Sup Jagung Khas Gorontalo Persatukan Dua Kerajaan

Sup Jagung Khas Gorontalo Persatukan Dua Kerajaan
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Hidangan berkuah atau sup memang sudah menjadi favorit bagi sebagian masyarakat. Sajian yang mampu menghangatkan dan cocok di berbagai situasi ini memang memiliki cita rasa yang lezat nan gurih.

Mencicipi sup iga, sup konro atau soto mungkin Kawan sudah tak asing lagi atau telah menjadi sajian untuk menemani Kawan makan siang. Namun, bagaimana dengan sup asal Gorontalo yang satu ini, Binte Biluhuta.

Binte Biluhuta merupakan salah satu kuliner khas Gorontalo yang cukup digemari dan diminati oleh masyarakat di sana. Bahkan, sup ini telah menjadi warisan budaya tak benda nasional sejak tahun 2016 lalu, dan kelezatannya juga pernah diabadikan lewat lagu populer pada tahun 1980-an.

Pedasnya Sambal Wader, Hidangan Khas Kabupaten Mojokerto Sejak Zaman Majapahit

Arti Binte Biluhuta

Binte Biluhuta | Foto: KabarTravel.id
info gambar

Secara etimologi kata ‘binte’ atau ‘milu’ memiliki arti ‘jagung’ serta ‘biluhuta’ bermakna ‘disiram’. Sehingga, binte biluhuta dapat dimaknai sebagai kuliner berbahan dasar jagung yang dimasak bercampur kuah atau yang disebut juga sebagai sup jagung. Sajian ini juga kerap disebut dengan “milu siram”.

Namu, sajian ini bukanlah sup jagung pada umumnya. Dalam semangkuk binte biluhuta, Kawan akan menikmati campuran jagung, kemangi, tomat, ikan cakalang atau udang yang menggugah selera.

sajian ini akan memanjakan lidah penikmatnya dengan tiga macam rasa, yakni pedas, asam, dan manis. Sup ini memiliki tiga cita rasa nikmat tersebut dengan berbagai bumbu di dalamnya, seperti bawang merah, bawang putih,merica, cabai, garam, kelapa parut, daun kemangi, tomat, dan perasaan jeruk nipis.

Healling Forest untuk Hilangkan Stres Sambil Wisata Alam

Jagung pulut sebagai bahan utama

Jagung pulut | Foto: sehatq
info gambar

Kemudian, tak lupa bahan utamanya adalah jagung, ikan cakalang atau udang. Jagung yang digunakan pun juga tak sembarang jagung. Sajian ini menggunakan jagung pulut, salah satu varietas asli Gorontalo. Jagung ini memiliki tekstur pipilan putih serta rasanya yang gurih kenyal membuat hidangan binte biluhuta semakin nikmat.

Jagung pulut ini biasanya akan direbus terlebih dahulu sebelum dipertemukan di mangkuk dengan kuah siramnya. Binte biluhuta ini juga menjadi petunjuk kalau provinsi Gorontalo yang memiliki luas 12.435 kilometer persegi itu adalah salah satu lumbung jagung nasional. Bahkan, Kementerian Pertanian mencatat provinsi Gorontalo menyumbang hampir 1 juta ton jagung dari hasil panen mereka.

Sajian yang dipenuhi dengan pipilan-pipilan jagung di dalam mangkuk binte biluhuta ini, terdapat gizi yang berlimpah. Dalam satu mangkuk binte biluhuta mengandung protein, serat, karbohidrat, mineral, vitamin B, vitamin C, dan antioksidan.

Mengulik Sejarah Jepara Sebagai Pusat Seni Ukir Kelas Dunia

Sup yang mempersatukan dua kerajaan

Binte Biluhuta | Foto: masakapahariini
info gambar

Menurut penuturan Mansoer Pateda, penulis buku Jejak Kuliner Indonesia yang terbit pada tahun 2010, binte biluhuta sudah ada sejak abad ke-15. Saat itu beberapa kerajaan di Sulawesi kerap bertikai, seperti Kerajaan Gorontalo dan Limboto.

Salah satu cara untuk mendamaikannya adalah dengan diplomasi kuliner. Secara filosofi, pipilan jagung yang tercerai-berai dari bonggolnya akibat bertikai lalu dipersatukan dalam hidangan yang penuh kenikmatan.

Sejatinya, di dalam semangkuk binte biluhuta ini terdapat cita rasa asam, pedas, dan manis. Semua bersumber dari pertempuran berbagai bumbu dalam proses pembuatan kuahnya.

Hidangan ini juga pernah disuarakan dengan nyanyian oleh Eddy Silitonga asal Pematang Siantar pada era 1980-an. Binde biluhuta, diyaluo tou weo, binde biluhuta, bome to hulondalo, kalimat ini merupakan penggalan lirik dari lagu Binde Biluhuta.

Kalimat tersebut mengartikan jagung yang dikuah, tidak ada di tempat lain, jagung yang dikuah, hanya ada di Gorontalo. Lagu ini dinyanyikan dengan suara khas Eddy yang tinggi melengking dengan panjang 32 birama dan tempo 4/4 ini.

Dua Varian Indomie jadi Mie Terenak Versi New York Magazine

Pemilik nama lengkap Charles Edison Silitonga ini, seperti ingin mengajak para pendengarnya untuk sama-sama mencicipi kuliner sup binte biluhuta. Eddy yang lahir pada 17 Januari 1949 ini sampai dua kali melantunkan kalimat timi idu bele dila tamotolawa yang memiliki arti tidak ada yang mau ketinggalan.

Eddy seolah-olah ingin menceritakan kepada para pendengarnya bagaimana sensasi yang dirasakan saat menyantap kuliner sup asal Gorontalo itu. Entah, karena sang pencipta lagu, Rusdin Palada memang penikmat nomor satu binte biluhuta atau memang kesegaran yang terdapat dari makanan berbahan dasar jagung ini.

Namun, ada satu hal yang mau disampaikan Rusdin. Ia ingin mengabarkan kepada siapa saja yang mendengarkan lagunya itu, bahwa jangan pernah melewatkan kesempatan untuk mencicipi binte biluhuta.

Jika Kawan berkunjung ke Gorontalo, Kawan tak akan sulit untuk menemukan sajian ini. Dengan harga Rp10.000-Rp.15.000 saja, Kawan sudah dapat menikmati lezatnya binte biluhuta.*

Referensi : Indonesia.go.id | Indonesiakaya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini