Makna Ibu Pertiwi dalam Tradisi Masyarakat Kendeng untuk Lestarikan Alam

Makna Ibu Pertiwi dalam Tradisi Masyarakat Kendeng untuk Lestarikan Alam
info gambar utama

Lir-ilir merupakan tembang karangan Sunan Kalijaga yang biasa mengalun merdu di lereng Pegunungan Kendeng Utara, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Tembang yang membawa pesan kehidupan ini dinyanyikan ratusan dan puluhan warga Sedulur Sikep atau penganut kepercayaan Samin Surosentiko. Salah satu tokoh masyarakat Kendeng yang dipercaya melawan VOC.

Mereka mengelilingi kendi dan aneka hasil olahan bumi sembari membawa obor. Terang obor itu menjadi penunjuk arah kehidupan agar manusia selalu memihak terang dan tidak terkungkung kegelapan. Terang itu membawa pada makna dan pesan tembang Lir-ilir.

"Bangun, bangunlah ke alam pemikiran yang baru. Lihatlah tanaman yang mulai bersemi itu. Tanaman yang mulai bersemi itu. Tanaman yang mulai bersemi adalah benih iman. Hakikatnya Allah sudah mengisi setiap manusia dengan benih-benih kebaikan. Terserah manusianya, mau merawat atau mengacuhkannya," ujar Bambang (55) petani asal Kendeng yang dimuat dalam buku Pelestarian Alam dalam Tradisi Masyarakat Kendeng terbitan Kompas.

Para Kartini dari Jawa Tengah Ini akan Terus Suarakan Kelestarian Bumi

Kegiatan ini dikenal sebagai tradisi Lamporan yang digelar petani lereng Pegunungan Kendeng Utara. Lamporan adalah tradisi petani menolak bala, berupa hama dan penyakit yang kerap menyerang tanaman dan ternak milik mereka dan masih terus dilestarikan.

Bambang mengatakan Lamporan di Pati adalah tradisi petani di kala tanah masih murni. Saat itu petani masih menggunakan pupuk kandang atau pupuk organik. Bahkan, dahulu petani tidak perlu menggunakan pupuk, tanah tinggal dibajak dan dicangkul sudah subur.

"Tradisi itu kian pudar ketika petani menggunakan pupuk dan obat kimiawi. Kala sawah tidak subur lagi," kata Bambang.

Ingatkan petani jaga alam

Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java menulis bahwa Jawa sangat bagus untuk pertanian, karena tanahnya subur. Salah satu ciri khasnya adalah tanah Jawa tidak perlu menggunakan pupuk.

“Di lahan sawah pengairan tahunan sudah cukup untuk meremajakan tanah dan bisa menghasilkan panen tahunan yang bagus tanpa ada tanda-tanda kurang subur,” jelasnya.

Tokoh Sedulur Sikep Pati, Gunretno menambahkan tradisi itu mengingatkan petani agar kembali pada alam dan menjaga bumi. Alam tidak hanya rusak karena pupuk dan obat kimiawi, tetapi juga karena ulah manusia dan industri.

Menurutnya tanah adalah bumi yang diibaratkan sebagai ibu. Menjadi tempat berpijak dan harus dihormati dan dirawat karena bisa menghasilkan dan memberikan sandang dan pangan lintas generasi.

Solidaritas dan Hal Baik Lain tentang Aksi Petani Kendeng

“Tanah harus lestari dan sehat. Jika sakit, tanah tidak memberi kesuburan,” kata Gunretno lagi.

Karena itulah para perempuan kendeng berulang kali menembangkan doa agar Tuhan melindungi ibu pertiwi. Tembang dan doa tersebut mengiringi gerak sesepuh penari Solo, Suprapto Suryodarmo dan sejumlah penari asal Austria.

Tarian Umbul Donga Kendeng Ibu Pertiwi tersebut merupakan inti dari peringatan Hari Ibu bertema Sungkem Kanggo Ibu Pertiwi. Tarian itu mengajak masyarakat Kendeng untuk bersatu melestarikan bumi atau ibu pertiwi.

"Tarian itu penuh dengan simbol-simbol. Kendi menyimbolkan air, tanaman menyimbolkan kelestarian lingkungan, dan tanah merupakan simbol bumi atau ibu pertiwi yang menghidupi," papar Mbah Prapto.

Agar tetap lestari dan selalu memberi hidup, jelas Mbah Prapto, ketiganya harus dirawat, diolah seperlunya, dan dijaga agar tidak dirusak. Tanpa ketiga unsur itu, dipercaya manusia akan selalu tertimpa musibah.

Sumber kehidupan

Gunarti, koordinator kegiatan mengatakan ibu merupakan sosok yang tanpa kenal lelah memberikan kasih sayang kepada anaknya. Ibu itu ibarat bumi yang memberikan kehidupan kepada seluruh penghuninya. Seorang ibu pun merawat dan membesarkan anak-anaknya.

Ibu pertiwi begitu setiap orang menyebut bumi yang ditempati. Ibu menghidupi seluruh makhluk sehingga sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk merawat dan melindungi alam agar tetap terus lestari.

Semangat itu yang menggerakan warga di Pegunungan Kendeng Utara untuk lantang menyuarakan perlawanan terhadap segala bentuk pengrusakan bumi. Terutama para pemodal yang hanya mementingkan kepentingan keuntungan.

Bangunan Jinem: Lumbung Padi Simbol Kesejahteraan Petani Blora

"Semangat itu pulalah yang mengilhami ribuan perempuan di Pegunungan Kendeng Utara untuk terlibat secara aktif dalam gerakan menolak pembangunan pabrik semen yang telah berlangsung sekitar delapan tahun ini," kata Gunarti.

Gunretno, tokoh Sedulur Sikep Sukolilo mengatakan ibu-ibu telah menjadi tonggak perjuangan penolakan pembangunan pabrik semen. Gerakan mereka bukan hanya di Kecamatan Sukolilo, melainkan juga di Kecamatan Kayen dan Tambakromo.

Di akhir kegiatan, ibu-ibu petani di lereng Pegunungan Kendeng Utara itu menanam aneka benih pohon di rumah dan lahannya. Gerakan penghijauan itu merupakan upaya konkret menjaga kelestarian pegunungan yang membentang dari Kudus hingga Blora tersebut.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini