Kelelawar, Jenis Makanan Manusia Prasejarah Bagian dari Kuliner Nusantara

Kelelawar, Jenis Makanan Manusia Prasejarah Bagian dari Kuliner Nusantara
info gambar utama

Kelelawar merupakan jenis hewan mamalia yang mencari makan di malam hari dan hidup berkelompok. Pada siang hari hewan ini tidur bergelantungan terbalik (kepala menghadap ke bawah) pada langit-langit gua atau pada pepohonan.

Di Indonesia diketahui terdapat 200 spesies kelelawar, beberapa di antaranya hidup dalam gua-gua. Biasanya hewan ini memakan serangga, kadal, katak, dan sejenis tikus. Di berbagai daerah di Nusantara kelelawar dikenal dengan beragam nama.

Di masyarakat Minahasa dan kawasan timur Indonesia menyebut hewan ini paniki, niki, atau lawa. Pada masyarakat Sunda menyebutnya kalong, lalay. Sedangkan masyarakat Jawa memanggilnya kampret, codot, lowo.

Pada masyarakat prasejarah ketika manusia masih menghuni gua atau ceruk, mengonsumsi kelelawar adalah hal biasa. Karena hewan ini mudah diperoleh di sekitar huniannya.

Masyarakat saat itu memang memanfaatkan berbagai jenis flora dan fauna sebagai bahan makanannya. Sehingga alam sekitar layaknya gudang makanan. Tetapi setelah manusia sudah mendirikan perkampungan, terjadi perubahan pada bahan makanan yang dikonsumsi.

Gemblong, Jajanan Pasar Manis Legit dari Beras Ketan Berlumuran Gula

Manusia kemudian cenderung mengonsumsi jenis-jenis tanaman atau hewan yang dibudidayakan, walaupun pada sebagian orang secara induvidu atau kelompok, masih memanfaatkan alam secara langsung untuk memperoleh bahan makannya.

“Salah satunya adalah hewan kelelawar yang umumnya diperoleh langsung dari alam (gua-gua atau pepohonan, karena jenis hewan ini tidak lazim untuk dibudidayakan,” tulis Nenggih Susilowati dalam artikel berjudul Kelelawar, Jenis Makanan Manusia Prasejarah yang Menjadi Bagian dari Kuliner Nusantara.

Daging kelelawar walaupun tidak sepopuler daging hewan lainnya pada kenyataannya tetap menjadi bagian kuliner Nusantara. Pada beberapa suku bangsa, daging kelelawar bisa disajikan dan dikonsumsi sebagai lauk pauk, misalnya di daerah Minahasa (Sulawesi Utara) dan masyarakat Dayak (Kalimantan).

Dapat diterimanya suatu makanan secara umum oleh suatu masyarakat ditunjukan dengan kemudahan memperolehnya. Misalnya tersedia dalam rumah makan atau pasar tradisionalnya.

Di Manado, Sulut, jenis hewan ini mudah diperoleh di pasar tradisionalnya, dan umum dikonsumsi oleh masyarakat. Sementara pada masyarakat Jawa kuliner ini dibatasi karena difungsikan sebagai obat.

“Umumnya pada masyarakat Jawa mereka mencari kelelawar dan memasaknya sendiri. Walaupun ada yang menjualnya di warung makan, bisa dipastikan jumlahnya hanya sedikit,” bebernya.

Kelelawar sebagai artefak kuliner

Nenggih mencatat pada beberapa situs gua/ceruk yang pernah menjadi hunian manusia prasejarah juga menjadi habitat bagi beberapa jenis kelelawar. Hewan ini pada masa lalu pernah dijadikan sebagai bahan makanan manusia prasejarah yang menghuni gua.

Hal ini membuat sisa-sisa tulangnya bersama sisa makanan lain, serta peralatan yang digunakan saat itu, kini ditemukan melalui ekskavasi di situs tersebut. Misalnya kelelawar yang hidup di kompleks Gua Togi Ndrawa di Kabupaten Nias dan Gua Kampret di Kabupaten Langkat.

Di Gua Togi Ndrawa terdapat jejak kelelawar yang menjadi konsumsi manusia prasejarah dengan penemuan ekofrak, berupa fragmen tulang kelelawar yang terakumulasi dengan cangkang moluska, fragmen tulang dan gigi vertebrata lain.

Keberadaan kelelawar diketahui melalui temuan fragmen tulang yang terdiri dari tulang paha, pangkal lengan, pengumpil, kering, rusuk, jari-jari tangan, rahang atas, rahang bawah, dan kuku.

Asinan, Kudapan Segar Hasil Akulturasi Budaya Betawi dan China

Fragmen tulang kelelawar itu sebagian ditemukan berwarna cokelat muda, sebagian berwarna cokelat tua dan kehitaman. Menurut Nenggi, warna cokelat tua dan kehitaman pada tulang merupakan tanda bekas terbakar.

Keberadaan fragmen tulang kelelawar di Gua Kampret juga menggambarkan daging hewan ini juga dimanfaatkan sebagai makanan manusia penghuni gua. Adanya ekofak maupun peralatan batu, diperkirakan gua ini menjadi tempat singgah para pemburu.

Berkaitan dengan penemuan tersebut dapat dikatakan bagian yang dihuni manusia adalah yang mendekati mulut gua dengan kondisinya terang dan kering, sedangkan bagian yang dihuni kelelawar kondisinya gelap dan lembap.

“Hingga kini kelelawar atau kampret masih dijumpai pada bagian itu,” ucapnya.

Pemanfaatan kelelawar sebagai salah satu makanan penghuni gua juga ditemui di situs gua prasejarah lain, misalnya di Liang Toge, Flores, jenis-jenis hewan kecil yang banyak dimakan seperti kelelawar, tikus biasa, tikus raksasa, monyet, landak, dan juga babi.

Selain itu juga ada di Leang Tuwo Mane’e di Pulau Karakellang, Kepulauan Talaud yang dihuni sekitar 4000 SM – 2000 SM. Di mana ditemukan fragmen tulang, seperti 94 jenis kerang, babi, tikus besar, kelelawar, dan jenis marsuplai kuskus,

Di Gua Braholo, Jawa Tengah, kelelawar juga menjadi salah satu jenis hewan yang dikonsumsi penghuni gua. Tulangnya ditemukan bersama hewan lainnya, seperti Bovidae, Cervidae, Boaidae, Carnivora, Cercophitecidae,Rhinoceritidae.

Kuliner kelelawar masa kini

Pada masa prasejarah, kelelawar ketika itu dikonsumsi dalam keadaan mentah, dimasak dengan cara dibakar. Membakar atau memanfaatkan api secara langsung untuk memasak merupakan teknik yang digunakan pada masa itu.

Proses memasak pada masa prasejarah sedikit berbeda dengan manusia masa kini yang telah mengenal bumbu-bumbu dapur. Daging kelelawar tidak hanya dibakar atau direbus namun juga dibumbui sesuai selera manusia.

Nenggih menyebut proses mengolahnya masih sama, yaitu dengan cara dibakar terlebih dahulu untuk menghilangkan bulu-bulunya, kemudian baru dicampur bumbu yang dikehendaki.

Bahkan pada masyarakat Dayak Maanyan, mereka memasak kelelawar dengan bulunya sekaligus. Sedangkan masyarakat Dayak Ngaju memasaknya dengan menguliti kelelawar terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu.

Menurut peneliti dari Balai Arkeologi Sumatara Utara ini bumbu-bumbu khas Nusantara yang digunakan untuk memasak daging kelelawar cukup beragam. Misalnya masyarakat Minahasa, memasaknya dengan bumbu rendang, atau bumbu kuah dan santan.

Alasan Mengapa Toprak Razgatlioglu Wajib Coba Makan Ketoprak

Sedangkan masyarakat Dayak Maanyan lebih suka memasaknya dengan mempertahankan rasa dan aroma asli dari kelelawar/kalong sehingga hanya menggunakan bumbu-bumbu sederhana seperti serai, daun, asam jawa, dan bawang merah.

“Setelah dicampur dengan bumbu tersebut kelelawar/kalong di masak tanpa sayur, atau dengan sayur berupa hati batang pisang (siwak) atau sulur keladi (lantar keladi),” jelasnya.

Kata Nenggih sebagian masyarakat Jawa memasak kelelawar dengan cara menggorengnya, setelah dibakar untuk menghilangkan bulu-bulunya. Kemudian menambahkan bumbu, seperti bawang putih, ketumbar, garam, dan kadang kunyit dan merica pada daging, lalu dimasukan ke dalam minyak panas.

Hal berbeda ternyata berlaku pada masyarakat Pacitan, Jawa Timur yang tidak mengolah kelelawar dengan cara menggoreng, karena dipercaya akan mengurangi khasiatnya. Masyarakat di sana mengolahnya dengan membakar kemudian dikonsumsi.

“Sebagian masyarakat mempercayai daging kelelawar/codot dapat menyembuhkan penyakit lain seperti, gatal-gatal atau alergi pada kulit hingga menjaga stamina bagi pria atau wanita,” jelasnya.

Ada beberapa faktor yang membuat kelelawar tidak lagi populer pada masa kini, sehingga sebagian masyarakat mengeluarkannya dari daftar makanan. Beberapa hal ini adalah larangan agama, takhyul mengenai kesehatan, dan kejadian-kejadian dalam sejarah.

Dalam hal ini, kata Nenggih, faktor larangan agama banyak menyebabkan kelelawar tidak umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Sedangkan pemanfaatannya sebagai obat oleh sebagian masyarakat Jawa diperbolehkan tetapi dengan jumlah terbatas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini