Mengenal 5 Kucing Hutan Nan Eksotis di Sumatra yang Terancam Punah

Mengenal 5 Kucing Hutan Nan Eksotis di Sumatra yang Terancam Punah
info gambar utama

Pulau Sumatra diketahui menjadi habitat bagi lima jenis kucing hutan. Keberadaan kucing-kucing liar tersebut diketahui dari rekaman kamera yang dipasang para peneliti WWF Indonesia. Lokasi ditemukannya kelima kucing tersebut ialah di daerah yang menghubungkan dua kawasan konservasi yaitu Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Suaka Margasatwa Rimbang Baling.

Adanya lima jenis kucing sumatra tersebut tentu membuktikan keunikan dan kekayaan jenis satwa di hutan Bukit Tigapuluh dan area sekitarnya. Tentu dibutuhkan upaya serius untuk melindungi kawasan tersebut dari deforestasi karena pembukaan hutan alam dalam skala besar oleh perusahaan, perkebunan, serta perambahan.

Sunarto, pakar ekologi dari Virginia Tech dan WWF Indonesia menjelaskan bahwa kucing punya peranan penting dari sisi ekologis sebagai predator. Kucing memegang kendali bagi populasi dan perilaku satwa lain, terutama dalam mengendalikan jumlah populasi satwa mangsa mereka. Pada akhirnya ini akan berpengaruh pada vegetasi dan ekosistem secara keseluruhan.

Mengenal Karakteristik Paus Kepala Melon, Mamalia Laut Langka yang Wajib Dilindungi

Harimau sumatra

Harimau Sumatra | @Daniel_Ferryanto Shutterstock
info gambar

Harimau merupakan kucing terbesar yang ada di muka bumi, termasuk di antaranya adalah harimau sumatra. Spesies dengan nama latin Panthera tigris sondaica ini sebenarnya memiliki tubuh yang relatif lebih kecil dibanding harimau lain. Namun, karena ukurannya kecil, harimau ini bisa lebih gesit dalam menjelajahi rimba dan mampu berenang dengan cepat.

Ciri khas harimau sumatra dapat dilihat dari warna kulitnya yang cenderung lebih gelap, mulai dari kuning kemerahan hingga oranye tua dan memiliki garis-garis loreng rapat. Kini, status konservasi harimau sumatra diketahui sudah masuk kritis.

Menjaga Kelestarian Lutung Budeng, Satwa Endemik Indonesia yang Terancam Punah

Macan dahan

Macan dahan @studio382.net Shutterstock
info gambar

Kucing hutan lain yang hidup di Sumatra ialah macan dahan. Iding Achmad Haidir selaku aktivis Forum Konservasi Macan Dahan Indonesia, menjelaskan bahwa macan dahan di Indonesia terdapat dua jenis yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Jadi, nama latinnya adalah Neofelis diardi diardi untuk macan dahan Sumatra dan Neofelis diardi borneensis untuk macan dahan Kalimantan.

Bila dilihat sekilas, penampakan macan dahan terlihat mirip dengan macan tutul. Namun, macan dahan masuk ke dalam genus neofelis, sedangkan macan tutul merupakan genus panthera bersama singa, harimau, dan jaguar.

Macan dahan memiliki motif yang indah dan teratur mirip awan. Keunikan satwa ini adalah ukuran ekornya yang bisa menyamai panjang tubuhnya dan berfungsi sebagai alat keseimbangan saat berlari. Hewan ini tercatat ditemukan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Saat ini, populasi macan dahan di Sumatra pun sama dengan persebaran harimau Sumatra. Malah, macan dahan bisa lebih terancam karena mereka membutuhkan hutan yang lebat dengan pepohonan besar untuk hidup.

Untuk status konservasinya, macan dahan kini masuk kategori vulnerable atau rentan. Karena memiliki motif yang cantik, macan dahan sering diburu meski hewan ini sebenarnya sudah masuk appendix 1 atau tidak boleh diperdagangkan sesuai kesepakatan internasional.

Mentilin, Primata Imut Bermata Bulat yang Jadi Maskot Bangka Belitung

Kucing batu

Dari penampakannya, kucing batu ini agaknya mirip dengan kucing rumahan dengan motif serupa macan. Ya, memang kucing batu (Pardofelis marmorata) merupakan kucing liar kecil yang terkenal gesit saat berada di atas pohon. Ukuran tubuhnya memang mini, sekitar 45-62 cm dengan berat tubuh sekitar 2-5 kg.

Kucing batu juga dikenal karena pola bulunya yang indah. Bulunya didominasi warna cokelat, abu-abu, kuning, dan hitam dengan motif totol-totol. Ditambah dengan ekornya panjang dan berbulu sangat tebal. Karena dianggap menjadi daya tarik, kucing batu banyak diburu dan kulitnya diambil untuk hiasan.

Kucing batu diketahui merupakan hewan yang lebih banyak berkegiatan di atas pohon dan nokturnal, di mana ia akan aktif pada malam hari untuk mencari makanan berupa berbagai jenis burung, reptil, tupai, dan tikus. Sejak tahun 2002, kucing batu sudah menyandang status konservasi rentan.

Kabar Baik, Populasi Badak Jawa Meningkat di Taman Nasional Ujung Kulon

Kucing emas

Kucing emas | @Signature Message Shutterstock
info gambar

Saat ini kucing emas hidup di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Penampilan kucing ini cukup mudah dikenali mengingat hampir seluruh tubuhnya berwarna cokelat keemasan. Namun, ada juga yang berwarna abu-abu atau cokelat gelap. Rata-rata berat kucing emas dewasa sekitar 8-12 kg, dengan panjang tubuh mencapai 1,2 meter, lebih panjang dari ukuran kucing pada umumnya.

Umumnya kucing emas hidup di ketinggian 1.110-3.378 mdpl dan menempati kawasan padang rumput atau kebun. Untuk makanan, kucing dengan nama latin Catopuma temminckii ini biasanya memburu hewan-hewan kecil seperti tupai, reptil, burung, kelinci, dan ular kecil.

Keberadaan kucing emas juga rentan diburu sebab beberapa orang menganggap dagingnya lezat dan tulangnya digunakan untuk pengobatan. Kulit kucing ini juga diperdagangkan secara ilegal dalam pasar gelap. Saat ini, kucing emas terancam punah akibat alih fungsi lahan, hilangnya habitat, dan perburuan.

Kucing congkok

Kucing congkok juga dikenal dengan nama kuwuk ini juga ditemukan keberadaannya di Sumatra. Ukuran kucing kuwuk mirip dengan kucing domestik, tetapi tubuhnya lebih ramping dan kakinya lebih panjang. Penampilan kucing congkok mirip dengan anak macan karena motifnya yang serupa. Namun, kucing congkok dan macan berasal dari dua genus berbeda.

Kucing congkok pun merupakan hewan dilindungi dan populasinya menjelang kepunahan. Mereka biasanya hidup di hutan tropis, semak-semak, hutan pinus, tempat bersalju tipis, semi gurun, dan wilayah pertanian. Kucing ini bisa bertahan hidup hingga ketinggian 3.000 mdpl.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini