Jarak Pagar, Alternatif Pembentuk BBN Biodiesel Selain Sawit

Jarak Pagar, Alternatif Pembentuk BBN Biodiesel Selain Sawit
info gambar utama

Selain bentuk kendaraan listrik, salah satu upaya yang terus diusahakan dalam mempercepat transisi kendaraan berbasis hemat energi adalah dengan meningkatkan pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel.

Belum banyak yang terlalu memahami, jika selama ini BBN dibagi lagi menjadi tiga jenis. Jenis yang dimaksud terdiri dari bioetanol, biogas, dan biodiesel. Sedikit gambaran, perbedaan dari ketiga jenis BBN tersebut berasal dari sumber dan material pembentuknya.

Bioetanol memiliki bentuk berupa senyawa alkohol, yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti gandum, tebu, jagung, buah-buahan, hingga limbah sayuran. Sementara itu biogas, sesuai namanya memiliki wujud gas yang dihasilkan dari fermentasi sampah tumbuhan atau kotoran manusia dan hewan ternak.

Terakhir ada biodiesel, salah satu yang paling populer sebagai salah satu jenis BBN yang paling banyak diupayakan pengembangannya. Biodiesel memanfaatkan minyak yang terkandung dalam berbagai sumber daya seperti minyak rapeseed (sejenis bunga), minyak buah jarak, hingga minyak bunga matahari.

Di Indonesia, jenis BBN satu ini banyak memanfaatkan minyak sawit. Dan sayanganya hal itu yang membuat pengembangan biodiesel bertabrakan dengan kebutuhan bahan baku minyak goreng yang menjadi kebutuhan utama konsumsi rumah tangga.

Mencermati Peta Jalan Bahan Bakar Nabati di Indonesia

Jarak pagar alternatif sawit

Wujud tumbuhan jarak pagar | joloei/Shutterstock
info gambar

Berangkat dari kondisi di atas, sejumlah pihak sejak lama telah mencari alternatif bahan baku yang dapat diolah menjadi biodiesel selain sawit. Dan pencarian tersebut menuntun kepada tumbuhan jarak pagar.

Memiliki nama latin Jatropha curcas, jarak pagar adalah tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropis. Mengutip greeners.co, jarak pagar diyakini berasal dari Afrika, kemudian menyebar di sepanjang kawasan Mediterania dan seluruh wilayah Asia beriklim tropis.

Umumnya jarak pagar bisa tumbuh di area hutan, tanah kosong, dan daerah pantai. Tak jarang, ada sekelompok masyarakat yang membudidayakan tanaman satu ini, terutama terkait pemanfaatannya untuk dijadikan biodiesel.

Di setiap daerah Indonesia, jarak pagar memiliki nama yang berbeda-beda. Di Jawa Barat tanaman ini disebut Kaliki, di Sumatra disebut Dulang dan Gloah, sedangkan di Madura dikenal dengan nama Kaleke.

Masuk dalam golongan tanaman perdu, jarak pagar memiliki batang yang kokoh bulat dan banyak mengandung getah, daunnya tunggal, lebar, menjari, dan berlekuk-lekuk.

Tak Terpengaruh Sawit, Sosok Ini Konsisten Produksi Minyak Klentik Selama 50 Tahun

Kunci minyak di biji jarak pagar

Biji Jarak pagar | ebtke.esdm.go.id
info gambar

Bagian dari jarak pagar yang memiliki peran kunci sebagai bahan baku biodiesel adalah biji buahnya. Biji dari buah jarak pagar berbentuk oval atau lonjong, dengan warna coklat agak kehitaman. Memiliki ukuran sekitar 2 sentimeter dengan ketebalan sekitar 1 sentimeter, setiap biji memiliki massa sekitar 0,4-0,6 gram.

Faktanya, biji dari buah jarak pagar mengandung 40-60 persen minyak yang dapat digunakan sebagai pelumas (lubricant). Lain hal menurut penjelasan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), biji jarak pagar disebut mengandung rendemen minyak nabati sebesar 35-45 persen. Di mana minyak tersebut dapat diproses menjadi biodiesel dan minyak bakar pengganti minyak tanah.

Salah satu pihak yang diketahui telah mengembangkan biodiesel berbasis jarak pagar adalah perusahaan bernama PT New Eco Energy Indonesia (NEEI-One). Masih menurut sumber yang sama, disebutkan bahwa biodiesel yang mereka produksi memiliki harga jual sekitar Rp6.500/liter dan kedepannya bisa ditekan menjadi sekitar Rp 5.000/liter.

Berbeda dari permasalahan yang dialami sawit sebagai tanaman bahan pangan untuk minyak goreng, jarak pagar sama sekali bukan tanaman pangan.

Dijelaskan jika dalam proses pembuatannya digunakan teknologi Nanomizer, yakni teknologi yang membuat biodiesel yang dihasilkan menjadi lebih bersih karena mengurangi emisi gas saat dilakukan pembakaran. Teknologi tersebut juga diklaim mampu mengurangi konsentrasi methanol lebih dari 20 persen sehingga membuat mesin lebih tahan terhadap korosi.

Bicara Deforestasi, Ketahanan Pangan, dan BBN Non-Sawit, Seperti Apa Catatannya?

Kendala pasokan dan solusinya

Pengembangan biodiesel jarak pagar | ebtke.esdm.go.id
info gambar

Di lain sisi, hal yang sebenarnya menjadi kendala dari pemanfaatan jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel adalah ketersediaan pasokan. Hal tersebut lantaran sempat ada masalah nilai keekonomian yang terjadi di tahun 2005.

Pada tahun 2008-2009, pengembangan atau budidaya jarak pagar terutama di Jawa Barat sebenarnya sudah cukup pesat. Investasi dan hasil produksinya kala itu dikatakan sudah cukup melimpah. Masalah muncul ketika petani ingin memasarkan hasil panen mereka, namun ternyata tidak ada pasar yang dapat menyerap dalam skala besar.

Akhirnya, hingga tahun 2017 pengembangan budidaya jarak pagar tidak memiliki kelanjutan, terutama dalam hal pengolahan. Hal tersebut menyebabkan beberapa lahan yang tadinya menjadi perkebunan jarak pagar digantikan dengan komoditas lain.

Namun, sebagaimana adanya pihak yang mengembangkan sendiri biodiesel dari jarak pagar yakni NEEI-One, kini ekosistemnya sudah mulai terlihat. Perusahaan tersebut sudah melakukan penanaman pohon jarak pagar sendiri di kebun contoh atau kebun inti seluas 5 hektare.

Penanaman tersebut mereka lakukan di didaerah Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Lain itu, praktiknya juga mempunyai fungsi membina masyarakat untuk menanam jarak pagar melalui koperasi desa atau badan usaha milik desa (Bumdes).

Wujud Nyata dari SDGs, Inilah 4 Desa Mandiri Energi di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini