Makna Kentongan: Alat Penyebar Informasi Bentuk Harmonisasi Masyarakat Jawa

Makna Kentongan: Alat Penyebar Informasi Bentuk Harmonisasi Masyarakat Jawa
info gambar utama

Bagi masyarakat Indonesia, kentongan bukanlah sebuah benda yang asing lagi, dan hampir setiap orang mengenalnya. Kepopuleran kentongan ini tidak terlepas dari keberadaannya yang mudah ditemukan di hampir setiap sudut kampung.

Menurut sejarah, pada awalnya kentongan banyak ditemukan di masjid-masjid atau surau yang berfungsi sebagai pemanggil atau mengumumkan datangnya waktu sholat. Hampir di seluruh tempat peribadatan umat Muslim ini selalu terlihat keberadaan kentongan.

Secara fisik, kentongan yang dimiliki masyarakat Jawa tidak memiliki ukuran dan bentuk yang baku. Dari sisi ukuran, pada umumnya sangat bergantung pada fungsi dan kepemilikannya.

Alat Musik Calung: Kesenian Bambu yang Jadi Identitas Masyarakat Purbalingga

Ukuran kentongan di perumahan biasanya lebih kecil dengan panjang sekitar 40 cm-70 cm, bentuknya biasanya bulat untuk kentongan bambu yang terbuat dari batang bambu sedangkan kentongan bongkol (batang bambu) biasanya berbentuk melengkung.

Kentongan ini biasanya digantung di bagian depan rumah. Sementara itu kentongan yang dipergunakan di tempat-tempat umum dan peribadatan biasanya terbuat dari kayu, panjangnya lebih dari satu meter, ukuran kelilingnya lebih dari 30 cm, bentuknya silinder.

“Sementara itu kentongan yang terbuat dari kayu umumnya digunakan di tempat-tempat umum, masjid, cakruk, balai desa, kelurahan, dan sebagainya. Hal ini sekaligus untuk membedakan suara (informasi/pesan) kentongan yang berasal dari anggota masyarakat secara pribadi atau publik,” tulis Surono dalam Kentongan: Pusat Informasi, Identitas dan Keharmonisan pada Masyarakat Jawa.

Makna kentongan

Kentongan bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa telah disepakati sebagai alat komunikasi yang bersifat massal maupun personal. Irama yang berbeda-beda yang dihasilkan dari pukulan kentongan akan dimaknai berbeda-beda pula.

Satu irama akan dimaknai sebagai bentuk undangan, yang lain bisa dimaknai sebagai informasi keamanan kampung, dan seterusnya. Irama yang beragam tersebut tidak membuat informasi salin bertentangan namun saling terikat dan melengkapi.

“Keberadaan kentongan sebagai media komunikasi tradisional ini bisa dijadikan sebagai alat pendidikan karakter bagi generasi muda Indonesia, tentunya setelah melalui berbagai inovasi agar generasi muda tertarik dengan kentongan,” tulis I.N Novianti dalam Komunikasi Tradisional sebagai Sarana Pembelajaran Karakter: Kajian Komunikasi dalam Kultur masyarakat Indonesia.

Alunan Angklung Buhun, Pengiring Setia Ritual Penanaman Padi Suku Baduy

Kentongan pun dianggap sebagai alat komunikasi tradisional yang masih tetap bertahan menghadapi zaman modern. Pada masa lalu, banyak alat komunikasi tradisional seperti asap, burung merpati dan sebagainya.

Selain berfungsi sebagai pengirim pesan dan informasi, kentongan saat ini juga berfungsi sebagai hiasan komoditas, alat musik, dan pembuka suatu kegiatan. Sehingga kentongan masih tetap berfungsi walau mulai terpinggirkan sebagai alat komunikasi.

Sebagai identitas

Pada masyarakat Jawa, kentongan memiliki makna tersendiri sebagai suatu identitas dari kebudayaan ini. Identitas ini ditujukan kepada orang di luar masyarakat Jawa, bahwa mereka memiliki sebuah kentongan sebagai bentuk kebersamaan.

Menurut Surono, melalui kentongan semua orang dapat menangkap pesan yang dikirimkan kepada setiap anggota masyarakat kepada yang lainnya tanpa pandang bulu. Setiap orang dapat dan boleh bereaksi dengan informasi yang didapatkan.

“Setiap anggota masyarakat yang diberi informasi melalui kentongan, bermakna bahwa mereka pada saat itu diperlakukan sama dengan anggota masyarakat yang lain,” tulisnya.

Walau begitu, ada juga yang menggunakan kentongan sebagai penanda status sosial Salah satu cara yang digunakan adalah dengan cara memiliki kentongan yang terbuat dari kayu nangka, berukuran besar, dan digantung di tempat yang mudah terlihat oleh orang lain.

Keluarga yang memasang kentongan besar ingin menunjukan dirinya secara status sosial lebih tinggi dari yang lainnya. Dia secara sengaja telah memposisikan istimewa dibandingkan dengan yang lain.

Kesakralan Alunan Suara Alat Musik Lalove khas Sulawesi Tengah

“Padahal secara logika masyarakat lokal, tidak tepat memasang kentongan umum (berukuran besar yang terbuat dari kayu nangka) di wilayah pribadi,” paparnya.

Bagi masyarakat Jawa, hal yang penting untuk dijaga adalah keharmonisan sosial. Karena itulah mereka sudah menyepakati jumlah kentongan untuk menandakan kondisi lingkungannya dan tidak akan merasa terganggu.

Menurut Surono, ada kesadaran dan keikhlasan di antara masyarakat akan hadirnya kentongan sebagai sarana menyampaikan sebuah pesan yang tidak mengenakkan yang dialami anggota masyarakat lain.

Upaya menjaga harmonisasi masyarakat ini dilakukan bersama-sama, sukarela dan bergiliran. Setiap anggota masyarakat bertanggung jawab terwujudnya masyarakat di lingkungan mereka menjadi harmonis.

“Pada satu waktu mereka akan dijaga oleh anggota masyarakat lain dan pada waktu lain mereka harus menjaga anggota masyarakat yang lain,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini