Dugong dan Air Matanya yang Kerap Jadi Buruan, Apa Benar Ada Unsur Magisnya?

Dugong dan Air Matanya yang Kerap Jadi Buruan, Apa Benar Ada Unsur Magisnya?
info gambar utama

Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan habitat terbaik dari berbagai satwa laut, salah satu mamalia laut bernama dugong (Dugong dugon). Di beberapa daerah, dugong memiliki namanya sendiri.

Ada yang menyebutnya sebagai sapi laut atau bagi masyarakat luas lebih dikenal dengan nama duyung. Di Indonesia dugong termasuk satwa yang dilindungi karena menghadapi ancaman kepunahan.

Menukil dari Mongabay Indonesia, pendiri Taman Dugong, Mikaela Clarissa mengatakan populasi dugong terindikasi terjadi penurunan. Dirinya mengkhawatirkan, bila tidak ada tindakan serius, kelestarian dugong akan hilang.

“Ada beberapa faktor yang membuat dugong rentan. Waktu reproduksinya cukup lama, sekitar 14 bulan mengandung dan membutuhkan 10 tahun untuk tumbuh dewasa. Interval mating (perkawinan) berbagai, mulai dari 2,5 tahun sampai 5 tahun,” ungkap Clarissa.

Clarissa menyebut selain reproduksinya yang cukup lama, kondisi habitat dugong yakni di padang lamun juga berkurang, hal inilah yang menjadi penghambat meningkatnya populasi dugong di ekosistem.

Kisah Mempertemukan Bayi Duyung dengan Induknya di Raja Ampat

Menurut catatannya, diperkirakan hanya 5 persen padang lamun yang tergolong sehat, 80 persen kurang sehat, dan 15 persen tidak sehat dari 1.507 km persegi luas padang lamun yang ada di Indonesia.

Selain kondisi habitat, faktor manusia juga ikut memberikan kontribusi besar pada ancaman kepunahan dugong, seperti terjaring atau terperangkap pada alat tangkap nelayan, serta tertabrak kapal nelayan atau wisata.

Hal ini diperparah, kata Clarissa dengan adanya perburuan atau penangkapan dugong untuk diperjualbelikan daging atau bagian tubuhnya, seperti taring dan air matanya yang dianggap magis.

“Masih banyak yang menganggap bahwa dugong itu menangis dan air matanya berkhasiat. Itu salah besar dan hanya mitos,” jelas Clarissa.

Air mata dugong berkhasiat?

Anugerah Nontji dalam bukunya yang berjudul Dugong Bukan Putri Duyung menjelaskan bahwa salah satu pemanfaatan dugong yang terkenal di daerah Asia Tenggara, seperti Indonesia, Filipina, dan Malaysia adalah air matanya.

Diketahui apabila dugong diangkat keluar dari air, maka kelenjar air mata hewan ini akan mengeluarkan cairan yang dikenal sebagai air mata duyung. Banyak kalangan percaya ada sisi magis dari air mata dugong.

Disebutkan oleh Nontji, banyak kalangan percaya bahwa air mata ini dapat dijadikan sebagai pengasih (pemelet). Air mata duyung ini dapat dicampur dengan parfum dan bila digunakan disertai jampi-jampi tertentu, sehingga dapat membuat lawan jenis jatuh hati.

Di beberapa toko online, bila dilakukan pencarian dengan kata kunci "air mata duyung", akan banyak ditemukan orang yang berjualan minyak duyung dan juga tulang iga duyung dengan harga yang bervariasi.

“Mulai paling murah sekira puluhan ribu Rupiah hingga paling mahal hingga satu jutaan rupiah,” tulis Rahmadi R dalam Air Mata Dugong Hanya Mitos, Hentikan Perburuan.

Pengalaman tentang air mata dugong pernah dikisahkan oleh Suhardi Indar Jaya, seorang nelayan dari Tanjung Benoa, Badung, Bali. Ketika itu dirinya dan teman-temannya menyelamatkan seekor dugong yang terluka karena dimakan gurita laut.

Dirinya ketika itu membawa ikan dugong tersebut ke rumahnya. Bak kolam udang lobster yang dimilikinya berubah menjadi tempat penampungan sementara bagi ikan ini. Para warga pun datang ke rumahnya, tetapi membawa kapas.

Seperti Apa Rencana Aksi Nasional untuk Penyelamatan Duyung dan Lamun?

“Untuk meminta air mata duyung. Ada kepercayaan air mata duyung ini untuk pengasih. Bisa buat pelaris dagangan atau buat cari cewek,” katanya yang dimuat dari JPNN.

Dimuat dari Tempo, peneliti dugong dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Wawan Kiswara menyebut masih masih banyak masyarakat yang percaya air mata dugong punya nilai mistis untuk pesugihan.

Untuk pemanfaatan air mata dugong sebagai syarat pesugihan, kata Wawan, orang harus memenuhi banyak syarat, seperti harus diambil oleh perawan atau perjaka. Dan pemanfaatannya untuk meminta cepat naik pangkat, lariskan dagangan, dan semacamnya.

Selain punya nilai mistis, paparnya, dugong juga punya harga yang sangat tinggi. Di daerah tertentu, daging dugong bahkan dianggap paling enak. Bahkan dagingnya bisa terjual dengan harga Rp6 juta.

“Belum lagi taring dugong jantan yang juga punya nilai tinggi,” ucapnya.

Hentikan perburuan

Dugong memang hewan primadona, karena selain diambil taring dan dagingnya, masih kuatnya kepercayaan masyarakat tentang khasiat air mata dugong menjadi sumber bencana sendiri bagi spesies ini.

Padahal fakta ilmiahnya, air mata dugong tersebut adalah proses biologis. Lendir yang keluar dari matanya adalah untuk menjaga kelembaban mata ketika dugong muncul ke permukaan air.

“Cairan tersebut hanya lendir pelembab mata dugong dan keluar dari kelenjar air mata ketika dugong sedang tidak berada di dalam air,” ucap perwakilan WWF Indonesia Sheyka N Fadela yang dikabarkan medcom.id.

Hal senada disampaikan oleh Ahmad Sofiullah, analis Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut yang mengatakan dugong mengeluarkan air mata bukan berarti sedang sedih. Karena air mata itu keluar semata-mata untuk membasahi badan ketika tidak di dalam air.

“Dugong keluar air mata bukan sedih, tetapi nangis karena dehidrasi.” katanya.

Banyak memang khasiat hewan ini sehingga terus diburu. Dugong juga diburu untuk diambil minyaknya. Minyaknya bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan penyakit tuberkulosis (TBC), nyeri persendian, dan melancarkan peredaran darah.

Kiprah Duyung di Perairan Indonesia

Padahal keberadaan dugong di alam sangatlah penting. Spesies ini merupakan pengendali ekosistem laut yang tidak bisa digantikan oleh biota laut lain. Sebagai pemakan lamun, dugong bisa memakannya dengan cara mengaduk substrat yang ada di bawah pasir laut.

“Cara tersebut membantu siklus nutrien di alam dan menyuburkan tanah yang ada di bawah perairan,” jelas Rahmadi.

Menurut Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Luky Adrianto rusaknya keseimbangan alam akibat langkanya dugong akan jauh lebih besar dari nilai ekonomis yang bisa dihitung.

Karena itulah baginya nilai ekologis dugong jauh lebih penting dibanding nilai ekonomisnya. Dia mengatakan keberadaan dugong bukan hanya untuk kebutuhan manusia saja, tetapi juga keseimbangan alam.

Tetapi dalam penelitian berjudul Penyadartahuan Masyarakat dan Ancaman Terhadap Dugong di Provinsi Sulawesi Tengah, disebutkan kondisi dugong di daerah tersebut sedang dalam kondisi genting.

Penelitian ini berlokasi di Kepulauan Togean, Teluk Tomini, hingga di Banggai Kepulauan. Diperkirakan, persebaran dugong telah menurun dan hanya sedikit lokasi dtemukan keberadaannya dalam beberapa tahun terakhir.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini