Memahami Fenomena Suhu Panas Terik yang Melanda Indonesia

Memahami Fenomena Suhu Panas Terik yang Melanda Indonesia
info gambar utama

Beberapa hari belakangan, masyarakat Indonesia di berbagai wilayah mengeluhkan situasi cuaca yang tidak bersahabat, lebih tepatnya cuaca panas kelewat ekstrem yang membuat banyak orang merasa kurang nyaman.

Mulai terasa di waktu pagi menjelang siang, cuaca dan suhu panas tinggi dan diikuti dengan sinar matahari yang terik disebutkan kian mencapai puncaknya saat sudah mencapai tengah hari, dan diibaratkan tepat saat matahari berada di atas langit kepala.

Saking dirasa berbeda dari cuaca panas biasanya, banyak beberapa masyarakat yang menduga bahwa kondisi yang sedang terjadi merupakan fenomena gelombang panas, atau heat wave. Namun, anggapan tersebut ditepis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selaku pihak yang memang memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Menurut BMKG, apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini bukanlah gelombang panas, melainkan suhu panas atau terik akibat siklus tahunan posisi matahari.

Serupa tapi Tak Sama, Ini Bedanya PVMBG dan BMKG

Indikasi memasuki musim kemarau

Dalam keterangan resmi yang disebar oleh BMKG pada hari Senin (9/5/2022), tercatat jika selama tanggal 1-7 Mei 2022, suhu maksimum terukur berkisar antara 33 sampai 36,1 derajat celsius, dengan suhu maksimum tertinggi mencapai 36,1 derajat celsius yang terjadi di wilayah Tangerang-Banten, dan Kalimarau-Kalimantan Utara.

Ya, tidak hanya di Jabodetabek atau kota-kota di Pulau Jawa yang biasanya terkenal dengan cuaca serta suhu yang sejuk, fenomena suhu panas atau terik nyatanya juga terjadi di berbagai kota lain.

Meski begitu Guswanto selaku Deputi Bidang Meteorologi menjelaskan, jika sejauh ini catatan suhu tersebut masih di bawah rekor suhu terpanas yang pernah dialami Indonesia, pada kisaran tahun 2019 lalu.

"Suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada bulan April selama 4-5 tahun terakhir sekitar 38.8 derajat celsius di Palembang pada tahun 2019, sedangkan di bulan Mei sekitar 38.8 derajat celsius di Temindung, Samarinda pada tahun 2018," terang Guswanto, mengutip Tirto.

Dijelaskan jika hawa panas yang terjadi disebabkan oleh dua faktor akibat siklus tahunan yang terjadi pada posisi matahari saat ini. Dua faktor yang dimaksud yakni posisi matahari yang sudah berada di wilayah utara garis ekuator, dan cuaca cerah tanpa awan yang mendominasi.

Lebih detail terkait posisi semu matahari yang berada di wilayah utara ekuator, hal tersebut rupanya menunjukkan indikasi jika Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau. Hal tersebut juga yang membuat tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujan akan sangat berkurang.

Kedua, karena kurangnya tingkat perawanan yang biasa menghalangi keberadaan matahari, membuat pancaran sinar pusat tata surya tersebut diterima secara maksimal oleh permukaan bumi, dan suhu yang dirasakan menjadi sangat tinggi atau panas.

Suhu Dingin Ketika Kemarau Ternyata Ada "Jadwalnya" dari Dulu

Bukan gelombang panas

Ilustrasi cuaca panas
info gambar

Masih berdasarkan keterangan yang sama, Guswanto juga memastikan jika apa yang terjadi di Indonesia bukanlah gelombang panas atau heat wave. Dirinya menjabarkan soal perbedaan perubahan suhu yang terjadi secara berkepanjangan tanpa henti pada fenomena gelombang panas, dan faktor penyebab antara keduanya.

heatwave merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama lima hari atau lebih secara berturut-turut, di mana suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5 derajat celsius atau lebih,” paparnya.

Lain itu, Guswanto juga menjelaskan jika berbeda dengan suhu panas di Indonesia yang berhubungan dengan posisi matahari di garis utara ekuator, gelombang panas biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti Eropa dan Amerika, yang dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah.

Di saat bersamaan, jika menilik riwayat atau rekor catatan suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia, nyatanya tidak menutup kemungkinan jika suhu yang sama seperti rekor sebelumnya atau bahkan lebih tinggi bisa saja terjadi.

Pasalnya, BMKG juga mengonfirmasi jika kondisi hawa atau suhu panas masih akan berlangsung hingga pertengahan bulan Mei ini. Berangkat dari kondisi tersebut, masyarakat juga diimbau agar mewaspadai kondisi cuaca sementara ini, dengan menjaga kondisi tubuh.

“BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh terutama bagi warga yang beraktifitas di luar ruangan pada siang hari, dan juga kepada warga yang akan melaksanakan perjalanan mudik atau mudik balik supaya tidak terjadi dehidrasi, kelelahan dan dampak buruk lainnya," ujar Guswanto.

5 Es Segar Asli Indonesia Ini Cocok Diminum Saat Cuaca Panas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini