Munggahan dan Kuramasan, Tradisi Masyarakat Sunda Menyambut Ramadan

Munggahan dan Kuramasan, Tradisi Masyarakat Sunda Menyambut Ramadan
info gambar utama

Tak terasa dalam beberapa hari lagi, kita akan memasuki bulan suci Ramadan, momen yang ditunggu-tunggu umat Muslim di seluruh dunia. Selama sebulan penuh, umat Muslim akan berpuasa dan memperbanyak amalan untuk menyempurnakan ibadah.

Selain hal-hal terkait ibadah, suasana bulan Ramadan juga selalu dirindukan. Orang-orang biasa memanfaatkan momen untuk bersilaturahmi dengan berbuka puasa bersama dan tak lupa, kehadiran pasar kaget yang menjual menu-menu untuk berbuka puasa, yang bahkan jarang ditemukan pada hari biasa.

Dalam menyambut Ramadan, beberapa daerah di Indonesia juga punya tradisi khusus yang dilakukan secara turun-temurun. Meski bukan sesuatu yang diajarkan dalam agama, tradisi ini merupakan lambang sukacita, rasa syukur, silaturahmi, sekaligus pengharapan agar ibadah mereka dilancarkan.

Setiap daerah umumnya memiliki tradisi yang berbeda-beda. Untuk masyarakat Sunda, Jawa Barat, ada dua tradisi yang biasa dilakukan dalam menyambut Ramadan, yaitu kuramasan dan munggahan.

5 Merek Kurma Terbaik di Indonesia, Cocok untuk Hidangan Berbuka Puasa

Kuramasan

Dalam bahasa Sunda, kuramas berarti keramas atau mencuci rambut. Meski keramas sendiri memang dilakukan sehari-hari, tradisi kuramasan menjadi sesuatu yang turun-temurun dilakukan jelang Ramadan.

Tak hanya sekadar membersihkan rambut, kuramasan juga diartikan sebagai mandi besar atau mandi taubat untuk membersihkan diri secara keseluruhan dan bersiap untuk memasuki bulan suci.

Kuramasan biasa dilakukan sehari sebelum masuknya bulan Ramadan. Pada zaman dahulu, kuramasan dilakukan beramai-ramai di aliran sungai. Namun saat ini dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing mengingat tak semua orang memiliki akses ke sungai yang bersih di dekat tempat tinggalnya.

Sebagai bukti tradisi ini masih berlanjut bisa dilihat di kampung adat Miduana yang melaksanakan kuramasan di Sungai Cipandak, Cianjur. Menurut keterangan Wina Rezky Agustina, Ketua Lokatmala Foundation, dalam melaksanakan tradisi ini, sehari menjelang puasa warga sejak pagi hingga waktu zuhur mendatangi Sungai Cipandak, baik itu perseorangan maupun berkelompok.

"Sebelum prosesi mandi massal ini, warga adat memanjatkan niat dan doa yang dipimpin oleh pemimpin adat setempat lalu dengan tanpa harus membuka pakaian mereka turun ke Sungai Cipandak," kata Wina. Ia juga menjelaskan bahwa tradisi kuramasan ini memiliki sisi yang menarik, misalnya soal kesiapan mental dan spiritual warga dalam menyambut bulan suci.

"Dari tradisi mandi Kuramasan ini saja kita belajar tentang pentingnya membersihkan diri lahir batin, memulai sesuatu dengan niat yang baik dan persiapan yang paripurna, selalu memelihara kekompakan, serta peduli sesama," kata Wina.

Memiliki Durasi yang Berbeda, Inilah Waktu Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Munggahan

Ilustrasi munggahan | Wikimedia Commons
info gambar

Selain kuramasan, masyarakat Sunda juga biasanya melakukan munggahan. Dalam bahasa Sunda, unggah berarti naik, yang dimaknai sebagai naik ke bulan suci yang tinggi derajatnya. Tradisi ini terus dilakukan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur, membersihkan diri dari hal-hal buruk selama setahun ke belakang dan mengharapkan agar terhindari dari perbuataan kurang baik selama berpuasa.

Untuk kegiatan intinya adalah berkumpul dengan keluarga, teman, atau kerabat, kemudian makan bersama atau botram, saling bermaaf-maafan, dan berdoa bersama demi kelancaran ibadah puasa sebulan ke depan.

Munggahan sendiri bisa dilakukan sehari sampai seminggu sebelum memasuki Ramadan. Pelaksanaannya dapat dilakukan di rumah keluarga, di restoran, atau botram di tempat wisata sambil piknik. Ketika munggahan, menu makanan yang dihidangkan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Sebab initnya bukanlah bermewah-mewahan, tetapi momen kebersamaannya.

Menurut budayawan Sunda, Yus Rusyana, tradisi munggahan ini menunjukan bahwa bulan Ramadan sangat dihormati dan keberadaannya lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lain.

“Istilah munggahan itu asalnya dari kata unggah yang artinya melangkah ke tempat yang lebih tinggi, jadi ini menunjukan masyarakat Sunda memandang bahwa bulan puasa itu adalah lebih tinggi dari waktu-waktu biasa,” jelasnya.

Lebih lanjut Yus menjelaskan kondisi zaman dahulu, munggahan biasa diawali dengan ngadulag atau menabuh bedug. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa Ramadan segera tiba. Pada saat yang bersamaan, masyarakat Sunda juga mengamalkan sedekah munggah, yaitu sedekah yang dilakukan sehari sebelum bulan puasa. Kemudian, masyarakat juga biasa melakukan nadran atau nyadran, yaitu menemui sanak saudara dan membersihkan makam keluarga sambil memanjatkan doa.

Saat Azan Magrib, Buka Puasa atau Salat yang Diutamakan?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini