah kerbau dengan kasta tertinggi. Dinamai bonga karena memiliki belang di sekujur tubuh. Tedong bonga ini memiliki beberapa jenis berdasarkan belang yang ada di tubuhnya. Kemudian ada bongsa sanga'daran, yaitu kerbau belang bagian mulut didomisasi warna hitam.

Berbeda dengan Kerbau Darat, Inilah Uniknya Kerbau Rawa Amuntai

Lalu ada juga bonga randan dali' jika warna alis mata hitam. Juga bonga lotong boko' yang memiliki warna hitam di bagian punggung. Untuk Tedong bonga dengan nilai tertinggi adalah tedong saleko atau kerbau belang terbaik. Kulit didominasi warna putih pucat, dengan bercak atau belalang hitam di sekujur tubuh.

Harga yang dibanderol untuk Tedong bonga mencapaui ratusan juta hingga miliaran rupiah. Harga sangat tergantung kondisi kerbau itu, yaitu dari belang, panjang tanduk, tanda khusus di tubuh, hingga panjang ekor.

Sementara Tedong saleko, juga memiliki harga fantastis karena lazim digunakan untuk ritual, dan sangat sulit untuk mendapatkan kerbau ini. Dibanding kerbau lain, proses pembiakan Tedong saleko relatif susah karena masa birahi betina yang sulit diketahui, tidak mudah mendapatkan seekor anak saleko.

Seekor saleko jantan yang dikawinkan dengan saleko betina belum tentu melahirkan seekor anak saleko. Saleko bahkan bisa diperoleh dari perkawinan sepasang kerbau biasa. Karena itulah saleko dengan kondisi istimewanya, harganya pasti fantastis.

Di Toraja, kerbau lain yang juga bisa berharga ratusan juta rupiah adalah yang memiliki kelangkaan-kelangkaan, seperti tanduknya sangat lebar (kerbau balian), tanduknya mengarah ke bawah (kerbau sokko), satu tanduk ke atas satu tanduk ke bawah (kerbau taken langi), atau bahkan tidak bertanduk sama sekali.

Kerbau-kerbau langka itu memegang peran penting dalam upacara adat, seperti upacara Rambu Solo (pemakaman). Makin langka kerbau yang dikorbankan, itu menunjukan makin tingginya strata sosial orang yang dimakamkan. Meski demikian, kerbau-kerbau yang tidak langka juga bisa berharga tinggi kalau menjadi jawara dalam acara adu kerbau.

Kerbau yang diyakini kendaraan arwah menuju akhirat

Bagi masyarakat Tana Toraja, kerbau memang diyakini sebagai kendaraan bagi arwah menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Kerbau pun memiliki kedudukan unik bagi masyarakat Toraja. Ia diternakkan sebagai alat pembajak sawah, sekaligus dianggap hewan sakral dan simbol status sosial.

Kerbau juga dinilai sesembahan tertinggi bagi masyarakat adat Toraja yang meninggal, melalui ritual rambu solo'. Acara ini dilakukan berhari-hari, bahkan sampai berminggu-minggu, dan dihadiri ribuan warga. Salah satu ritual penting saat ritual itu adalah penyembelihan kerbau.

Dalam kepercayaan Aluk To Dolo, atau agama Toraja kuno, rambu solo' dilakukan keluarga bangsawan. Makin tinggi nilai kebangsawanan, makin besar dan mewah pula acara. Belakangan, ritual ini bisa juga oleh non bangsawan, tetapi memiliki keuangan yang cukup.

Meski begitu, tidak semua daerah di Toraja boleh. Di beberapa daerah tetap mengacu kepada aturan Atuk To Dolo, hanya boleh bangsawan.

Dalam ritual kematian ini, kerbau yang dikorbankan sangat tergantung hasil rembuk keluarga besar. Ada sampai menyembelih 1.000 kerbau. Persyaratan wajib minimal 40 ekor dan puluhan babi. Dalam rembuk ini, biasa juga ditetapkan kapan ritual dilaksanakan.

Rambu Solo, Jenazah Abadi di Tebing Toraja

Tempat pelaksaan pesta semacam ini, umumnya dilaksanakan di suatu lapangan yang disebut "rante". Tempat yang dibangun pondok-pondok yang dapat menampung tamu selama pesta berlangsung. Tamu yang datang tergantung dari jumlah kerabat dan diikuti sanak saudara yang jumlahnya bisa mencapai ribuan sampai puluhan ribu orang.

Pada lokasi ini juga dilengkapi dengan gelanggang tempat adu kerbau. Acara adu kerbau ini merupakan rangkaian upacara adat yang paling digemari para tamu dan undangan serta wisatawan domestik dan asing. Adanya anggapan terangkatnya status sosial keluarga saat mengadakan pesta adat yang besar. Membuat pada masa kini pesta adat semakin ramai dan pengorbanan kerbau semakin banyak.

Tapi pelaksanaan pesta adat juga merupakan pelayanan sosial terhadap masyarakat. Dimana hewan yang disembelih atau dipotong dagingnya dibagikan kepada tamu-tamu, seluruh tetangga dan pemuka masyarakat serta tokoh agama dalam satu desa bahkan kecamatan.

Pemotongan kerbau pada pesta Rambu Solo dimaksudkan bahwa roh almarhum atau almarhumah menunggangi salah satu kerbau yang teristimewa dan kerbau-kerbau hitam lainnya menjaga dan mengiringi. Diyakini semakin banyak kerbau yang dikurbankan semakin cepat dosa jenazah terhapuskan dan mendapat tempat di sisi-Nya.

Selain menjaga keselamatan roh menuju alam baka. Banyaknya kerbau yang dikurbankan secara tidak langsung akan meninggalkan ketentraman batin bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan di dunia. Bahkan dipercaya kalau arwahnya sudah disucikan maka dia akan menjadi orang suci, yang selalu mengawasi dan menjaga anak cucunya.

Bagi orang Toraja, kerbau memang sudah menjadi bagian hidup mereka sehari-hari. Karena memang salah satu sektor pembangunan yang menjadi andalan daerah Toraja adalah peternakan. Hal tersebut didukung oleh kondisi alam yang memiliki padang rumput yang luas.

Bahkan, sistem beternak bagi masyarakat Toraja merupakan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Usaha peternakan bagi masyarakat Toraja dapat dilakukan secara berkelompok maupun secara induvidu dengan cara tradisional.

Beternak kerbau dapat menunjang perekonomian desa. Karena itulah kerbau di Toraja merupakan salah satu maskot daerah yang berperan penting dalam acara-acara adat besar di Toraja. Juga eksistensinya yang tinggi khususnya pada upacara kematian.

Budidaya kerbau agar tidak punah

Kebutuhan kerbau di Sulsel memang cukup tinggi, terutama untuk ritual kematian rambu solo' ini. Diperkirakan setiap tahun ada sekitar 18 ribu kerbau yang dipotong sebagai bagian dari upacara adat, atau sekitar 70 persen kerbau di daerah tersebut.

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin (Unhas), Syamsuddin Hasan, mengatakan jika tak dibarengi upaya peningkatan produksi ternak, populasi kerbau di Sulses makin terbatas. Apalagi kebutuhan kerbau makin meningkat setiap tahun, seiring peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Fenomena penuruan populasi kerbau ini juga terjadi secara nasional. Jika tahun 1990-an, populasi kerbau mencapai 3,5 juga ekor, kini diperkirakan merosot hingga 1 juta ekor.

"Jika tidak segera ada upaya budidaya intensif berbasis teknologi, bisa berdampak kelangkaan ternak ini," ucapnya dalam Mongabay Indonesia.

Di Sulsel, peternakan kerbau banyak ditemukan di dua daerah, yaitu Tana Toraja an Toraja Utara. Di kedua daerah ini kerbau menjadi ternak utama, sebagai salah satu unsur penting dalam ritual kematian. Penurunan populasi kerbau juga disebabkan alih fungsi mekanisasi pertanian dan luas lahan penggembalaan atau perkubangan kerbau berkurang.

"Ini karena beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan industri," ungkapnya.

Rampog, Duel Harimau sebagai Lambang Penumpasan Kolonial

Padahal, kata Syamsuddin, budidaya kerbau sebenarnya sangat menguntungkan. Sebab selain produksi daging, susu kerbau pun jauh lebih sehat dibanding susu sapi, rendah kolesterol dan baik untuk penderita diabetes.

Pelaksanaan kawin alam, perbaikan pakan atau penanganan penyakit itu penting, tetapi akan lebih bermakna lagi kalau lebih berpikiran integral dengan mengkaitkannya dengan upaya untuk melestarikan dengan membuat ekosistem habitat alaminya.

Menghubungkannya dengan aspek sosial ekonomi berupa pariwisata, kuliner, adat istiadat, dan kepercayaan setempat, merupakan langkah yang tepat. Contoh pada ritual rambu Solo' yang hidup subur di Tana Toraja.

Juga budaya kuliner seperti rendang, dadih di Sumatra Barat (Sumbar), dangke di Sulawesi Selatan (Sulsel), permen susu di Nusa Tenggara Barat (NTB), kebiasaan meugang di Aceh, Belis di Nusa Tenggara Timur (NTT), dan kebo haji di Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Kalimantan Selatan (Kalsel), serta balapan kebo di daerah Nusa Tenggara dan Bali (mekepung).

Sehingga kegiatan teknis semata akan menjadi lebih baik kalau berkolaborasi dengan aspek sosial budaya dan ekonomi setempat. Pengembangan kerbau jadi kepedulian bersama bukan urusan orang peternakan dan kesehatan hewan saja.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini