Tradisi Mencari Kutu Sebagai Wahana Interaksi Sosial yang Mengasyikkan

Tradisi Mencari Kutu Sebagai Wahana Interaksi Sosial yang Mengasyikkan
info gambar utama

Petan, atau mencari kutu adalah tradisi lawas perempuan Indonesia sebagai media interaksi dengan sesama perempuan. Bisa dengan anak-anak, sesama orang tua atau para gadis yang rambutnya tumbuh memanjang.

Biasanya beberapa perempuan duduk berderet dalam satu baris menghadap ke arah yang sama. Mereka memanjang ke belakang bisa tiga sampai empat orang dan duduk di tempat terang.

Orang yang paling depan akan duduk diam. Sementara yang duduk di belakang, tangannya akan terus menggerayangi kepala, memilah helai demi helai rambut lalu tangan akan menjimpit menggunakan kuku jari. Terkadang usaha itu membuahkan hasil.

Terkadang juga sia-sia, karena kalah cepat dengan pergerakan makhluk yang sedang diburu. Mereka terlebih dahulu mengetahui kedatangan musuh dan menyaru dengan warna rambut sehingga persembunyiannya tidak diketahui.

Kalau penangkapan itu berhasil, nyawa sang makhluk akan berakhir di atas kertas bukti pembantaian, atau malah berakhir di ujung gigi para pemburu dengan bunyi "klethuk"

Kutu rambut adalah hama laten bagi manusia tanpa memandang strata, dan rambut kepala seolah ditakdirkan sebagai rumah bagi kutu. Namun kepala yang dihuni kutu tidak dapat dijadikan tuduhan bahwa orang tersebut hidup jorok. Bagi yang selalu menjaga kebersihan pun kutu bisa saja selalu datang

Sejauh ini, Kutu kepala tidak berbahaya dan tidak menyebarkan penyakit. Hanya mengakibatkan rasa gatal yang membuat manusia gagaro alias menggaruk-garuk kepala.

Karena itulah sepanjang masih ada kutu di kepala, sepanjang itu pula petan bakal hadir di dalam kehidupan manusia. Sebagai suatu tradisi, petan lebih terlihat hadir pada ‘tradisi kecil’, yakni tradisi tertentu yang utamanya tumbuh-berkembang di luar keraton.

Wdihan dan Ken sebagai Refleksi Status Sosial Bangsawan Jawa pada Masanya

Hal ini terlihat dari sumber klasik yang menggambarkan tradisi mencari kutu yang dipaparkan M. Dwi Cahyono dalam tulisan berjudul Tradisi “Dhidhis (Petan)” Di Kalangan Rayat Kecil, bahwa mencari kutu divisualisasikan pada sebuah pilaster teras Candi Surowono, di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Candi tersebut merupakan pendharman bagi Bhre Wengker yang mangkat pada tahun 1388 Masehi. Jika benar bahwa sebuah panil relief itu menggambarkan tentang petan, berarti kebiasaan tersebut paling tidak telah nyata-nyata ada pada zaman Majapahit semasa pemerintahan Raja Wikramawarddhana.

Di salah satu reliefnya, tampak pahatan yang menggambarkan dua orang desa sedang mencari kutu di bawah pohon rindang. Visualisasi dari dua orang tersebut digambarkan dalam penyerupaan panakawan di wayang kulit.

Adegan yang ditampilkan menampakan seseorang tengah mencari kutu di kepala kawannya menggunakan semacam tongkat kecil berujung runcing untuk menyingkap helai-helai rambut agar memudahkan menemukan si kutu. Sedangkan tangan lainnya bersiaga-siaga menangkap si kutu bila terlihat.

Dalam tulisannya Cahyono menyatakan bahwa relief tersebut mendokumentasikan kehidupan nyata rakyat kecil di pedesaan, terutama tradisi mencari kutu. Batur Candi Surowono memang memuat panil-panil relief yang menggambarkan realitas kehidupan pedesaan di sekitar candi ini, tak terkecuali dalam mata pencarian lokal, seperti memancing ikan, memancing katak, menjerat anak babi, menyumpit burung, dan sebagainya.

Menjadi wahana interaksi sosial

Sebenarnya, petan bukan hanya terdapat di dunia manusia, namun hadir pula pada dunia binatang. Gambaran yang serupa sekali dengan mencari kutu pada dunia manusia didapati pada dunia kera.

Adapun tujuannya sama, yakni membersihkan dari kutu. Hanya saja, petan bagi manusia bukan sekedar dimaksudkan untuk membebaskan dari serangan kutu yang menggatalkan rambut, namun ada perolehan tambahan daripadanya, yakni mendapatkan kenikmatan tersendiri.

"Selain itu, interaksi sosial turut terbangun antara pelaku dhidhis (petan), yakni antara ‘sing metani (subyek pencari kutu)’ dan ‘sing dipetani (yang menjadi obyek pencarian kutu)’," ucap Cahyono.

Bagi pencari kutu, pengerahan konsentrasi dan kejelian serta keterampilan jari jemari saat berburu kutu akan berbuah kenikmatan tiada tara ketika berhasil menangkap kutu atau kerabatnya seperti telur kutu dan kuar (anak kutu).

Puncak kepuasan itu adalah kegemasan yang ditunjukan dengan tindakan menindas si kutu dengan kuku jari atau digigit tanpa ampun. Suara ‘peletuk’ sebagai tanda pecahnya tubuh kutu adalah momen sakral, buncah kenikmatan bagi kedua belah pihak.

Memang jorok tampaknya, namun nyatanya menghadirkan keasyikan, kenikmatan dan karenanya ingin diulanginya lagi pada kesempatan lain. Maka, menjelmalah menjadi kebiasaan.

Budaya Jadi Harapan Besar Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia

"Di depan pintu, pada teras rumah, di balai bambu atau kursi keci (dingklik) bahkan cukup meski hanya nglesot (duduk beralas tanah) di bawah kerindangan pohon, atau terkadang di sela-sela aktifitas kerja sekali pun orang menciri-curi kesempatan untuk dhidhis (petan)," beber pria yang juga Dosen jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang ini.

Dari sisi sosial, momen mencari kutu di kalangan wanita membuka ruang percakapan yang menyasar berbagai tema. Peristiwa keseharian, bergosip ria, politik soal pemerintahan, naiknya harga-harga, jodoh dan asmara, curhat rahasia pribadi, sampai yang berbau seksual, disampaikan secara ngalor-ngidul, lazimnya penuh canda.

Kegiatan tersebut juga menjadi upaya alami dalam menjalin kedekatan sesama keluarga dan tetangga, serta pelepas penat setelah bekerja. Bagi seorang ibu yang mencari kutu di kepala anaknya adalah momentum untuk menggelontorkan nasehat bijak dan petuah agama secara sederhana.

Memang menurut Cahyono, kebenaran pembicaraan pada sesi mencari kutu tidaklah menjadi keutamaan. Tak soal itu kabar angin atau bahkan kabar bohong sekalipun. Yang penting, asyik dibicarakan.

"Adapun pembicaraan pada petan yang dilakukan oleh ibu terhadap anak acap mengenai aktifitas keseharian, dongeng atau bisa juga memuat petuah ringan. Terlepas tema apa yang dbicarakan, sesi petan menjadi semacam ‘wahana interaksi sosial’ di kala senggang waktu," katanya.

Tradisi yang mulai hilang

Mulai memasuki era 1990-an, tradisi petan mulai luntur. Seiring maraknya produk “sabun kepala” dan obat pemberantas kutu. Selain itu juga marak salon. Mulai saat itu, kesadaran kebersihan rambut mulai terjaga.

Dahulu sebelum mengenal "shampo", masyarakat menggunakan “merang” yang dibakar lalu direndam dalam air, disaring airnya kemudian digunakan sebagai shampo untuk mencuci rambut. Konon kata shampo berasal dari bahasa "Hindi" champo, bentuk imperatif dari champna (memijat).

Seperti dituliskan Radarjogja, momen mencari kutu ini pernah dirasakan Panewu Cangkringan Suparmono saat masih kecil, di tempat tinggalnya sekitar Pasar Kranggan, Cokrodinigratan, Jetis, Kota Jogja.

Ketika itu, pemukiman warga sudah relatif padat. Dan kegiatan ibu rumah tangga di siang hari, sembari istirahat mengobrol mereka sambil saling petan, yang dilakukan secara berderet.

“Dulu saya pernah punya tumo (kutu) tapi oleh ibu saya disureni,” ungkap Suparmono. Sureni adalah teknik mencari kutu dengan menggunakan suri atau serit. Terbuat dari kayu seperti sisir, tapi geriginya lebih rapat.

Saat itu dia masih SD. Maraknya kutu kala itu, dia pernah diminta mencari kutu ibunya. Tetapi gengsi jika harus ikut nimbrung mencari kutu dengan ibu-ibu di kampungnya. Dia memilih menggunakan suri untuk menghilangkan kutunya.

Rani yang merupakan warga Tempel, juga mengaku kerap mencari kutu. Menurutnya, ada kenikmatan tersendiri saat mencari kutu. Lepas dari bergosip, keseruannya saat menggilas kutu dengan dua kuku jari jempol. Begitu menggitas, ada kepuasan tersendiri.

Darmasiswa, Peluang Besar Membawa Budaya Indonesia ke Berbagai Penjuru Dunia

"Mak tes, itu bunyinya,” katanya.

Kutu ini disebut menular. Seseorang yang dekat dengan orang lain yang berkutu, disebut-sebut akan mudah tertular. Bahkan orang dulu meyakini setiap Kamis malam merupakan waktu telur-telur kutu menetas. Dari linso (telur kutu), anak kutu (kor) hingga kutu dewasa.

Kalau tidak dicari, ini semakin parah. Bisa menimbulkan borokan pada kulit. “Kalau sekarang, udah nggak ada kutu lagi. Jadinya ya jarang petan. Praktis udah nggak ada orang petan,” ungkapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini