Sosok Perempuan Pahlawan Literasi Bagi Suku Baduy

Sosok Perempuan Pahlawan Literasi Bagi Suku Baduy
info gambar utama

Suku Baduy merupakan salah satu kelompok masyarakat adat yang masih tersisa di Indonesia saat ini. Seperti masyarakat adat pada umumnya, penduduk suku tersebut masih sangat memegang teguh kehidupan tradisional dan ketat terhadap pengaruh budaya atau dunia luar.

Tak heran, jika ada beberapa kondisi yang membuat mereka tidak memiliki kemampuan yang diperlukan masyarakat Indonesia pada umumnya. Seperti misalnya memahami literasi sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.

Tapi itu dulu. Perlahan tapi pasti, suku baduy perlahan mulai bisa menerima kemajuan dunia luar selama memiliki tujuan yang bermaslahat. Salah satunya meningkatkan kemampuan literasi, untuk keperluan komunikasi.

Tidak bisa dipelajari secara mandiri, nyatanya dibutuhkan bantuan pihak luar untuk mengajarkan kesetaraan ilmu terhadap masyarakat khususnya anak-anak suku Baduy. Dan satu nama yang sejak lama telah dikenal konsisten dalam memajukan edukasi bagi masyarakat suku Baduy adalah Nury Sybli.

Menilik Kondisi dan Upaya Tingkatkan Literasi di Indonesia

Upaya pendekatan mulai 2007

Masih berada di lingkup satu provinsi, Nury sebenarnya adalah seseorang yang memang lahir di Serang, Banten. Usahanya dalam meningkatkan literasi dan membuat anak-anak suku Baduy lebih melek terhadap aksara dimulai sejak tahun 2007.

Lebih detail, Nury sudah kerap berkunjung ke pemukiman masyarakat Baduy sejak tahun 1997. Ia pun mengungkap jika sebenarnya masyarakat Baduy sendiri memiliki keingintahuan yang sangat besar akan pendidikan.

“Sebenarnya, masyarakat Baduy sangat terbuka soal pendidikan. Sebab dalam tradisinya, yang tidak diperbolehkan adalah bersekolah di instansi formal. Bukan belajar dalam arti luas. Jadi ketika meminta ijin mengajar, orang tua mereka dengan senang hati membolehkan.” terang Nury.

Nury yang awalnya juga berprofesi sebagai seorang jurnalis di saat bersamaan terus melakukan pemberian pembelajaran ringan selama bertahun-tahun. Baru di tahun 2007, gerakan literasi yang dilakukan kian menjadi serius setelah menemukan kondisi lebih minimnya literasi di bagian suku baduy pedalaman.

Akhirnya, ia membuka kelas di salah satu rumah penduduk Baduy luar, yang hingga kini dinamakan Kelas Baca Baduy.

Saat awal mengajar, Nury menyebut masih mengingat bagaimana pertama kali ia melihat jari-jari anak suku Baduy yang gemetar menggoreskan pena di buku. Lain itu, sebagian dari mereka bahkan tidak mengetahui cara menggenggam pena.

Diceritakan bahwa nyatanya memberikan pengajaran untuk mereka juga bukan perkara yang mudah. Nury sampai perlu melakukan berbagai macam pendekatan untuk bisa dekat dengan anak-anak suku Baduy. Ia melakukan banyak hal mulai dari mengikuti cara bicara, cara makan, hingga cara berpakaian yang serupa seperti masyarakat adat tersebut.

“Saya bahkan ikut mandi ke sungai bersama mereka untuk sedapat mungkin menjadi bagian dari mereka. Dengan cara ini, anak-anak suku Baduy merasa aman, nyaman, dan akhirnya bisa dekat dan lebih intim lagi,” kenang Nury.

Salah satu perjuangan dalam mengembangkan literasi bagi anak-anak di suku pedalaman, adalah proses yang dilakukan berlangsung di malam hari dengan berbekal pencahayaan yang minim. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena hanya malam hari waktu yang memungkinkan bagi mereka untuk mengikuti kelas baca.

Bukan tanpa alasan, pasalnya anak-anak yang dimaksud harus membantu orang tua mereka bekerja dari pagi hingga petang. Lain itu tenaga listrik yang belum memadai juga menjadi kendala bagi mereka, namun hal ini tak menggoyahkan semangat belajar mengajar ini.

Memberlakukan metode pengajaran berbeda yang tak diajarkan di sekolah formal, tak disangka respons yang didapat dari para anak-anak juga amat positif. Berkat perjuangannya tersebut, kini sebagian besar generasi penerus Baduy tidak lagi buta huruf.

Mereka juga sudah mulai bisa berkomunikasi dengan baik bahkan dalam bahasa Inggris sederhana, sehingga sedikit demi sedikit taraf hidup mereka mulai meningkat.

Komitmen Dwi Sulistia, Dedikasikan Hidup untuk Bangun Pemberdayaan Masyarakat

Terus berlanjut

Nury Sybli bersama anak-anak suku Baduy | Instagram @nurysybli
info gambar

Yang mengagumkan, seiring berjalannya waktu kini ajaran yang dilakukan oleh Nury pun terus mengalir dari generasi tertua ke muda.

“sekarang, ketika saya sudah tak bisa sering-sering ke sana lagi, angkatan pertama yang mengambil alih. Mereka meneruskan saya di sana sebagai tutor. Melegakan sekali,” ujarnya.

Tak berhenti sampai di situ, tidak hanya di Baduy Nury rupanya juga mendirikan gerakan serupa bernama Rumah Baca Akar. Inisiasi tersebut bahkan telah terbangun di sekitar 30 daerah terpencil seluruh Nusantara.

Lebih detail, rumah baca tersebut tersebar mulai dari Maumere-NTT, Ende-NTT, Bajawa-NTT, Sumbawa-NTB, Kajang-Sulawesi Selatan, dan masih banyak lagi. Selain menggerakan literasi, Nury nyatanya juga memiliki kepedulian yang tinggi akan lingkungan. Ia aktif mengajak orang-orang untuk mencintai mangrove, hidup bersih bebas sampah plastik, hingga budaya hidup hijau dengan menanam pohon.

Ketika ditanya kapan atau apakah akan berhenti melakukan gerakan literasi, Nury dengan yakin mengatakan tidak akan pernah berhenti.

“Berbagi ilmu itu tidak akan pernah ada akhirnya karena yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Maka segerakanlah untuk mengisi akal kita dengan ilmu. Seperti orang tua bilang, jika memberi benda ada masanya tetapi jika memberi ilmu akan abadi,” pungkas Nury.

Tinggalkan Kota, Pasangan Muda Ini Dedikasikan Hidup untuk Pendidikan di Pelosok Papua

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini