Resolusi Jihad, Nasionalisme Kaum Santri Menuju Indonesia Merdeka

Resolusi Jihad, Nasionalisme Kaum Santri Menuju Indonesia Merdeka
info gambar utama

Pada 10 November 1945 terjadi pertempuran sengit di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Banyak pejuang tersulut semangatnya oleh seruan Bung Tomo melalui corong radio. Bung Tomo sangat sadar bagaimana menggelorakan semangat juang, termasuk umat Islam. Tidak perlu heran jika dia tak melupakan seruan takbir.

“Dan kita yakin saudara-suadara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab, Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar...! Allahu Akbar...! Allahu Akbar...! Merdeka!”

Mengutip Historia, Bung Tomo bukanlah seorang santri. Tetapi menurut Martin van Bruinessen, Bung Tomo sering meminta nasihat kepada Kiai Hasyim Asy’ari.

Bagi warga nahdiyin, sebenarnya ada seruan yang lebih hebat dan membangkitkan semangat juang mereka, yakni Resolusi Jihad. PBNU mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura untuk hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya.

Beberapa pentolan yang dikumpulkan K.H. Hasyim Asyari di dua hari itu adalah Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri, dan para kiai lainnya. Pertemuan itu turut dihadiri panglima Hizbullah, Zainul Arifin.

Saat itu Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama Resolusi Jihad Fii Sabilillah, yang isinya sebagai berikut:

"Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardu ain (harus dikerjakan tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak) bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi yang berada di luar jarak lingkaran tadi, kewajiban itu jadi fardu kifayah (yang cukup dikerjakan sebagian orang Islam saja)," bunyi dua kategori jihad dari fatwa tersebut.

Mengenal 3 Sosok Ulama Indonesia dengan Kecerdasannya yang Diakui Dunia

Sementara historia menulis, tergeraknya NU untuk menyatakan Resolusi Jihad berawal dari kondisi sejumlah daerah yang jatuh ke tangan Inggris. Akhir September 1945, atas nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Inggris menduduki Jakarta.

Pada pertengahan Oktober, pasukan Jepang kembali merebut beberapa kota di Jawa dan menyerahkannya kepada Inggris. Beberapa hari sebelum Resolusi Jihad, Bandung dan Semarang diduduki Inggris setelah melalui pertempuran hebat.

Demikian juga Surabaya, kedatangan pasukan Inggris pada 25 Oktober disambut dengan gelisah. Sementara itu pemerintah Republik Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, masih menahan diri untuk melakukan perlawanan dan mengharapkan adanya penyelesaian secara diplomatik.

“Resolusi Jihad merupakan pengakuan terhadap legitimasi pemerintah Republik Indonesia sekaligus kritik tidak langsung terhadap sikap pasifnya,” tulis Van Bruinessen, dalam NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru.

Islam dan semangat bela negara

Lahirnya Resolusi Jihad memang menampilkan sisi diri NU sebagai kekuatan radikal yang tak disangka-sangka. Kiai Hasyim Asy’ari, menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad atau Perang Suci dan menentang kembalinya Belanda adalah kewajiban setiap Muslim.

Muhammad Rijal Fadhli mengatakan, munculnya Resolusi Jihad tidak lepas dari pandangan KH. Hasyim Asy’ari terhadap Islam dan kenegaraan.

"Dalam pemikiran KH. Hasyim Asy’ari mempertahankan eksistensi negara dari segala hal yang mengancamnya wajib dilakukan oleh umat Islam," tulisnya dalam KH. Hasyim Asy’ari dan Resolusi Jihad Dalam Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1945.

"Ini bukan semata-mata atas nama nasionalisme, namun untuk keberlangsungan kehidupan umat Islam yang berdiam di negara tersebut," tambahnya.

Pikiran ini ditegaskan dalam pidatonya yang disampaikan pada Muktamar NU ke-XVI di Purwekorto 26-29 Maret 1946. KH. Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan.

“Dengan kata lain, syariat Islam tidak akan bisa dilaksanakan di negeri yang terjajah.”

Nasionalisme Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari

Van Bruinessen menyatakan sikap NU selama resolusi memang berbeda dengan reputasinya sebagai organisasi moderat dan kompromistis. Apalagi sepanjang dasawarsa akhir pemerintahan Belanda, NU selalu memberikan kesetiaannya kepada pemerintah Hindia Belanda.

"Sikap ini sejalan dengan pandangan Sunni tradisional bahwa sebuah pemerintahan yang memperbolehkan umat Islam menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya lebih baik daripada fitnah (chaos) akibat pemberontakan,” ucap Van Bruinessen.

Namun dijelaskan oleh Van Bruinessen, perubahan drastis sikap NU ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. NU mengakui para pemimpin Republik sebagai pemimpin yang sah.

Karena itu, ketika Belanda ingin kembali berkuasa di Indonesia, NU menganggapnya sebagai tentara kafir yang berusaha menjatuhkan pemerintah Muslim Indonesia yang sah.

"Apabila tanah Muslim berada dalam serbuan orang kafir, sebagaimana disepakati ulama, Perang Suci menjadi kewajiban agama.” tulis Van Bruinessen.

Gelombang perlawanan

Bagai air bah, Resolusi Jihad menyebar dengan cepat keseluruh penjuru Jawa melalui jaringan pesantren, langgar, dan para kiai. Berbondong bondong, para santri memperkuat barisan Laskar Hizbullah, sementara para kiai membentuk Laskar Sabilillah, karena dibakar oleh semangat jihad.

Memang Laskar Hizbullah merupakan milisi dari kalangan santri yang sempat dilatih secara militer oleh Jepang berkat siasat KH Hasyim Asyari. Saat itu ulama pesantren sudah menyiapkan jauh-jauh hari kalau terjadi perang senjata saat Jepang menyerah kepada Sekutu.

Demikianlah, sejak dimaklumatkan tanggal 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya, sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Sekutu yang sudah mendapat izin dari pemerintah pusat di Jakarta.

Dalam tempo singkat, Surabaya guncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid ke masjid dan dari mushola ke mushola tersiar seruan jihad yang dengan sukacita disambut penduduk Surabaya.

Resolusi Jihad memberi dampak signifikan terhadap pembentukan laskar-laskar jihad terutama menjelang perang 10 November 1945. Resolusi Jihad telah membangkitkan kesadaran, bahwa dalam kondisi negara yang belum siap berperang secara militer, maka tanggung jawab perjuangan ada di pundak rakyat.

Ada Radio di Antara Pahlawan Kemerdekaan. Siapa Saja?

“Resolusi Jihad ini mempunyai peran yang besar dalam pertempuran 10 November 1945 yang pecah di Surabaya,” ujar Hairus Salim, dalam karyanya Kelompok Paramiliter NU.

Mengutip dari Tirto yang bersumber dari buku Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001), KH Saifuddin Zuhri menuliskan ketika terjadi perlawanan dari kaum santri dan rakyat Indonesia di Surabaya pada 10 November 1945, rakyat Semarang juga melakukan perlawanan kepada tentara Sekutu yang mendarat di Semarang.

Perlawanan kemudian meluas hingga di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat Indonesia melawan Sekutu. Kabar perjuangan itu lantas sampai di Parakan yang juga menggerakkan Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan untuk turun melawan penjajah di seluruh daerah Kedu.

Pondok pesantren berubah menjadi markas perjuangan Hizbullah dan Sabilillah. Sebagian besar kelompok santri dan rakyat di daerah itu, baik kalangan tua dan muda mempertaruhkan nyawa untuk kepentingan bangsa.

Semangat membela agama dan tanah air yang dipicu oleh Resolusi Jihad kemudian diperkuat lagi dengan pidato Kiai Hasyim Asy’ari, pada pembukaan Muktamar NU ke-16 dan, yang pertama setelah perang, pada 26-29 Maret 1946 di Purwokerto.

“Sesungguhnya pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya dengan segala kekuatan dan kesanggupan yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung rambut pun.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini