Peternakan Indonesia Kembali Dilanda PMK Setelah 3 Dekade, Apa Bahayanya?

Peternakan Indonesia Kembali Dilanda PMK Setelah 3 Dekade, Apa Bahayanya?
info gambar utama

Peternakan merupakan salah satu bagian penting dalam hal pemenuhan pangan bagi kehidupan. Hasil turunan dari ragam hewan ternak baik sapi, kambing, dan sejenisnya, berupa daging atau susu memegang peran besar dalam pemenuhan kebutuhan protein bagi manusia.

Menjalankan kegiatan ternak bukan hal mudah, menjaga kualitas hewan ternak yang dikelola memiliki banyak hal yang harus diwaspadai, salah satunya penyakit pada hewan yang biasanya memengaruhi hasil ternak, dan selanjutnya akan berdampak pada kesehatan manusia saat dikonsumsi.

Belakangan ini, bidang ternak di Indonesia sedang mengalami permasalahan kesehatan yang menyita perhatian, karena muncul kekhawatiran dapat membahayakan manusia. Terjadi secara meluas, penyakit yang dimaksud bahkan dilaporkan sudah terjadi di beberapa wilayah, yakni penyakit PMK.

Success Story Pembebasan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia

Tentang PMK

Ciri ternak yang terjangkit PMK (mulut berlendir)
info gambar

Penyakit mulut dan kuku (PMK), adalah salah satu jenis penyakit pada hewan ternak yang belakangan sedang menjadi perbincangan dan banyak diberitakan. Mengutip BBC Indonesia, kasus PMK kali ini pertama terdeteksi di Gresik, Jawa Timur, pada tanggal 28 April 2022 lalu, dan telah mengalami peningkatan kasus rata-rata dua kali lipat setiap harinya.

Hal ini jelas langsung menjadi perhatian, karena pasalnya Indonesia dikenal sebagai negara yang telah berhasil menangani permasalahan PMK selama lebih dari tiga dekade, tepatnya sejak tahun 1986. PMK sendiri bukanlah kondisi biasa, penyakit ini bersifat menular dan memiliki gejala berupa luka di bagian mulut dan kuku pada hewan berkuku genap, terutama sapi dan kambing.

Penyakit ini cukup ditakuti di dunia, karena biasanya penanganan akhir dari terjangkitnya hewan ternak dengan penyakit ini akan berujung dengan pemusnahan massal. Seperti yang terjadi di Inggris pada tahun 2001 silam, PMK menyebabkan dimusnahkannya 6 miliar sapi dan babi di negara tersebut.

Disebabkan oleh virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, genus Apthovirus, yang memiliki masa inkubasi antara 2-14 hari. Sama seperti penyakit yang disebabkan oleh virus pada manusia, PMK juga bisa menular antar hewan ternak.

Penularannya dapat terjadi dengan cara kontak tidak langsung atau langsung, melalui droplet, leleran cairan hidung, dan serpihan kulit pada hewan yang terinfeksi virus. Dampak yang ditimbulkan, hewan yang terjangkit virus ini akan mengalami penurunan berat badan, dan kematian pada individu anakan hewan ternak.

Bicara mengenai gejalanya, hewan ternak misalnya sapi yang terjangkit PMK diketahui akan mengalami demam hingga 41 derajat celsius, tidak nafsu makan, menggigil, dan produksi susu berkurang drastis. Sapi yang terinfeksi penyakit ini juga menunjukkan tanda-tanda tidak biasa seperti menggosokkan bibir, menggertakan gigi, dan mengeluarkan liur.

Lain itu pada beberapa kondisi, sapi yang terinfeksi PMK kerap mengalami pincang dan kesulitan untuk berdiri karena adanya luka pada kaki, dan berakhir dengan kuku yang lepas.

Jelas, selain kesehatan hewan ternak dampak lain yang ditimbulkan adalah kerugian sangat besar dari segi materi bagi peternak. Yang menjadi pertanyaan tak kalah penting adalah, apa bahayanya jika daging dari hewan ternak yang mengalami PMK dikonsumsi oleh manusia?

Mengenal Jenis Sapi Kurban yang Ada di Indonesia

Jadi perdebatan

Profesor Wasito selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, menyebut jika ada tiga kasus dokter yang kemungkinan besar tertular PMK, akibat mengonsumsi susu dari sapi ternak yang menderita penyakit tersebut. Dirinya juga menyinggung mengenai kondisi serupa yang pernah terjadi di Inggris pada tahun 1966.

"Dengan gejala klinis yang sama dengan sapi. Kecuali, pada manusia tidak keluar air ludah yang terus menerus. Tapi gejala yang lain sama, ada lepuh-lepuh pada mulut, kemudian bagian lidah, kemudian pada kaki.” terangnya.

Sementara menilik penjelasan resmi yang disampaikan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), disebutkan bahwa PMK pada hewan ternak tidak menular ke manusia.

Bersamaan dengan menyebarnya kasus PMK yang terjadi di Indonesia baru-baru ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga memastikan jika PMK tidak membahayakan dan minim penularan bagi manusia.

"Khusus untuk virus mulut dan kuku ini memang adanya di hewan yang berkuku dua, jadi sangat jarang yang loncat ke manusia,” jelas Budi, pada konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (9/5).

Peternakan Tapos dan Cita-Cita Soeharto agar Indonesia Swasembada Sapi

Kondisi saat ini dan solusi yang dilakukan

Peninjauan hewan ternak yang terjangkit PMK
info gambar

Sejauh ini, disebutkan jika PMK sudah terdeteksi di enam wilayah Indonesia yakni Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, Provinsi Aceh. Juga di Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Lamongan dan Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.

Menanggapi kejadian ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo disebut sudah membentuk gugus tugas untuk menyelesaikan permasalahan PMK. Pihaknya juga mengatakan sudah memiliki tiga agenda dalam penanganan PMK di Indonesia.

Agenda pertama adalah agenda temporary, dengan pengadaan vaksin darurat dan pembatasan lalu lintas hewan serta produk hewan.

"Kami juga menyiapkan agenda SOS, seperti melakukan pemusnahan terbatas ternak yang terkonfirmasi positif PMK, pemberlakuan lockdown zona wabah pada tingkat kecamatan/kabupaten di setiap wilayah, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait SOP pencegahan dan pengendalian PMK," tambahnya, menjelaskan agenda kedua.

Sementara itu untuk agenda ketiga yang menjadi upaya permanen, pihaknya mendorong pembuatan vaksin oleh Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), vaksinasi massal, dan surveilans atau pengamatan secara rutin.

Mentan Syahrul juga menyebut, jika sejauh ini hewan ternak penderita PMK yang sudah ditangani dengan pemberian vitamin, obat, dan vaksin, sudah mulai menunjukkan pemulihan yang baik di sejumlah wilayah.

“Alhamdulillah pemberian kita dalam bentuk vitamin, obat dan penurun suhu hasilnya jauh lebih baik. yang tadinya tidak bisa berdiri, sekarang membaik dan yang melernya banyak sudah sangat baik. disinfektan juga sudah kita lakukan di kandang dan area pemeliharaan," pungkas Mentan Syahrul.

Memajukan dan Menyejahterakan Peternak, Ini Dia 5 Startup Peternakan di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini