Tahun Depan, Tak Perlu Lagi Risau Soal Internet di Wilayah Terpencil

Tahun Depan, Tak Perlu Lagi Risau Soal Internet di Wilayah Terpencil
info gambar utama

Isu terkait pemerataan jaringan internet di desa-desa pelosok dan wilayah terpencil di Indonesia memang acapkali mengemuka. Bagi kita di wilayah perkotaan, internet mungkin sudah bukan barang mewah, terlebih di beberapa wilayah perkotaan di Indonesia sudah menerapkan internet berbasis generasi ke-5 (5G).

Sayangnya, untuk saudara-saudara kita di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) nun jauh di sana, untuk mendapatkan sinyal 2G (EDGE) atau 3G saja sudah merupakan sebuah kemewahan.

Karena memang tak bisa dimungkiri jika internet mampu melajukan tingkat perekonomian masyarakat. Wajar saja, saat ini semua sistem komunikasi dan promosi penjualan daring, semuanya memang mengandalkan jaringan internet.

Lantas, seperti apa upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan pemerataan internet di seluruh pelosok Indonesia?

Kita tentu paham betapa pentingnya pemerataan internet di wilayah-wilayah 3T di Indonesia, karena salah satu kesuksesan nilai ekonomi suatu daerah juga ditentukan dari fasilitas dan infrastrukturnya. Selain listrik, akses jalan, tentunya juga jaringan internet.

Terkait upaya ini, para pelaku industri baik dari BUMN maupun swasta merasa perlu untuk mewujudkannya secara bersama dan saling terkoneksi. Seperti apa yang dilakukan oleh PT Dwi Tunggal Putra (DTP) yang menginisiasi pembangunan Portal Jaringan Satelit OneWeb sebagai fasilitas terbarunya di Serang, Provinsi Banten, Selasa (21/12/2021).

''Mudah-mudahan di tahun depan saudara-saudara kita di wilayah 3T sudah bisa merasakan internet secara merata,'' ungkap Michael Alifen, CEO DTP, dalam acara ground breaking fasilitas tersebut.

Dipilihnya Serang menjadi pusat lokasi layanan DTP ini dikarenakan secara geografis cukup ideal untuk menempatkan 18 antena penerima sinyal transmisi satelit, serta wilayah yang jauh dari bangunan-bangunan yang berpotensi mengganggu transmisi dan kestabilan jaringan.

Di sana, kantor dan pusat data seluas 500 meter persegi akan berdiri di atas lahan seluas 10 hektare. Portal ini akan menyediakan area jangkauan mulai dari Thailand bagian utara, Indonesia secara keseluruhan (dari timur ke barat), serta Australia bagian utara di arah selatan.

''Sekitar pertengahan tahun depan diharapkan sudah rampung dan siap beroperasi,'' janji Michael.

Salip Tangerang, Makassar Jadi Kota dengan Internet Tercepat di Indonesia

Mengenal perbedaan satelit LEO dan GEO

Fasilitas yang dibangun DTP ini akan menjadi yang pertama dari tiga portal jaringan satellit yang mencakup wilayah Asia Tenggara dengan lebih banyak lokasi yang akan dibangun di wilayah Asia Pasifik dengan menghubungkan konstelasi satelit Low Earth Orbit (LEO) global OneWeb ke jaringan serat optik terestrial.

Secara teknologi, satelit LEO akan memberikan dampak signifikan untuk jaringan internet, karena posisi orbitnya yang dekat dengan permukaan bumi.

Lalu, apa perbedaan antara satelit LEO dan GEO--yang umum beroperasi saat ini?

Secara posisi, satelit GEO (Geostationary Satellite) mengorbit dengan jarak 22.300 mil dari permukaan bumi, sementara LEO hanya berjarak 120–1.200 mil.

Umumnya, satelit GEO, telah mengorbit selama lebih dari 50 tahun. Dengan jarak yang cukup jauh dari bumi, satelit GEO memiliki diameter jangkauan yang lebih luas tentunya, namun sayangnya, dengan latensi yang juga cukup besar (560 ms), ada tantangan tersendiri soal transmisi ke beberapa wilayah terpencil.

Meski begitu, lintasan orbit satelit ini menjadikannya kandidat sempurna untuk misi telekomunikasi skala besar jangka panjang.

Sedangkan satelit LEO yang beroperasi lebih dekat ke bumi, memiliki diameter jangkauan yang lebih kecil tentunya, karena memang dirancang untuk fokus pada area-area tertentu. Keunggulannya, satelit ini memiliki latensi rendah, yakni 50 ms.

Untuk mengoptimalkan layanannya, satelit LEO membutuhkan konstelasi satelit untuk mengoptimalkan jangkauan di satu wilayah, Indonesia misalnya yang merupakan negara kepulauan.

Lain itu, karena memiliki ukuran yang lebih kecil--dari satelit GEO, satelit LEO umumnya memiliki umur yang cukup pendek, yakni 5 tahun. Oleh karena itu, penggantian satelit yang konstan diperlukan untuk menjaga populasi konstelasi agar berfungsi dengan baik dalam periode yang lebih panjang.

Mengenal Satelit Satria-1, yang Diklaim Mampu Suplai Koneksi Internet Merata di Indonesia
leo vs geo
info gambar

Akan ada 18 satelit yang beredar di atas Indonesia

Pernyataan Michele Franci dari OneWeb dalam kesempatan yang sama, mengatakan bahwa peletakan batu pertama ini merupakan tonggak penting bagi OneWeb di kawasan tersebut.

''...dan ketika nanti diaktifkan dan digunakan, akan memungkinkan DTP untuk menghubungkan kebutuhan pemerintah, bisnis, dan komunitas, dengan layanan seperti serat optik hingga ke bagian terpencil kepulauan Indonesia.”

Sementara Chief Commercial Officer (CCO) DTP, Edi Sugianto, mengatakan bahwa kemitraannya dengan OneWeb mengubah cara mereka melayani kebutuhan konektivitas untuk pelanggan DTP di Indonesia.

''...mulai dari pemberian layanan publik pemerintah, seperti kesehatan dan pendidikan, jangkauan jarak jauh untuk jaringan seluler, hingga memeratakan koneksi telekomunikasi untuk bisnis dan komunitas terpencil.''

Seberapa Rendah Latensi Internet untuk Game Online di Indonesia?
groundbreaking DTP serang
info gambar

Secara umum, OneWeb dikenal sebagai perusahaan jaringan komunikasi global yang didukung oleh 648 konstelasi satelit orbit rendah bumi. Berkantor pusat di London, Inggris, perusahaan ini memungkinkan konektivitas berkecepatan tinggi dan latensi rendah untuk pemerintah, bisnis, dan komunitas, dimanapun di seluruh dunia.

OneWeb mengklaim mampu menyediakan layanan komunikasi yang lebih terjangkau, cepat, bandwidth tinggi, latensi rendah, yang tentunya bakal dibutuhkan secara masif di masa depan, yakni untuk ekosistem IoT dan pemerataan jaringan 5G.

Sedangkan DTP merupakan perusahaan telekomunikasi lokal asal Surabaya, Jawa Timur, dan telah ada sejak tahun 1974. Perusahaan ini juga dikenal sebagai Network Access Point (NAP) generasi pertama di Indonesia pada tahun 2001.

Hingga saat ini, DTP terus berupaya memperluas layanannya dengan menyediakan solusi telekomunikasi terintegrasi yang berfokus pada penyedia layanan internet, pusat data, dan telekomunikasi satelit, dengan wilayah jangkauan di seluruh Indonesia.

''Tak tertutup kemungkinan kita juga akan mendirikan fasilitas serupa di daerah lain di Indonesia, nantinya. Kita lihat saja kebutuhannya," tandas Edi, menjawab pertanyaan wartawan.

Edi juga menegaskan bahwa fasilitas yang dibangun ini merupakan tier III untuk hyperscale datacenter dan fasilitas teleport di Indonesia.

Apa yang diupayakan ini tentu sejalan dengan target Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno. Pada awal tahun ini, ia mengungkap bahwa lebih dari 12 ribu desa di Tanah Air belum terhubung dengan jaringan internet.

Dan ini akan menjadi salah satu fokusnya dalam komitmen memperbaiki masalah tersebut. Pasalnya Kemenparekraf berencana mengembangkan 243 desa wisata hingga 2024 sebagai salah satu fokus kerja kementerian itu, dan diharapkan bakal berdampak bagi nilai keekonomian desa.

Internet Indonesia Bakal Makin Ngebut, Google dan Facebook Pasang Kabel Laut Antar-Benua

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini