Societeit Harmonie, Gedung Tempat Sosialita Eropa Dansa-Dansi di Batavia

Societeit Harmonie, Gedung Tempat Sosialita Eropa Dansa-Dansi di Batavia
info gambar utama

Para wanita datang dengan gaun terindah yang mereka miliki, berhiaskan batu giok merah dengan rambut yang dihias batu mulia untuk menarik perhatian. Sementara para lelaki datang mengenakan setelan berbahan beludru hitam dengan kerah tinggi dan rambut rapih disisir ke belakang.

Semua terlihat cantik dan tampan. Pesta dansa biasanya dimulai jam 9 malam dengan souper--acara makan tengah malam yang membaurkan para petinggi Belanda dan Inggris--di pertengahan acara hingga larut malam. Gedung ini juga terkenal sebagai tempat untuk adu gengsi pakaian mahal dan kemewahan yang mereka miliki.

Gedung ini bernama Societeit Harmonie yang terdapat di daerah Rijswijk, Batavia. Sejarah mencatat bahwa gedung Societeit Harmonie di Batavia merupakan gedung perkumpulan sosialita Eropa yang tertua di daerah Asia.

Nama Harmoni memang berasal dari sebuah gedung megah yang dulu berdiri di kawasan ini. Sejarawan Alwi Shahab, pernah mengatakan Societeit Harmoni mulai dibangun pada tahun 1810.

“Gedung itu tempat orang Belanda bersenang-senang dan mencari hiburan,” kata Alwi, menukil CNN Indonesia.

Mulanya, Gedung Societeit Harmonie adalah sebuah benteng pertahanan bernama Rijswijk. Benteng ini dibangun untuk melindungi Kota Batavia yang dulu berpusat kawasan Kota Tua. Sempat rusak dan tak terurus akibat kerusuhan etnis Tionghoa pada tahun 1740, Risjwijk kembali dibangun pada tahun 1810 pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Deandels berkuasa.

Sejarah Hari Ini (4 Maret 1621) - Pemerintahan Kota Batavia Berdiri

Pembangunan yang diprakasai oleh Dendels ini kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Societeit Harmonie diresmikan oleh Raffles pada 18 januari 1815, tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Charlotte dari Inggris.

Peresmian dilakukan secara simbolis dengan melepas kunci pintu gedung ke Sungai Ciliwung. Maknanya dalam, memunculkan harapan bahwa Societeit Harmonie tidak akan pernah tutup.

Sejarawan JJ Rizal juga pernah bilang bahwa Societeit Harmonie berdiri cukup langgeng. Dipelopori oleh Belanda dan berlanjut hingga pemerintahan Inggris.

Sebagai societeit, Harmonie menjadi tempat saling berkumpul, mengobrol sembari menikmati secangkir kopi, teh, minuman beralkohol, merokok, main kartu, bahkan main biliar. Tidak ketinggalan pesta dansa yang meriah.

Bukan cuma menyediakan lantai dansa dan restoran, klub eksklusif ini memiliki fasilitas ruang baca serta ruang biliar yang dapat dimanfaatkan para anggotanya. Kaum pribumi mengenal gedung tersebut sebagai 'rumah bola' yang saat ini populer dengan istilah ballroom.

Kemegahan gedung dan kemeriahan pesta dansa bisa dilihat dari catatan seorang tentara Belanda, HCC Clockener Brousson. Tentara itu asal Jordaan, yang pernah bertugas di Batavia. Dia menulis kisah pengalamannya berkeliling Batavia yang diterbitkan dalam buku Batavia Early 20th Century.

"Kami melihat juga Societeit Harmonie yang terkenal. Ini dapat dikatakan klub terbagus di antara Tokyo dan Bombay,” ungkapnya

“Di depan gedung itu tampak beberapa pria berseragam putih angkatan laut sedang duduk dekat balustrade sambil bercakap-cakap dengan penuh kegembiraan,” beber serdadu tua itu.

Brousson melanjutkan ceritanya, sebuah taman kecil dengan kursi menghiasi gedung Societeit yang tidak terlalu tinggi di sisi jalan. Di depan gedung, seorang pria berseragam biru laut sedang duduk di dekat Langkan, mengobrol dengan gembira

Brousson juga mendapat informasi dari kondektur Trem mengenai kegiatan di Harmonie. Menurut kondektur, anggota Societeit adalah pengusaha dan pejabat. Biasanya pada Minggu malam sekitar pukul 19.00 hingga 20.30 WIB, pengunjung disuguhkan dengan pertunjukan musik yang dimainkan oleh kelompok militer.

Bukan hanya sekadar klub dansa

Harmonie saat itu merupakan salah satu perkumpulan (societeit) elite di Batavia. Pada akhir abad ke-19, soos--akronim dari societeit--didirikan di kota-kota besar di Hindia Belanda.

"Soos Batavia yang paling bergengsi dan menjadi model bagi seluruh soos di Hindia,” tulis Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land.

Reinier de Klerk, penggagas pembangunan gedung ini memang ingin mengatur gaya hidup orang-orang Belanda. Dimaksudkan pembangunan gedung ini agar gaya hidup orang-orang Belanda tidak terlalu urakan.

"Sebelum ada gedung ini, di sepanjang Kali Ciliwung banyak berdiri kedai minum. Karena orang-orang Belanda senang mabuk-mabukan, maka di situ sering terjadi perkelahian," ucap pemerhati sejarah dan budaya, Djulianto Susantio, dalam Kompas.

Sociteit Harmonie sangat populer di Batavia pada saat itu karena hanya orang-orang eropa dari kelas atas, pejabat, pengusaha, dan priyayi, yang boleh menjadi anggota perkumpulan klub eksekutif ini. JJ Rizal juga menjelaskan bahwa saat itu Societeit Harmonie merupakan klub eksklusif yang tidak sembarang orang bisa masuk.

“Hanya orang kulit putih yang bisa masuk, meski berbasis pengusaha atau pejabat. Barulah penduduk asli yang berstatus priyai bisa masuk,” kata JJ Rizal, seperti ditulis VOI.

Melihat Benteng Peninggalan Kolonial Belanda yang Tak Lekang oleh Zaman

Wartawan senior, Alwi Shahab, menceritakan keseruan malam-malam di Societeit Harmoni dalam artikel berjudul Dansa-Dansi di Gedung Harmoni Era Perusahaan.

"Di Harmony lama, kelas atas sering menari di lantai marmer yang diterangi lampu kristal berkilauan dan menikmati makan malam sambil minum anggur di bawah sinar bulan di teras yang ditanami bunga," tulisnya.

Perwira Hindia Belanda, WA Rees, dalam tulisannya tentang pesta perayaan hari ulang tahun Ratu Belanda pada 1940-an, menyaksikan kemegahan perayaan yang dilaksanakan pada hari Minggu, di Societeit Harmoni.

"Para tamu membawa perempuan pendamping ke ruang dansa yang kedua. Ratusan perempuan cantik sengaja didudukkan di tiga baris kursi yang diletakkan memanjang di depan dinding-dinding berhias. Sungguh pemandangan yang mempesona! Semua tampak bersinar, termasuk para hadirin yang mengikuti pesta.”

Memang fungsi lain gedung itu adalah untuk mengakrabkan pejabat Belanda-Inggris. Banyak pesta makan dan pesta dansa diselenggarakan di sini. Suasana teramai adalah saat makan tengah malam sambil minum anggur di bawah sinar bulan di teras yang ditanami bunga-bunga. Konser musik pernah beberapa kali digelar, begitu pun kegiatan pasar malam.

"Pesta paling meriah berlangsung 18 Januari 1940 untuk menyambut ulang tahun ke-125 perkumpulan tersebut. Pesta peringatan 250 tahun kota Batavia pada 29 Mei 1869 pernah juga berlangsung di sini," ucap Djulianto.

Gedung Societeit Harmonie juga dikenal sebagai ajang adu gengsi pakaian mahal dan mewahnya. Pamer bahkan menyebar ke kebiasaan menyapa anggota.

Seorang penulis Amerika, William A Hanna, dalam buku Hikayat di Jakarta, menceritakan, alih-alih menyebut nama, para anggota saling menyapa dengan menyebutkan besaran gaji dalam satu tahun.

"Meneer 50 ribu gulden dengan rendah hati menyerahkan kepada Meneer 100 ribu gulden," kata William A. Hanna

Hanya tinggal kenangan

Setelah Indonesia merdeka, karisma gedung ini kian meluntur. Societeit Harmonie terlupakan. Tempat yang dulunya merupakan tempat hiburan para elite Eropa tidak lagi bergema seperti dulu.

Pesta dansa yang digelar tak lagi mampu menandingi kemeriahan masa lalunya. Tapi, menurut Alwi, masih ada beberapa tahun Societeit Harmoni mengisi acara-acara hiburan dan dansa-dansi meski tidak semeriah masa penjajahan.

"Menjelang ajalnya, pamor Harmoni makin meredup. Seperti 1970-an, tempat hiburan yang pernah hampir dua abad menjadi saksi sejarah Jakarta, jendela-jendelanya tertutup rapat dan tidak dikunjungi orang lagi," ucapnya.

Bahkan, ketika ditawarkan kepada pihak swasta, tidak ada yang menginginkan untuk investasi. Akhirnya, pada tahun 1970-an, Societeit Harmonie ditutup. Pada tahun 1985, gedung Societeit Harmonie diruntuhkan.

Ayunan godam dan martil perlahan tapi pasti menghajarnya hingga luluh lantaklah saksi bisu sejarah tentang kehadiran para sosialita Eropa di Batavia. Hal ini demi perluasan Jalan Majapahit dan sebagian untuk halaman Kantor Sekretariat Negara.

Societeit Harmonie adalah salah satu bangunan yang dihancurkan sebagai pengorbanan revolusi, bersama dengan bangunan lain seperti Hotel Des Indes, Bioskop Capitol, Rumah Cina Kuno, dan beberapa pasar tua di Jakarta.

Sepeda yang Kuasai Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda

Kenangan Societeit Harmonie terus memudar. Kalau ada kasus yang bisa membangkitkannya, paling-paling berupa cerita dan foto-foto lama berseliweran. Ada penyesalan tersirat dalam ekspresi wajah kawasan Harmoni saat ini.

Mungkin kita lupa apa yang dikatakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles: Jangan pernah menghancurkan apa yang tidak dapat Anda bangun kembali.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini