Roti Djoen, Kuliner Lawas Asal Jogja Berusia 86 Tahun

Roti Djoen, Kuliner Lawas Asal Jogja Berusia 86 Tahun
info gambar utama

Di Malioboro, terdapat pecinan tertua bernama Ketandan. Saat anda masuk ke wilayah tersebut, bau harum roti panggang nan mengusik langsung menyeruak menggoda. Begitulah kiranya gambaran dari toko roti legendaris di sudut Malioboro bernama Toko Roti Djoen Lama. Toko roti yang sudah ada semenjak tahun 1935 yang kini masih eksis.

Jika berkunjung langsung ke tokonya, kamu akan merasakan suasana berbeda dari toko-toko zaman sekarang. Bagaimana tidak, di tengah hiruk pikuknya Malioboro yang semakin modern. Ternyata masih ada toko yang mempertahankan bangunan lamanya dan konsisten menjajakan menu roti klasik

Plakat hijau bertuliskan "Bakery dan Shop: Djoen Lama sejak 1935" berwarna kuning siap menyambut di Jalan Margo Mulyo no 78, Ngupasan Yogyakarta. Berada di depan salah satu pusat perbelanjaan terkenal di kawasan Malioboro, Toko Roti Djoen Lama menyediakan aneka pilihan roti klasik yang tentunya sedap, enak, halal, bergizi dan melegenda.

Resep roti dan kue yang digunakan tidak ada perubahan, tetap dipertahankan seperti yang dulu. Toko roti lawas ini pun tidak memakai bahan-bahan tambahan pangan modern seperti pengawet, pengembang dan pewarna. Sekalipun tanpa bahan tambahan, roti tetap bisa empuk dan enak.

Di bagian lorong toko yang memanjang, Anda akan disambut dengan roti-roti segar yang diletakkan di etalase kaca. Roti disini masih diolah secara manual dengan resep sederhana dan tidak memakai oven. Itu sebabnya roti produksi Toko Djoen Lama hanya bisa bertahan satu hari saja, karena sejak dulu menghindari bahan pengawet.

Tan Ek Tjoan, Roti Legendaris Indonesia yang Digemari Bung Hatta

Peralatan-peralatan kuno masih dipertahankan dan dimamfaatkan. Mulai dari loyang-loyang besi dan pemanggang roti super besar seperti tungku perapian pada rumah-rumah bergaya zaman Belanda. Salah satu menu yang banyak digandrungi para penikmat kuliner ialah roti buaya dan roti bantal.

Roti tawar berbentuk pipih oval dan ditaburi wijen di atasnya, ini juga merupakan varian pertama roti di Toko Djoen Lama. Seiring berjalannya waktu, toko ini kemudian menjual berbagai varian roti, baik basah maupun kering. Beberapa varian untuk roti basah misalnya, ada roti isi cokelat, kelapa, pisang, daging.

Salah satu yang banyak pula diburu pembeli adalah Ontbitjtkoek. Kue persegi panjang kecil ini adalah kue rempah manis yang cukup laris di era Kolonial Belanda. Roti ini dibumbui dengan cengkeh dan kayu manis. Dengan rasa jahe yang kuat, membuat cita rasa unik saat mencicipinya. Tentunya cita rasanya masih terjaga sejak zaman penjajahan.

Dapur roti ini beroperasi setiap hari. Kegiatan meracik, membuat adonan dan memanggang sejak pukul 9 pagi dilakukan oleh pekerja yang telah menjadi bagian dari keluarga Toko Djoen Lama sejak dulu. Selain itu ada pula Toko Djoen "Muda" yang masih dikelola oleh sesama keluarga. Rasanya tentu tak jauh beda lantaran menggunakan resep yang sama.

Awal mula Toko Djoen

Masuk ke Toko Roti Djoen Lama seakan memasuki lorong waktu ke masa silam. Interior dengan nuansa masa silam masih kental. Rak toko berwarna merah jambu, kaleng-kaleng roti lawas masih terpajang di toko itu. Di meja kasir, ada seorang wanita dengan wajah keriput sigap melayani pembeli.

Dialah sang pemilik Toko Djoen Lama, Hardinah (84)--karib disapa Oma--yang selalu menyambut dengan senyum pengunjung yang ingin berbelanja. Tak banyak tamu yang berlama-lama di toko roti ini. Kebanyakan hanya datang dan pergi setelah memilih roti dan bertransaksi. Di toko, Oma ditemani anaknya Widowati (50).

"Mertua yang mulai dari 1930-an, lalu saya ikut jualan sama mendiang suami sejak jadi mantu tahun 1959," kata Hadinah, pada detikcom.

Roti pisang menjadi salah satu andalan Toko Djoen Lama. Roti pisang legendaris itu diluncurkan pada tahun 1959 tepat setelah Oma menikah dengan Haryono Waluyojati (Tan Ing Hwat) pada tahun yang sama.

"Aku ditembung (diminta jodohkan). Dulu sebelum nikah di Semarang, aku suka roti pisang. Pas nikah di sini, terus bikin roti pisang. Sebelumnya cuma ada roti gula Jawa yang spekuk itu, roti sobek, roti rol," kenang Oma.

Ternyata awalnya toko ini tidak hanya menjual roti, mereka menjual beberapa kebutuhan lainnya seperti odol dan sabun.

"Dulu toko roti ini besar, sekarang dibagi dua gedungnya. Dulu rak-rak ini banyak sampai toko sebelah. Isinya macem-macem, selain roti ada toples isi gula-gula, sampai tujuh puluh toples. Rotinya macam-macam, juga jual sabun, odol," beber Oma lalgi.

Roti Gambang- Roti Khas Betawi Yang Mulai Tenggelam

Djoen Lama berdiri tahun 1935 ketika mertuanya, Tan Lian Ngau, memborong usaha sekaligus bangunan milik seseorang keturunan Tionghoa, Tan Poe Djoen, asal Temanggung, Jawa Tengah. Tapi tidak ada catatan pastinya tentang tanggal pembelian ini selain dari memori keluarga.

"Tan Po Djoen ke sini (Yogyakarta) lalu pindah ke Belanda. Sebelumnya di sini sudah jualan roti juga, lalu dibeli mertua saya se-rumahnya beserta alat-alat pembuat rotinya," ungkapnya.

Setelah tahun 1959, Toko Djoen Lama mengeluarkan beberapa varian baru legendaris selain roti pisang. Munculah roti tawar, roti pisang, roti aneka isian serta toping, kue sus, kroket, biskuit bagelan: roomboter 'Melia Chanra', American-style doughnut, Onbitjkoek, roti sobek polos, roti semir.

Tahun 1969, Toko Djoen Lama merilis biskuit Bagelan Roomboter. Biskuit dengan merk Meila Chandra ini jadi salah satu sajian yang masih dipertahankan hingga sekarang. Oma pun menjelaskan asal muasal nama roti ini.

"Meila itu artinya 'nyempluk', 'nyenengke', panggilan buat Widowati," ujar Oma.

Oma bersikeras mempertahankan cita rasa roti buatannya, mulai dari cara memasak hingga bahan yang digunakan tetap sama sejak dulu. Oma pun mengenang masa jaya Toko Djoen Lama. Dulu, dia bisa memproduksi banyak roti dalam satu hari. Jangkauan pasarnya juga luas, tak seperti sekarang.

"Dulu toko ini ya bikin roti banyak, dijual sampai Wonosari, Klaten, Sleman, Muntilan," ceritanya.

Terus bertahan melawan zaman

Kendati masa jaya Toko Djoen sudah lewat, Widowati sepakat untuk tidak menyerah. Walaupun pelanggan sudah tidak seramai dulu tapi dirinya percaya, suatu hari Djoen akan ramai kembali.

"Pelanggan nggak seramai biasanya. Dulu yang dari luar kota banyak, paling laris dulu ya sus kering. Sekarang paling orang-orang sini yang beli. Pelanggan yang lama memang masih ada tapi tidak banyak," ungkapnya.

Widowati menceritakan, dulu sempat ingin menutup toko. Apalagi dengan adanya pandemi Corona, ini membuatnya tak berjualan selama berbulan-bulan. Namun, Oma tetap bersikukuh agar usaha ini terus dipertahankan. Kini, selain Widowati, cucu-cucu Oma masih mau membantu berjualan.

Widowati sempat punya angan untuk merenovasi toko. Dia ingin membuat agar nuansa jadul dipadukan dengan bangunan lawas ala Eropa. Ditambah dengan sajian kopi. Tujuannya agar menarik pembeli masa kini.

Lauw, Roti Legendaris dengan Gerobak Dorong yang Khas

"Mungkin suatu saat dibikin seperti kafe, tapi entah kapan. Sementara ya seperti ini dulu. Oma juga mintanya seperti ini saja dulu," ucapnya.

Hal ini juga selaras dengan seorang pakar kuliner di Indonesia, Tendi Nuralam. Saat singgah ke Toko Djoen Lama, dirinya memberikan saran kepada penerus toko legendaris tersebut.

"Toko Djoen sudah punya nama besar, tur di toko roti ini bisa menarik sambil makan roti, sambil melihat proses pembuatannya dan mendengar cerita sejarah toko serta Yogyakarta," ujar Tendi yang dikabarkan National Geographic.

"Dibuat storytellingnya, rotinya dikemas tanpa plastik, bisa juga ada kafe sederhana dengan kreasi roti tawar Djoen dengan isian dan lainnya. Mesin dan tunggku jadulnya pun menarik, itu sejarah. Kuat nilai historisnya, layak dikunjungi wisatawan," tambah Tendi.

Bagi pelanggan setia, merasakan roti Djoen ibarat kembali ke masa muda. Tamasya rasa dan nostalgia masa kecil, ibaratnya.

"Roti tawarnya ini mengingatkan saya sewaktu masih kelas V SD. Sering jajan ke sini," kata seorang pelanggan.

Ningrum, kini sudah tidak tinggal lagi di Yogyakarta setelah pindah dari daerah Ngampilan ke Tangerang. Namun, dirinya tetap berharap roti Djoen bisa bertahan. Dia ingin agar sesuatu yang bernilai terus hidup. Dia ingin kenangannya tidak mati.

Ketandan Yogyakarta memang menyimpan aneka kisah ingatan masa lalu dari warganya. Ketandan pun menjadi bagian penting dari perkembangan kota Yogyakarta, di kawasan teramai di Kota Pelajar ini, semoga Toko Djoen tetap lestari.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini