Legenda Pesut Mahakam, Lumba-Lumba Endemik yang Dianggap Jelmaan Manusia

Legenda Pesut Mahakam, Lumba-Lumba Endemik yang Dianggap Jelmaan Manusia
info gambar utama

Seekor pesut (Orcaella brevirostris) ditemukan mati di perairan Sungai Mahakam di Kutai Kartanegara. Menerima laporan itu, Jumat (27/8/2021), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) segera memeriksa bangkai pesut tersebut.

Tim yang terdiri dari satu dokter hewan dan tiga staf mendapati sejumlah temuan. Pertama, seperti dijelaskan CEO sekaligus Founder Yayasan RASI, Danielle Kreb, pesut ini berusia kurang dari satu bulan. Kira-kira dua pekan umurnya. Usia pesut diketahui dari tampilan fisik yang masih sangat kecil, belum memiliki gigi, dan masih ada jaringan lemak di tubuh.

Dokter hewan dari BKSDA Kaltim, drh Devia, menambahkan, tim telah mengadakan pemeriksaan nekropsi (autopsi hewan). Hasil pemeriksaan adalah didapati luka lebam di bagian ekor belakang pesut. Ada pula luka seperti bekas gigitan di wajah sebelah kiri hewan. Sementara dari pemeriksaan bagian lambung, tidak ditemukan jaring nelayan yang kerap menjadi penyebab kematian pesut selama ini.

"Kami masih menganalisis penyebab kematiannya," terangnya dalam Kaltimkece.

Pesut mahakam adalah mamalia air yang hidup di sungai air tawar daerah tropis dan hidup dengan cara berkelompok (6-9 ekor). Menukil Indonesia.go.id, pesut di Indonesia berkerabat dekat dengan pesut yang terdapat di Asia Tenggara dan Asia Selatan, juga Australia.

Menurut WWF, pesut mahakam disebut juga dengan lumba-lumba Irrawaddy yang biasanya ditemukan di daerah pantai di Asia Selatan dan Tenggara, serta populasinya berada di tiga sungai, yakni Sungai Ayeyarwady (Myanmar), Sungai Mahakam (Kalimantan, Indonesia), dan Sungai Mekong.

Ternyata, 3 Ikan Purba ini Masih Hidup di Perairan Indonesia

Lumba-lumba jenis ini memiliki dahi menonjol, paruh pendek, dan 12-19 gigi di setiap sisi kedua rahangnya. Warna kulit pesut biasanya keabu-abuan hingga abu-abu terang. Pesut dewasa berukuran panjang 1,9 meter sampai 2,75 meter, sedangkan saat masih bayi lebih kurang 76 sentimeter.

Menurut Animal Diversity, pesut makaham lebih menyukai daerah pantai, terutama yang berlumpur, air payau di muara sungai dan delta, dan tampaknya tidak menjelajah jauh di lepas pantai. Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa pesut mahakam terlihat muncul di Sungai Mahakam.

Dianggap jelmaan manusia

Bagi masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim), pesut mahakam bukan sekadar hewan biasa, tapi jelmaan manusia. Konon, menurut cerita rakyat, satwa ini merupakan jelmaan sepasang kakak beradik anak dari pasangan petani.

Dikisahkan, kedua bersaudara ini ditelantarkan ayahnya. Suatu ketika mereka pernah tidak diberi makan. Karena rasa lapar yang amat sangat, mereka pun masuk ke dalam dapur untuk mencari makan. Kedua anak tersebut kemudian memakan bubur panas yang sedang mendidih dalam priuk. Karena kepanasan keduanya berlari menuju sungai merendamkan tubuh dan menyemburkan udara dari kepala.

Hingga akhirnya datang orang tua kedua anak tersebut dan mendapati dua pesut yang sedang menyemburkan air dari atas kepalanya. Sang ayah hanya bisa menangis, melihat anak-anaknya berubah menjadi ikan. Anak-anak yang berubah menjadi ikan tersebut, melihat sedih ke arah ayahnya.

Meski Surga Bagi Paus, Ada Bahaya Mengintai di Laut Sawu. Apa Itu?

Seolah-olah mengucapkan selamat tinggal, dua ekor ikan jelmaan yang berwarna hitam tersebut kemudian berenang ke tengah Sungai Mahakam dan tidak terlihat lagi. Dua anak-anak kecil tersebut pun hingga kini dipercaya menjadi legenda yang menghuni sungai Mahakam.

Masyarakat Kutai menyebut ‘jelmaan’ tersebut dengan pesut atau pasut, sedangkan masyarakat di pedalaman Mahakam menyebutnya dengan bawoi.

Menurut Muhammad Sarip, penulis buku Sejarah Sungai Mahakam, cerita legenda pesut mahakam berkembang menjadi dua versi. Versi pertama, kata Sarip, cerita berlatar sebelum agama samawi masuk ke wilayah Kutai. Kemudian versi kedua adalah setelah Islam masuk, ceritanya dimodifikasi seolah dua anak tersebut terkena kutukan. Karena mereka mengambil dan makan tergesa-gesa tanpa berdoa sebelum makan.

“Cerita itu kemudian jadi trik untuk nasihati anak-anak di era itu,” kata dia, mengutip Kompas.

Pesut Mahakam yang jarang terlihat

Banyak orang Indonesia yang bahkan belum pernah mendengar, apalagi melihat pesut mahakam. Dalam Indonesia.go.id, dilaporkan pada 2019 jumlah pesut mahakam tercatat hanya tinggal 80 ekor, sebagian besar berada di Kaltim dan sebagian kecil di Kalbar.

Sebuah angka yang sangat kecil dan mengkhawatirkan, mengingat konon dulunya mamalia air ini mudah ditemukan di muara-muara Sungai Mahakam. Bahkan pesut mahakam telah ditetapkan sebagai fauna identitas Provinsi Kaltim.

Dahulu rata-rata rumah masyarakat Samarinda di Kaltim memang dibangun di sepanjang tepian Sungai Mahakam. Selain rumah, tempat mandi, cuci, dan kakus, pun di atas sungai. Biasanya dibangun di belakang rumah berbentuk rakit batang.

Saat itu--sekitar tahun 1970-an--populasi pesut mahakam di sepanjang perairan sungai mahakam masih banyak. Dinas Perikanan Kaltim melaporkan populasi pesut pada 1976 diperkirakan berkisar 1.500 sampai 2.000 ekor.

“Di perairan wilayah Samarinda biasanya jadi tontonan gratis. Pesut sering kali naik di permukaan sungai menyemburkan air, salto, melambaikan ekor hingga berkejaran dan lainnya,” ungkap Sarip.

Hari Laut Sedunia, Ini Deretan Hewan Laut Unik yang Ada di Indonesia

Hiburan alami tersebut, kata Sarip, sangat digemari warga Samarinda terlebih anak-anak. Atraksi pesut jadi tontonan gratis. Terlebih pesut mahakam bukan hewan buas. Hewan ini tidak mengganggu orang berenang ataupun menyeruduk perahu nelayan yang melintas di Sungai Mahakam.

Karena itu masyarakat Samarinda, Tenggarong, dan kecamatan lain di pesisir Sungai Mahakam, mengganggap pesut sebagai hewan keramat dan tak boleh ditangkap, diburu, dibunuh, maupun dimakan.

Legenda dan pantangan tentang pesut Mahakam sampai kini masih dipercaya masyarakat lokal yang menggantungkan hidup menjadi nelayan tradisional di sungai-sungai besar di Kaltim. Namun hal ini tidak lagi mampu menyelamatkan satwa langka itu dari ancaman kepunahan.

Legenda yang tak bisa selamatkan pesut Mahakam

Pada 1975, Menteri Pertanian menetapkan pesut mahakam sebagai satwa dilindungi berdasarkan keputusan nomor 45/Kpts/Um/1/1975. Pasalnya populasinya mulai berkurang ketika masuknya industri ke Kaltim.

Transportasi Sungai Mahakam mulai ramai dengan kapal-kapal bermesin saat masuknya perusahaan-perusahaan kayu. Kian sibuknya lalu-lintas sungai dengan hilir-mudiknya baik kapal-kapal besar maupun perahu kecil bermotor, jadi ancaman serius lainnya.

Makin padatnya lalu lintas dengan menggunakan transportasi mesin besar, menyebabkan terjadinya polusi suara yang membuat pesut rawan tertabrak kapal. Pasalnya sistem navigasi pesut yang menggunakan sonar akan terganggu, dan menjadi kebingungan.

Selain itu, satwa ini juga harus berlomba dengan manusia dalam mendapatkan makanan. Padahal, pesut mahakam adalah jenis mamalia sungai yang rakus.

Pesut dewasa dalam satu bulan diperkirakan bisa melahap dua ton ikan dan udang. Asumsinya, apabila populasinya 50 ekor maka setidaknya dalam sebulan konsumsinya adalah 100 ton ikan dan udang.

Deretan Hewan Laut Unik yang Ada di Perairan Indonesia

Menurut penelitian Yayasan Konservasi RASI, ancaman terbesar populasi pesut Mahakam saat ini adalah alih fungsi hutan atau rawa yang mengakibatkan sedimentasi atau endapan di dasar sungai. Ancaman lainnya adalah polusi kimia dan makin banyaknya sampah plastik di sungai.

Peneliti mamalia laut di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Sekar Mira, mengaku sempat menemukan popok yang memblokir saluran pencernaan mamalia laut ini. Akibatnya pesut mati terdampar di pinggir sungai.

"Belum limbah yang bisa secara langsung memengaruhi keselamatan pesut. Ada pesut yang mati terdampar ketika dinekropsi (diotopsi), ternyata ada popok anak yang memblok saluran cernanya. Parahnya popok makin terisi air makin besar dan menyumbat," tutur Sekar, seperti ditulis CNN Indonesia.

Siklus hidup pesut juga menjadi ancaman terhadap jumlah populasinya, hal ini karena mamalia laut umumnya hanya dapat melahirkan satu anak sekali bereproduksi. Anak pesut juga memiliki masa menyusui dan pemeliharaan yang cukup lama sebelum bisa hidup mandiri dan dapat berkembang biak.

Organ reproduksi pesut Mahakam sudah dinyatakan matang pada usia sekitar 3 tahun. Namun, pesut betina hanya bisa hamil dan melahirkan satu bayi pesut setiap 3 tahun. Sang pesut betina akan hamil selama 9 sampai 14 bulan dan melahirkan hanya satu pesut saja.

"Paling tidak, pesut butuh masa 4 sampai 6 tahun dalam situasi yang stabil untuk bertumbuh dan siap bereproduksi lagi. Untuk berhasil bereproduksi tentu butuh nutrisi yang baik untuk dapat matang seksual," tambah Sekar.

Meningkatkan kepedulian

Yayasan RASI menjelaskan kesadaran masyarakat pesisir Sungai Mahakam terhadap kelestarian pesut sudah mulai terbangun. Menurutnya, masyarakat sudah mulai melepas kembali pesut yang terjerat dalam perangkap mereka. Sejak 2002, RASI menerima sembilan laporan terkait pembebasan pesut dari jerat rengge.

“Tujuh ekor (pesut) selamat dari rawa. Untuk operasi ini masyarakat mau membantu sebab mereka ada sejarah dengan pesut Mahakam.”

Meningkatnya rasa kepedulian ini juga ditunjukan dari hasil survei masyarakat Mahakam yang dilakukan pihak RASI. Dari 258 responden 80 persen merasa pesut membawa keberuntungan.

Hiu Paus, Salah Satu Satwa yang Dikeramatkan oleh Masyarakat Indonesia

Kondisi ini mengindikasikan adanya hubungan erat antara pesut mahakam dengan kultur budaya setempat. Salah satunya terkait dengan legenda yang mengaitkan pesut dengan asal muasal manusia.

Selain itu, lanjut dia, 99 responden setuju untuk melindungi pesut. Pasalnya, mamalia ini membantu nelayan sungai untuk mengetahui lokasi penangkapan ikan. Pesut juga membantu masyarakat menentukan musim banjir dan kemarau panjang.

"97 persen responden juga setuju pembentukan kawasan perlindungan pesut. Mereka memperhatikan undang-undang yang ada dan di sisi lain mengkhawatirkan kepunahan pesut.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini