Awal Mula Hidangan Pecel, Sudah Ada Sejak Abad ke-9 dalam Serat Centhini

Awal Mula Hidangan Pecel, Sudah Ada Sejak Abad ke-9 dalam Serat Centhini
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Siapa yang tak mengenal sajian khas pulau Jawa yang satu ini? Ya, pecel merupakan sajian yang sangat terkenal dan memiliki rasa yang nikmat. Dalam mengolah pecel, cukup terbilang sederhana.

Berbagai jenis daun atau sayuran hanya direbus dan dimakan dengan saus kacang yang berbumbu kencur, asem, garam dan cabai. Saus kacang inilah yang menjadi kunci dalam menentukan nikmat dari rasa pecel.

Sayuran dalam pecel dapat berupa, kacang panjang, tauge, kangkung, daun singkong, daun pepaya hingga kol. Pecel memiliki rasa yang gurih, sedikit pedas dan juga sensasi segar dari ragam sayuran yang ada.

Selain rasanya yang nikmat, pecel memiliki keunggulan yakni kaya akan gizi, Dalam satu porsi sajian pecel, Kawan akan mendapatkan serat, antioksidan dan berbagai vitamin yang menyehatkan. Di balik kenikmatan dan terkenalnya sajian pecel ini, ternyata memiliki sejarah tersendiri, loh, Kawan.

Sup Jagung Khas Gorontalo Persatukan Dua Kerajaan

Awal mula pecel

Nasi pecel | Foto: Kompas
info gambar

Dalam buku yang berjudul Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Ki Gede Pamanahan beristirahat di Dusun Taji saat melakukan perjalanan ke Tanah Mataram. Di dusun tersebut, Ki Ageng Karang Lo menyiapkan jamuan untuk Ki Gede Pamanahan, yakni nasi pecel, daging ayam, dan sayur menir (bayam).

Setelah selesai menyantap, Ki Gede Pamahanan berkata, “Terima kasih Ki Sanak, hidangannya enak sekali. Saya sungguh berhutang budi pada Ki Sanak. Semoga kelak saya dapat membalasnya”.

Ketika ditanya hidangan yang disajikan itu apa, Ki Ageng Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel”. Artinya adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya. Sejak saat itu, sajian tersebut dikenal dengan nama pecel.

Mirip Nasi Campur, dari Mana Nasi Buk Berasal?

Pecel sudah ada sejak abad ke-9

Nasi pecel | Foto: Pegipegi
info gambar

Pecel diprediksi sudah ada sejak abad ke-9. Di beberapa daerah, khususnya Madiun, pecel mempunya ciri khas yakni adanya kembang turi. Pecel yang terkenal sederhana dan murah meriah ini, ternyata sudah ada sejak abad ke-9.

Mengutip dari detikfood, seorang praktisi dan pemerhati kuliner, Wira Hardiyansyah menjabarkan beberapa perkembangan pecel berdasarkan literasi temuannya. Wira menyebutkan bahwa pecel disebutkan dalam Kakawin Ramayana yang ditulis pada abad ke-9 era Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Pada saat itu berada dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M).

Tak hanya itu, Wira juga menyebutkan bahwa pecel juga tertulis dalam Prasasti Siman dari Kediri yang ditulis tahun 943 M. Dalam prasasti itu disebutkan makanan yang terbuat dari sayuran daun yang direbus dan diolah secara khusus dengan bumbu rempah.

Mengenal Anggau, Hewan Endemik yang jadi Masakan Suku Mentawai

Disebutkan dalam Serat Centhini

Nasi pecel | Foto: Kumparan
info gambar

Pecel juga tercatat dalam kitab Jawa populer, yakni serat centhini yang menjadi koleksi milik Badan Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta. Serat centhini yang ditulis pada tahun 1800.

Diawali dengan cerita kedatangan Syekh Wali Lanang dari Tanah Arab ke Tanah Jawa yang kemudian menurunkan Sunan Giri. Singkat cerita, Sunan Giri Prapen memiliki tiga putra yakni, Jayengresmi, Jayengsari, dan Niken Rancangkapti.

Perjalanan Raden Jayengresmi disertai kedua santrinya Gathak dan Gathuk mengembara melewati Surabaya, Kediri, Bojonegoro, Rembang, Pekalongan, Purwodadi, Semarang, Cirebon, Karawang hingga Bogor.

Sesampainya di Dukuh Argapura, Raden Jayengsari dan adiknya memikirkan dan membayangkan makanan yang ingin mereka makan, yaitu sekul pulen, panggang pudhak, jangan menir, pecel dhere, dhendheng menjangan gepuk, lalap seledri, kue koci, carabikang, mendut, dan timus.

Sedangkan, abdinya yang bernama Buras membayangkan sekul gaga blenyik putih, pecel iso myang semanggi, dan dhendheng pendul maesa. Saat itu, pecel menjadi salah satu hidangan yang disajikan untuk Jayengsari.

Tradisi Minum Teh, Cara Menjalani Hari Bagi Masyarakat Solo

Di Serat Centhini juga disebutkan hidangan yang berbahan buah atau sayur yang kemudian berkembang menjadi hidangan pecel saat ini. Selain itu, pecel juga disajikan sebagai menu jamuan bagi para rombongan kerajaan.

Dapat disimpulkan, bahwa pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan, eksis dan diminati hingga era modern saat ini. Saat ini, Kawan dapat mencicipi ragam dan jenis pecel dari beberapa daerah. Mulai dari pecel Madiun, pecel pincuk, pecel Blitar hingga pecel Tumpang.

Selain disajikan sayuran beserta bumbu kacang, pastikan Kawan menyantapnya dengan nasi hangat dan menu pendamping lainnya. Biasanya menyantap nasi pecel, lebih nikmat bersama tempe mendoan, tempe bacem, telur dan tak lupa pula peyek kacang atau kerupuk gendar.*

Referensi: Kompas | detikfood | Kumparan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini