Jejak Mangrove yang Memengaruhi Peradaban Bangsa Nusantara

Jejak Mangrove yang Memengaruhi Peradaban Bangsa Nusantara
info gambar utama

Tanaman bakau (mangrove) adalah salah satu jenis tumbuhan yang memiliki segudang khasiat. Selain sebagai pelindung dari bencana abrasi, mangrove juga bisa menyerap karbondioksida dan jadi karbon biru yang sedang menggema di seluruh dunia.

Mangrove ini juga tak terpisahkan dari peradaban manusia yang hidup dari zaman sebelum masehi (SM) hingga sekarang. Bahkan keberadaan tanaman mangrove ini sangat penting untuk bangsa Nusantara.

Etnobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ary Prihardyanto Keim menjelaskan bahwa mangrove memiliki pusat keragaman jenis di Indonesia yang dikenal sebagai negara tropis.

Bangsa Nusantara pada masa lalu terdiri dari bangsa Austronesia yang memiliki cangkupan wilayah sangat luas. Cangkupan wilayah Austronesia membentang dari Pulau Madagaskar, Afrika di bagian barat hingga Pulau Paskah di tengah Samudra Pasifik di bagian timur.

Bangsa Austronesia juga diketahui sebagai bangsa yang memanfaatkan mangrove sebagai bagian dari kehidupan mereka. Mereka menggunakan tanaman mangrove untuk kebutuhan keseharian seperti makanan, bahan bangunan, pembuatan kapal, dan juga obat.

Pada masa lalu bangsa Austronesia dikenal sebagai bangsa yang menguasai keahlian untuk bertahan hidup, baik di darat ataupun di laut. Keahlian tersebut sudah dimiliki sejak masih menjadi bagian dari wilayah Sunda dan kemudian berpisah pada zaman es.

Misi Lindungi Hutan, Chashif Syadzali: Kami Ingin Tanam Pohon Sejumlah Penduduk Indonesia

Karena itu dia meyakini bangsa Austronesia yang hidup pada masa Paparan Sunda atau Sundaland sekitar 25.000 tahun SM, yang sudah menguasai teknologi perahu bercadik berlayar dengan mengikuti sebaran mangrove.

Menurut Ary, perahu bercadik menjadi ciri khas dari bangsa Nusantara pada masa lalu dan memiliki kemampuan sangat baik saat digunakan untuk berlayar ke berbagai tujuan. Saat mencapai tujuan, mereka biasa menggunakan mangrove sebagai bagian pendaratan.

“Pelayaran besar bangsa Austronesia mengikuti persebaran mangrove, khususnya Rhizophora spp, terutama R. apiculata, R.mucronata dan R. Stylosa,” ungkapnya yang dimuat dari Mongabay Indonesia.

Koloni tanaman mangrove yang pada masa lalu mudah ditemukan di wilayah pesisir, selalu menjadi area andalan bagi bangsa Austronesia sebagai tempat berlindung saat sedang berlayar. Biasanya kawasan hutan mangrove akan dituju bila atau sedang terjadi badai.

Kawasan mangrove juga menjadi area yang nyaman, karena banyak tersedia kebutuhan logistik untuk bangsa Austronesia ataupun kapal yang sedang mereka gunakan. Salah satu kebutuhan utama itu, tidak lain adalah air tawar yang digunakan untuk minum.

Bangsa mangrove

Bangsa Austronesia yang memiliki ikatan kuat dengan mangrove membuat mereka dikenal dengan sebutan bangsa Bakau atau bangsa Rhizophora. Sebutan tersebut masih bertahan hingga kini, meski bangsa Austronesia hanya tinggal nama.

Seiring perkembangan zaman, pengaruh bangsa Austronesia mulai melekat pada kerajaan-kerajaan besar yang pernah berkuasa di Nusantara. Sebut saja, Kerajaan Sriwijaya (abad 7 Masehi) di Sumatra dan Majapahit (abad 13 Masehi) di Jawa.

Kedua kerajaan besar tersebut diketahui membangun peradaban dengan menyusuri wilayah laut melalui pelayaran samudera. Dalam melakukan penjelajahan tersebut, mereka juga senantiasa menyusuri laut melalui kawasan Nusantara.

“Itu kenapa, Sriwijaya dan Majapahit juga bisa disebut ikut membangun peradaban bakau di Nusantara,” jelas Ary.

Ary berpendapat Sriwijaya menjadi kerajaan pertama yang menjadikan mangrove sebagai bagian dari pembentukan peradaban. Hal ini, jelasnya juga memengaruhi bentukan wilayah kekuasaan kerajaan yang sebarannya menyerupai mangrove, jenis Rhizophora apiculata.

Sementara Majapahit, lanjutnya diketahui sebagai kerajaan kedua yang menjadikan mangrove sebagai bagian dari pembentukan peradaban. Pengaruhnya bisa dilihat dari sebaran kekuasaanya menyerupai persebaran mangrove jenis Rhizophora stylosa.

Bahkan Ary menyebut dengan wilayah kekuasaan yang luasnya menyusuri sebaran bakau Rhizophora stylosa, Majapahit pada masa kejayaannya mampu menjangkau wilayah bagian utara dari benua Australia.

Luas Kawasan Mangrove Indonesia dan Upaya Menghadapi Ancaman Kerusakan

Selain karena mangrove, wilayah kekuasaan Majapahit bisa sampai ke bagian utara benua Australia, karena pada masa tersebut juga banyak nelayan yang terbiasa mencari teripang (Holothuroidea) ke benua Australia.

Biota laut itu menjadi buruan karena nelayan terbiasa menjadikan komoditas ekspor yang dikirim ke Tiongkok. Selain itu, nelayan Majapahit juga diketahui menjual langsung hasil tangkapan teripang di Australia.

“Sebaran kekuasaan di Australia, ucap Ary didukung oleh temuan koin-koin (uang) dan meriam cetbang,” paparnya.

Dirinya menambahkan, ketika nelayan-nelayan Majapahit mencari ikan, mereka biasanya akan menyusuri wilayah pesisir laut jika di sekitarnya ditemukan kawasan mangrove. Kebiasaan ini juga dilakukan pelaut Majapahit yang terbiasa menggunakan perahu layar.

Mangrove sebagai jati diri

Hingga kini mangrove masih digunakan sebagai kebutuhan masyarakat Indonesia, misalnya sebagai pewarna pakaian di Sulawesi, Banten, bahkan Samoa. Hal ini menjadi upaya pelestarian budaya leluhur.

Bukti lainnya dari pengaruh tanaman mangrove terhadap peradaban bangsa Nusantara juga bisa dilihat dari tulisan ilmiah bangsa Eropa berjudul Herbarium Amboinense yang diterbitkan pada 1743.

Bila dilihat dalam buku tersebut, G E Rumphius mengatakan bahwa di daerah Ambon ada 5 jenis bakau yang biasa ditemukan di kawasan pesisir pantai. Rumphius juga menyebutkan bahwa tanaman bakau dilindungi oleh hukum adat dan dinamakan Sasi Mangi-mangi.

“Sebutan bakau oleh orang Ambon adalah Mangi-mangi. Dia menulis bahwa bakau sangat penting untuk makanan, bahan bangunan, obat, dan pewarna. Dalam tulisan tersebut, bakau menjadi tanaman penting, karena sebagai tempat berlindung ikan dan tempat hidup kepiting,” paparnya.

Melihat segala fakta yang ada, Ary menegaskan bahwa keberadaan mangrove sudah menjadi hal yang penting bagi eksistensi bangsa Austronesia pada masa lalu. Dengan kata lain, kawasan hutan mangrove di pesisir tidak lain adalah bagian dari bangsa Nusantara.

Upaya Pelestarian Lingkungan Pesisir Pantai Lewat Sekolah Mangrove di Pulau Tawabi

Karena itu, Ary berharap agar mangrove bisa terus mendapat perhatian dari masyarakat Nusantara. Pemahaman tentang ilmu etnobiologi bakau juga harus terus dikembangkan demi generasi penerus.

Diketahui, Indonesia saat ini menjadi pemilik hutan mangrove terluas di dunia. Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), luasan hutan bakau menciut dari 4,20 juta hektare pada 1982 menjadi 3,48 juta hektare pada 2017.

Sementara berdasarkan data yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luasan hutan bakau yang kondisinya masih baik saat ini hanya tersisa 1.671.140 hektare, dan hutan bakau yang rusak meluas hingga mencapai 1.818.000 hektare.

Dengan melihat kondisi ini, menjadi penting bagi Indonesia sebagai pusatnya peradaban Austronesia dan Melanesia untuk menjadikan mangrove sebagai bagian dari kehidupan. Dengan demikian, bangsa Indonesia akan lebih menghargai mangrove.

“Orang Indonesia seharusnya juga menghargai mangrove. Bangsa Indonesia bisa dikatakan bangsa bakau. Jadi bukan orang Indonesia namanya kalau tidak menghargai mangrove.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini