Kisah Sultan Iskandar Muda dan Seribu Pasukan Gajah yang Agung

Kisah Sultan Iskandar Muda dan Seribu Pasukan Gajah yang Agung
info gambar utama

Publik menyoroti penemuan seekor anak gajah dengan belalainya yang harus diamputasi karena membusuk. Diketahui belalai gajah malang ini terkena jerat di wilayah Desa Alue Meuraksa, Teunom, Aceh Jaya, Sabtu (13/11).

Kesedihan lebih mendalam terjadi setelah dua hari perawatan di Pusat Latihan Gajah Saree, Aceh Besar, gajah ini tidak bisa diselamatkan. Dokter hewan, Rika Marwati tidak bisa menyembunyikan rasa kesedihannya saat mendengar anak gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) meninggal, pada Selasa (16/11).

Rika masih mengingat, pada Senin (15/11) dia masih memberi anak gajah itu makan. Tetapi dalam waktu sekejap, kabar kesedihan datang padanya mengenai kematian mamalia yang nyaris punah ini.

Kisah dan Bukti Peradaban Manusia Nusantara dengan Gajah yang Benar Adanya

”Kemarin dia kuat, kandang pun diseruduk. Dia juga makan lahap, mungkin karena sudah lama tidak mendapat makanan,” kata Rika yang dinukil dari Kompas, Selasa (23/11).

Anak gajah ini memang salah satu korban dari masih lestarinya konflik perebutan lahan antara manusia dengan satwa. Bedasarkan catatan Kompas, sejak 2014 sampai 2017 telah ada tujuh gajah yang mati dalam masa perawatan sedangkan satu mati dalam kubangan.

Konflik ini tidak hanya memberikan kecelakaan pada gajah dewasa, tetapi juga anak-anaknya. Bedasarkan catatan ini, tidak satu pun anak gajah hasil evakuasi di Aceh yang berhasil dirawat hingga tumbuh dewasa, semuanya mati.

Raja Aceh yang menghormati gajah

Kondisi Aceh terkini yang tidak begitu ramah akan habitat gajah, menjadi sebuah ironi bila melihat masa lalu. Gajah Sumatra yang merupakan bagian dari kehidupan, begitu sangat dihormati dan mendapat tempat terhormat.

Dikabarkan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Sultan Iskandar Muda (1593-1636) merupakan raja yang terkenal pada zamannya. Pasalnya pada pemerintahannya, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai zaman kejayaan.

Salah satu yang menarik dari sosok sultan satu ini adalah hewan tunggangannya yaitu gajah. Memang sultan-sultan Aceh dikenal sebagai seorang penunggang gajah yang mahir.

Menyelisik Asal Usul Gajah Kerdil yang Disebut Berasal dari Jawa

Dikisahkan Iskandar Muda telah mendapat hadiah seekor gajah sejak berumur empat tahun. Sementara itu pada umur tujuh tahun, Iskandar Muda mulai ikut berburu gajah liar.

Tetapi pada masa itu, gajah diburu bukan untuk diambil gadingnya namun untuk dijinakkan. Setelah jinak, gajah yang terbaik akan menjadi tunggangan sultan, sedangkan yang lain akan menjadi armada.

Dikutip dari Historia bedasarkan buku Hikayat Aceh, Anthony Reid dalam "Elephants and Water in The Feasting of Seventeenth Century Aceh, Iskandar Muda berlatih menunggangi gajah pada Senin dan Kamis. Dirinya pun mewarisi kemahiran para sultan Aceh dalam mengendarai gajah.

Setelah Iskandar Muda menjadi seorang raja, dia telah memiliki kemampuan untuk menjinakkan dan mengendarai gajah. Gajah pun menjadi kendaraan kebanggaan sultan, dengan hiasan emas dan permata.

Gajah yang dihormati oleh masyarakat

Gajah tidak hanya menjadi aksesoris kerajaan, tetapi juga menjadi kebanggaan Kesultanan Aceh. Setiap ada tamu asing yang datang para gajah pun dipersiapkan sebaik mungkin untuk menyambut mereka.

John Davies, navigator Inggris, mengungkapkan bagaimana pengalamannya mengunjungi istana sultan pada 1599. Saat itu Davies berkendara ke istana dengan seekor gajah.

Dirinya menjelaskan saat itu gajah digunakan sebagai alat eksekusi hukuman mati. Menurutnya gajah memang menjadi kekuatan negara tersebut.

Augustin de Beaulieu, seorang pedagang Prancis, saat kunjungannya ke Aceh pada 1621, juga melihat bagaimana gajah menjadi simbol kebesaran kesultanan. Dirinya melihat Aceh merupakan panggung teater besar bagi para gajah.

Beaulieu menyebut Sultan Iskandar Muda saat itu memiliki 900 ekor gajah yang begitu dibanggakan. Para gajah-gajah ini sudah dilatih agar tidak takut dengan api, bisa melakukan sombaye (sembah) ketika pergi dari istana dan memberi salam di depan singgasana raja dengan cara menekuk lutut serta mengangkat belalai-belalai mereka sebanyak tiga kali.

Termasuk Satwa Endemik yang Paling Dijaga, Berapa Populasi Gajah Sumatra Saat Ini?

Raja, lanjutnya, memberi nama kepada masing-masing gajah tersebut, dan begitu menghormati para gajah yang menurutnya paling berani dan paling terlatih. Bahkan saking hormatnya, dirinya memerintahkan anak buahnya memayungi para gajah ketika berjalan-jalan di luar.

"Hanya raja seorang yang di payungi di depan maupun di sampingnya. Namun, raja memerintahkan agar anak buahnya membawakan sepuluh payung di hadapan beberapa ekor gajahnya, empat payung di hadapan beberapa gajah yang lain, serta dua payung bagi gajah-gajah yang lain," ucapnya yang dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe.

Beaulieu juga mengisahkan bagaimana masyarakat Aceh saat itu begitu menghormati para gajah milik raja. Misalnya saja saat gajah itu lewat, masyarakat akan berhenti untuk memberikan jalan kepada mereka.

Karena itu, akan ditempatkan seorang anak laki-laki yang berjalan di depan dengan membawa alat musik dari tembaga di tangannya. Anak laki-laki ini akan memukulkan alat ini, sehingga orang-orang akan langsung mengerti kemudian menyingkir.

Masyarakat Aceh begitu mengagumi para gajah itu dan menyakini hanya para raja saja yang bisa menungganginya. Beberapa waktu bila kondisi raja sedang sehat, dirinya akan mempertontonkan atraksi mengagumkan di atas gajah-gajah tersebut.

"Penduduk Aceh sering melihat raja bertarung sambil mengendarai gajah. Dia akan berdiri tegak sambil berpegangan pada semacam pengait yang dipakai untuk menuntun gajah tersebut," sebutnya.

Kisah Raja Aceh dan seribu pasukan gajah

Di Aceh, gajah tidak hanya menjadi kendaraan sultan, tetapi juga digunakan saat melakukan kunjungan maupun pertempuran. Di Kutaraja, Ibu Kota Kerajaan Aceh yang sekarang menjadi Banda Aceh, gajah menjadi benteng pertahanan kota.

Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh menyatakan karena melimpahnya armada gajah, Aceh akhirnya tak memerlukan benteng pertahanan. Gajah-gajah ungkapnya merupakan benteng kota yang sesungguhnya.

Dikutip dari Mongabay, Tarmizi A Hamid menjelaskan perlakuan masyarakat pada zaman Kerajaan Aceh dan sekarang sungguh jauh berbeda. Dahulu gajah merupakan hewan yang dimuliakan, tetapi sekarang malah diburu untuk diambil gadingnya.

“Dahulu, Aceh memiliki lebih 1.000 individu gajah yang siap diterjunkan ke medan pertempuran. Bahkan, saat menyerang Portugis di Johor, Kerajaan Aceh diperkuat oleh pasukan gajah yang diangkut dengan kapal perang.” ucap pria yang merupakan kolektor manuskrip kuno Aceh ini.

Tercatat dalam beberapa penyerangan yang dilakukan Kesultanan Aceh, selain puluhan ribu tentara, dibawa juga satu pasukan khusus yaitu pasukan gajah. Misalnya saja penyerangan terhadap tentara Portugis di Malaka yang terjadi beberapa kali, yaitu, pada 1537,1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, dan 1606 Masehi.

Fitri, Gajah Sumatra yang Lahir di Hari Lebaran

Ketika Sultan Iskandar Muda akan menyerang pasukan Portugis di Malaka, tercatat dirinya berangkat dari Kutaraja menuju pesisir timur mengendarai gajah. Sementara pasukannya, menyusuri pantai menggunakan kapal perang.

"Saat itu, Sultan Iskandar Muda berangkat ke pesisir timur Aceh untuk mengumpulkan pasukan. Beliau mengendarai gajah bahkan singgah di Meureudu, Ibu Kota Kabupaten Pidie Jaya, saat ini. Nama Meureudu diberikan setelah gajah yang ditunggangi Sultan Iskandar Muda duduk di perbukitan daerah Meureudu," terang Iskandar Norman, penulis sejarah Aceh.

Iskandar menyatakan, kerajaan-kerajaan Aceh begitu membanggakan tentara gajah, karena memang hanya beberapa saja yang memiliki satwa besar itu. Sedangkan M. Junus Djamil, penulis buku Gadjah Putih menyebut gajah telah menjadi lambang keagungan Kerajaan Aceh sejak tahun 500 Masehi.

Bukan hanya dikoleksi, menurut Takeshi Ito dalam The World of The Adat Aceh yang dinukil dari Historia, gajah juga telah diekspor ke beberapa wilayah seperti Srilanka, biasanya dibarter dengan kuda atau sejumlah hewan lainnya.

Ketika Sultanah Safiatuddin (1641-1675) memerintah Kerajaan Aceh, gajah tidak hanya menjadi properti istana, tetapi juga bisa dimiliki oleh orang kaya. Namun seiring meredupnya, Kesultanan Aceh, gajah tidak lagi mendapatkan kemuliannya apalagi menjadi armada perang.

Memasuki abad 20, nasib gajah menjadi lebih naas lagi, mereka hanya menjadikannya barang buruan untuk diperdagangkan. Bahkan memperlakukan layaknya hama, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiran leluhur masyarakat Aceh.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini