Membaca Sarinah, Pemikiran Soekarno Terhadap Perjuangan Perempuan

Membaca Sarinah, Pemikiran Soekarno Terhadap Perjuangan Perempuan
info gambar utama

Pada penghujung tahun 1947, tepatnya pada 3 November, Soekarno selesai menulis kata pendahuluan di Istana Kepresidenan Republik Indonesia di Yogyakarta. Pengantar ini rencananya akan dimasukan dalam halaman mukadimah karya penanya.

Buku ini merupakan hasil refleksi tertulis, ekspresi batinnya, terutama saat revolusi fisik. Tanpa pikir panjang, Soekarno membubuhkan judul Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia.

Buku ini terbit pertama tahun 1947 melalui Usaha Penerbitan Guntur, Yogyakarta. Soekarno sengaja memilih nama Sarinah untuk mengenang pengasuhnya ketika kecil. Dirinya mengaku, sosok inilah yang telah menanamkan nilai cinta kasih sejak belia.

“Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran mencintai orang kecil. Dia orang kecil, tetapi jiwanya selalu besar. Sarinah adalah satu nama biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku,” tulis Soekarno dalam buku biografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sewaktu balita, Sarinah membantu Ida Ayu Nyoman Rai, ibu Soekarno, merawat Kusno -panggilan Soekarno saat kecil-. Setiap pagi Sarinah menanamkan ajaran cinta kasih. Di sebuah gubuk kecil, Soekarno kecil duduk di samping Sarinah yang sedang memasak.

Dari Sarinah lah, Soekarno belajar mencintai orang kecil. Tak heran setiap kebijakan ketika menjabat sebagai orang nomor satu di Republik Indonesia, Bung Karno selalu memihak kepada rakyat kecil.

Tonil Kelimutu, dan Naskah Perlawanan Soekarno Melalui Panggung Teater

Sarinah dan perempuan Indonesia

Gagasan yang dituangkan dalam Sarinah ini memiliki kaitan dengan artikelnya untuk menyambut Kongres Hari Ibu yang terselenggara pada 22 Desember 1928. Satu kaitanya adalah mengenai keadaan perempuan di Hindia Belanda yang terbelakang.

Bung Karno memang selalu tergerak untuk meningkatkan martabat perempuan. Pada masa-masa itu, ketika umur Indonesia masih seumur jagung, perempuan masih diposisikan sebagai “teman belakang” yang hanya mengurusi dapur dan kamar.

Dalam buku Sarinah, Soekarno menggambarkan kondisi perempuan Indonesia dari kisah saat dirinya bertamu ke rumah kawannya. Ketika sedang dijamu tersebut, Soekarno tidak melihat sosok nyonya rumah.

Soekarno kemudian bertanya keberadaan nyonya rumah. Kawannya itu hanya mengatakan istrinya sedang pergi. Tentunya itu bohong, Soekarno yang duduk berhadapan kain tabir yang tergantung di pintu, melihat mata seorang perempuan.

Ada juga pengalamanya dengan kawan, seorang guru dari Bengkulu. Kawannya itu memiliki istri yang dirinya cintai benar. Tetapi karena rasa cinta ini, kawannya itu tidak mengizinkan istrinya keluar rumah.

Soekarno menyatakan banyak suami yang memuliakan istrinya, layaknya barang berharga mereka menyimpannya di dalam kotak. Hal ini kata Bung Karno, bukan sebagai bentuk hinaan, tetapi justru bentuk menjaga dan memuliakannya.

Tetapi layaknya perempuan yang dianggap sebagai Dewi. Soekarno juga melihat banyak laki-laki (red: suami) yang menganggap perempuan tidak bisa menjaga diri. Sebuah pandangan laki-laki, yang bagi Soekarno, menghantui perempuan.

“Suatu blasteran antara seorang Dewi dan seorang tolol! Dipundi-pundikan sebagai seorang Dewi, dianggap tidak penuh sebagai seorang tolol!".

Revolusi dan penindasan terhadap perempuan

Bung Karno menyebut penindasan terhadap perempuan terjadi sejak revolusi yang dilakukan oleh laki-laki. Sehingga kemerdekaan perempuan sebagai manusia telah terenggut oleh ketidakadilan patriarki.

Dalam buku Sarinah, Bung Karno mencoba menjelaskan perubahan sosial yang berdampak kepada relasi antara perempuan dan laki-laki. Periodisasi ini bermula ketika manusia masih hidup dalam fase berburu, bercocok tanam, perdagangan, hingga industri.

Di mana masing-masing periode memiliki corak kultur masing-masing, adakalanya patriarki yang berjaya, kemudian disusul oleh matriarki dan lantas kembali diruntuhkan oleh patriarki secara besar-besaran.

Pada periode pertama, 100 persen peran perempuan ada di wilayah domestik. Tugasnya ada di tempat tinggal, karena alasan reproduksi, tidak mungkin mereka keluar berburu hewan, tidak mungkin berlarian berburu sedangkan dia membawa anak kecil.

“Lama sekali periode ini memunculkan kesengsaraan yang dalam bagi perempuan. Perempuan dalam rentang waktu yang lama tersubordinasi dibawah superioritas laki-laki. Namun lambat laun datanglah perubahan,” tulis Soekarno.

Periode kedua merupakan periode bercocok tanam. Pada periode ini perempuan sangat berjasa kepada kemanusian karena perempuan adalah mahkluk pertama yang menemukan ilmu bercocok tanam. Sebuah ilmu yang sampai sekarang jadi sumber penghidupan di muka bumi.

Perempuan menjadi induk kemajuan, mereka petani pertama, penggagas dibuatnya rumah sebagai tempat tinggal, di mana laki-laki masih berpindah-pindah. Perempuan dengan nalurinya melindungi keluarganya dari cuaca ekstrem dan serangan binatang buas.

Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi

Dalam perubahan cara hidup dan tatanan kemasyarakatan, budaya pertanian dan peternakan ini, pertama kali dalam sejarah dibuat hukum perkawinan dan keturunan. Perempuan lah, tulis Soekarno, yang menghadiahkan hukum untuk kemanusian.

“Pada periode ini perempuan berkuasa, menduduki dan mengendalikan masyarakat. Sedangkan laki-laki pada zaman itu, perumpamaannya seperti halnya masyarakat lebah,” jelasnya.

Tetapi, zaman selalu berjalan, zaman selalu beralih. Datanglah periode ketiga, laki-laki yang awalnya lebih nyaman berburu dan berkelana, kemudian malah memborong semua pekerjaan perempuan.

Pekerjaan bercocok tanam, mencangkul, menggembalakan ternak semua diborong oleh laki-laki. Perempuan tinggal di rumah mengurus keluarga, keluar ke lahan pertanian hanya sekadar membantu, bukan menjadi pekerjaan utamanya.

Akhirnya segala pusat berada di laki-laki. Hak keturunan dari ibu dihapuskan, diganti dengan hak keturunan dari ayah. Sarinah, kata Soekarno, yang dahulunya berkuasa dan berpengaruh, kini menjadi makhluk yang duduk di tingkatan kedua lagi.

“Kini bukan Sarinah yang menerima laki-laki, tetapi laki-laki yang menerima Sarinah. Kini perkawinan bukan berarti si laki-laki menghamba kepada perempuan, tetapi perempuan menghamba kepada laki-laki.”

Perempuan tiang negara

Frederich Angel menyebut kekalahan perempuan merupakan kekalahan paling besar dalam sejarah kemanusian. Revolusi kemudian terus terjadi untuk mempertahankan konsep matriarki lokal, seperti kisah Nusa Tembini, Dewi Rayung Wulan, atau Nyi Roro Kidul.

Karena berkuasanya patriarki, Soekarno melihat terjadinya ketidakadilan luar biasa terhadap perempuan. Misalnya dia menulis tentang zaman Isa ibnu Maryam dan Nabi Muhammad SAW. Di mana saat itu perempuan dalam posisi yang begitu tertindas.

Tetapi uniknya, jelas Soekarno, Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa tidak mengganti sistem matriarki, namun menjadikan sistem patriarki yang adil. Sebuah hukum patriarki yang tidak menzalimi perempuan.

“Yang mengingatkan dan mengajak perempuan untuk terlibat dalam pergerakan yang jauh lebih revolusioner,” bebernya.

Soekarno juga menyoroti periode evolusi dan revolusi dalam perempuan, fase pertama, saat zaman feodalisme menjadikan perempuan sebagai putri-putrian. Di mana kegiatan perempuan hanya mempercantik diri dan berkumpul-kumpul yang lebih mirip paguyuban.

Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi

Kemudian fase kedua, ketika zaman industrialisasi melahirkan gerakan feminisme. Aksi ini membuah hasil bahwa perempuan di Amerika bisa bersekolah di sekolah-sekolah yang sama dengan laki-laki. Tujuannya adalah persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

Tetapi menurut Soekarno, gerakan ini tidaklah cukup. Karena industrialisasi tidak hanya melahirkan keresahan kepada perempuan, tetapi juga kepada laki-laki. Hal ini, bagi Soekarno, merupakan masalah universal.

“Bukan waktunya lagi saling menyerang antara perempuan dan laki-laki, tetapi harus bersama-sama berjuang, bersama-sama saling bahu membahu, saling tolong menolong untuk satu tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan sosial dan keadilan sosial,” ungkapnya.

Karena itulah Soekarno mengaku selalu memberikan kursus-kursus kepada wanita. Baginya perempuan harus mengerti bahwa hanya sosialisme yang dapat menolong dia, oleh karenanya wanita harus ikut serta dalam penyelenggaraan perjuangan dengan cara sehebat-hebatnya.

Dalam buku ini, Soekarno berpendapat perempuan harus bertindak, perempuan harus berjuang. Tetapi tidak berarti wanita harus berusaha terpisah sama sekali dari pihak laki-laki. Wanita harus menjadi roda hebat dalam revolusi nasional, bersama dengan laki-laki

“Hai wanita-wanita Indonesia jadilah revolusioner, tiada kemenangan revolusioner jika tiada wanita revolusioner, dan jika tiada pedoman revolusionernya,” tegas Soekarno.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini