Indonesia dalam Paralimpiade, Medali Emas Pertama dari Pesta Olahraga Sebelum Olimpiade

Indonesia dalam Paralimpiade, Medali Emas Pertama dari Pesta Olahraga Sebelum Olimpiade
info gambar utama

Selama ini mayoritas perhatian masyarakat Indonesia memang masih terfokus kepada Olimpiade, khususnya jika bicara mengenai gelaran pesta olahraga bertaraf internasional.

Padahal, prestasi sebenarnya sudah terukir sejak memperoleh peraihan medali emas jauh sebelum gelaran Olimpiade Barcelona 1992, yang selama ini banyak dikenal sebagai momen pertama kali Indonesia berjaya lewat cabor bulu tangkis.

Siapa sangka, prestasi pertama yang dimiliki justru diraih oleh atlet dengan kondisi keterbatasan, atau penyandang disabilitas pada gelaran Paralimpiade yang digelar di Toronto pada tahun 1976.

Memang, awal mulanya olahraga bagi para penyandang disabilitas hanya dijadikan sebagai kepentingan rehabilitasi dan rekreasi. Di Indonesia, gerakan olahraga bagi para penyandang disabilitas pertama kali diprakarsai oleh Dr. Soeharso.

Namun seiring dengan perkembangan dan capaian prestasi yang tidak bisa dianggap remeh. Sejak tahun 2005 International Paralympic Committee (IPC) akhirnya menegaskan,bahwa semua cabang olahraga yang dinaungi IPC masuk kedalam olahraga prestasi, dan tidak lagi dipandang sebagai olahraga rehabilitasi atau rekreasi, sehingga semua organisasi di bawah naungan IPC harus menggunakan kata Paralympic/Paralimpiade dalam namanya.

Menilik Semangat dan Persiapan Kontingen Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020

Cikal bakal semangat olahraga bagi penyandang disabilitas di Indonesia

Atlet difabel Indonesia
info gambar

Sebelum ikut berpartisipasi dalam gelaran internasional layaknya Paralimpiade, sudah pasti Indonesia lebih dulu mengadakan gelaran olahraga khusus penyandang disabilitas di dalam negeri. Ajang olahraga khusus penyandang disabilitas pertama di Indonesia diselenggarakan pertama kali pada tahun 1957, yang saat itu diberi nama Pekan Olahraga Penderita Cacat (POR Penca) dan berlangsung di Surakarta.

Kemudian POR Penca kedua kembali diselenggarakan di kota yang sama pada tahun 1959 dengan mempertandingkan sebanyak 20 cabor.

Pada tahun 1964, POR Penca ketiga diselenggarakan masih di Surakarta dengan peningkatan menjadi sebanyak 26 cabor yang dipertandingkan. Setelahnya, diputuskan bahwa POR Penca diselenggarakan secara rutin setiap tiga tahun sekali.

Di saat yang bersamaan, dalam keberadaannya POR Penca kerap beberapa kali mengalami pergantian nama, di antaranya Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) yang terjadi pada tahun 1993, kemudian di tahun 2005 kembali berubah menjadi Pekan Paralimpiade Nasional (Perpanas).

Mengenai organisasi yang menaungi keolahragaan atlet difabel sendiri, Indonesia mempunyai Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC) yang berdiri sejak tahun 1962.

Namun seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan IPC yang mengharuskan organisasi dari negara-negara anggota menggunakan kata Paralympic/Paralimpiade dalam namanya, YPOC akhirnya berganti nama menjadi National Paralympic Committee (NPC) pada tahun 2010 hingga saat ini.

Gerbang keikutsertaan Indonesia pada ajang internasional nyatanya dimulai pada saat YPOC masuk menjadi anggota International Sport Organisation for Disabled (ISOD), yang berpusat di London pada tahun 1967.

Pengiriman atlet difabel Indonesia pertama kali dalam ajang internasional pun akhirnya terlaksana pada tahun 1973 ke Austria, atas undangan dari Persatuan Olahraga Penderita Cacat Austria. Kala itu, Indonesia mengirim sebanyak 13 atlet yang ikut serta dalam cabor bola voli dan gerak jalan yang masuk dalam kategori atletik.

Ganefo, Olimpade Tandingan Buatan Soekarno yang Menyatukan Olahraga dan Politik

Gelora atlet difabel Indonesia lewat keikutsertaan Paralimpiade pertama

Gubernur Ali Sadikin menyambut atlet difabel Indonesia selepas Paralimpiade 1976
info gambar

Berbeda dengan Olimpiade yang sudah berlangsung jauh lebih lama, Paralimpiade sendiri baru diselenggarakan pertama kali pada tahun 1960 dan berlokasi di Roma, Italia.

Sejak pertama kali muncul, telah ditetapkan bahwa penyelenggaraan Paralimpiade mengikuti dan berlangsung setelah gelaran Olimpiade, yaitu dalam rentang waktu empat tahun sekali.

Indonesia sendiri baru berpartisipasi di Paralimpiade pada gelaran musim kelima di tahun 1976 yang berlangsung di Toronto, Kanada. Kala itu, sebanyak 15 atlet difabel tanah air ikut berkompetisi bersama 1.300 atlet difabel lainnya yang berasal dari 45 negara di dunia.

Di sinilah prestasi besar terukir, berbeda dengan atlet Indonesia yang masih belum menunjukkan geloranya pada saat pertama kali berpartisipasi dalam gelaran Olimpiade, namun mulai meningkatkan perolehan medali di tahun-tahun berikutnya, kondisi sebaliknya justru terjadi pada Paralimpiade.

Partisipasi pertama Indonesia pada Paralimpiade di tahun 1976 justru langsung menorehkan prestasi besar. Kala itu kontingen tanah air berhasil membawa pulang dua medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu.

Selain itu, Indonesia juga menempati posisi 26 klasemen akhir Paralimpiade, dengan satu peringkat tepat di bawah Italia serta lebih unggul dibanding Korea Selatan, Brazil, dan Yunani.

Adapun sosok yang membawa kemenangan berupa dua medali emas pertama tersebut yaitu Itria Dini dari cabang atletik kategori lempar lembing putra Kategori F. Bukan hanya itu, Itria nyatanya juga turun dalam cabang olahraga tolak peluru putra Kategori F dan mempersembahkan medali perunggu.

Kemudian medali emas satunya dimiliki oleh Syarifuddin, di cabang lawn bawls (bowling lapangan) putra Kategori E. Setelahnya ada Ashari, sebagai sosok yang berhasil menggondol medali perak dari cabang atletik nomor 100 meter putra Kategori E.

Sisa dua medali perunggu lainnya berhasil direbut oleh Saneng Hanafi, lewat cabang atletik nomor lempar cakram dan lembar lembing Kategori F.

Menjadi sejarah membanggakan pertama kali, kepulangan jajaran atlet difabel tersebut akhirnya mendapat sambutan meriah dari Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang menjabat kala itu.

Prestasi yang diraih ternyata berhasil diteruskan di musim selanjutnya, yaitu Paralimpiade Arnhem 1980. Jajaran atlet difabel Indonesia kembali berhasil membawa pulang enam medali yang terdari dari dua medali emas dan empat medali perunggu, namun turun dua peringkat dari perolehan klasemen akhir dengan berada di peringkat ke-28.

Resmi Ditutup, Ini Klasemen Akhir Perolehan Medali Olimpiade Tokyo 2020

Kekosongan medali hingga Paralimpiade Beijing 2008

Paralimpiade Beijing 2008
info gambar

Siapa sangka, bahwa penurunan peringkat klasemen di tahun 1980 ternyata menjadi pertanda dari menurunnya prestasi Indonesia di gelaran Paralimpiade pada tahun-tahun berikutnya.

Di dua musim selanjutnya, Indonesia hanya berhasil memperoleh masing-masing dua medali pada gelaran Paralimpiade New York 1984, dan Paralimpiade Seoul 1988. Perolehan klasemen pun turun dengan berada di peringkat ke-41 dan 43.

Setelahnya, Indonesia bahkan sempat absen mengirimkan perwakilan pada Paralimpiade Barcelona 1992, saat di mana perwakilan dari sisi Olimpiade justru memperoleh kejayaannya di pesta olahraga musim ini.

Kelesuan terus terjadi di tahun-tahun berikutnya, mulai kembali mengirimkan atlet di Paralimpiade Atlanta 1996, namun kontingen Indonesia terus pulang tanpa membawa medali sampai gelaran Paralimpiade Beijing 2008.

Sepercik harapan perolehan medali kembali diraih pada Paralimpiade London 2012 dengan membawa pulang satu medali perunggu, yang diperoleh David Jacobs dari cabor tenis meja dan menduduki peringkat ke-74 di klasemen akhir.

Terakhir, di Paralimpiade Rio 2016, medali perunggu kembali diraih oleh Ni Nengah Widiasih lewat cabor powerlifting dan membawa Indonesia berada pada peringkat ke-76 di klasemen akhir.

Hingga saat ini, Indonesia diketahui sudah memperoleh sebanyak 18 medali lewat keikutsertaan di ajang Paralimpiade sejak pertama kali berpartisipasi. Adapun detail dari perolehan 18 medali yang dimiliki terdiri dari empat medali emas, empat medali perak, dan 10 medali perunggu yang berasal dari lima cabang olahraga yaitu lawn bols, atletik, weightlifting, powerlifting, dan tenis meja.

Menariknya, di musim ini yaitu Paralimpiade Tokyo 2020 ternyata menjadi rekor atlet difabel terbanyak yang pernah dikirimkan Indonesia dalam sejarah Paralimpiade, yaitu sebanyak 23 orang.

Karena itu tak heran, jika NPC dan berbagai pihak menargetkan kontingen Indonesia minimal bisa memperoleh masing-masing satu medali emas, perak, dan perunggu, untuk kembali mengembalikan kejayaan Indonesia di ajang Paralimpiade.

Tekad tersebut nyatanya semakin kuat, mengingat jajaran atlet difabel Indonesia yang musim ini dikirimkan ke Tokyo sebenarnya berhasil meraih prestasi membanggakan pada pesta olahraga bertaraf internasional sebelumnya, yaitu Asian Para Games.

Pada tahun 2018, atlet difabel Indonesia berhasil menunjukkan kejayaan lewat perolehan total 135 medali yang terdiri dari 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu yang diperoleh dari 18 cabang olahraga. Indonesia pun berhasil ada di peringkat lima klasemen akhir.

Pencapaian tersebut tentunya menjadi modal dan harapan besar akan kebangkitan Indonesia di ajang Paralimpiade Tokyo 2020.

Atlet Asian Para Games: Kami Si Para Penembus Batas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini