Kisah Para 'Samurai' yang Tinggalkan Matahari Terbit demi Rengkuh Merah Putih

Kisah Para 'Samurai' yang Tinggalkan Matahari Terbit demi Rengkuh Merah Putih
info gambar utama

Pada 15 Februari 1958, sebulan setelah hubungan diplomatik Indonesia-Jepang resmi dibuka, Presiden Soekarno melakukan lawatan kenegaraan ke Jepang. Di sana Bung Karno dijamu makan siang oleh Kaisar Hirohito di kediamannya.

Masih dalam rangkaian kunjungannya itu, Soekarno berjumpa kawan lama, Shigetada Nishijima, tangan kanan Laksamana Muda Tadashi Maeda. Bung Karno juga menyerahkan sebuah teks kepada Nishijima untuk disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Minato Ku, Tokyo.

Teks itu berisi kenangan Soekarno kepada dua orang Jepang yang membantu perjuangan Indonesia: Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomego. Di biara Buddha ini kemudian dibuat sebuah monumen Soekarno yang bertuliskan:

Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomago. Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958, Soekarno.”

Pada 9 Januari 1949, Ichiki Tatsuo menjemput ajal di Arjosari, desa di arah tenggara kota Malang, Jawa Timur. Ichiki atau lebih dikenal dengan nama Abdul Rachman ini menyambut tembakan prajurit Belanda untuk membangkitkan semangat kawan-kawan seperjuangan.

Mengenal B.M. Diah, Sosok Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

Disadur dari DetikX, dirinya mati pada usia 42 tahun dan dikuburkan di tengah hutan di lereng Gunung Semeru. Ichiki mati bukan untuk membela Kaisar Jepang atau bendera Hinomaru, tetapi dia mati untuk merah putih.

Ketika menemui ajal, Ichiki merupakan Wakil Komandan Pasukan Gerilya Istimewa setelah Perang Dunia II usai. Anggota pasukan ini merupakan prajurit-prajurit Jepang yang membelot ke pihak Indonesia.

“Komandan Pasukan Gerilya Istimewa adalah ‘Arif’ Tomegoro Yoshizumi, mantan intel di kesatuan tentara Jepang.” tulis artikel berjudul Tinggalkan Hinomaru, Rengkuh Merah Putih.

Selain Ichiki, di antara prajurit Jepang memang ada yang membelot ke Indonesia, yaitu Arif Yoshizumi Tomegoro dan Rahmat Shigeru Ono. Nama Arif diberikan oleh pemimpin pergerakan Tan Malaka kepada Yoshizumi.

Arif Yoshizumi merupakan mantan intel Angkatan Laut. Dia meninggal pada 10 Agustus 1948 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Blitar, Jawa Timur. Sedangkan Rahmat walau berbadan kecil, berhasil diterima sebagai prajurit pasukan Kekaisaran Jepang.

Meski kehilangan tangan dalam perang kemerdekaan, Rahmat tak pernah menyesal membelot ke Indonesia. ‘Samurai’ terakhir ini meninggal pada Agustus 2014 lalu, lantas dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Batu, Jawa Timur.

Samurai yang terikat dengan Indonesia

Ichiki lahir dan tumbuh besar di Jepang, tetapi dirinya telah mengenal lama dan jatuh cinta kepada Indonesia. Jauh sebelum Perang Dunia II, dirinya sudah tinggal lama di Indonesia, bahkan menikah dengan seorang gadis dari Sumedang, Jawa Barat (Jabar).

Ichiki lahir dari keluarga samurai miskin, tetapi memiliki mimpi besar mengangkat kembali nama keluarganya. Pada 1928, dia memutuskan untuk merantau jauh ke selatan untuk mengejar mimpinya.

Dirinya pertama kali tiba di Palembang, ada teman sekampungnya Miyahata Seiichi sudah lebih dahulu merantau. Di Palembang, temannya itu memiliki studio yang lumayan besar, Ichiki kemudian menjadi fotografernya.

Keinginannya untuk memiliki studio sendiri pupus, Ichiki lantas pindah ke Bandung. Namun, hidupnya di Bandung juga tetap sulit. Saking miskinnya, Ichiki sempat menumpang tinggal di satu rumah di Sumedang.

Di rumah ini Ichiki bertemu Itje, gadis pemilik rumah itu yang lantas dirinya nikahi. Dari sinilah, dirinya menyaksikan kemiskinan di Hindia Belanda. Hal yang lantas membuatnya makin terikat dengan negeri yang jauh di selatan itu.

Ichiki merasa senasib sependeritaan dengan para tetangganya. Kebencian kepada pemerintah penjajah Hindia Belanda makin kuat. Sikap Ichiki ini tercermin dari tulisan-tulisan di koran Toindo Nippo dan beberapa koran lain.

Makna Weton hingga Kisah Mistik Soekarno Pilih Proklamasi pada 17 Agustus

Sama seperti Ichiki, Rahmat Shigeru lahir dari keluarga petani asal Furano, kota kecil di sisi utara Pulau Hokkaido, pada 1919. Orang tuanya memberinya nama Sakari Ono. Sedangkan Arif Tomegoro Yoshizuma lahir tahun 1911 di Oizumi-Mura Nishitagawa , Prefektur Yamagata, Jepang.

Sakari menjadi bagian dari tentara Jepang yang dikirim ke negara-negara selatan untuk mencari sumber daya penyokong perang. Pada 1942, bersama gelombang besar tentara Jepang, Sakari mendarat di Pulau Jawa.

Di Indonesia, dirinya bergabung dengan kelompok kecil prajurit Jepang yang ditugaskan di luar kota Cilacap, Jawa Tengah. Kedatangan mereka disambut penduduk lokal yang menyangka pasukan Jepang akan membebaskan mereka dari Belanda, hal yang kita tahu keliru besar.

Jepang hanya bertahan kurang dari tiga setengah tahun di Indonesia. Bom atom dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki. Empat bulan setelah kekalahan Jepang, Sakari dan dua temannya memilih menggabungkan diri dengan tentara Indonesia.

Sedangkan Yoshizumi pertama kali masuk ke Pulau Jawa sebagai mata-mata militer Jepang pada tahun 1932. Dia sempat menyamar sebagai saudagar yang namanya cukup terkenal dari Jepang, Sudah dua kali dirinya kembali ke Jawa.

Sejarawan Harry A Poeze menyebut Kaigun Bukanfu Daisangka yang dipimpin Yoshizumi memang terkenal sangat bersimpati dengan kaum nasionalis kiri Indonesia. Berkali-kali kantor Kaigun Bukanfu digunakan sebagai tempat berlindung orang Indonesia dari pengejaran tentara Jepang.

Berjuang demi merah putih

Ichiki sempat pulang ke Jepang pada akhir 1930 an, tetapi dia tidak bisa kembali lagi ke Bandung karena gerak–geriknya dicurigai pemerintah Hindia Belanda. Baru beberapa tahun setelah Kekaisaran Jepang mengusir Belanda, dirinya bisa kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Ichiki sempat bekerja di Departemen Pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Di PETA dia berkenalan dengan tokoh pergerakan Haji Agus Salim. Dari Agus Salim pula nama Abdul Rahman disematkan kepadanya.

Ichiki sempat percaya Jepang akan membantu Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda. Namun makin lama, harapannya makin tipis, hingga sirna. Dirinya kecewa barat, karena itulah dirinya tidak ikut pulang ketika Jepang kalah perang.

“..Dia melepas kewarganegaraannya sebagai protes atas pemerintah Jepang yang mengingkari janjinya membantu persiapan kemerdekaan Indonesia,” tulis Kenichi Goto di jurnal Indonesia pada Oktober 1976.

Sementara Sakari juga begitu marah mengingat janji Jepang memerdekakan Indonesia. Karena itulah dirinya bersama dua temannya menemui Kapten Sugono. Komandan Polisi Militer di Bandung. Tidak disangka, mereka diterima dengan tangan terbuka.

Sejak hari itu, dia dan teman-temannya ikut bertempur mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tugas pertama bagi Sakari dan prajurit-prajurit Jepang yang membelot ke Indonesia adalah melatih pemuda-pemuda cara menggunakan senjata dan berperang.

Peran Radio dalam Menggelorakan Semangat Proklamasi Kemerdekaan

Di Yogyakarta, dirinya bertemu dengan seniornya, Tatsuo Ichiki alias Abdul Rahman. Di sana, mereka berdiskusi yang menurutnya semakin membulatkan tekadnya untuk membantu Indonesia lepas dari penjajahan Belanda.

Beberapa mantan prajurit Jepang diberikan tugas untuk merangkum buku taktik perang Jepang dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Usai dengan buku taktik perang, mereka diminta mengajar di sekolah intelijen.

Atas usul Kolonel Sungkono, para mantan prajurit Jepang ini dikumpulkan menjadi satu kesatuan sendiri yakni Pasukan Gerilya Istimewa dengan komandan Arif Yoshizumi Tomegoro dengan wakilnya Tatsuo Ichiki.

Tugas mereka menghadang tentara Belanda di sepanjang jalur Malang-Lumajang. Berkali-kali mereka terlibat pertempuran sengit melawan tentara Belanda. Salah satunya pertempuran di Arjosari yang merenggut nyawa Ichiki.

Ketika memimpin Pasukan Gerilya Istimewa, Yoshizumi akhirnya gugur di Hutan Sengon Wlingi, Blitar tahun 1948. Sementara itu pada tahun 1950, Sakari memutuskan pensiun dari tentara dan berkeluarga.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini