Jelajah Pasar Terong, Jantung Penyebaran Bahan Pokok ke Indonesia Timur

Jelajah Pasar Terong, Jantung Penyebaran Bahan Pokok ke Indonesia Timur
info gambar utama

Walaupun bukan pasar tertua di Makassar, Pasar Terong adalah salah satu pasar yang sangat dikenal di jazirah Sulawesi. Pasar Terong, namanya akrab bagi pendengar Radio Republik Indonesia mulai dekade 1960 an.

Setiap hari, 05.00 Wita, penyiar Syahrial Sidik menyebut pasar ini salah satu dari empat pasar rujukan bahan pokok Indonesia, setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, Pasar Medan Kota di Sumatra Utara (Sumut).

Pasar Terong menjadi muara dari aliran komoditas dari 11 provinsi. Di dalam pasar ini akan ditemui komoditas seperti kelapa dan jahe dari Sulawesi Barat, jeruk nipis dan sagu dari Sulawesi Tengah, cabai besar dari Yogyakarta, dan lain sebagainya.

Merujuk dari buku Pasar Terong Makassar: Dunia dalam Kota karya Agung Wibowo dan kawan-kawan menyebut ada sekitar 1.138.202 rumah tangga petani di Sulawesi Selatan (Sulsel) mengirim hasil pertaniannya ke pasar ini. Beragam pedagang memang telah meramaikan pasar ini sejak lama.

Jadi Pusat Belanja Sejak Ratusan Tahun Lalu, Ini Tiga Pasar Tertua di Indonesia

Menurut Agung, kalangan pedagang dan penjual inilah yang telah memulai terbentuknya Pasar Terong tetap di tempat mereka berada. Para pagandeng (pengangkut sayur), kalangan yang memulai cikal bakal Pasar Terong, tetap berada di Pasar Kalimbu dan sepanjang pinggir Jalan Mentimun.

Dicatat olehnya, pasar ini mulai beroperasi sejak tahun 1960 an. Bermula dari lokasi kosong yang berawa-rawa digunakan oleh palapara (penjual yang beralas). Para pagandeng dari Cilallang dan Antang juga mulai menjual di pinggir jalan ini.

"Belakangan pedagang mulai bertambah hingga ke gang-gang permukiman yang kini menjadi Jalan Mentimun, Jalan Kubis, dan Jalan Kangkung. Kala itu, Jalan Bayam ramai oleh penjual gogoso --nasi ketan berbungkus daun pisang dan dipanggang--," ucapnya.

Munculnya pedagang-pedagang ini lantaran ramainya Pasar Kalimbu yang merupakan pasar tertua kedua di Makassar. Sementara itu pembangunan Pasar Terong berawal dari kebakaran yang bermula di Jalan Kangkung, pada kisaran tahun 1967-1968.

Tahun 1970, lokasi bekas kampung warga oleh pemerintah kemudian dibangun pasar permanen. Setahun kemudian pedagang dipindahkan kembali untuk mengisi pasar yang telah disediakan pemerintah.

Ketika Pasar Terong mulai ramai pada tahun 1980 sampai 1990 an, pedagang yang menempati font toko dan los bagian tengah berasal dari daerah. Pada tahun 1997, gedung kemudian rampung dan mulai berfungsi, pemerintah lalu memindahkan pedagang ke lantai empat.

Jantung bahan pokok untuk Indonesia Timur

Pada dasawarsa 1970 an, Pasar Terong mengenal tiga nama pedagang pemasok bermodal besar, yaitu Haji Hafid, Haji Na'ga, dan Haji Sakka. Ketiganya merupakan pemasok cabai dan tomat.

Kedua komoditas ini merupakan unggulan dari Pasar Terong karena makanan instan belum banyak didapatkan dan masyarakat cenderung mengolah makanan sendiri. Mereka menadah kedua komoditas ini dari berbagai penjuru Sulawesi lalu disalurkan ke pedagang pengecer.

Trio ini juga menghidupi banyak pedagang pengecer dan pekerja di Pasar Terong. Bahkan secara langsung, banyak yang menggantungkan hidupnya kepada mereka bertiga. Ketiganya berwenang menetapkan harga komoditas yang diambil oleh pengecer.

"Wajar saja bila ketiganya lebih dikenal dengan panggilan Bos Lombok," tulis L. Habibie dan Anwar Jimpe Rachman dalam artikel berjudul Dari Jeruk Nipis Hingga Jaringan Dagang Pasar Terong.

Selain panggilan "bos Lombok", anggota komunitas Pasar Terong juga mengenal panggilan Bos Pengirim. Panggilan ini bagi pedagang bermodal besar yang memasok barang dari berbagai daerah ke Pasar Terong untuk dikirim ke luar Sulawesi seperti Ambon, Bau-Bau, dan Kalimantan.

Pasar ini memang terkenal sebagai pemasok sembilan bahan kebutuhan pokok, seperti sayur-mayur, aneka jenis ikan, telur, buah-buahan, dan lain-lain yang berasal dari berbagai daerah di Sulsel.

Pasar ini juga setidaknya menyuplai kebutuhan di daerah lain hingga 18 provinsi di pulau Sulawesi khususnya dan Indonesia Timur dan sebagian Barat khususnya. Untuk menyebut beberapa daerah itu diantaranya Kendari, Palu, Gorontalo, Manado, Maluku, Kalimantan khususnya bagian Timur.

Mengunjungi Beragam Pasar Tradisional Unik di Indonesia

Pelosok Papua dari Sorong hingga Merauke, sebagian Bali, NTT dan NTB. Bahkan beberapa bagian di Jawa Timur, Jawa Barat, Banten hingga DKI Jakarta. Bahkan kini pasar Terong juga mampu menyuplai sebuah Negara termuda, yakni Timor Leste.

Tetapi pada dasawarsa 1990 an, menjadi masa sulit bagi pedagang Pasar Terong. Pada tahun itu mereka mengalami serangkaian aksi penggusuran.

Pada masa ini banyak pedagang yang mulai pindah, bahkan ada yang dipindahkan paksa. Tahun 1993, kondisi Pasar Terong mulai aman. Aparat sudah mulai meninggalkan pasar.

Kemudian pedagang mulai kembali menempati pasar mereka seperti sediakala. Khusus pedagang yang kembali ke Pasar Terong merupakan penduduk asli Makassar.

Revitalisasi Pasar Terong

Ide modernisasi para lokal pertama kali muncul dari Wali Kota Makassar era 1990 an, Malik B Masri yang terinspirasi perjalanan dinasnya ke Hawaii. Wali Kota melihat pasar di sana dan menilainya cocok dengan Pasar Terong.

Ide itu lalu disambut baik oleh developer. Sejak diputuskan untuk revitalisasi terjadilah relokasi besar-besar an di mana pedagang memenuhi ruas-ruas jalan di sekitar Jalan Terong, Sawi dan sekitarnya.

Setelah gedung rampung pada tahun 1997, pemerintah kemudian memindahkan pedagang untuk menempati gedung berlantai empat. Tetapi pada akhirnya banyak bangunan yang tidak terpakai, terutama los lantai tiga dan empat.

Ketika itu banyak konsumen yang malas untuk naik ke lantai tiga dan memilih untuk berkumpul di lantai dasar. Pada satu sisi, konsumen masih terbiasa untuk berbelanja secara cepat di sepanjang Jalan Terong.

Menumbuhkan Kembali Ekonomi Pasar dengan Protokol Kesehatan

Akibatnya pembeli memilih tidak masuk ke dalam gedung dan pada akhirnya membuat banyak pedagang yang mengalami kerugian dari hari ke hari. Hal ini ditambah bahwa sejumlah pedagang tidak memiliki modal membayar harga kios yang disediakan.

Pedagang akhirnya tumpah ruah ke jalan, sehingga menyebabkan kemacetan dan kesemerawutan pasar. Pada tahun 2000, para pedagang yang menempati sisi barat dan selatan kemudian ditertibkan.

Perkembangan Pasar Terong kini memunculkan perbedaan pendapat tentang pasar ini sendiri. Ini berawal dari Pemerintah Kota Makassar memberi hak guna pakai untuk PT Prabu Makassar Sejati (PMS) yang membangun gedung berlantai empat ini.

Bagi pengembang dan pedagang yang terhimpun dalam Asosiasi Pedagang Pasar Terong (APT), hanya pedagang yang berjualan di dalam gedung yang dianggap. Tetapi bagi Persaudaraan Pedagang Pasar Terong (SADAR), Terong pun termasuk yang berada di luar gedung.

Adapun Pasar Terong versi pemerintah bermakna ganda, yang satu merujuk pada gedung berlantai empat. Sementara pada praktik yang berlangsung sehari-hari pengelola pasar tetap memungut retribusi segenap pedagang yang berada di luar atau di dalam.

Pemerintah memang tidak bisa menganggap sepele transaksi yang berlangsung di Pasar Terong. Karena menurut catatan dalam satu hari, antara lain untuk transaksi cabai dan kol bisa mencapai tiga kontainer ke berbagai kota Nusantara.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini