Kenangan dari Ende: Menyelami Strategi Bung Karno Mendidik Rakyat

Kenangan dari Ende: Menyelami Strategi Bung Karno Mendidik Rakyat
info gambar utama

Ende adalah sebuah kota yang terletak persis di tengah-tengah Pulau Flores. Di kota ini ada situs sejarah, yaitu rumah Bung Karno ketika dirinya diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938.

Dalam buku Membangun Komunitas Pelayanan: Kenangan 75 Tahun Paroki Kristus Raja Katedral Ende (2002), terpampang foto Bung Karno setelah menjadi presiden saat melakukan kunjungan pertama ke Ende tahun 1950.

Setelah menjadi presiden, Bung Karno tak lupa mengunjungi sahabat-sahabat lamanya saat diasingkan di Ende. Memang ketika menginjakkan kaki di Ende untuk pertama kali, pada 14 Januari 1934, Bung Karno benar-benar merasa kesepian dan terasing.

Bayangkan, tidak semua warga Ende mau menerima atau berhubungan dengan Bung Karno, pemerintah kolonial Belanda mengecap Bung Karno sebagai orang yang berbahaya, tahanan politik atau orang buangan yang harus dihindari oleh warga.

“Nyaris tiada yang mau mendekat terutama kalangan bangsawan atau pegawai pemerintah yang bisa jadi merasa terancam dengan kehadiran Bung Karno atau takut kehilangan jabatan atau kekuasaan jika dekat dengan Bung Karno,” tulis Samuel Oktora dan Subhan SD dalam Jejak Nasionalisme di Ende (1): Menemukan Indonesia dimuat dalam buku Ende: Strategi Soekarno Mendidik Rakyat yang diterbitkan Litbang Kompas.

Ende bukan saja tempat pengasingan, melainkan juga tempat pengucilan. Pemerintah Hindia Belanda sangat membatasi pergaulan Soekarno dengan masyarakat setempat, khususnya kalangan papan atas.

Menguak Pemikiran Kebangsaan Soekarno dalam Pidato Lahirnya Pancasila

Kalangan yang mau menerima Bung Karno hanya kalangan pastor, juga masyarakat suku Rodja, etnik Ende yang tinggal sekitar 1,5 kilometer dari rumah pengasingannya. Namun, Bung Karno tetap terkenal sebagai sosok yang pandai bergaul dengan warga.

Pengalaman pahit itu memang tidak membuat Bung Karno putus asa. Dirinya bergerilya ke tengah masyarakat bawah. Dia bergaul dengan pemetik kelapa, pembantu, nelayan, pedagang, tukang jahit, ulama, hingga pastor.

Samuel menyebut tidak mudah mengambil hati masyarakat Ende yang sudah termakan propaganda Belanda. Soekarno telah dicap sebagai tokoh pergerakan berbahaya, penduduk pun menjauhinya daripada kena masalah.

Atas usul Inggit Ganarsih, sang istri, Soekarno kemudian menggelar pengajian untuk mengumpulkan warga. Lantas membuat naskah tonil atau sandiwara. Sebanyak 13 naskah tonil dibuat selama 1934 hingga 1938.

“Diajaknya para nelayan, pedagang pasar, buruh, hingga penjahit, untuk pentas bersama,” tulis Susi Ivvaty dalam Inspirasi dari Pengasingan (2) Dari Bung Untuk Ende, Ende Untuk Bung.

Soekarno dengan rakyat Ende

Bung Karno dalam pengakuannya kepada Cindy Adams yang dimuat dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965) menggambarkan kondisinya yang kesepian pada awal masa pembuangannya di Ende.

“...Ingatlah, di Sukamiskin tubuhku di penjara. Di sini aku diasingkan dari manusia, dari orang-orang yang dapat memperdebatkan tugas hidupku. Mereka yang mengerti, takut untuk berbicara. Mereka yang mau berbicara, tidak mengerti. Itulah tujuan sebenarnya dari pembuangan ini…”

Pembuangan itu merupakan langkah Belanda untuk menghentikan aktivitas politik Bung Karno yang dinilai membahayakan eksistensi Belanda. Di Ende, Bung Karno tidak mendapatkan panggung politik terbuka sebagai media menyebarkan pemikirannya.

Singkatnya di Ende, semua hasrat politik Bung Karno dikebiri Belanda dengan harapan agar semua pemikiran, semangat, dan cita-citanya menjadi mandul. Satu-satunya ruang yang dipunyai Bung Karno adalah pergaulan dengan rakyat.

‘Aku akan mendekati rakyat jelata yang paling bawah. Orang-orang yang terlalu sederhana untuk memikirkan politik. Orang-orang yang tidak dapat menulis dan merasa dirinya tidak akan kehilangan apa-apa. Dengan cara ini, setidak-tidaknya ada orang yang bisa kuajak bicara.”

Umar Gani (95) mengingat bagaimana Bung Karno ikut mengajari masyarakat Ende agar lebih maju memikirkan bangsa. Dirinya juga masih ingat cara Bung Karno mendidik dan mengajari anak-anak muda Ende tentang kebangsaan Indonesia.

Cerita Pilu Soekarno di Penjara Banceuy: Menulis Pledoi Gunakan Pispot

Menyadarkan anak-anak muda untuk mengenal Indonesia menjadi obsesi Bung Karno. Walau hasrat untuk mendidik masyarakat tidak mudah karena gerak-gerik Bung Karno selalu dikuntit intel.

Mendirikan sekolah tentunya mustahil. Bung Karno kemudian menemukan mediumnya, yaitu melalui kelompok tonil (sandiwara). Nama kelompoknya adalah Kelimutu, seperti nama telaga tiga warna yang terletak sekitar 54 kilometer arah timur laut Ende.

Melalui cerita-cerita tonil itu, Bung Karno mendidik dan menyadarkan rakyat agar berpikir terbuka dan mempunyai tanggung jawab terhadap negerinya. Cerita yang diangkat bertema kehidupan sehari-hari, sehingga masyarakat Ende mudah memahami.

Untuk mengurus tonilnya, Bung Karno harus bekerja keras, mulai menyusun skenario, melatih pemain, mencari gudang pementasan, membuat pakaian dan properti panggung dan dekorasinya, membuat iklan, hingga menjual karcis pementasan.

Bung Karno bahkan melatih para pemainya yang semuanya laki-laki itu. Salah satunya adalah Ali Pambe yang memerankan juru bahasa dari bahasa Ende ke bahasa Indonesia. Namun rupanya Ali buta huruf, lidah bahasa Indonesianya masih kaku.

“Aku harus mengajar dulu bahasa Indonesia sebelum aku dapat mengajarkan perannya,” tutur Soekarno.

Umar menyebut meski tema cerita yang diangkat sederhana, namun Bung Karno selalu membungkus cerita-cerita tersebut dengan pesan perjuangan. Pementasan tonil yang digagasnya membuat Bung Karno makin dekat dengan rakyat kecil.

“Pertunjukan tonil karya Bung Karno ini sangat populer sehingga tiap kali pentas selalu mendapat perhatian luas, baik dari masyarakat maupun pejabat lokal.”

Pemimpin yang dikenang

Sosiolog Ignas Kleden mengatakan para pemimpin dan pendiri republik ini, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, dan Haji Agus Salim adalah sosok yang mampu menunjukkan gaya hidup dengan mempraktikkan nilai-nilai perjuangan.

Nilai perjuangan itu, jelas Ignas adalah siap berkorban, tidak mengutamakan kepentingan sendiri, setia kawan, dalam penderitaan, keberanian mengambil risiko, rela menyabung nyawa, sikap tanpa pamrih, tidak mengharapkan pujian dan cinta Tanah Air.

Bung Karno sesungguhnya telah mengajarkan cara bekerja seorang pemimpin di Ende, yakni mendekati rakyat jelata yang paling rendah. Layaknya kisah Marhaen di Bandung, Bung Karno bebas bergaul dengan siapa saja.

Bung Karno bebas berkenalan dengan nelayan bernama Kota, seraya mengundang ke tempat tinggalnya. Kota kemudian membawa Darham, seorang tukang jahit. Bung Karno bersama orang-orang itu juga saling berkunjung ke rumah masing-masing.

Tiap malam Jumat, Bung Karno menggelar pengajiannya di rumah. Ketika ada warga meninggal, dirinya datang melayat, bahkan memikul lebih dahulu peti mayat. Begitu pula ketika ada warga yang melakukan pernikahan, Bung Karno juga memberikan bantuan.

“Bung Karno terkenal di pasar, sebab beliau ramah dan sering menyapa pedagang,” kenang Umar yang juga merupakan anggota kelompok tonil Bung Karno.

Membaca Sarinah, Pemikiran Soekarno Terhadap Perjuangan Perempuan

Pada Oktober 1938, Pelabuhan Ende, Pulau Flores, pada malam hari pukul 20.00 waktu setempat, yang biasanya gelap-gulita, tiba-tiba berubah gempita. Warga Ende tumpah di dermaga kayu, setelah kapal De Klerk bersandar menjemput Bung Karno.

Bung Karno harus dipindahkan ke Bengkulu karena terserang malaria. Dengan berat hati, warga Ende harus melepas sosok yang mereka kagumi ini bersama linangan air mata. Kerumunan yang memenuhi dermaga itu adalah sahabat dan pengikut Bung Karno.

Mereka adalah wong cilik, seperti pedagang kelapa di pasar, nelayan, petani, sopir, kuli bangunan, dan buruh pelabuhan. Mereka tak kuasa melepas kepergian Bung Karno ke Bengkulu, karena sudah begitu dekat, mereka sangat kehilangan.

Sebelum naik kapal, Bung Karno sempat memeluk mereka. Berdiri di tengah kerumunan manusia, Bung Karno berpesan, ”Jangan menjadi peminta-minta, peraslah dari keringatmu sendiri untuk hidup bersama keluargamu.”

Pesan itu masih membekas kuat di generasi Ende masa sekarang. Djae Bara yang merupakan sahabat Bung Karno selama di Ende masih terus menyampaikan pesan ini kepada keturunannya.

“Bapak sebelum meninggal sering bercerita soal Bung Karno dan pesan beliau diturunkan kepada kami, anak-anaknya, supaya kerja keras dari hasil keringat sendiri. Itulah pesan yang pernah disampaikan Bung Karno,” kata Kamran.D Bara, anak Djae Bara.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini