Peran Peneliti Asal Indonesia yang Berkontribusi Membuat Vaksin AstraZeneca

Peran Peneliti Asal Indonesia yang Berkontribusi Membuat Vaksin AstraZeneca
info gambar utama

Di tengah kondisi masyarakat tanah air yang sedang bersama-sama berjuang menghadapi situasi pandemi, ada setitik capaian membanggakan yang dimiliki Indonesia lewat hasil kerja dari salah satu anak bangsa, yaitu Indra Rudiansyah.

Bukan tanpa alasan, pria kelahiran tahun 1991 tersebut berhasil menyita perhatian publik setelah diketahui turut berperan dalam tim pengembangan vaksin AstraZeneca (AZ) dari Universitas Oxford, yang dipimpin oleh Sarah Gilbert.

Keikutsertaan Indra dalam tim pengembangan vaksinasi tersebut semakin membanggakan mengingat AZ merupakan salah satu jenis vaksin Covid-19 yang paling banyak diandalkan dan digunakan oleh 177 negara sampai saat ini.

Belum lagi, vaksin AZ terbukti sebagai salah satu vaksin yang memiliki keefektifan paling tinggi, dan dinilai ampuh meminimalisir risiko serta gejala yang ditimbulkan dari Covid-19 varian terbaru.

Keikutsertaan Indra pertama kali diketahui publik lewat sebuah video yang diunggah oleh kanal YouTube Deutsche Bank dengan judul The Oxford vaccine: Meet the team behind the breakthrough.

Dalam video tersebut, dijelaskan bahwa pengembangan vaksin AZ dipimpin oleh Profesor Vaksinologi Sarah Gilbert bersama tim yang juga memegang peran penting, salah satunya Indra.

Vaksin AstraZeneca Dinilai Efektif, Australia Siap Kirim Bantuan 2,5 Juta Dosis ke RI

Mahasiswa penerima program beasiswa LPDP

Indra Rudiansyah
info gambar

Mengenal profil Indra lebih jauh sebelum menempuh pendidikan di Oxford, pria asal Bandung ini diketahui telah menempuh pendidikan Sarjana Mikrobiologi dan Magister Bioteknologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan berhasil menyelesaikan studinya dengan gelar cumlaude.

Menilik profil LinkedIn miliknya, setelah lulus dari ITB di tahun 2014 Indra sempat menjadi peneliti di perusahaan farmasi dalam negeri yaitu Bio Farma selama kurang lebih empat tahun. Pada tahun 2018, dirinya mendapatkan beasiswa LPDP Kemenkeu dan melanjutkan pendidikan program doktoral pada Clinical Medicine, The University of Oxford.

Dalam program studinya, Indra meneliti metode viral vector yang bertujuan untuk mengembangkan vaksin malaria. Metode tersebut juga diketahui sebagai metode yang digunakan dalam pembuatan vaksin AZ.

Sekilas informasi, viral vector merupakan metode pembuatan vaksin tanpa menggunakan virus Covid-19 yang sudah dilemahkan atau dimatikan, melainkan menggunakan virus lain yang sudah dimodifikasi untuk memicu respons imun.

"Kebanyakan riset yang dilakukan terkait vaksin melawan beberapa penyakit seperti HIV, Ebola, dan penyakit yang berpotensi menimbulkan pandemi seperti SARS, MERS, dan sekarang covid-19" jelas Indra dalam video Deutsche Bank.

Dalam sebuah unggahan yang dipublikasi oleh Facebook resmi LPDP Kemenkeu, dijelaskan bahwa Indra berperan dalam tahapan uji klinis untuk melihat antibody response dari para relawan yang sudah lebih dulu divaksinasi.

Semenjak bergabung dengan tim pengembangan Jenner Institut Uni of Oxford dan membantu uji klinik vaksin AZ pada awal Mei 2020, Indra diketahui menghabiskan waktu rata-rata sekitar 10 jam di laboratorium setiap harinya.

"Ada ratusan peneliti yang bekerja. Sumber daya yang besar ini bertujuan agar vaksin segera bisa dikembangkan dengan cepat. Biasanya, untuk mendapatkan data uji klinis vaksin fase pertama dibutuhkan waktu hingga lima tahun, tapi tim ini bisa menyelesaikan dalam waktu enam bulan." ungkap Indra dalam rilis LPDP.

Jumlah Penerima Vaksin di Asia Tenggara, Indonesia Jadi yang Terbanyak

Vaksin Covid-19 termurah di dunia

Sarah Gilbert
info gambar

Walau Indra baru bergabung dengan tim di bulan Mei 2020, pengembangan awal vaksin AZ sudah dilakukan sejak bulan Januari 2020, tak lama setelah Covid-19 pertama kali hadir dan terjadi ledakan kasus di China.

Faktanya, pengenalan lebih detail mengenai tim yang berada di balik pembuatan vaksin AZ terpublikasi berkat keputusan humanis yang dilakukan oleh tim pengembangan yang dipimpin oleh Sarah.

Sarah dan timnya berhasil mencuri perhatian dunia karena keputusannya untuk melepas hak paten vaksin AZ yang mereka buat, demi bisa didistribusikan serta digunakan secara luas oleh masyarakat dunia.

Lewat langkah tersebut Sarah dan tim sama sekali tidak menerima pembayaran paten dari vaksin yang dibuatnya, sehingga AZ menjadi vaksin dengan harga dasar paling murah di dunia, yakni hanya sekitar 2-3 dolar AS yang dikenakan untuk biaya produksi.

Jika ingin mendapatkan vaksin Covid-19 secara mandiri, harga tersebut jelas jauh berbeda dengan vaksin jenis lain yang saat ini sudah mendapat izin edar dari WHO, sebut saja vaksin Pfizer yang diketahui memiliki efektivitas yang sama dengan AZ diketahui memiliki harga 39 dolar AS untuk dua kali dosis suntikan.

Adapun melansir ChannelNewsAsia, vaksin Moderna diketahui juga memiliki harga lebih tinggi jika ingin didapatkan secara mandiri, yaitu di kisaran 25-37 dolar AS untuk satu kali dosis suntikan.

Vaksin Covid-19, Apa Bedanya Sinovac dan AstraZeneca?

Konten di atas sebagian memakai konten yang ada di Wikipedia. Untuk melihat yang lainnya, silakan klik tautan berikut Arsip Wikipedia. Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini