Jejak-jejak Keberadaan Gajah yang Pernah Hidup di Tatar Sunda

Jejak-jejak Keberadaan Gajah yang Pernah Hidup di Tatar Sunda
info gambar utama

Pada tahun 2004, pada musim kemarau, sumur milik keluarga Ishak Surjana (55) makin hari makin berkurang airnya. Karena itulah diputuskan untuk memperdalam sumur yang bentuknya persegi empat itu.

Putranya, Iman Rismansyah (31) mencoba menggali lapisan yang terdiri dari pasir dan bebatuan seukuran jeruk siam. Ketika sedang menggali, linggisnya menghantam benda keras. Saking kerasnya, Ishak menyarankan anaknya untuk memahat agar bisa diangkat.

Setelah diangkat, benda itu ternyata bukan batu biasa. Bentuknya seperti serat-serat akar pohon kelapa, ada galur-galur seukuran kelingking. Karena penasaran mereka kemudian mengantarnya ke Museum Geologi di Jln.Diponegoro No.57 Bandung.

Setelah diperlihatkan kepada Peneliti dan Ahli Vertebrata di Museum Geologi Dr Fachroel Aziz secara sepintas bisa diduga ini adalah fosil geraham gajah Asia (Elephas Maximus), hal ini didukung dari segi keutuhan fosil geraham.

Fosil dari Rancamalang ini bisa jadi merupakan fosil geraham paling utuh, bahkan di dunia. Akar giginya masih lengkap dan utuh. Bisa jadi si gajah mati di suatu tempat, kemudian tulang belulangnya terbawa arus hingga ke Cijerah.

Gert D. van den Bergh seorang ahli peneliti tamu di Museum Geologi Bandung menyebut gajah ini sama dengan gajah Cipeundeuy. Karena sama, diperkirakan usianya sekitar 30.000 ribu tahun lalu. Waktu itu kota Bandung masih menjadi danau yang besar.

Menyelisik Asal Usul Gajah Kerdil yang Disebut Berasal dari Jawa

Sementara itu pada 2021 lalu, sejumlah palentologi dari berbagai perguruan tinggi melakukan penelitian di lokasi penemuan benda yang diduga fosil hewan di bantaran Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Benda-benda berupa tulang ini sebelumnya ditemukan oleh Jahidin (43) di beberapa titik. Kemudian dari hasil penelitian, benda yang ditemukan warga tersebut merupakan fosil binatang.

Hal yang cukup menggembirakan adalah dari beragam jenis fosil binatang ini, peneliti juga menemukan fosil gajah. Karena populasi gajah di Jawa sudah lama punah, tentunya penemuan fosil ini bisa jadi bukti bahwa spesies ini pernah hidup di tatar Sunda.

“Gajah tidak ada di Jawa sekarang, ini yang jadi spesial. Bukti bahwa dahulu gajah pernah ada dan punah pada satu waktu. Kalau kerbau, rusa, dan sapi sekarang masih ada,” kata Paleontolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Mika Rizki Puspaningrum yang dimuat Tribun Jabar.

Dirinya memperkirakan usia dari fosil ini lebih dari 3.000 tahun, hanya saja untuk memastikan usianya, pihaknya perlu mencari benda-benda peninggalan yang lain. Sedangkan diperkirakan hewan ini mati di tepian sungai.

Diabadikan melalui toponim

T Bachtiar Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung menyatakan sudah banyak penemuan fosil gajah dan stegodon (gajah purba) di Jawa Barat (Jabar). Sehingga tidak heran banyak nama tempat di Jabar yang menggunakan kata gajah.

Misalnya di Kota Cimahi ada Leuwigajah, di Kabupaten Bandung ada Kampung Gajah, Gajahcipari, Gajah Eretan, Gajah Kantor, Gajah Mekar, sedangkan di Garut ada Gunung Gajah dan Karang Gajah, di Cirebon ada Pegajahan dan Palimanan.

Nama tempat lainnya yang memakai kata gajah, kata Bachtiar ditemukan dalam catatan Bujangga Manik (abad ke 16) saat perjalanan keduanya mengelilingi Pulau Jawa. Pada perjalanan itu dirinya melintasi beberapa tempat dengan nama gajah.

Datang ke kadukada, melintasi es di Cileungsi, menuju selatan ke Gunung Gajah

Bukan hanya nama tempat yang memakai kata gajah, tetapi juga nama tokoh dalam cerita pantun Sunda, seperti Gajah Lumantung dalam Carita Gajah Lumantung, Prabu Munding Liman dalam Lalakon Kuda Wangi, Gajah Hambalang dalam Carita Nyi Sumur Bandung.

Dalam babad, ada dua sosok pembesar Pajajaran yang bernama Gajah Manggala dan Arya Gajah. Mereka berdua menjadi utusan Prabu Siliwangi untuk melamar putri Limbangan yang cantik jelita.

Bila melacak ke belakang, beberapa naskah Sunda Kuno menyebut gajah adalah binatang yang sangat akrab. Misalnya dalam Carita Parahyangan, di mana Raja Tarumanegara, Sri Maharaja Suryawarman melepas kepergian Resiguru Manikmaya yang menikah dengan putrinya.

Kepada menantunya, Sri Maharaja memberikan harta benda berupa perhiasan raja, begitu juga pakaian dan tanda kebesaran. Berbagai makanan dan minuman yang lezat, juga kendaraan, salah satunya gajah.

Karena kekuatan binatang ini, gajah juga menjadi inspirasi pemberian nama bagi seorang tokoh besar. Misalnya saja Prabu Gajah Agung, raja Sumedang Larang, keturunan Prabu Tajimalela. Kini namanya diabadikan sebagai nama jalan di kota Sumedang.

Gajah sepertinya sudah begitu lekat dengan masyarakat, Bachtiar menerangkan kata ini hampir dipakai dalam perjalanan hidup manusia Sunda. Misalnya saat menanam padi, ada sejenis rumput yang tinggi dengan buahnya seperti gandum disebut gagajahan.

Di Kepulauan Sunda Besar juga ada peribahasa yang cukup terkenal, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan tiada gading yang tak retak. Sebagai makna agar manusia perlu meninggalkan jasa untuk kehidupan dan tiada hidup yang sempurna.

“Melihat begitu banyak nama tempat yang menggunakan kata gajah, bahkan hampir di setiap daerah ada. Sangat mungkin manusia prasejarah di Tatar Sunda sudah sangat terkesan dengan binatang berkaki empat yang ukurannya sangat besar ini,” tulis dalam artikel Gajah Pernah Hidup di Tatar Sunda.

Gajah dalam catatan sejarah

Pada zaman Kerajaan Tarumanegara abad ke 4 hingga 7 Masehi, gajah pun familier dan dikenal masyarakat. Salah satu buktinya adalah Prasasti Kebon Kopi peninggalan raja termasyur Tarumanegara, Purnawarman.

Selain tulisan beraksara Pallawa ada juga lukisan tapak kaki gajah. Tulisan prasasti itu berbunyi jayavis halasya vibhatidam padadvayam (kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanegara yang jaya dan berkuasa.

“Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra, dewa perang dan penguasa guntur,” tulis Karguna Purnama Harya dalam artikel Jejak-jejak Gajah Sunda yang dimuat dari Ayo Bandung.

Walau isi prasasti tersebut tidak banyak menginformasikan keberadaan gajah. Tetapi bila melihat telapak kaki gajah, bisa dibayangkan, mungkin pembuat prasasti terlebih dahulu menjiplak kaki seekor gajah yang benar-benar ada.

Bukti lain adanya keberadaan gajah di Jabar adalah tulisan Tome Pires berjudul The Suma Oriental (1512-1515). Pada buku itu diinformasikan bahwa Kerajaan Sunda memiliki 4.000 ekor kuda dan 40 ekor gajah yang digunakan sebagai satuan tempur.

Kemudian ada peta kuno yang dibuat pada tahun 1718 oleh Henri Chatelain seorang kartografer asal Prancis. Pada peta tersebut dapat dilihat gajah-gajah berkeliaran di Jabar tepatnya di wilayah sekitar Dermayon (Indramayu), dan Pamanoekan (Pamanukan).

Dumbo Sang Penghuni Baru Batu Secret Zoo

“Bedasarkan peta tersebut maka lagi-lagi dapat dipastikan gajah modern memang ada tersebar di hutan-hutan Jabar,” tegasnya.

Selanjutnya terkait pertanyaan kapan gajah ini punah? Karguna mendapatkan sebuah naskah kolonial yang berjudul Reinwardt’s Reis in den Indischen Archipel in het Jaar (1821) yang menceritakan tentang tenggelamnya kapal Arinus Marinus.

Hal yang menarik adalah salah satu muatan tersebut yaitu seekor gajah dan juga seekor macan kumbang yang masih hidup. Menurut Karguna, kemungkinan besar itulah gajah sunda terakhir yang harus punah karena tenggelam di dasar laut.

Pendapat ini dikonfirmasi saat Alfred Russel Wallace pada bulan Oktober 1861 yang menjelajahi Jakarta, Bogor, Gunung Gede dan Gunung Pangrango tidak melaporkan adanya gajah. Seperti halnya para pemburu Eropa di Bandung yang hanya menemukan badak.

Pada umumnya, fosil gajah yang ditemukan di Jabar berada di pinggir sungai, di bekas danau atau sungai purba. Kebiasaan gajah berendam inilah yang dimanfaatkan manusia untuk membunuhnya. Daging gajah adalah sumber protein bagi manusia prasejarah.

Sangat mungkin perilaku inilah yang akan atau sudah memusnahkan beberapa makhluk. Hingga kita sendiri belum menyadari betapa pentingnya keberadaan hewan ini. Sementara makhluk ini sudah musnah dan tak akan pernah lahir kembali.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini