Simbol Dewi Sri dan Konsep Perempuan Sebagai Penjaga Kelestarian Bumi

Simbol Dewi Sri dan Konsep Perempuan Sebagai Penjaga Kelestarian Bumi
info gambar utama

Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan kaum perempuan tentang kesetaraan hak melalui pemikiran-pemikiran yang dituangkan dalam surat-suratnya.

Sementara itu perempuan dan lingkungan hidup adalah sebuah perpaduan harmonis yang tidak dapat dipisahkan. Perempuan memiliki peran sebagai pengelola rumah tangga seringkali memanfaatkan alam sebagai elemen pemenuhan kebutuhan hidup.

Mengingat begitu pentingnya keberadaan alam bagi kehidupan keluarga, maka kaum perempuan berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam. Simbol perempuan sebagai penjaga keseimbangan alam pun telah dikenal dalam kosmologi dunia Timur.

Di Indonesia, wujud memuliakan alam semesta banyak disimbolkan pada dewi, salah satunya adalah Dewi Sri. Sosok ini dimuliakan sebagai simbol kemakmuran. Refleksi dari wujud memuliakan alam semesta terukir di berbagai tempat.

Misalnya yang ada di candi-candi Hindu-Buddha bernama pohon hayat (pohon kehidupan) yang menggambarkan alam kedewataan dan lambang kemakmuran dan semesta. Pohon hayat sering tumbuh di pinggiran pantai, yang memberikan kesejukan, tumbuh sebagai pohon kalpataru.

Deretan Tokoh Perempuan Inspiratif yang Majukan Dunia Pers Indonesia

“Maka pemerintahan kita memaknai kalpataru kepada individu atau kelompok yang menghijaukan lahan kritis sebagai simbol penghargaan,” jelas Fikri Muhammad dalam Dewi Sri, Sosok Perempuan Sebagai Penjaga Kemakmuran Alam Semesta.

Fikri juga melihat simbol ibu pertiwi dalam Candi Prambanan. Mereka terdapat dalam Trimurti, yakni Brahma, Wisnu, Siwa. Masing-masing Trimurti memiliki Sakti. Diantaranya ada Dewi Saraswati (kuasa pencipta), Dewi Parwati (kuasa pemralina), dan Sri/Laksmi (kuasa pemelihara/kemakmuran).

Di Bali terdapat budaya Nyegara-Gunung. Gunung menggambarkan angkasa dan laut sebagai buminya atau ibu. Hal ini jelas guru besar ISI Yogyakarta, I Wayan Dana sebagai dualitas berpasangan, serta kedaulatan pangan yang terwujud.

Suburnya pepohonan adalah sebagai wujud budaya peladang. Di mana gunung dan ladang terawat, di sana jelas Wayan, terdeia polo bungkah-polo gantung (tumbuhan maupun pepohonan) hidup sebagai bukti kedaulatan pangan dan implementasi pelestarian alam.

Di Jawa Barat, ada upacara seren taun Sunda Wiwitan. Menempatkan padi sebagai alat atau media utama sejak awal hingga akhir pertunjukan, mempertemukan padi lanang wadon sebagai benih pertanian.

Pertunjukan ritual juga dilakukan sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan hormat kepada Nyi Pohaci Sang Hyang Sri. Bumi yang dipercaya sebagai lambang ibu pertiwi, penghasil berbagai tanaman kehidupan.

“Di mana perempuan dihormati, di situ ada kemakmuran,” kata Wayan.

Kartini dan gerakan lingkungan

Perempuan dianggap sebagai pemelihara alam yang memiliki kemampuan dalam memproduksi kehidupan. Pada kemampuan kaum perempuanlah prinsip lestari dan keberlanjutan bisa diwujudkan.

Kegiatan perempuan dalam menyediakan pangan sebagai produksi kehidupan dan hubungan yang benar-benar produktif dengan alam, Perempuan tidak hanya mengumpulkan apa yang tumbuh di alam, tetapi mereka membuat segala sesuatu menjadi tumbuh.

Perempuan juga menjadi pelopor dalam membangun kehidupan. Mereka adalah produsen nafkah kehidupan dan penemu ekonomi produktif yang pertama. Hal yang selanjutnya menjadi awal penciptaan hubungan-hubungan sosial, yakni masyarakat dan sejarah.

“Pada kepeloporannya, kaum perempuan adalah pelaku dalam membangun peradaban umat manusia selama ribuan tahun lamanya,” jelas Maria Mies.

Namun kemampuan perempuan dalam produktivitas mengelola kehidupan mengalami patahan yang cukup tajam karena lahirnya kapitalisme modern. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai pelaku aktif dalam memproduksi ekonomi.

Sementara itu, kapitalisme yang mengeksplorasi alam hanya untuk kepentingan laba telah menimbulkan kerusakan lingkungan. Kondisi ini, biasanya menjadikan perempuan sebagai kelompok yang paling rentan menjadi korban.

Karena itu tidak heran banyak pejuang lingkungan di Indonesia adalah perempuan. Misalnya saja Yaya Nur Hidayati yang memimpin Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) atau Rukka Sombolinggi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Gisela Agrippina, Kartini Modern dengan Profesi Menantang

Ada juga ibu-ibu Rembang, Jawa Tengah dalam mempertahankan ‘rahim’ mereka dari amuk kapital yang semakin brutal. Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih adalah rahim bagi perempuan-perempuan pegunungan Kendeng yang senantiasa memberikan mereka kehidupan.

Karena itu tidak heran, ibu-ibu Rembang ini memiliki keberanian untuk menyemen kaki mereka di depan Istana sebagai simbol keterpasungan dari eksploitasi sumber daya alam yang terjadi kepada tanah leluhur mereka.

Di Minahasa Utara, ada juga sosok Dian F Takumansang yang menjaga pulau kecilnya dari ancaman tambang bijih besi dan pembangunan peleburan baja. Dirinya mengkoordinasi mama-mama di wilayah Desa Kahuku dalam penolakan tambang PT Mikgro Metal Perdana (MMP).

Mama Dian, panggilan akrabnya, menyatakan saat pertama kali kepala rumah tangga Desa Kahuku berusaha menghadang kapal perusahaan, dia tidak berani berbuat banyak. Namun karena banyak warga yang dibui, terutama laki-laki, mama-mama akhirnya bergerak menjadi terdepan dalam menolak tambang.

Melihat besarnya pengaruh perempuan dalam gerakan lingkungan, tentunya sangat aneh bila ada pejabat ataupun warganet yang masih menerka-nerka aktor di balik suksesnya gerakan perempuan.

“Seolah-olah perempuan hanya bisa menjadi korban dan tidak mungkin melakukan kegiatan penyelamatan lingkungan yang signifikan,” ucap Rika Nova dalam Mamak-mamak Penyelamat Bumi.

Perempuan sebagai simbol bumi

Pada pandangan Barat (pasca-era pencerahan dan revolusi industri), memposisikan alam dan manusia secara terpisah bahkan salah satunya mendominasi. Hal ini menjadi awal dari kerusakan alam pada masa modern.

Hal ini berbeda dengan kosmologi dunia Timur yang menempatkan Bumi sebagai perwujudan Ibu Pertiwi. Simbolisasi ini menempatkan kedudukan bumi sebagai kerahiman yang penuh kasih. Dia menjadi pelindung bagi segenap isinya termasuk manusia.

Bumi dalam pandangan kosmologi Timur dipahami berdasarkan prinsip feminin, di mana adanya suatu hubungan antara prakriti (alam) dan purusha (manusia). Hubungan antara keduanya saling memelihara dan bukannya terpisah.

Pada penggunaan dan sistem pengolahan lahan, masyarakat lokal sangat berakar pada prinsip-prinsip feminim. Bahwa perempuan dan alam adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan.

Karena itu krisis lingkungan yang terjadi pada saat ini tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan penguasaan sumber daya alam yang dikuasai oleh korporasi. Apalagi ini diperparah dengan sama sekali tidak adanya sisi pandang perempuan.

Khalisah Khalid dalam Candraningrum menyebut perempuan selalu ditempatkan sebagai kelompok yang tidak berdaya, tidak punya pengetahuan. Pengetahuan perempuan tentang tubuh dan hubungannya dengan kekayaan alam dianggap tidak ada.

Perjuangan Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa

Karena itu baginya pengarusutamaan peran perempuan dalam memulihkan krisis adalah modal sosial ekologi yang penting untuk terus dilakukan dan ditumbuhkan. Baginya, inisiatif dan gerakan perempuan akan mengatasi kerentanan yang dialami oleh perempuan.

Misalnya peran perempuan Dayak Mali dalam menjaga alam mereka yang ibarat ibu merawat anak. Terdapat ikatan psikologis yang kuat antara perempuan dan alam, di mana adat dan budaya lama masih dipertahankan hingga zaman modern.

Tradisi ini menyelamatkan sekitar 7.269 hektare tanah adat. Pemanfaatan yang mereka lakukan masih dengan cara tradisional dan tidak merusak keseimbangan ekologi. Hal ini tentu melindungi Kalimantan Barat yang memiliki potensi hutan yang sangat besar.

“Tradisi seperti ini, secara tidak langsung menjaga keseimbangan ekosistem alam; manusia menghormati alam, menjaga hubungan baik dengan alam. Maka, tak dapat dimungkiri tradisi merupakan konsep perlindungan hutan paling sederhana,” ucap Kiswanto dalam Perempuan Penjaga Bumi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini