Mengintip Prototipe Kendaraan Berbahan Bakar Hidrogen Garapan BRIN

Mengintip Prototipe Kendaraan Berbahan Bakar Hidrogen Garapan BRIN
info gambar utama

Pada pertengahan Mei lalu bahkan hingga saat ini, keberadaan alat Nikuba yang disebut dapat mengubah air menjadi bahan bakar masih menjadi bahan perbincangan bagi segelintir kalangan di Indonesia.

Secara ringkas meski ‘pembuatnya’ mengeklaim jika alat tersebut dapat berfungsi sebagai penghasil bahan bakar dari air, namun sejumlah ahli memastikan jika yang dimaksud sebagai bahan bakar adalah hidrogen hasil proses elektrolisis.

Sehingga alih-alih repot menyertakan alat tersebut untuk menghasilkan hidrogen sebagai bahan bakar, kendaraan atau dalam hal ini mobil yang jenisnya langsung berbahan bakar hidrogen tentu lebih masuk akal menjadi pilihan.

Namun nyatanya, di bidang otomotif sendiri kendaraan berbahan bakar hidrogen masih belum dikembangkan secara massal. Hal tersebut lantaran masih adanya sejumlah kekurangan terutama dalam hal efisiensi dan keamanan.

Namun di samping itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) rupanya sejak lama telah mengembangkan bahan bakar hidrogen yang dapat diaplikasikan pada kendaraan. Bagaimana rupanya?

Perdebatan Nikuba dan Pemahaman Bahan Bakar Hidrogen, Bukan Air

Dikembangkan sejak tahun 2003

Mobil dengan konsep bahan bakar hidrogen garapan BRIN
info gambar

Eniya Listiani Dewi, adalah Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN, yang diketahui sudah mulai mengembangkan konsep ini sejak tahun 2003.

Mengutip penjelasan pada laman resmi, disebutkan bahwa pengembangan ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menekan emisi terhadap lingkungan, sebagai alternatif jawaban di samping kehadiran kendaraan listrik.

Eniya sebenarnya diketahui sudah memulai penelitian dan pengembangan ini tepat setelah dirinya memperoleh gelar Doktor. Lebih detail, proses itu ia lakukan dengan mengubah senyawa hidrogen menjadi listrik melalui proses elektrokimia yaitu transfer elektron.

Terbaru dalam dua tahun ke belakang, ia bersama timnya disebut sudah mengembangkan mobil berbahan bakar hidrogen dengan kapasitas 1 kW dan 2,5 kW.

“Saat ini riset saya lebih ke arah green hydrogen. Selain bisa didapat dari sel surya dan turbin angin, juga bisa menggunakan listrik dari surplus listrik PLN terutama di Jawa-Bali, yang bisa digunakan untuk mengelektrolisa air menghasilkan hidrogen,” paparnya.

Karena pengembangan yang dilakukan lebih kepada konsep bahan bakar, dalam hal kendaraannya sendiri ia menggunakan basis mobil golf yang kemudian dilakukan penukaran mesin berbasis fuel cell, dengan spesifikasi 2,5kW PEMFC, dan motor penggerak 48VDC/3,7 kW.

Lain itu, mobil tersebut juga dipakaikan photo voltaic 200Wp dan Lithium Battery 48V/80Ah. Sehingga tak hanya digerakkan oleh hidrogen, namun juga mengandalkan baterai dengan daya yang di-charge oleh photo voltaic.

“Jadi sudah dari awal ya kita membuat pemanfaatan hidrogen, mengkonversi hidrogen dengan oksigen menjadi air untuk menghasilkan listrik. Itu penelitian mengenai sel bahan bakar atau fuel cell, atau sel tunam bahasanya,” jelas Eniya, mengutip Uzone.id.

Mengintip Mobil Listrik Otonom Garapan BRIN

Kelebihan dan kekurangan

Seperti yang telah GNFI bahas sebelumnya, praktik kendaraan berbahan bakar hidrogen sendiri saat ini masih dilakukan secara terbatas, dan masih jauh bila dibandingkan dengan kendaraan listrik. Hal tersebut lantaran infrastruktur atau sistem transmisi kendaraan listrik sudah jauh lebih banyak tersedia di seluruh dunia.

Sedangkan bagi bahan bakar hidrogen, untuk saat ini sendiri masih dikembangkan infrastruktur perpipaan aliran hidrogen sebagai bahan bakar dalam mesin, dalam lingkup yang terbatas.

Hal tersebut juga senada dengan yang diungkapkan oleh Eniya. Meski begitu, ia mengungkap jika sebenarnya penggunaan bahan bakar hidrogen memiliki peluang dan sejumlah keuntungan.

Beberapa keuntungan yang dimaksud di antaranya minim perawatan, jangkauan berkendara lebih jauh, tidak membutuhkan waktu pengecasan berjam-jam seperti kendaraan listrik, dan bobot yang jauh lebih ringan ketimbang kendaraan listrik dengan sel baterai.

Meski begitu, untuk saat ini masih ada kekurangan atau lebih tepatnya risiko yang masih menjadi permasalahan, sehingga membuat kendaraan berbahan bakar hidrogen belum bisa diandalkan menjadi transportasi massal. Risiko yang dimaksud adalah bocornya berbagai komponen yang dapat memicu ledakan, seperti kompresor atau tabung yang menampung hidrogen dalam bentuk gas.

“Di jepang pun kompresornya pernah meledak, bukan tabungnya,” ungkap Eniya.

Sementara itu untuk prototipe garapan BRIN sendiri, Eniya mengaku sudah melakukan berulang kali percobaan dalam menguji keamanan komponen hidrogen yang ada. Uji coba tersebut dilakukan dengan menggunakan peluru yang ditembakkan ke tabung. Dan seperti yang diharapkan, hasilnya tabung tidak meledak.

Sebelum mobil, Eniya juga mengungkap jika sebelumnya BRIN pernah mengembangkan bahan bakar hidrogen yang diaplikasikan pada sepeda motor di tahun 2012. Sementara itu jika bicara mengenai industri otomotif yang lebih luas dalam bentuk mobil, kendaraan berbahan bakar hidrogen sendiri sudah dimunculkan oleh Toyota lewat Toyota Mirai.

Lain itu juga ada Hyundai Nexo yang pada kisaran April lalu melakukan recall karena adanya masalah kebocoran hidrogen, atau Honda Clarity yang mengakhiri produksinya pada tahun 2021.

Indonesia 2050: Kendaraan Listrik, dan Ambisi Besar Nol Emisi Karbon

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini