Perang Menteng, Ketika Kesultanan Palembang Usir Belanda dari Bumi Sriwijaya

Perang Menteng, Ketika Kesultanan Palembang Usir Belanda dari Bumi Sriwijaya
info gambar utama

Terletak dipertemuan Sungai Musi, membuat Palembang sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam sangat menguntungkan baik secara ekonomi, budaya hingga pertahanan.

Sistem pertahanan Palembang pun diatur sedemikan rupa di mana semua lalu lintas sungai dikuasai. Seorang seniman asal Belanda Johan Nieuhof (1618-1672) menggambarkan bagaimana kekuatan pertahanan Kesultanan Palembang.

Menurutnya Palembang dibentengi oleh batang-batang pohon besar yang dirapatkan, dan banyak meriam besar ditempatkan di sekitarnya. Sehingga mustahil kota ini bisa diambil alih hanya dengan menggunakan pasukan kecil, ditambah lagi dengan adanya parit yang dalam berlumpur.

Saga Bajak Laut yang Kuasai Selat Malaka, dan Upaya Laksamana Ceng Ho Menumpasnya

"Kami kesulitan mencari tempat mendarat, hingga akhirnya laksamana kami melihat ada anak sungai di balik titik terjauh benteng pertahanan tersebut," ucapnya dalam catatannya yang dirangkum buku Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Memang sebagai daerah Maritim Palembang dipusatkan untuk pengamanan jalur lalu lintas perdagangan rempah-rempah yang maju pesat, seperti lada dan cengkih. Hal ini kemudian disusul pula dengan hasil tambang berupa timah di Pulau Bangka dan Belitung yang mutlak harus dipertahankan.

"Dengan adanya sistem pertahanan yang tangguh membuat Kesultanan Palembang sulit untuk dikuasai musuh," tulis Rizky Ariyanto dalam artikel Peranan Sultan Mahmud Badaruddin II dalam Perang Palembang 1819-1821.

Peran Sultan Mahmud Badaruddin II dalam menghadapi musuh

Persaingan bangsa-bangsa Barat dalam perebutan hasil rempah-rempah dan timah kadang memuncak menjadi peperangan. Salah satu alasannya tentunya perebutan monopoli dalam perdagangan rempah.

Sultan-sultan Palembang sudah lama menyadari bahaya yang akan timbul, oleh karena itu usaha untuk mempertahankan wilayah ini sangat diutamakan. Hampir pada setiap tempat di sepanjang Sungai Musi dibuatlah pertahanan berupa benteng-benteng dan ranjau-ranjau.

Diceritakan pula ada beberapa tempat disebelah hilir benteng itu dipasang rantai besi dari tepi ke tepi guna merintangi kapal-kapal musuh. Selanjutnya disediakan rakit-rakit api yang siap dibakar, kemudian dihanyutkan atau didorong ke arah kapal musuh.

Rakyat juga diposisikan dalam kondisi siap tempur sehingga ketahanan dan pertahanan Palembang benar-benar dapat diandalkan terhadap serbuan dan serangan musuh. Pada posisi inilah peran Sultan Mahmud Badaruddin II juga sangat penting apalagi saat pergeseran kekuasaan di Hindia Belanda berdasarkan Konvensi London 1814.

Konvensi London saat itu berisi penyerahan kembali Hindia Belanda dari Inggris kepada Belanda. Sementara itu Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan raja yang naik takhta pada 1803 setelah ayahnya Sultan Mahmud Badaruddin meninggal.

"Mengerti akan tanggung jawabnya sebagai pemimpin daerah Kesultanannya yang luas, maka oleh Sultan Mahmud Badaruddin II diaturlah sistem pertahanan yang berlapis-lapis," catat Rizky.

Mirip Roti Jala India, Ragit Kudapan Khas Palembang yang Legit

Saat itu Palembang memiliki unsur pertahanan darat dan laut. Tetapi karena dikelilingi oleh sungai, angkatan laut Palembang sangatlah tanguh karena bisa mengawasi perairan sungai dan selat.

"Kehebatan inilah yang mencegah penyelundupan timah dan rempah oleh Inggris, mengikuti apa yang dilakukan oleh Belanda sejak tahun 1659," bebernya.

Sultan Mahmud Badaruddin II juga saat itu menghapuskan kebijakan pendahulunya yaitu Sultan Komaruddin Wikramo (1724-1757) yang memberikan hak terhadap VOC untuk membeli dan memonopoli perdagangan timah di pulau Bangka dan Belitung.

Memang pada masa awal menjabat sebagai sultan yang baru, Inggris mencoba mendekati Sultan Mahmud Badaruddin II guna melepaskan Pulau Bangka dan Pulau Belitung dengan imbalan diberikan senjata.

Namun saat itu sultan sadar bahwa untuk menjadi suatu kesultanan yang besar, maka Palembang harus mampu menjaga kedaulatannya sendiri dari intervensi-intervensi bangsa asing.

"Dalam hal ini Sultan Mahmud Badaruddin II berusaha untuk mencegah Belanda dan Inggris mencampuri segala persoalan yang terjadi di dalam lingkungan keraton," jelasnya.

Berjaya di Perang Menteng

Pada 27 Oktober 1817, Belanda mengangkat Jenderal Herman Warner Muntinghe untuk menjadi komisaris. Dialah yang akan menangani Kesultanan Palembang dan Kepulauan Bangka.

Kesultanan Palembang dan Belanda sebenarnya tidak berkawan. Pasalnya Belanda selalu menginginkan kekuasaan di Palembang.

Karena itu ketika Muntinghe pergi dari Palembang. Menjadi momen Sultan Mahmud Badaruddin II untuk menyerang pasukan Muntinghe. Dengan dibantu para bangsawan, Muntinghe terdesak.

Pada Mei 1819, Muntinghe kembali ke Palembang dan mengultimatum agar Sultan Mahmud Badaruddin II menyerah. Tetapi hal ini malah membuat sultan marah.

Perang kemudian pecah, serangan singkat terhadap pasukan Belanda terjadi pada pukul setengah empat pagi, 12 Juni 1819. Penyerangan tersebut merupakan serangan balasan atas insiden yang menewaskan seorang penduduk Palembang.

Serangan mendadak dari pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II dibalas oleh Belanda dengan mendaratkan 209 anggota pasukan tambahan. Satu bulan lamanya perang ini berkecamuk dan pasukan Palembang berhasil mempertahankan kota.

"Sementara itu pasukan Belanda yang ada di keraton telah kocar-kacir diserang tanpa bisa membalas. Tembakan meriam kapal ke arah benteng pun tak mampu menghancurkan tembok istana yang ketebalannya mencapai dua meter dan tingginya delapan meter."

Saat Kerajaan Sriwijaya Dituangkan ke Dalam Fashion

Perang dalam periode pertama ini berakhir dengan mundurnya armada Belanda menuju Sungsang. Kemenangan ini memberikan semangat untuk terus mempertahankan keberhasilan tersebut bagi Palembang.

Mengalami kekalahan bertubi-tubi akhirnya Gubernur Jenderal Van der Capellen bersama Panglima Angkatan Laut Laksamana Muda Wolterbeek dan Panglima Angkatan Darat Mayjen De Kock membuat rencana baru.

Pada Agustus 1819, 20 kapal perang dengan 1.500 pasukan Belanda berangkat dari Batavia menuju Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin II dengan segenap kemampuannya mengambil langkah untuk menyambut pasukan Belanda ketika mendengar armada mereka sudah sampai di Muntok.

Sultan saat itu menempatkan pasukanya di Sungai Musi sebagai pusat pertahanan melawan Belanda. Dirinya juga menempatkan meriam-meriam untuk mengganggu laju pasukan Belanda.

"Di dasar-dasar sungai dipasang pasak agar dapat mengenai lunas kapal Belanda yang lewat. Selain itu, di samping sungai dipasang patok-patok guna menghalangi pendaratan pasukan Belanda," ceritanya.

"Sultan Mahmud Badaruddin II juga membuat kekacauan di Bangka dan dengan demikian, pasukan Belanda menjadi tak berdaya."

Kemenangan kembali berpihak kepada pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II. Wolterbeek dan pasukanya yang berada di Sungai Musi kalah. Peperangan itu berlangsung pada 18 September hingga 30 Oktober 1819. Sebanyak lima ratus korban pasukan Belanda tewas.

Kekalahan bagi Belanda makin bertubi-tubi. Pasukan Belanda akhirnya kembali lagi ke Sungsang. Mereka kemudian kembali ke Pulau Muntok, Bangka. Lalu dua minggu kemudian seluruh pasukan Belanda kembali ke Batavia.

"Dalam upaya mundur tersebut, Wolterbeek masih mencoba menulis surat untuk berunding dengan Sultan Mahmud Badaruddin II namun gagal lagi. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke Batavia dan mengakui kekalahannya."

Terusir dengan terhormat

Pada 1821, Belanda lagi-lagi mengirimkan pasukannya yang dipimpin oleh Panglima Angkatan Darat Mayjen De Kock. Kali ini misinya adalah melakukan pengepungan besar-besaran atas Kesultanan Palembang.

Tercatat terdapat 47 kapal-kapal perang besar dan kecil, 16 kapal pengangkut pasukan, 414 meriam kapal, dan 18 meriam darat. Pasukan laut tercatat 2.580 orang dan pasukan darat 1.679 orang.

Selain itu De Kock pun memiliki siasat dengan mengambil hati penduduk sekitar. Dirinya memberi garam dan beras tentunya salah satunya agar mendapat informasi tentang pertahanan pasukan Palembang.

Sultan sendiri menilai dalam pasukanya terdapat musuh di balik selimut. Dan memang pada akhirnya hal terbukti dengan saudara-saudaranya yang membocorkan pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Saat itu adik ipar sultan, Nyimas Taipah menjadi salah satu pasukan mata-mata Belanda yang dikirim untuk menjatuhkan Sultan Mahmud Badaruddin II dan Kesultanan Palembang.

Pada 20 Juni 1821, pasukan De Kock telah diarahkan menuju Palembang. Total 14 belas kapal akan digunakan untuk menyerang Benteng Besak Kuto Anyar dari belakang.

Setelah berhasil melumpuhkan benteng Gombora dan Plaju, pasukan Belanda mulai bergerak mendekati keraton. Pada tanggal 26 Juni 1821 semua pasukan Belanda bergerak siaga di depan keraton Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sejarah Hari Ini (23 April 682) - Perjalanan Suci Maharaja Sriwijaya

Akhirnya pada tanggal 1 Juli 1821, terjadilah surat serah terima seluruh kekayaan Kesultanan Palembang kepada Belanda. Namun Sultan Mahmud Badaruddin II menolak menulis surat kalah kepada Belanda.

Belanda lalu mengatur siasat dengan menggunakan nama Prabu Anom dan Pangeran Husin Dhiaudin untuk menangkap Sultan Mahmud Badaruddin II. Saat itu mereka berdua mengundang sultan datang pada jamuan makan.

Tanpa curiga, sultan kemudian datang pada jamuan makan itu. Namun kedatangan sultan malah membuatnya ditangkap dan Pelembang lalu menjadi milik Belanda.

Pada tengah malam, Sultan Mahmud Badaruddin II bersama keluarga dan pengikutnya kemudian diberangkatkan ke Batavia. Lalu pada 3 Juli 1821, mereka semua diasingkan ke Ternate, Maluku Utara.

"Sultan menyerah tanpa syarat agar tidak terjadi pertumpahan darah lagi. Sultan dan keluarganya diasingkan ke ternate, dan setelah itu Belanda menyingkirkan semua orang terdekat sultan."

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini